
Seketika semua hening. Semua Pendekar berusaha menahan agar tidak membunuh, mereka menghindar dan menghindar. Setelah beberapa puluh napas, pembunuhan mulai berkurang, tapi pertarungan masih terus berlanjut.
Tungdie kesal melihat hal itu, dia turun dari atas Teratai Beku Langit Utara. Tangannya menunjuk ke arah Formasi yang mengurung semuanya, 30an orang yang berada di atas teratai yang sama dengannya segera menyusup masuk ke dalam kedua Formasi.
“Bantai!.” Teriak Tungdie, “Bunuh semuanya... Jangan sisakan satu pun juga... Hidup Kegelapan... Hidup Dewa Gelap!.”
“Hidup Kegelapan... Hidup Dewa Gelap!.”
“Hidup Kegelapan... Hidup Dewa Gelap!.”
“Hidup Kegelapan... Hidup Dewa Gelap!.”
Semua pasukan Kultus Abu-Abu itu menyuarakan kalimat yang sama dengan perkataan Tungdie, niat membunuh membumbung tinggi di setiap mata mereka.
“Kalian! Maju! Bantai semua!.” Xingmou mengikuti tindakan Tungdie, dia menunjuk dan mengarahkan 30an pasukan Kultus Abu-Abu laimnya untuk menyerang ke dalam Formasi.
Xingmou dan Tungdie melayang di udara di depan Kepompong Hitam yang terus menghisap darah.
Suara tawa serak, terdengar muncul di belakang keduanya, “Kita harus segera menyelesaikan ini... Atau Hyang Abadi tidak akan berhasil dalam pencarian kebangkitannya.” Ucap seorang Pria bungkuk dengan wajah sedikit cabul. Itu Guxiu, sekarang dia tampak sedikit bugar. Seperti lebih muda beberapa tahun.
“Benar.. Ketua.. Aku akan maju, aku akan merebut kembali semua jiwa yang dibutuhkan Hyang Abadi.” Seorang Pria paruh baya dengan tubuh kurus dan mata sembab, muncul memberi hormat kepada ketiganya. Jika Gofan ada di sana, dia akan mengenali Pria paruh baya itu, dia Huangkong. Anggota Pasukan Kultus Abu-Abu ditemui Gofan di Alam Ilusi Haiwa.
Ketiganya mengangguk pelan, Huangkong maju dan menyerang ke arah Gofan. Tujuannya sudah pasti Gofan.
“Aku juga akan turun... Aku dengar bocah ini punya semacam jurus racun yang aneh.. Aku akan melihat sesaat, sebelum membunuhnya Hehehe.” Guxiu turun dan masuk ke dalam Formasi. Dia berdiri tinggi di sudut atas Area Turnamen, melihat pertarungan Gofan melawan Gumulryong, Serigala, Xiongmeng, dan Huangkong.
Pembunuhan dimulai lagi, mau tidak mau, mereka dipaksa membunuh. Jika mereka hanya bertahan, mereka akan mati oleh serangan aneh yang dilakukan oleh 60an Pasukan Kultus Abu-Abu.
Dum Dum!
Dum Dum!
Dum Dum!
Dentuman detak jantung Kepompong Hitam semakin keras, daya hisapnya semakin kencang, setiap mayat yang tumbang, bahkan belum sampai menyentuh tanah akan langsung dikeringkan, seketika menjadi abu.
Kembali ke pertarungan Gofan. Saat ini dia terdesak, empat lawan satu, tentu dia kewalahan.
“Serahkan Siluman Anjing itu! dan aku akan membiarkanmu mati dengan mayat utuh.” Ucap Huangkong saat pedangnya menebas ke arah Gofan. Xiongmeng dan Gumulryong membuka jalan untuk serangan pedang itu.
*Zyuut*
“Masih ada aku! Jangan harap kamu bisa membunuh Gofan.” Teriak seekor Ular Hijau Raksasa. Ular sepanjang 90an kaki itu, muncul keluar bersama sebuah Pagoda kecil yang bertengger di atas kepalanya. Itu Pagoda Jindun dan Ular itu adalah Julala.
Saat Julala muncul dan menepis serangan pedangnya, Huangkong terkejut sesaat sebelum matanya berbinar melihat Pagoda di atas kepala Julala. Semua yang ada di sana, bisa melihat ada dua cahaya di dalam Pagoda itu, dan itu sudah pasti adalah Fanjia dan Ling Guo.
Gofan sama terkejutnya dengan Huangkong, ini pertama kalinya dia melihat Julala muncul dengan Pagoda Jindun, “Setelah berada lama di dalam Pagoda itu, sepertinya Xiashe telah membangun hubungan dengan Pagoda.”
Semua perlu waktu untuk dijelaskan, tapi sebenarnya hanya terjadi dalam waktu beberapa hela napas. Gumulryong dan Xiongmeng kembali menyerang Gofan. Julala bertarung dengan Huangkong.
Mereka bertarung ribuan ronde sebelum akhirnya, Gofan kehilangan salah satu tangannya, cakar Serigala Mata Biru berhasil memotong lengan kiri Gofan.
Gada Air dan Tongkat Api berbenturan, celah udara terbentuk di antaranya, dengan hanya satu tangan Gofan tidak berhasil menekan kekuatan penghancur dari Gada Gumulryong. Dia terpukul jatuh dan membentur tanah dengan keras.
Satu hal yang susah diatasi adalah kemampuan transformasi Xiongmeng. Setiap Gofan berhasil memukulnya mundur, dia akan maju dengan kekuatan yang lebih besar. “Selama Formasi ini masih ada, aku khawatir akan susah untuk membunuhnya.”
Selain itu kemampuan Elemen Gumulryong berada jauh di atas Gofan. Setelah pertarungan itu, Gofan menyadari Gumulryong memiliki pecahan Batu Bertuah lainnya, Batu Elemen. Serangan diam-diam Serigala Mata Biru juga sangat mengkhawatirkan, bahkan karena serangan itu, dia kehilangan sebelah tangan.
Gumulryong dan Xiongmeng tidak memberi jeda, mereka langsung menukik, kembali menyerang Gofan. Bilah-bilah pedang angin berdesir di sekitar Gumulryong, lolongan Serigala menyakitkan telinga mendengung ke arah Gofan, dan serangan cakar berdarah Xiongmeng menerjang ke arahnya.
Bang! Bang! Bang! Tiga Ledakan beruntun menggema, membuat debu dan tanah berhamburan ke atas, sebuah cekungan terlihat terwujud karena tekanan serangan itu.
Xiongmeng tertawa keras, “Mati! Akhirnya kamu mati.. Bocah terkutuk!!.” Teriaknya puas. Dia tidak melihat Gofan yang dilihatnya hanya kepulan asap ledakan bercampur debu dan tanah.
Lain halnya dengan Gumulryong, dia tidak tertawa, alisnya menekuk, dia merasa sesuatu yang salah sepertinya telah terjadi. Telah beberapa hela napas berlalu, tapi Gofan tidak terlihat keluar dari asap ledakan melainkan sebuah suara aneh perlahan terdengar.
*Kretak tak*
*Kretak tak* Suara aneh itu adalah suara retak mirip suara kaca perlahan mulai pecah.
“Terima kasih telah membantuku.” Ucap sebuah sosok bayangan yang terlihat berdiri tertatih-tatih di dalam asap ledakan. Itu Gofan. Tubuhnya tertutup debu dan tanah, darah keluar dari sudut bibirnya, dan lukanya parah. Tapi dia masih bertahan.
“Mustahil!!!.” Teriak marah Xiongmeng, tidak percaya Gofan masih hidup.
Gofan masih hidup tapi dia sekarat, hampir semua tubuhnya remuk karena serangan tersebut. Jika bukan karena tingkat penyembuhan dari Tubuh Gajah Naga Sejati dan Tulang Emasnya, dia mungkin sudah mati.
Gofan terkekeh pelan, dia tersenyum menghina keterkejutan Xiongmeng, “Terima kasih telah menghancurkan Formasi ini... Ukh!...” Dia tertawa saat sesuap darah keluar dari mulutnya.
Pyang! Formasi Roh Air Kuning pecah. Formasi itu hancur. Gofan sengaja membiarkan dirinya diserang hanya demi menghancurkan Formasi Roh Air Kuning sedikit demi sedikit.
Anggota dua Perguruan yang berjaga di titik Formasi pacah tersebut mati ditempat, sementara Tuanfuzi dan anggota lainnya terperangah melihat hal ini. Dia tidak mengira Formasi akan hancur bahkan sebelum proses kebangkitan Kepompong Hitam selesai.
“Bodoh!! Tianfuzi... Apa yang kamu lakukan! Jangan berdiri diam! Bunuh bocah itu dan juga yang lainnya!.” Teriak Tungdie dari atas Formasi Tameng Harimau Naga.
Keterkejutan Tianfuzi sirna saat dia mendengar teriakan Tungdie, “Serang!!!...Hidup Kegelapan... Hidup Dewa Gelap!.” Teriaknya saat dia masuk ke dalam Area Pertempuran bersama anggota dua Perguruan lainnya.
Karena Formasi Roh Air Kuning hancur, mereka yang kerasukan perlahan sadar kembali dan dalam kebingungan. Sementara mereka yang sudah terlanjur menjadi Tubuh Perjanjian, sudah melakukan Kontrak dengan para Roh Jahat hanya mengalami sedikit penurunan kekuatan, itu terjadi juga pada Xiongmeng.
“Sialan! Bocah terkutuk!.” Melihat tubuhnya mengendur dan kekuatannya sedikit menurun, Xiongmeng geram dan meluncur cepat ke arah Gofan, “MATI!.”
“Haiwa.. Ku serahkan padamu.” Ucap Gofan pelan, dia duduk bersila dan mulai memulihkan dirinya, tangan kanannya membentuk cengkraman saat tangan kirinya yang terpotong melayang ke arahnya. Gofan menyatukan kembali lengannya yang terpotong. Dengan kemampuan Tubuh Gajah Naga Sejati, tidak mustahil baginya untuk melakukan itu.
Cahaya Ungu berkedip-kedip saat Gofan memutar Kitab Surga Sembilan Langit untuk menyembuhkan dirinya. Sekarang dia berada di tahap keempat, di tahap Langit Kedua. Kecepatan penyerapan Energi Langit dan Buminya sangat mencengangkan, bahkan petir bergema di langit malam itu karena tertarik oleh daya hisap dari Budidaya Gofan.
Kepompong Hitam bergoyang pelan, seperti mengetahui apa yang sedang dilakukan Gofan. Sosok di dalamnya membuka mata dan tawa aneh keluar dari Kepompong Hitam itu. “Hahaha... Kitab Surga Sembilan Langit, pewaris Sembilan Langit ada di sini... Bunuh dia dan ekstraksi kesadarannya, dapatkan Kitab itu!!.” Tanah bergetar saat suara itu bergema di telinga semua yang ada di Pulau Api.
Bersambung...
Tahap Budidaya Kitab Surga Sembilan Langit
Ada 11 tingkatan, dua tingkat dasar dan sembilan tahap utama. Tingkat dasar pertama dan tingkat dasar kedua, kemudian tahap Langit Pertama, tahap Langit Kedua, tahap Langit Ketiga, hingga tahap Langit Kesembilan. Saat ini Gofan berada di tahap Langit Kedua.
Terima kasih sudah membaca & Semoga Tuhan memberkati