
Setelah Duan Tianlang mengetahui dari Mouhuli mengenai kepergian Gofan bersama Vasudev ke Paviliun Bunga Indah, Duan Tianlang memutuskan untuk mempercepat proses upacara pengangkatan Gofan sebagai Pewaris Baru.
Wuling yang sedari awal sudah diberikan tanggung jawab sebagai kepala koordinasi acara, sudah berhasil mempersiapkan semua keperluan. Termasuk Mantel Bulu Kera dari Gunung Huangsun, salah satu yang harus ada di upacara tersebut. Gunung Huangsun sendiri adalah tempat kelahiran dari Tianyuan sang Dewa Perang, di sanalah Mantel Bulu Kera milik Tianyuan disimpan.
" Hormat Mahaguru " Wuling muncul dan memberi hormat kepada Duan Tianlang.
" Wuling. Mana mantel bulunya? " Ucap Duan Tianlang tidak sabar.
" Ini Mahaguru " Wuling maju dan menyerahkan sebuah kotak kayu berisikan mantel bulu kepada Duan Tianlang.
" Akhirnya mantel bulu ini bisa dikeluarkan dari Gunung itu. Jika Gofan tidak muncul, mungkin mantel ini harus menunggu beberapa ratus tahun lagi sebelum ada pewaris yang baru " Ucap Duan Tianlang sembari meraba mantel bulu di dalam kotak kayu tersebut.
' Mantel Bulu Kera? Bukannya itu Jubah Dewa Perang? ' Pikir Mouhuli ketika menatap mantel bulu yang kini dipamerkan oleh Duan Tianlang.
Sementara Duan Tianlang dan perguruannya tengah disibukkan dengan persiapan upacara Pewaris Baru, Xunialiang tiba di Istana Kerajaan Penda.
[Istana Kerajaan Penda - Halaman Depan Istana]
" Jadi Guru datang untuk menanyakan mengenai status buronan Iblis Putih yang tiba-tiba dihapuskan? " Tanya Cangmok yang saat ini sedang berjalan beriring bersama dengan Xunialiang.
Xunialiang tiba dan segera menghampiri muridnya itu. Cangmok adalah seorang pemuda bangsawan yang baru beberapa bulan ini diangkat murid oleh Xunialiang.
" Benar. Apa kamu tahu sesuatu tentang itu? "
" Setahuku, itu karena permintaan dari Putra Mahkota, Pangeran Litaeri... "
" Beberapa hari lalu, Pangeran Litaeri bertemu dengan Jendral Lixiayo. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi setelah itu, Pangeran menghadap Raja secara pribadi dan memohon penghapusan itu " Sahut Cangmok.
" Lalu bagaimana dengan pelelangan dua gadis pendekar di Paviliun Bunga Indah, Kenapa beritanya juga menghilang? " Tanya Xunialiang lagi.
" Beberapa hari lalu, rombongan penatua dan murid elit Lembah Bunga Kamboja melewati Kota Langit Cahaya untuk mendaftarkan murid elit mereka mengikuti Turnamen Pulau... "
" Itulah yang membuat Paviliun Bunga Indah membungkam semua berita tentang pelelangan itu. Mereka tidak ingin menarik pertikaian dengan rombongan Lembah Bunga Kamboja "
" Lucu sekali Ziyishi itu... Sudah tahu kedua gadis itu, murid dari Lembah Bunga Kamboja, masih berniat melelang mereka secara sembunyi-sembunyi " Ucap Xunialiang menanggapi penjelasan Cangmok.
" Selain itu, aku dengar, Tianfuzi secara rahasia menggerakkan pasukannya untuk mencari jejak keberadaan Vhala Vasudev dan Si Iblis Putih " Imbuh Cangmok.
" Lalu dimana saudagar licik itu sekarang? " Xunialiang menanyakan keberadaan Tianfuzi saat ini.
" Kemarin dia berangkat menuju ke Pulau Api setelah menerima sebuah pesan dari seseorang "
" Pesan? Pesan apa? Siapa yang mengiriminya pesan? " Tanya Xunialiang penasaran.
Cangmok menggelangkan kepala, " Aku tidak tahu Guru... Tapi, aku akan mencari tahu mengenai hal ini, jika memang Guru membutuhkannya " Ucap Cangmok menjawab pertanyaan Xunialiang.
' Tidak masalah apa isi pesan itu, selama itu bukan menyangkut keberadaan mereka... aku tidak perlu khawatir ' Pikir Xunialiang.
" Baik. Carilah informasi itu... Juga tentang alasan mengapa Putra Mahkota meminta Raja menghapuskan berita buronan untuk si Iblis Putih "
Cangmok mengangguk dan menyanggupi perintah Gurunya. Usai itu, kedua Guru dan Murid itu bercakap-cakap sembari membicarakan mengenai perkembangan budidaya Cangmok.
[Air Terjun Mata Air Surga - Dimensi Payung Tangisan Surga]
*Byuurr* Suara air terjun mengalir memenuhi airan sungai tempat dimana Gofan melakukan meditasi.
Air bergemirik ketika ikan-ikan kecil melompat-lompat di dalam sungai.
Tujuh bulan berlalu dan Gofan masih berdiri di bawah guyuran air terjun. Tidak sekali pun Gofan beranjak dari dalam sungai dimana air terjun mengguyur tubuhnya.
Pikiran Gofan benar-benar telah kosong. Selama melakukan meditasi dengan metode dari Tapa Brata Yuga Samadhi, Gofan akhirnya berhasil mengosongkan pikirannya.
' Apa itu lahir? Apa itu hidup? Apa itu sakit? Apa itu mati? Semua dari kekosongan dan pasti kembali ke kekosongan. Dari Ketiadaan pasti kembali ke ketiadaan. Mengejar apa yang nyata berarti mengejar sebuah ketiadaan ' Batin Gofan ketika dia membuka matanya dan mengakhiri meditasinya.
*Duaarr*
*Duaarr*
Energi Surga, Energi Mental, Energi Tanah, Energi Sihir, dan Energi Petir, keluar dari tubuh Gofan dalam skala besar dan membuat gelombang ledakan bertubi-tubi di sekitarnya.
Ketika Gofan berhasil mengosongkan semua pikiran dan semua bebam yang dia pikirkam selama ini, dia justru menemukan bahwa semua energi di dalam tubuhnya justru berkembang pesat.
Ketika ketenangan pikiran dia dapatkan, kedua Kubus Oktagon di dalam tubuhnya bergabung dan menjadi sebuah Kubus berbentuk dadu yang berwarna emas.
' Sepertinya Gofan berhasil memenuhi cangkang kosong di ranah budidayanya... Grand Master tahap akhir yang sempurna ' Batin Haiwa yang mengamati hasil meditasi Gofan dari jauh.
Gofan akhirnya memahami makna dari Kosong adalah berisi dan berisi adalah kosong.
' Mengosongkan diri dari segala kebatilan dan mengisi diri dengan segala kebajikan ' Senyum Gofan saat dia keluar dari Air Terjun Mata Air Surga dan membentuk sebuah segel tangan.
" Celah Ruang Dimensi "
Gofan merobek udara dihadapannya dan membuat sebuah celah ruang dimensi yang akan membawanya kembali ke dunia nyata.
" Haiwa terima kasih untuk segalanya. Aku Pergi dan sampai jumpa lagi! " Teriak Gofan ketika dia melangkah keluar dari Dimensi Payung Tangisan Surga.
' Bocah ini... ' Batin Haiwa saat dia tersenyum menyaksikan kepergian Gofan dari dalam dimensi miliknya itu.
Setelah tujuh bulan, akhirnya Gofan berhasil mempelajari sihir ruang dan waktu. Meski tidak semudah yang dilakukan Vasudev, tetapi Gofan sudah bisa melakukannya. Hanya saja, kali ini Gofan salah menentukan tempat yang dia tuju.
" Ini? Apa aku salah menentukan tujuan perpindahan dimensinya? Ini... Dimana ini? " Ucap Gofan ketika menyadari bahwa dirinya bukan muncul kembali di kediaman Xunialiang tetapi muncul di suatu tempat yang dia rasa tidaklah asing.
Gofan berjalan menelusuri Kota di tempatnya sekarang muncul.
" Sepertinya aku salah membayangkan tempat yang ingin aku tuju " Gumam Gofan sembari terus menelusuri jalanan Kota tersebut.
" Permisi Pak. Kalau boleh tanya ini dimana ya? " Tanya Gofan kepada seorang pedagang di tepi jalan.
Pedangang itu tidak menjawab. Dia menunjuk ke arah sebuah kedai. Gofan menggaruk kepalanya dan menghela napas melihat jawaban yang diberikan dari pedangan itu.
' Apa maksudnya? Apa aku harus bertanya ke kedai ini? ' Pikir Gofan ketika tiba di depan Kedai yang ditunjuk pedagang itu.
Gofan masuk dan duduk di salah satu meja yang kosong. Kedai yang tidak terlalu besar itu, kini dipenuhi oleh beberapa orang yang terlihat berpenampilan seperti pendekar.
" Tuan. Mau pesan apa? " Tanya seorang gadis pelayan kepada Gofan.
Gofan mengeluarkan sebuah koin emas dan berkata pelan kepada si Gadis pelayan, " Terima ini... Beritahu aku, apa nama Kota ini? Kenapa di depan gerbang dan di sepanjang jalan tidak ada papan nama Kota? "
Gadis itu melihat koin emas yang disodorkan Gofan ke arahnya, " Ini Kota Hantu. Dulu namanya Kota Larangan. Semua papan nama Kota yang dulu sudah dihancurkan dan dibiarkan tanpa nama "
" Kota Larangan? "
" Iya Tuan. Itu namanya yang dulu, sekarang sudah diganti dengan nama Kota Hantu " Sahut Gadis pelayan sembari mengambil koin emas dan memasukkannya ke dalam kantong bajunya.
' Pantas saja aku merasa tidak asing dengan Kota ini '
" Kenapa Kota ini dinamai Kota Hantu? " Tanya Gofan lagi.
Gadis pelayan itu tidak menjawab. Dia diam sembari menatap ke arah Cincin Dimensi Gofan.
Melihat hal itu, Gofan mengeluarkan lagi beberapa koin emas.
" Sekarang. Ceritakan padaku semua tentang Kota ini, semakin rinci semakin baik " Gofan menyodorkan tiga keping koin emas kepada si Gadis pelayan dan sisanya masih berada di genggaman tangan Gofan.
" Setelah pembantaian Perguruan Tanah Terlarang 12 tahun lalu, sebuah perguruan baru muncul dan menguasai Kota. Namanya Perguruan Alam Mayat. Mereka menjadi penguasa Kota dan merubah nama Kota ini menjadi Kota Hantu... "
" Perguruan mereka termasuk ke dalam Perguruan Tingkat Bintang Emas " Tutur Gadis pelayan kepada Gofan.
' Perguruan Alam Mayat? Tingkat Bintang Emas? Tapi kenapa nama perguruan ini tidak pernah ku dengar? ' Batin Gofan saat si Gadis pelayan melanjutkan ceritanya.
Bersambung...