Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 112. Melawan Siluman Mimpi bg. 3


Gofan dan ketiga lainnya terkejut mendengar ucapan Haiwa. Ini adalah kali pertama bagi mereka untuk melihat wujud evolusi selanjutnya dari Mayat hidup yaitu Mayat Merah.


Mayat Merah merupakan wujud kedua dari peningkatan kekuatan Mayat hidup biasa. Mayat Merah sering disebut bangsawannya kamu Mayat hidup.


" Bocah... Gunakan kekuatan Mata Surgamu. Jangan hanya mengandalkan Pedang Qianlong. Mayat yang satu ini lumayan pintar " Ucap Haiwa kepada Gofan.


Seperti yang dikatakan Haiwa. Mayat Merah merupakan Mayat Hidup yang memiliki kemampuan berpikir. Mayat Merah mampu beradaptasi dari serangan lawan, mereka bahkan mampu meniru gerakan lawannya. Selain itu, mereka juga memiliki tenaga dalam.


Gofan mengangguk mendengar ucapan Haiwa. Gofan menoleh ke arah Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya.


" Kalian bertiga, keluarlah dari Paviliun ini, mayat ini biar aku yang tangani " Ucap Gofan yang kemudian mengarahkan pandangannya kembali ke arah Mayat Merah. Gofan waspada dan bersiap untuk bertarung.


" Tapi Pendekar. Di belakang Mayat Merah itu, masih banyak orang yang perlu kita tolong " Sahut Yubing sembari melihat ke arah orang-orang biasa yang berada di dalam Paviliun itu.


" Nona Pendekar... Tuan Pendekar... Tolong kami... Tolong kami " Begitulah ucapan teriakan minta tolong orang-orang biasa itu kepada Yubing dan yang lainnya.


" Gadis bodoh! Lihatlah baik-baik... Apakah mereka dari tadi terlihat seperti berusaha keluar dari Paviliun ini? Mereka semua itu ilusi " Sahut Haiwa menanggapi ucapan Yubing.


' Ilusi? ' Batin Yubing.


Yubing memandang sekali lagi ke arah kumpulan orang-orang biasa yang meminta pertolongannya itu. Yubing mengamati mereka dan membandingkannya dengan ucapan Haiwa.


' Gadis ini benar. Dari tadi mereka hanya berteriak ketakutan dan bersembunyi ke sana kemari, tapi tidak satu pun dari mereka yang mati ' Pikir Yubing setelah menemukan keanehan dari orang-orang biasa tersebut.


" Sekarang kita berada di Dunia Mimpi, mereka itu ilusi, tapi jika kalian mati di tangan mereka, maka kalian akan selamanya berada di Dunia ini " Imbuh Haiwa.


' Dunia Mimpi? ' Pikir Nian, Yubing, dan Pangeran Ketiga Meghalaya ketika mendengar ucapan Haiwa.


Mereka tidak menyangka bahwa selama ini, mereka berada di dalam dunia yang palsu, dunia yang menjebak mereka untuk terus bermimpi.


" Senior. Bagaiamana ini? " Tanya Nian kepada Yubing. Seingat Nian, tujuannya datang ke Paviliun Bunga Indah bersama dengan Yubing adalah untuk menyelamatkan seorang gadis budak di Paviliun itu.


" Ku mohon. Percayalah pada kami. Kami datang diutus oleh Gofan untuk menyelamatkan kalian, keluarlah! " Gofan mengarang cerita bahwa dirinya telah meminta bantuan seorang Ahli untuk menyelamatkan Yubing dan Nian.


Semua itu dilakukan Gofan agar Yubing dan dua lainnya mau bergegas keluar dari Paviliun Bunga Indah.


Mendengar ucapan itu, Yubing akhirnya mengangguk dan setuju untuk pergi keluar dari dalam Paviliun Bunga Indah, " Nian, Pangeran, Ayo... Kita keluar! "


Nian dan Pangeran Ketiga mengangguk, mereka bertiga bergegas menuju pintu keluar Paviliun Bunga Indah.


Tetapi baru saja ketiganya melangkah beberapa langkah menuju ke arah pintu keluar, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara tawa yang terdengar memenuhi seluruh Paviliun Bunga Indah. Mereka bertiga berhenti di tempat sembari memperhatikan ke sekeliling.


" Hahaha "


" Hahaha "


" Rupanya ada penyusup yang masuk tanpa izin ke Duniaku... Beraninya kalian mengacaukan kesenanganku! " Ucap seseorang yang entah dimana keberadaanya kepada Gofan dan Haiwa.


Tawa keras tanpa sumber terdengar membahana memenuhi seluruh Paviliun Bunga Indah ketika semua orang-orang biasa yang sebelumnya meminta tolong berjalan mendekat ke arah Mayat Merah.


' Siluman Mimpi? ' Batin Haiwa mengetahui pemilik suara tersebut.


" Yuwenhuai... Keluar kalau berani! Jangan terus bermain ilusi... Pengecut! " Tantang Haiwa kepada Yuwenhuai, si Silumam Mimpi yang masih belum kelihatan batang hidungnya.


" Oh.. Siapa roh senjata ini? Kamu mengenaliku? " Tanya Yuwenhuai.


Setelah mendengar ucapan Haiwa, Siluman Mimpi bernama Yuwenhuai itu muncul dari kekosongan tepat di belakang Mayat Merah dan kumpulan beberapa orang biasa.


" Siapa yang tidak mengenalmu? Di antara semua anak buah Kaisar Siluman, kamu lah yang paling sering membuat kekacauan " Sahut Haiwa.


' Diakah Siluman Mimpi? ' Batin Gofan ketika melihat seorang anak kecil berusia antara tujuh sampai delapan tahun muncul dari kekosongan.


Yuwenhuai tertawa mendengar jawaban Haiwa. Meski sosok Yuwenhuai ini adalah seorang anak kecil tetapi suaranya sangat berat, mirip suara seorang pria dewasa.


" Hmm... Begitukah? Padahal aku sudah bersembunyi dari para manusia selama beberapa ratus tahun. Tapi... tidak ku sangka, seorang roh senjata masih bisa mengenaliku " Ucap Yuwenhuai sembari menjilati sebatang permen bertangkai yang dia bawa di tangan kanannya.


Yuwenhuai selama ini bersembunyi di Dunia Mimpi, sembari menanamkan kepercayaan bahwa manusia tidak perlu mengkhawatirkan kaum siluman lagi, sebab Kerajaan Siluman telah musnah dan hancur.


" Apa kamu ingat gadis bernama Sudevi? Jika bukan karena terjebak dalam Dunia Mimpimu ini, gadis itu pasti masih bernapas saat ini " Sahut Haiwa dengan nada marah. Haiwa terlihat seperti mengenang sesuatu, pandangan matanya memandang tajam penuh amarah ke arah Yuwenhuai.


" Sudevi? Hmm... gadis yang mempunyai banyak sekali mimpi indah itu?... "


" Aku ingat. Sangat mudah menjebaknya di sini, dia bahkan enggan keluar dari alamku ini... "


" Jika bukan karena di Dunia Nyata dia mendapat perlakuan keras, dia mungkin tidak akan mati di dunia milikku ini Hahaha " Tawa Yuwenhuai membalas ucapan Haiwa.


" Keparat! Ba****an! " Teriak Haiwa marah.


*Zyuut*


Haiwa menerjang maju hendak menyerang ke arah Yuwenhuai, namun langkahnya dihalangi oleh kumpulang orang biasa yang berdiri membelakangi Yuwenhuai. Mata orang-orang biasa itu berubah merah saat satu demi satu mereka menerjang menyerang Haiwa.


" Apa yang kalian tunggu? Kalian sudah lihat apa yang dilakukan orang-orang biasa itu kan? Cepatlah keluar! " Seru Gofan kepada Yubing dan dua lainnya sekali lagi saat melihat orang-orang biasa itu memancarkan cahaya merah di mata mereka.


Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya tidak membalas seruan Gofan. Mereka segera melanjutkan langkah mereka dan keluar dari dalam Paviliun Bunga Indah.


Tubuh Gofan diselimuti cahaya ungu saat kedua bola matanya berubah warna menjadi keunguan.


Gofan mengalirkan kekuatan Mata Surga miliknya ke dalam Pedang Qianlong. Dia bergegas maju dan menyerang ke arah Mayat Merah.


" Nomor 4. Serang! " Seru Yuwenhuai kepada Mayat Merah.


Yuwenhuai mengerutkan dahinya ketika melihat Gofan menerjang dengan kekuatan Mata Surga.


' Energi Surga? Siapa bocah ini? Bukankah dia juga setengah bangsa kami? ' Batin Yuwenhuai menyadari bahwa di dalam tubuh Gofan terdapat hawa siluman.


*Trang*


*Cruat*


Dentang pedang dan cakar terdengar saat Gofan menangkis serangan cakar Mayat Merah yang dipanggil dengan sebutan Nomor 4 oleh Yuwenhuai.


' Sial... Mayat ini mampu mengetahui arah tebasan pedangku ' Batin Gofan.


*Trang*


*Cruat*


Puluhan kali tebasan Pedang Qianlong selalu bisa ditangkis Nomor 4. Nomor 4 bahkan menyarangkan beberapa luka cakar di tubuh Gofan.


Melihat Gofan terluka, Haiwa yang baru saja selesai menyingkirkan orang-orang biasa yang menghalanginya mendekat ke arah pertarung Gofan dan Nomor 4.


Haiwa membentuk sebuah segel tangan dan sebuah cahaya putih muncul di ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.


" Gofan. Terima ini... Gunakan jurus itu untuk mengalahkannya! " Seru Haiwa saat menembakkan cahaya putih itu ke dalam kening Gofan.


*Zyuut* Cahaya itu masuk ke dalam ingatan Gofan.


Sebuah kilasan jurus pedang bermunculan di dalam pikiran Gofan. Gerakan serangan pedang yang begitu indah. Di dalam pikiran Gofan muncul sosok seorang gadis yang tengah berlatih sebuah jurus pedang.


" Terima kasih Haiwa " Sahut Gofan sembari menghindari serangan cakar Nomor 4.


" Yuwenhuai! " Haiwa tidak membalas ucapan Gofan. Haiwa menerjang maju ke arah Yuwenhuai.


" Hahaha... Bibi ini ganas sekali " Sahut Yuwenhuai saat permen bertangkai di tangannya membesar menjadi seukuran kepala seorang pria dewasa.


*Duagh*


Yuwenhuai mengayunkan permen bertangkai itu dan memukul mundur Haiwa beberapa langkah.


" Ukh... " Haiwa terpukul mundur dan membentur dinding Paviliun.


" Kamu pikir hanya dengan permen itu, kamu bisa menyingkirkanku? Jangan mimpi! " Ucap Haiwa saat dia kembali menerjang ke arah Yuwenhuai. Sebuah payung muncul di tangan Haiwa.


Sementara Haiwa kembali bertarung dengan Yuwenhuai. Gofan akhirnya berhasil mengingat kilasan jurus yang dikirimkan Haiwa. Gofan menggunakan jurus pertama dari jurus pedang tersebut untuk menyerang Nomor 4. Jurus pertama dari jurus pedang itu disebut sebagai tebasan pembalik 12 langkah.


" Tebasan Pembalik 12 Langkah "


Gerakan tangan Gofan begitu cepat, setiap ayunan pedang yang diarahkan Gofan ke tubuh Nomor 4 akan berhenti di ayunan ke-12. Gofan akan berhenti dan mengulangi kembali gerakan yang sama.


*Cruat*


Gofan berhasil menyarangkan beberapa puluh luka sayatan di tubuh Nomor 4.


' Aneh.. Kenapa aku merasa dia justru senang saat aku melukainya? ' Pikir Gofan ketika melihat seringai muncul di wajah Nomor 4.


Nomor 4, bukannya kesakitan, tetapi dia justru menyeringai seperti tengah meremehkan Gofan. Padahal Gofan telah berhasil menyarangkan luka yang lumayan parah di tubuhnya.


" Hahaha... Hahaha... " Meski tidak bisa berbicara. Nomor 4, akhirnya tertawa keras sembari melirik ke arah Yuwenhuai.


Yuwenhuai masih bertarung santai menghadapi serangan tusukan payung milik Haiwa ketika dia menyadari bahwa Nomor 4 sedang melihat ke arahnya.


*Blazh*


Sebuah pedang bergerigi muncul di tangan kiri Yuwenhuai.


" Kamu mau ini? Ini ambil! " Yuwenhuai melemparkan pedang bergerigi itu ke arah Nomor 4.


*Tap*


Nomor 4 mundur dan menangkap pedang bergerigi yang dilempar Yuwenhuai ke arahnya.


" Hahaha... Hahaha... " Tawa Nomor 4, sembari mengayun-ayunkan pedang bergerigi yang kini berada di tangannya.


' Pedang Taring Harimau? ' Pikir Gofan ketika melihat Mayat Merah bernama Nomor 4 itu mengayunkan sebuah pedang bergerigi.


Bersambung...