
“Itu.. Itu Mahaguru Suddha.. Penyihir Tertinggi.. Kita Selamat! Bala bantuan datang!.”
“Benar... Itu kelima Vhala lainnya...”
“Mahaguru Suddha. Vhala suci tolong selamatkan kami.”
Kedatangan Suddha dan kelima Vhala seperti sebuah sinar terang di tengah kegelapan. Semua yang masih hidup merasakan bahwa ada harapan untuk mereka keluar hidup-hidup dari Pulau Api. Mereka sudah hampir putus asa untuk mengatasi serangan cepat dari tentakel darah dan serangan lain dari Kelompok Dewa Gelap lainnya.
Dari ribuan yang tersisa sebelumnya, kini hanya tersisa kurang dari 200an Pendekar. Lembah Bunga Kamboja adalah yang paling banyak menderita kerugian, Murid Elit dan Penatua mereka sudah tidak ada yang tersisa, semua tewas oleh serangan cepat tentakel darah. Kini, sisa lainnya, begitu ketakutan saat tentakel mulai berayun-ayun mengejar mereka.
Suddha melihat ketakutan orang-orang itu, dia melihat ke langit, tatapannya menyipit ketika melihat sebuah Kepompong Hitam dengan hampir ratusan tentakel berwarna merah darah. Setiap tentakelnya dapat membunuh dengan kecepatan yang menakutkan. Saat dia tiba saja, dalam hitungan sembilan hela napas, puluhan lebih mati karena serangan tentakel darah.
“Benda itu pasti dia. Tidak perlu pikirkan yang lain. Kita langsung hancurkan benda iblis itu!.” Suddha membentuk sebuah segel tangan, tiba-tiba asap putih menyelimuti tubuhnya dan dia berubah usia, kini dia tampak seperti seusai dengan Gofan.
*Zyuut* Suddha melempar sebuah kerikil kecil yang kemudian bergetar pelan dan menarik setiap kerikil kecil yang ada di sekitarnya. Dalam hitungan beberapa hela napas, kerikil kecil berubah menjadi sebuah Batu besar. Itu persis sama dengan Batu yang dia tunggangi sebelumnya.
“Memipih!.” Ucapnya.
Tangan Suddha menyentuh Batu besar itu dan mengeluarkan asap putih lainnya. Asap itu merubah bentuk Batu besar menjadi mirip altar bundar yang pipih. Suddha naik ke atasnya dan melesat terbang menuju Kepompong Hitam.
“Hahaha.. Ayo Sanca!!.” Bharaman yang masih dibalut Api Biru melempar sebuah Sangkar Gaib. Dari sana keluar Sanca Ekor Api yang dia tunggangi sebelumnya.
Bharaman naik ke atas kepalanya dan Api Biru di tubuhnya secara langsung menyelimuti seluruh tubuh Sanca Ekor Api. Sebagian api biru dihisap oleh Sanca raksasa itu, semakin banyak dia memakan api biru, sisik di tubuhnya terlihat semakin mengeras. Keduanya berdesing di udara menuju ke arah Kepompong Hitam. Mereka terlihat seperti meteor biru yang menentang gravitasi.
Si Gendut Taiyang Yi menenggak arak dari dalam sebuah Kendi arak berukuran normal sebelum melemparnya ke udara dan membentuk sebuah segel tangan. Kendi arak itu berubah menjadi seukuran lima kali Pria dewasa. Dia melompat dan duduk bersila di atasnya, lalu melayang menuju ke arah Kepompong Hitam.
“Tunggu aku...” Songduan bersiul dan seketika dari Cincin Dimensinya keluar seekor Rajawali Emas Bertanduk. Dia melompat ke atas Rajawali Emas sebesar tiga kali Pria dewasa itu dan terbang mengikuti tiga lainnya.
Boudhia menghunuskan pedang besar di punggungnya dan menjadikannya sebagai alat terbang. Tanpa kata dia melesat menyusul ke arah yang sama.
Xiolingling terbang melesat, terlihat seperti angin, dia terbang begitu saja melesat ke arah lima lainnya.
Semua terjadi hanya dalam hitungan tiga helaan napas tapi perlu waktu untuk dijelaskan. Saat Xiolingling muncul dan mendekat ke arah Kepompong Hitam, Lixiayo, Xiong Ma, Qingwahong dan Pangeran Litaihyun alias Gennai Dadoros yang tengah menyaksikan pertarungan Meiling terkejut, dalam benak mereka tersirat pertanyaan 'mungkinkah Batu Kuasa masih berada di tangan Xiolingling?'.
**
Saat jarak mereka kurang dari beberapa ratus langkah, langit bergemuruh kencang, awan hitam menghilang dan cahaya bulan terlihat terang benderang di langit, tapi suara mirip kaca pecah terdengar di langit-langit tersebut. Semakin dekat keenamnya semakin keras suara pecahan itu terdengar, langit dan bumi bergetar, benturan Enam Energi budidaya Human God akhir berbenturan dengan Energi puncak yang terpancar dari Kepompong Hitam. Bang! Bang! Ledakan menggelegar di langit karena benturan Energi mereka.
Di bawah, Kecuali Pendekar Human God, kurang dari 200an Pendekar, semuanya mulai tertekan, mereka muntah beberapa suap darah. Tanah tempat kaki mereka berpijak perlahan mulai retak. Api-api kecil terlihat keluar dari dalamnya.
Tidak jauh dari sana, puncak Gunung Api yang telah lama tertidur juga merespon tekanan benturan Energi tersebut, ada retakan yang terlihat, seakan berisap-siap untuk segera meletus. Guncangan pelan terus menerus terjadi.
Tentakel darah mendadak berhenti menyerang, sebagian besarnya seperti membentuk perisai pertahanan, sementara beberapa lainnya terlihat terfokus untuk menarik Gumulryong.
Saat Gumulryong tengah bertarung menghadapi Gofan dan Duan Tianlang, tiba-tiba, tentakel darah melilitnya dan membawanya naik. Serigala Mata Biru berusaha menghalangi, namun gagal.
Di saat itu pula, Seorang Gadis yang bertarung bersama seekor Rubah Api Ekor Sembilan memanfaatkan kesempatan itu untuk melesat menembus barikade kelompok Dewa Gelap. Dia bergerak cepat menuju ke arah luar Pulau Api. Menyusul dibelakangnya seorang Gadis berpakaian serba tertutup tapi banyak noda darah di pakaiannya itu, matanya menatap tajam saat dia menerobos dan memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi dari jangkauan tentakel darah.
Goyige dan Burka adalah dua orang yang tersisa dari Benua Meghalaya, Goyige segera mengaktifkan alat teleportasi dimensional sebelum keduanya pergi dari Benua Penda. Burka hanya bisa berkedip kesal saat mengingat wajah Meiling yang dikiranya Yubing. Dendamnya belum berakhir. Keduanya menghilang ditelan portal dimensi.
Zhao Feng melihat satu demi satu Pendekar lainnya mulai kabur, dia mendesah pelan, saat ini adalah kesempatan yang baik untuk kabur, barikade kelompok Dewa Gelap melemah, dan tentakel-tentakel darah berhenti menyerang, “Gofan... Jika kamu mendengar ini, maka sebaiknya kamu pergi. Apa pun yang terjadi setelah ini, akan banyak yang memburumu untuk Kitab Surga. Aku datang untuk mendapatkan Kunci Gerbang Dewi Ruyi, tapi sepertinya itu sudah ada di tanganmu.. Kamu dapat menggunakan Kunci itu untuk pergi jika diperlukan. Saat itu, jika kamu tiba di Tanah Surgawi Kecil, carilah Mo Xiefeng, Klan Mo pasti bisa membantumu di sana. Jaga diri. Sampai jumpa lagi.”
Sebuah alat teleportasi dimensional yang mirip dengan milik Goyige, muncul di tangan Zhao Feng. Setelah mengirimkan pesan batinnya kepada Gofan, dia menghilang dari Benua Penda. Melintasi portal dimensi menuju Benua Cang'An.
Gofan tertegun, dia menerima pesan batin Zhao Feng dan berterima kasih atas itu, tapi selama orang-orang yang dia kenal masih ada di sana untuk bertarung, dia juga akan bertarung. Gofan membungkuk hormat mengantar kepulangan Zhao Feng. “Sampai jumpa lagi Kawan....” batinnya. Sebagian pesan Zhao Feng masih membingungkan bagi Gofan terutama bagian 'Tanah Surgawi Kecil' dan 'Mo Xiefeng dari Klan Mo' Apakah itu Alam Besar??
“Masalah Kitab ini... Jika akhirnya aku selamat dari semua ini, aku mungkin akan menjadi buronan tanpa dosa.... Ukh..” Gofan muntah sesuap darah lagi, dia memutar basis budidayanya untuk menahan tekanan Energi.
“Sial.. GOFAN! Kita lanjutkan lain kali.. Ukh...” Xiongmeng batuk darah, dia bergegas pergi, bersiap untuk kabur keluar dari Pulau Api.
“Haiwa! Hentikan dia!!.” Teriak Gofan. Dia meninggalkan Duan Tianlang dan beralih mengejar Xiongmeng.
“Urusan kita belum selesai.” Gumam Gofan.
Di bawah tekanan Energi Human God itu, mereka berdua saling mengejar, mereka muntah darah berkali-kali sebelum akhirnya Gofan berhasil menyusulnya.
Bersambung...