Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 128. Calon Suami? Aku Datang Hanya Demi Kitab


Kembali ke ring tarung dua. Gofan akhirnya bertarung menghadapi Dingfang.


Tidak perlu waktu lama, Gofan juga memukul Dingfang terbang melayang keluar dari Kota Hantu. Sementara peserta lain yang tersisa memilih menyerah setelah melihat kekuatan dari Tongkat Emas Naga Kembar.


"Terima kasih Haiwa" Ucap Gofan saat dia menjadi satu-satunya pendekar yang tersisa di atas ring nomor dua.


***


Gofan akhirnya masuk sebagai peserta pemenang delapan besar. Tetapi sayangnya Lujiang tidak termasuk ke dalam delapan besar pemenang pertarungan di babak eliminasi pertama tersebut.


"Sia-sia aku merubah wujudmu Paman. Kamu bahkan tidak lolos di eliminasi pertama." Sindir Gofan kepada Lujiang yang kini tampak babak belur.


"Haih..Siapa yang menyangka, akan ada pendekar sekuat dia di ring nomor empat... ukh.." Sahut Lujiang sembari menahan sakit di dadanya.


"Bocah. Hati-hati pada pemenang ring empat, dia bukan pendekar sembarangan...Menangkan saja kontes ini, Aku akan menunggumu, aku pasti menepati janjiku." Ucap Lujiang dengan wajah kecewa. Lujiang pergi dengan kecewa karena tidak bisa memenangkan babak eliminasi pertama.


*Gong* Babak kedua akhirnya dimulai.


Gofan melaju dengan mudah. Dia memenangkan pertarungan dan melaju ke empat besar.


Gofan memenangkan pertarungan empat besar dan masuk ke semi final.


*Gong* Babak semi final akhirnya dimulai.


Dari delapan pemenang ring tarung, kini hanya tersisa Gofan dan pemenang ring tarung nomor empat yang disebutkan Lujiang sebelumnya. Pendekar muda tersebut bernama Tianyekwang.


'Tianyekwang? Kenapa aku merasa tidak asing dengan kipas yang dibawanya itu?' Batin Gofan saat dia memulai pertarungan semi final menghadapi Tianyekwang.


"Aku tidak menyangka... Orang sepertimu bisa memiliki salah satu dari Sepuluh Berkah Langit." Ucap Tianyekwang sembari menahan serangan batu dari Gofan.


"Aku akan mengalahkanmu dan merebut tongkat itu!" Imbuh Tianyekwang saat dia membentuk segel tangan dan melesat menyerang ke arah Gofan.


"Badai Angin Berhembus Memikat"


Tianyekwang mengibaskan beberapa kali serangan tenaga dalam dari kali kipas besi miliknya yang disertai dengan hembusan angin kencang ke arah Gofan. Hembusan angin kencang itu mengacaukan pandangan Gofan. Gofan memilih mundur beberapa langkah.


"Sepuluh Berkah Langit? Haiwa... Apa maksudnya?" Tanya Gofan sembari menghidari serangan angin dari Tianyekwang.


"Selain Tongkat ini masih ada sembilan senjata lagi yang memiliki kekuatan dari Surga. Kesepuluh senjata itulah yang dia maksud dengan Sepuluh Berkah Langit." Sahut Haiwa dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar.


"Apa saja? Kenapa dia ingin merebutmu dariku?" Tanya Gofan kembali.


"Tombak Perak Berduri, Trisula Samudra Langit, Cermin Cahaya Bulan, Pedang Qianlong, Payung Tangisan Surga, Pagoda Jindun, Cambuk Jingshen, Kapak Xinku, dan Kipas Lipat Besi Dewi Kipas miliknya itu." Sahut Haiwa.


"Kemungkinan dia memiliki tujuan yang sama dengan Kaisar Siluman." Imbuh Haiwa saat Gofan menangkis serangan angin dari kipas Tianyekwang.


'Kipas Lipat Besi Dewi Kipas? Kenapa aku tidak asing dengan nama itu?... Itu seperti senjata kipas milik senior Zuena, tapi warnanya berbeda' Batin Gofan.


"Pedang Qianlong, Pagoda Jindun, Cambuk Jingshen, dan Kapak Xinku bukankah mereka adalah Harta Rahasia?" Tanya Gofan setelah dia mengesampingkan rasa penasarannya dengan kipas yang dipakai Tianyekwang.


"Untuk saat ini.. Benar... Keempatnya adalah Harta Rahasia, tapi saat roh senjata mereka dibangunkan mereka juga adalah Senjata Dewa." Sahut Haiwa.


"Apa tujuannya sehingga menginginkanmu? Apa tujuan Kaisar Siluman?"


"Untuk mendapatkan Kekuatan Setara Langit. Jika sepuluh Senjata Dewa dikumpulkan, Energi Budidaya dalam jumlah besar akan muncul dan memberikan kekuatan yang setara dengan budidaya 1000 tahun Kitab Dewa bagi mereka yang memperolehnya." Sahut Haiwa saat Gofan menerjang maju ke arah Tianyekwang.


"Langkah Kilat"


"Pukulan Api Penakluk Iblis"


*Trang*


Kipas lipat besi dan tongkat emas saling berbenturan.


*Grudug Gedeblar* Petir dan kilat tiba-tiba menggelegar di atas langit tempat pertarungan Gofan dan Tianyekwang.


'Sial. Aku harus pergi...'


"Anggap saja dirimu beruntung. Lain kali aku pasti akan merebut tongkat itu!" Ucap Tianyekwang saat dia melesat mundur dan pergi menjauh dari Kota Hantu.


Tianyekwang melarikan diri dari pertarungan. Usai melihat ke arah langit yang tiba-tiba bergemuruh dan hujan turun. Tianyekwang pergi sembari menghindari kejaran hujan.


'Ada apa ini? Kenapa dia takut dengan gemuruh dan hujan ini?' Pikir Gofan saat dia dinyatakan sebagai pemenang dari kontes pencarian jodoh Shiyuxin.


***


Gofan dan Lujiang menunggu di sebuah ruang tamu. Setelah dinyatakan sebagai pemenang, Gofan dibawa pergi ke kediaman Pemimpin Kota, Shijie.


Gofan membawa serta Lujiang dan menyatakan bahwa dia adalah pelayannya.


"Tuan Kota itu sungguh aneh.. Dia sudah tahu kamu sudah tiba di sini, tapi masih terus menyuruhmu menunggu" Keluh Lujiang.


Lujiang dan Gofan sudah menunggu cukup lama untuk menerima hadiah dari pemenang kontes.


Gofan tidak menanggapi perkataan Lujiang. Di dalam benaknya dia masih penasaran dengan identitas Tianyekwang dan Sepuluh Berkah Langit yang dimaksudnya.


"Paman. Apa kamu tahu sesuatu tentang Tianyekwang?" Sembari masih menunggu, Gofan menyempatkan diri untuk mengetahui lebih banyak tentang Tianyekwang.


"Aku tidak tahu..."


"Tapi, tadi aku sempat mendengar, bahwa dia dijuluki Pendekar Takut Hujan. Katanya, setiap ada hujan turun, dia pasti berusaha menghindarinya. Selain itu, kemana pun dia pergi, sewaktu-waktu hujan pasti muncul disekitarnya." Sahut Lujiang.


"Pendekar Takut Hujan? Pendekar yang tadi kabur dari pertarungan itu?" Ucap seorang gadis bercadar yang tiba-tiba muncul dari belakang kursi Tuan Kota.


Gadis bercadar itu tentunya adalah Shiyuxin. Dia baru saja tiba saat mendengar percakapan Gofan dan Lujiang tentang Tianyekwang.


"Kenapa kamu penasaran dengan orang seperti dia?, Bukankah sudah jelas, dia hanya seorang pengecut." Imbuh Shiyuxin ketika dia duduk di sebelah kursi Tuan Kota.


"Salam putri" Ucap Gofan dan Lujiang ketika mereka menyadari kedatangan Shiyuxin.


"Maaf membuat kalian menunggu... Ayahku sedang ada urusan. Jadi, dia menyerahkan masalah ini langsung kepadaku." Ucap Shiyuxin.


*Blazh* Sebuah gulungan muncul di tangan Shiyuxin.


"Di dalam gulungan ini berisi persyaratan yang harus kamu lakukan sebelum menjadi suamiku. Bacalah!" Shiyuxin melempar gulungan itu ke arah Gofan.


*Tap*


"Paman. Kamu bilang kalian saling mencintai, tapi kenapa sekarang kamu diam saja? Cepat katakan sesuatu" Bisik Gofan saat dia menerima gulungan tersebut.


Lujiang diam cukup lama, dia memperhatikan gulungan di tangan Gofan sembari memikirkan sesuatu.


"Maaf bocah. Sebelumnya aku hanya bercanda. Aku dan dia tidak saling mengenal. Tujuanku sebenarnya bukan karena cinta... Tapi... " Bisik Lujiang pelan.


"Tapi apa?" Bisik Gofan sembari membuka gulungan yang diberikan Shiyuxin.


"Itu Kontrak Pernikahan?" Lujiang tidak menjawab pertanyaan Gofan. Dia justru mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan tentang gulungan yang sedang akan dibaca Gofan.


"Lancang! Aku dengar kamu adalah pelayan calon suamiku, beraninya kamu mengintip isi dari gulungan itu. Keluar!" Teriak Shiyuxin ketika melihat tingkah Lujiang yang dia rasa tidak sopan untuk ukuran seorang pelayan.


'Calon suami? Aku datang hanya demi kitab..' Batin Gofan.


"Tidak apa Putri. Dia sudah seperti saudara bagiku. Mohon Putri memakluminya."


"Jianglu. Perhatikan sikapmu!" Ucap Gofan sembari menghalangi pandangan Lujiang dari membaca isi gulungan tersebut.


'Paman! Apa yang coba kamu rahasiakan? Cepat katakan, atau aku akan menyihirmu menjadi katak!' Ancam Gofan melalui pikirannya kepada Lujiang.


"Calon suamiku. Tolong suruh dia keluar dulu. Ada yang ingin aku bicarakan hanya denganmu." Sahut Shiyuxin.


"Benar. Tuan Muda. Aku sungguh tidak sopan. aku akan keluar. Aku permisi, Tuan Muda, Putri..." Lujiang terburu-buru pergi dan menyetujui perintah Shiyuxin.


Lujiang segera pergi meninggalkan Gofan dan Shiyuxin berdua di ruangan tersebut. Lujiang sengaja menuruti perintah Shiyuxin agar dia tidak menjawab ancaman Gofan.


"Ada apa Putri? Apa yang ingin kamu katakan?" Tanya Gofan usai menghela napas melihat kepergian Lujiang.


"Tunjukkanlah dirimu yang sesungguhnya. Kenapa kamu harus menyamar sebagai Yanse?" Sahut Shiyuxin.


*Deg*


'Bagaimana dia bisa tahu?..'


"Hahaha.. Apa maksud Putri? Aku Yanse. Untuk apa aku menyamar sebagai diriku?" Gofan berdalih.


"Baik. Bisakah kamu mempertahankan samaran itu setelah bercermin di cermin milikku ini?" Sahut Shiyuxin saat sebuah cermin muncul di telapak tangan kanannya.


'Cermin Cahaya Bulan!? Gofan itu dia... Salah satu dari Sepuluh Berkah Langit' Ucap Haiwa melalui pikiran kepada Gofan.


Bersambung...