
Selama dalam perjalanan menuju Perguruan Tunjung Putih, Gofan menceritakan semua yang terjadi kepada Lujiang dan menanyakan perihal kitab yang ingin dicuri Lujiang dari ruang baca Shijie.
Lujiang pada awalnya masih enggan untuk mengungkapkan kitab apa yang hendak dia curi, tetapi pada akhirnya dia mengatakan bahwa kitab yang dia ingin curi adalah Kitab Raja Alam Kebangkitan.
Setahu Gofan kitab yang hendak dicuri Lujiang adalah kitab yang dipelajari oleh Shijie dan keluarganya. Sebuah kitab pengolah Energi Mental yang menjadikan pembudidayanya mampu mengendalikan hantu dan mayat.
Setelah satu hari terbang, Gofan dan Lujiang tiba di Perguruan Tunjung Putih.
***
[Perguruan Tunjung Putih]
Saat Gofan tiba, dia mendapati Vasudev, Xunialiang, dan Goxianlong sudah berada di perguruan itu. Sementara Yubing, Nian, dan Meiling dikabarkan pergi untuk menemui anggota Lembah Bunga Kamboja.
Gofan juga mendapat berita dari Mouhuli tentang kerja sama yang ingin dilakukan Lixiayo dengannya, serta Upacara Pewaris Dewa Perang yang akan diadakan tiga hari kemudian.
***
Tiga hari kemudian, Upacara Pewaris Dewa Perang pun akhirnya diadakan.
Meski diadakan secara mewah dan dengan persiapan lama, namun hanya beberapa Perguruan Bela diri yang menghadiri Upacara tersebut.
"Ini semua karena kami sudah memutuskan untuk menutup diri dari dunia bela diri, jadi tidak banyak lagi kerabat perguruan lain yang bersedia hadir dan bisa kami undang." Ucap Duan Tianlang.
"Apakah Mantel Bulu Kera ini nyaman?" Imbuh Duan Tianlang saat bertanya mengenai Mantel Dewa Perang yang sekarang dikenakan Gofan.
"Sangat nyaman... Entah kenapa aku merasa menjadi bertambah kuat saat mengenakan Mantel Bulu Kera ini. Terima kasih Mahaguru." Sahut Gofan sembari mengelus bagian pundak kiri dari Mantel yang dia kenakan.
"Haih... Jangan panggil aku Mahaguru. Panggil aku Senior saja. Sekarang kamu adalah pemilik seluruh perguruan ini. Tidak perlu sungkan. Ayo ikuti aku!" Sahut Duan Tianlang sembari mengantar Gofan menuju ke hadapan Altar Upacara.
Setelah Duan Tianlang menyampaikan kata sambutan dan pembukaan, serangkaian alur upacara dilaksanakan.
Beberapa saat kemudian, Gofan diminta memberi hormat di hadapan Patung Dewa Perang yang ada di sebelah Altar Upacara. Patung Dewa Perang itu adalah Patung Tianyuan berlapis emas setinggi pria dewasa yang berdiri gagah di sebelah Altar Upacara.
'Sialan... Apa mereka mengganti Patung yang lama? Mereka membuat wajah Tuan Tianyuan tampak seperti itu. Gofan, sampaikan pesanku.. Aku ingin patung ini diganti!' Keluh Haiwa dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar yang kini di tempatkan di atas Altar Upacara.
'Baik akan aku sampaikan.' Sahut Gofan melalui pikirannya saat dia membungkuk memberi hormat pada Patung Tianyuan.
Haiwa mengeluh karena patung yang dibuat untuk menjadi simbolis Tianyuan sang Dewa Perang masih berwajah mirip seekor kera. Padahal saat menjadi seorang Dewa Perang, wajah Tianyuan sudah seperti manusia pada umumnya.
Setelah Gofan menyelesaikan penghormatannya kepada Patung Tainyuan. Tongkat Emas Naga Kembar yang berada di atas Altar Upacara memancarkan cahaya kuning keemasan dan terbang melayang berputar-putar di atas Altar tersebut.
'Gofan. Teteskan setetes darahmu pada kertas ini! Dengan demikian, kamu telah menjadi pewaris yang baru!' Ucap Haiwa ketika sebuah gulungan kertas berwarna keemasan keluar dari Tongkat Emas Naga Kembar yang masih berputar melayang.
Mengikuti ucapan Haiwa, Gofan mengambil gulungan kertas keemasan itu dan meneteskan setetes darahnya ke dalam kertas.
Usai Gofan meneteskan darahnya, gulungan kertas keemasan itu menyusut dan masuk ke dalam kening Gofan.
'Ini? Apa mereka semua adalah para pewaris sebelumnya?' Batin Gofan saat lima sosok pria yang juga mengenakan Mantel Bulu Kera muncul di dalam pikirannya.
Sesaat setelah gulungan itu masuk ke dalam kesadaran Gofan, muncul lima sosok pewaris sebelumnya di dalam pikiran Gofan. Dua di antaranya adalah Tianyuan dan Wukong. Gofan hanya mengenali Tianyuan, sementara empat lainnya termasuk Wukong baru pertama kali ini dilihat Gofan di dalam pikirannya.
'Benar Tuan... Mereka adalah para pewaris sebelum dirimu, yang berada di sebelah Tuan Tianyuan adalah Tuan Shabajie, lalu Tuan Shancueng, kemudian Tuan Wujangjie dan yang terakhir adalah Tuan Wukong.' Tutur Haiwa memperkenalkan identitas para pewaris sebelumnya kepada Gofan.
Sekarang setelah Gofan menjadi pemilik sah dari Tongkat Emas Naga Kembar, Haiwa memanggil Gofan dengan sebuatan Tuan. Itu adalah bentuk penghormatan Haiwa kepada Gofan sebagai Tuan pemilik Tongkat Emas Naga Kembar yang baru.
Tidak berselang lama setelah itu, Tongkat Emas Naga Kembar yang sebelumnya berputar melayang di atas Altar, berhenti dan meluncur ke dalam genggaman tangan Gofan.
Melihat Tongkat sakti itu kini berada dalam genggaman tangan Gofan, Duan Tianlang melirik dan mengangguk pelan ke arah Kangkai. Menyuruhnya untuk melanjutkan rangkaian upacara.
"Beri hormat pada Tuan Muda Pewaris!" Seru Kangkai saat dia memimpin para Penatua dan para murid untuk membungkuk memberi hormat kepada Gofan.
"Panjang umur Tuan Muda Pewaris! Panjang umur Tuan Muda Pewaris! Panjang umur Tuan Muda Pewaris!" Seru Duan Tianlang, Kangkai, Suezilu, Wuling, serta seluruh penatua dan murid Perguruan Tunjung Putih dan Partai Tongkat Sakti kepada Gofan.
Gofan membungkuk pelan membalas penghormatan yang diberikan.
Usai memberi hormat kepada Gofan. Duan Tianlang dan Kangkai melangkah menghampiri Gofan.
"Tuan Muda, karena sekarang kamu telah resmi menjadi pewaris, maka terimalah ini." Duan Tianlang menyerahkan sebuah token kayu tanda pengenal Perguruan Tunjung Putih.
"Terima kasih Senior." Sahut Gofan sembari menyimpan token kayu itu ke dalam Cincin Dimensi miliknya.
"Sekarang kita akan memasuki sesi tantangan. Apakah Tuan Muda bersedia untuk menerima tantangan tarung sebagai bukti kebanggaan pemilik baru dari Tongkat Dewa Perang?" Tanya Duan Tianlang.
"Tentu. Tidak masalah." Sahut Gofan sembari mengayunkan beberapa kali Tongkat Emas Naga Kembar yang berada di dalam genggaman tangannya.
"Baiklah Tuan. Kita akan memulainya sekarang." Sahut Duan Tianlang.
"Kangkai.. Lanjutkan!" Imbuh Duan Tianlang kepada Kangkai yang berdiri di sebelahnya.
"Baik Kak." Sahut Kangkai sebelum dia pergi ke atas sebuah Podium yang berada di dekat Altar Upacara.
"Untuk yang berani mengajukan tantangan silahkan maju!" Imbuh Kangkai.
Seorang Gadis bercadar bangkit dari tempat duduknya dan melangkah maju ke atas podium.
"Aku Shiyuxin, Putri Kota Hantu, menantang Tuan Muda Pewaris! Jika aku menang, kamu harus memenuhi tanggung jawabmu dan mengembalikan cincin serta cermin milikku!" Tunjuk Shiyuxin ke arah Gofan.
'Dia? Bagaimana dia bisa tahu aku ada di sini?!' Batin Gofan ketika dia terkejut melihat kehadiran Shiyuxin.
Shiyuxin baru saja sampai di Perguruan Tunjung Putih. Dia sampai sesaat sebelum gulungan kertas keemasan masuk ke dalam kening Gofan. Anehnya, meski Shiyuxin sudah cukup lama duduk dan menyaksikan jalannya upacara tersebut, tidak ada satu pun yang menyadari kehadirannya.
Semua yang hadir di upacara tersebut terkejut melihat dan mendengar ucapan Shiyuxin. Kebanyakan dari mereka tidak mengerti pertanggung jawaban apa yang diminta Shiyuxin kepada Gofan. Hanya Lujiang, Vasudev, Mouhuli, Duan Tianlang dan teman-teman Gofan lainnya yang mengetahui tentang kejadian di Kota Hantu.
"Haha...Salam Putri.. Sungguh kehormatan bagi kami, Putri Pemimpin Kota Hantu bisa hadir di upacara ini..." Sahut Duan Tianlang.
"Kami mohon maaf karena tidak menyadari kedatangan Putri sebelumnya, sehingga kami tidak memberi sambutan dengan layak... Dan mengenai permasalahan pertanggung jawaban itu, kami sama sekali tidak mengerti. Mungkinkah sedang terjadi kesalahpahaman?... Ini adalah Upacara Suci, mohon Putri tidak mencampur adukkan dengan perkara lain." Imbuh Duan Tianlang mewakili Gofan.
Duan Tianlang membantu Gofan untuk menutupi kenyataan bahwa memang benar Gofan yang telah memenangkan kontes jodoh Shiyuxin dengan menyamar sebagai Yanse.
Secara pribadi, Duan Tianlang menentang hal itu. Dia tidak setuju jika pemilik Perguruan Tunjung Putih harus memiliki istri seorang pengendali hantu dan mayat seperti Shiyuxin.
Selain itu, usia Gofan juga masih sangat muda. Karena itu, Duan Tianlang membantu Gofan berdalih mengenai kemenangannya di kontes jodoh tersebut.
*Zyuut* Seorang pria paruh baya berbaju serba putih dengan riasan wajah aneh muncul tepat di sebelah Shiyuxin. Pria itu tidak lain adalah Shijie, Ayah Shiyuxin.
"Haha.. Selamat Senior Tianlang. Selamat karena pewaris baru telah ditemukan... Aku merasa beruntung sekali, Tuan Muda Pewaris yang baru dari perguruanmu ini sudi menikahi Putriku, setelah upacara ini tentunya." Ucap Shijie sesaat setelah dia muncul di atas podium.
"Tuan Muda Pewaris telah mengikuti kontes jodoh untuk putriku beberapa hari yang lalu. Dia menyamar sebagai pendekar muda dari Perguruan Bambu Giok dan memenangkan kontes jodoh itu, benar bukan Tuan Muda?" Imbuh Shijie sembari menatap dingin ke arah Gofan.
Gofan terkejut mendengar ucapan Shijie yang tiba-tiba muncul di atas podium.
"Haha...Terima kasih Tuan Shijie. Terima kasih. Tapi, sepertinya ada sebuah kesalahpahaman di sini. Tuan Muda kami baru saja keluar dari pelatihan tertutup, bagaimana mungkin dia mengikuti kontes jodoh yang kamu maksud?" Sahut Duan Tianlang masih berdalih mewakili Gofan.
"Senior Tianlang, kamu tidak perlu berdalih lagi untuk melindungi perbuatan Tuan Muda barumu itu. Aku bertanya pada Tuan Mudamu. Dia tidak bisu bukan? Biarkan dia yang menjawab!" Sahut Shijie ketus.
Duan Tianlang menoleh ke arah Gofan. Gofan mengangguk dan melangkah menuju ke atas podium. Duan Tianlang mengekor dibelakang Gofan, dia mengikuti Gofan naik ke atas Podium.
"Salam Tuan Pemimpin Kota, Salam Putri." Ucap Gofan ketika tiba di atas Podium.
Shiyuxin dan Shijie mengangguk pelan membalas salam dari Gofan.
"Aku sungguh tidak mengerti apa yang Tuan Pemimpin Kota maksud. Beberapa minggu ini, aku memang mengasingkan diri dalam latihan tertutup. Bagaimana mungkin aku mengikuti kontes jodoh?..."
"Jika Tuan dan Putri ingin membuat kekacauan di upacara ini, tidak perlu melakukan tuduhan palsu seperti ini kepadaku!" Imbuh Gofan dengan tatapan yang tidak kalah dingin ke arah Shijie.
Lujiang, Vasudev, dan Mouhuli yang duduk menyaksikan jalannya upacara, tersenyum saat mendengar ucapan Gofan.
"Heh... Ternyata Pewaris baru dari Dewa Perang adalah seorang pembohong!.."
"Semua yang hadir di kontes itu dengan jelas melihat tongkat sakti yang ada di tanganmu itu digunakan oleh seseorang bernama Yanse.. Aku yakin, itu adalah penyamaranmu." Shiyuxin kembali menunjuk ke arah Gofan.
"Oh.. Ternyata yang dimaksud pendekar muda dari Perguruan Bambu Giok adalah Pendekar Yanse..."
"Aku ingat, dia meminjam tongkatku ini beberapa hari yang lalu... Tidak ku sangka dia akan menggunakan tongkatku untuk mengikuti kontes jodohmu..."
"Salah paham. Ini benar-benar salah paham." Gofan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu!!" Shiyuxin marah mendengar Gofan yang masih berdalih.
"Kembalikan Cermin Cahaya Bulan milikku! Aku akan membuktikan bahwa kamu telah berbohong!" Imbuh Shiyuxin.
"Cermin Cahaya Bulan? Sudah ku bilang kalian salah paham. Aku tidak punya cermin yang kamu maksud... Aku hanya punya cermin ini..."
" Aku menamainya Cermin Pantulan Cahaya Matahari." Gofan tersenyum saat dia menunjukkan sebuah cermin biasa dan mengarahkannya ke arah matahari yang bersinar terik siang itu.
"Baik. Kamu masih berani mengolok-olok kami..." Sahut Shiyuxin sembari membentuk sebuah segel tangan.
*Blazh* Seorang roh pria muda muncul di sebelah Shiyuxin.
Roh pria muda itu menunduk, rambutnya yang panjang terurai menutupi wajahnya, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas oleh Gofan.
"Sekarang bagaimana?" Tangan Shiyuxin mencengkeram leher roh pria muda itu.
"Jika aku mencekik hingga rohnya hancur, maka dia akan benar-benar mati. Mengakulah atau dia mati!" Ancam Shiyuxin.
Saat Shiyuxin mencekik leher roh pria muda itu, roh pria muda itu mengerang kesakitan. Sehingga wajahnya terlihat jelas oleh Gofan.
'Yanse!?' Gofan terkejut melihat roh pria muda yang sekarang sedang dicekik Shiyuxin ternyata adalah roh Yanse.
Bersambung...