Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 195. Perubahan Alam Kecil


Tidak bisa dibunuh, bukan berarti tidak bisa dikalahkan! Gofan tidak ingin melepaskan orang yang telah merampoknya... Bagaimana pun caranya, dia harus mendapatkan kembali Cincin Dimensi miliknya. Niat pertarungan memancar di kedua mata Gofan, saat dia mengayunkan Tongkat Emas Naga Kembar yang berkobar dengan api merah kehijauan.


“Mata Iblis!.”


“Pukulan Api Penakluk Iblis!.”


Dong! Dua tongkat emas saling beradu. Baik Gofan ataupun Slime, keduanya menggunakan jurus yang sama. Keduanya sama-sama terpukul mundur enam langkah, sebelum melesat maju untuk saling bertukar serangan lagi.


Gofan membanting keras tongkat emas ke arah Slime, hal serupa juga dilakukan Slime. Gofan menggunakan jurus cakar, Slime juga menggunakan jurus yang sama. Gofan menghantam dengan Tinju Sembilan Kutukan Langit... Bang!! Slime juga menggunakan tinju yang sama... Bang!! Keduanya mundur dengan langkah yang sama.


Jurus apa pun yang digunakan Gofan, selalu bisa digunakan Slime. Semua gerakan Gofan diduplikasi dengan sangat amat mirip. Gofan mundur, Slime maju. Gofan maju, Slime mundur. Gofan menghindar ke kanan, Slime memukul dari kanan, Gofan memukul dari kanan, Slime menghindar ke kiri.


Pada akhirnya setelah lewat ratusan pertukaran jurus, Gofan babak belur. Sementara Slime baik-baik saja.


Meski ini bukan kali pertama bagi Gofan untuk bertarung menghadapi orang yang terlihat sama persis seperti dirinya, tapi ini adalah kali pertama dia merasakan bahwa Slime di depannya bukan orang lain... tapi itu benar-benar dirinya sendiri. Bertarung melawan Slime membuat Gofan merasa sedang bercermin.


Satu hari...


Dua hari...


Tiga hari...


Tiga hari dua malam, pertarungan belum juga usai. Gofan sudah semakin babak belur dan kelelahan, tapi Slime di depannya tampak baik-baik saja. Meskipun Slime juga meniru raut wajah Gofan yang meringis menahan sakit dan kelelahan, tapi tanpa luka dan keringat ditubuhnya, itu lebih terkesan seperti dia sedang menghina Gofan.


“Makhluk ini meniru apa pun yang aku mampu, bahkan seperti dia bisa menebak apa yang akan aku lakukan selanjutnya... Saat aku berpikir untuk mundur, dia maju dan menyerang.. Saat aku menyerang, dia selalu bisa menghindar dan memukul balik... Apa sebenarnya yang salah?.” Gofan terengah-engah saat matanya melihat bingung ke arah Slime. Dia sudah mencoba banyak cara, tapi sepertinya, Slime selalu bisa menebak langkahnya.


Jika diibaratkan, saat ini, situasi Gofan lebih menyerupai dia sedang menari-nari di hadapan sebuah cermin. Tarian apa pun yang dia lakukan, bayangan di cermin akan bisa menirunya, sama persis tanpa beda sedikit pun.


**


Seminggu kemudian, Gofan menyerah dan Slime itu kembali ke wujud aslinya, tidak tampak oleh mata. Dengan wajah tertekuk, Gofan duduk kesal di dalam gua. Meski tidak lagi bisa melihat kawanan Slime, dia bisa merasakan mereka ada di sekelilingnya.


Gofan duduk diam memulihkan kembali kekuatannya, sesekali, dia akan mengaktifkan Mata Ilahi untuk mengamati Slime, hanya mengamati dan tidak melakukan pertarungan. Meski pun terkadang Slime berwarna biru cerah akan menampilkan wujud seperti sosok dirinya dan seakan ingin menantangnya bertarung, Gofan mengabaikannya.


Waktu terus berlalu, bagai arus air sungai yang tidak bisa berbalik, terus maju dan berganti. Hari demi hari digunakan Gofan untuk mempelajari dan mengamati kawanan Slime. Dari pengamatan itu, Gofan mendapati bahwa kawanan Slime ini mempunyai semacam markas rahasia di bawah tanah di balik dinding gua.


Selama pengamatan, Gofan melihat Slime keluar masuk menembus dinding gua. Mereka keluar mengambil sesembahan dari Kepala Suku dan kemudian membawanya masuk ke dalam gua. Di depan dinding gua yang buntu, mereka berubah bentuk menjadi seperti air dan meresap masuk ke dalam sebuah celah sempit di dinding itu dan menghilang ke dalamnya.


“Celah ini hanya selebar dua helai rambut... Aku tidak akan bisa memasukinya... Jadi...” Dengan menggunakan seluruh tenaga dalam, Gofan meninju kuat-kuat dinding buntu itu, berharap bisa membuat celah sempit semakin melebar dan kemudian membuka jalan ke markas rahasia para Slime.


Tapi.. “Dinding ini!!? Dia seperti menyerap setiap Energi pukulan yang aku lepaskan. Tidak mungkin dihancurkan.. Sial!! Cincin Dimensiku juga ada di dalam sana. Bagaimana caranya masuk?.”


Waktu kembali berlalu. Kini, selain mengamati dan mempelajari para Slime, sesekali Gofan akan mencoba memukul dinding buntu, mencoba untuk meruntuhkannya, meskipun akhirnya sama saja. Dinding itu sama kokohnya seperti sebelumnya.


Satu hari berganti satu minggu. Satu minggu berganti satu bulan, satu bulan berganti satu tahun, dan selama setahun penuh, Gofan masih melakukan hal yang sama, dia terus mengamati dan mempelajari Slime. Meski belum menemukan cara untuk mengalahkan Slime, tapi berkat usahanya, kekuatan Mata Ilahi semakin mudah digunakan. Kini, meski tanpa bantuan Saint Mental, Gofan bisa mengaktifkan Mata Ilahi.


Bisa karena terbiasa, mungkin itulah yang terjadi padanya. Karena terbiasa menggunakan Mata Ilahi untuk mengamati kawanan Slime, Gofan menjadi bisa dengan mudah mengaktifkannya, cukup dengan kehendaknya saja, Mata Ilahi akan terbuka seperti membuka mata biasa.


***


Sementara Gofan masih tenggelam dalam pengamatannya tentang kawanan Slime, waktu terus berlalu. Tanpa terasa, puluhan tahun telah berlalu. Jika ditotal, dari semenjak Gofan meninggalkan Alam Kecil, itu telah berlangsung selama 27 tahun. Satu hal yang belum diketahui Gofan bahwa selama 27 tahun itu, waktu telah berputar 10 kali lipat di Alam Kecil. Semenjak Gofan menghilang dan dinyatakan mati, 270 tahun telah berlalu.


Dalam seratus tahun pertama, Dewa Gelap berhasil mengumpulkan semua, kesembilan Batu Bertuah. Berkat itu, dia berhasil mencapai ranah Saint God. Dia menjadi penguasa terkuat di Alam Kecil, khususnya Benua Penda.


Dewa Gelap mengumumkan namanya sebagai Gumulryong dan mulai sejak itu dia membentuk Aliansi Dunia Gelap. Selama masa pembentukan Aliansi, perang berkecamuk di seluruh Alam Kecil. Gumulryong memimpin pasukannya dan menginvasi Benua-benua lain. Dua perguruan darah murni, Kultus Abu-Abu, Bandit Serigala Biru, dan berbagai Perguruan lain yang berhasil dia taklukkan, dilebur menjadi Aliansi Dunia Gelap.


“BUKA!.” Teriak Gumulryong saat dia mengerahkan semua kekuatan Batu Kematian untuk membuka celah besar antara Alam Kecil dan Alam Kematian alias Neraka.


“Hahaha! Aku datang... Dewa Malam.. Raja Neraka, sekarang waktunya kembali... Kembali dan menyatulah denganku... Lalu kita hancurkan Kaisar Langit itu!! SERANG!!.”


Jutaan pendekar Aliansi Dunia Gelap dimobilisasi masuk ke Alam Kematian, bertarung dan memporak-porandakan Neraka. Tidak menyisakan satu pun anggota Aliansi itu di Alam Kecil, semua hilang di dalam celah besar menuju Neraka.


Puluhan tahun setelah kepergian Gumulryong dan Aliansi Dunia Gelap. Lixiayo dan trah tengkorak putih berhasil mengokohkan keberadaan mereka di Kerajaan Penda. Dengan bantuan Gennai Dadoros, kekuasaan akhirnya jatuh ke tangan Tuogui. Pada akhirnya, sebagian besar penduduk Kerajaan Penda telah diubah menjadi siluman tengkorak putih, dimana hampir semua penduduk di Kerajaan itu, kini, bukan lagi manusia. Tuogui memproklamirkan berdirinya Kerajaan Tulang Putih dan menjuluki dirinya 'The White Lord'.


Kejadian serupa juga terjadi di belahan daratan lainnya. Beberapa puluh tahun berikutnya, Kekaisaran Siluman akhirnya berhasil keluar sepenuhnya dari dimensi siluman dan menguasai sebagian Benua Penda. Rumah keluarga Tian dimusnahkan dan Tanah Halimun menjadi pusat Kekaisaran Baru Siluman.


Setelah menghilangnya Aliansi Dunia Gelap, banyak kerajaan, perguruan, serta aliansi baru lain yang muncul di semua Benua, di Alam Kecil. Terlebih dalam sepuluh tahun terakhir, saat sembilan lubang portal dimensi muncul secara acak di seluruh Alam Kecil.


Sembilan lubang portal dimensi itu mengeluarkan fluktuasi Aura Surga yang membuat gempar Alam Kecil. Banyak Kerajaan, Perguruan, Partai dan Aliansi terbentuk untuk merebut dan menguasai salah satu dari sembilan lubang portal dimensi tersebut.


“Sepuluh tahun lalu, seorang pendekar paruh baya menemukan lubang itu dan masuk ke dalamnya, lalu menemukan sungai besar yang disusun dari batuan bintang-bintang yang besar, berkerlap-kerlip di dalam kehampaan yang amat sangat luas... Aku yakin itu pasti Sungai Bintang Kehampaan, jalan menuju ke Alam Besar.” Seorang pria muda dengan garis merah di dahinya bicara dengan sangat antusias.


“Hexuan. Apa otakmu masih terluka setelah invasi Aliansi Dunia Gelap? Berita itu sudah lama tersebar, apa kamu pikir kami tidak tahu?.” balas seorang gadis bergaun putih.


“Kamu!.” Ucap kesal pemuda itu, sembari meraba garis merah di dahinya, itu bekas luka yang hampir saja merenggut nyawanya.


“Hexuan.. Bailaohu...” Seorang pria paruh baya muncul dari kekosongan, seperti sudah lama mengamati dari sana dan muncul untuk menghentikan perdebatan keduanya.


Saat ini, di sebuah ruangan di dalam Kekaisaran Baru Siluman, lima orang berkumpul untuk membahas persiapan untuk menguasai salah satu dari sembilan lubang portal dimensi. Pemuda dengan garis merah di dahinya adalah Hexuan dan Gadis bergaun putih itu adalah Bailaohu, sementara pria paruh baya yang baru saja muncul adalah Bianselong. Setelah pertempuran di Pulau Api, dia diangkat menjadi Penasihat Agung Kekaisaran Baru Siluman.


“Salam Penasihat Agung...”


“Salam Penasihat Agung...”


Bianselong mengangguk dan melambaikan tangannya saat selembar peta muncul di hadapan empat lainnya.


“Dari sembilan portal ke Alam Besar, Kerajaan Tulang Putih telah menguasai salah satunya, lima lainnya telah dikuasai Aliansi baru di lima Benua lainnya. Hanya tiga ini yang tersisa...” tunjuk Bianselong ke arah tiga titik di dalam peta, “... Kita harus berhasil menguasai yang ini...”


“Ini!??...”


“Benar. Ini adalah titik portal yang muncul di Pulau Api... Saat ini tidak ada Aliansi atau pun Kerajaan yang berani mencoba menguasainya. Seekor Siluman Naga Salju, muncul dan menjaga portal itu... Kaisar sudah memerintahkan, kita berlima akan pergi ke Pulau Api dan mencoba yang terbaik untuk merebut portal dari Siluman Naga Salju itu.”


Dengan demikian, sembilan titik munculnya portal dimensi telah menjadi semacam tanah suci bagi penghuni Alam Kecil. Pertempuran terjadi untuk merebut dan menguasai portal, sebab dengan menggunakan portal itu, harapan untuk mencapai Alam Besar terbuka lebar. Terlebih dengan berbudidaya di dekat lubang portal, peluang untuk mencapai ranah Saint God bukan lagi sebuah mimpi.


***


Di saat yang sama dengan munculnya sembilan lubang portal dimensi, tiga pria paruh baya dari Sekte Pendalaman Musim, terbang melayang terpencar, di atas Laut Sembilan Bintang. Ketiganya, duduk melayang membentuk formasi segitiga. Di dalam formasi segitiga itu, sebuah lubang hitam raksasa muncul. Lubang hitam itulah sumber dari sembilan lubang portal dimensi yang menghubungkan Alam Kecil dan sembilan Sungai Bintang Kehampaan.


“Buyi... Sampaikan kepada tiga Klan Suci untuk mempersiapkan pembukaan penerimaan murid baru.” Ucap salah seorang pria paruh baya kepada seorang Gadis dengan sisik hijau melingkar di lehernya. Gadis itu, Jiang Buyi yang sebelumnya menyelamatkan Gofan.


“Baik Leluhur... Tapi....”


“Ambil ini...” Pria paruh baya itu melemparkan sebuah batu giok berwarna biru terang kepada Jiang Buyi, “... Jika ada lagi Klan Song yang berusaha mengganggumu, gunakan medali perintah itu untuk memberantas mereka.” imbuhnya tegas.


Senyum muncul di bibir indah Jiang Buyi. Dia mengatupkan kedua tangan lalu membungkuk hormat, “Terima kasih Leluhur... Murid akan melakukan yang terbaik demi Aliansi Pendalaman Musim.”


Semenjak dia membunuh Song Hongtian, Jiang Buyi selalu dikejar oleh pembudidaya Klan Song, dan itu membuatnya merasakan sakit kepala. Dengan medali perintah itu, dia merasakan sakit kepala itu telah menghilang. Klan Song tidak mungkin lagi mengganggunya hanya demi kematian Song Hongtian, mereka tidak akan berani melawan medali perintah dari Aliansi Pendalaman Musim.


*Zyuut* Jiang Buyi melesat pergi menuju ke Alam Langit Kedua, menuju ke tiga Klan Suci Tanah Surgawi Kecil.


Bersambung...