Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 153. Tubuh Gajah Naga Sejati


“Aiya... Ini salah. Seharusnya aku memberitahukan tentang hal ini kepadamu... Aku sengaja merahasiakannya agar tidak ada yang tahu, bahwa setengah bagian Tablet Dewa Naga dititipkan Raja Gelap padaku....” Sahut Suddha yang disambung dengan cerita mengenai amanat Raja Gelap, Trah Len, padanya.


“Tapi Guru, Ini juga bukan salah Gofan.” Ucap Vasudev, dia tidak ingin Gofan merasa bersalah hanya karena telah mengambil sebagian tablet yang seharusnya dimiliki oleh keturunan Trah Len.


Gofan tersenyum tipis melihat bagaimana Vasudev mengkhawatirkannya.


“Guru. Mahaguru. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan... Aku adalah keturunan terakhir Trah Len. Aku mengganti namaku menjadi Gofan demi keselamatan.” Ucap Gofan sedikit berbohong.


Gofan pun menjelaskan dengan alasan yang sama dengan yang dia jelaskan kepada Julala. Dia mengaku sebagai adik Lenfan, yang selama ini menggunakan nama Gofan.


Bahkan di saat Suddha masih sedikit ragu, Julala muncul keluar dari Pagoda Jindun dan menceritakan segalanya untuk meyakinkannya.


**


“Ini adalah setengah bagian lain dari Tablet Dewa Naga. Dengan menggunakan ini, kamu akan memiliki Darah dan Daging dari Trah Naga... Dengan ini, kamu akan siap untuk membuka dan memasuki gerbang itu.”


Setelah yakin dengan identitas Gofan, Suddha menyerahkan setengah bagian lain dari Tablet Dewa Naga kepada Gofan.


“Terima kasih Mahaguru.” Sahut Gofan.


“Pergilah dan pelajari dengan baik isi tablet itu.” Suddha melangkah pergi meninggalkan Vasudev dan Gofan.


Keduanya membungkuk memberi hormat kepada Suddha, sebelum pergi ke ruang latihan milik Vasudev.


“Berlatihlah di sini. Aku sudah memasang Formasi Waktu di dalam ruangan ini. Berlatih sepuluh hari di dalam ruangan ini, akan sama dengan sehari di luar.” Ucap Vasudev.


“Baik Guru.”


Setelah Vasudev meninggalkannya sendirian untuk berlatih. Gofan membaca setengah bagian Ilmu Tubuh Naga Sejati yang tertera di dalam Tablet tersebut.


Sembari membaca isi tablet tersebut Gofan tersenyum. Dalam batinnya, dia tidak menyangka, meski belum memiliki ranah Budi daya di atas ranah Human God tahap akhir, dia akan tetap bisa pergi ke Alam Besar, dia akan tetap bisa pergi ke Neraka.


“Jadi selanjutnya adalah menggerakkan tangan ke arah ini, berputar dan pusatkan semua tenaga dalam di jantung, agar darah terpompa hingga ke seluruh bagian dan....” Gumam Gofan sembari bergerak ke kanan dan ke kiri meniru arahan yang tertulis di dalam Tablet tersebut.


Hari demi hari berlalu...


Pada hari kelima puluh di dalam ruangan latihan Vasudev, Gofan akhirnya berhasil menguasai ilmu Tubuh Naga Sejati.


“Ternyata, setelah semua darah dan daging berubah, masih ada sisa dari darah keturuan Tian Baixiang di dalam sumsum tulangku, sepertinya sekarang tubuhku tidak hanya Tubuh Naga Sejati... Tapi, harus ku sebut apa tubuhku ini?.” Ucap Gofan sembari memikirkan nama untuk perpaduan darah keturunan Dewa Naga dan Dewa Pelindung di tubuhnya.


“Hmm... Benar... Tubuh Gajah Naga Sejati. Hehe, sepertinya itu nama yang bagus.” Gumam Gofan sebelum melangkah keluar dari ruangan latihan.


Saat Gofan keluar, Vasudev langsung menghampirinya dan mengucapkan selamat, karena telah berhasil. Vasudev sudah menunggu selama lima hari di luar ruang latihan.


Kemudian Guru dan Murid itu berpamitan kepada Suddha dan mengatakan bahwa mereka akan segera pergi untuk membuka Gerbang Dewi Ruyi.


“Carilah tempat yang banyak mengandung unsur 'Yin', di tempat seperti itulah, kalian akan bisa membuka gerbang tersebut... Juga, ingat, hanya Gofan yang bisa pergi ke sana, selain dia, sebaiknya tidak pergi... Gerbang Dewi Ruyi mungkin tidak akan langsung mengantarkanmu ke Neraka, jika hal itu terjadi, kamu harus berusaha sendiri mencari jalan ke Neraka.” Ucap Suddha sebelum melepas mereka pergi.


Berdasarkan ucapan Suddha, maka, Vasudev memutuskan untuk membawa Gofan pergi ke tempat yang memiliki banyak unsur 'Yin', yaitu Lembah Kematian di Tanah Halimun.


[Di Dekat Pulau Api-Sebuah Perkemahan]


Sementara Gofan pergi ke Lembah Kematian. Lixiayo, Gennai Dadoros, dan Qingwahong sedang berada di dalam sebuah tenda perkemahan di dekat Pulau Api.


“Lixiayo... Kali ini, Kakek harap kamu akan berhasil... Dapatkan semua Batu Bertuah dan tunjukkan wajah asli Raja Penda. Kita harus menjadikan Putra Mahkota kita sebagai penggantinya.” Tunjuk seorang Kakek tua kepada Gennai Dadoros yang masih menyamar sebagai Litaihyun, Putra Mahkota Penda.


Kakek Tua itu adalah Raja Siluman Tengkorak Putih, Kakek Lixiayo, dan merupakan satu-satunya Raja Siluman yang tidak memiliki Kerajaan. Tanah Halimun di Kekaisaran Siluman, sama sekali tidak menerima keberadaan Trah Tengkorak Putih. Namanya Tuogui.


“Baik Kek... Tenang saja, semua akan berjalan sesuai rencana. Aku sudah meminta Iblis Putih untuk membantu mengungkap identitas Litaihwang.” Sahut Lixiayo.


Rencana Lixiayo adalah untuk melakukan kudeta kepada Raja, bukan kepada Kerajaan. Satu hal yang diketahui Lixiayo, bahwa Raja Penda saat ini adalah Raja palsu. Lixiayo dan sisa Trah Tengkorak Putih ingin mengambil alih Kerajaan tanpa perlu melakukan pertempuran.


Lixiayo berencana membuat Gofan menyerang Litaihwang palsu dan mengungkapkan jati dirinya. Kemudian, dengan bantuan Gennai Dadoros, dia akan bekerja sama mengambil alih tonggak kekuasaan dan mengendalikan kekuatan Kerajaan Penda untuk membangun kembali Kerajaan Tengkorak Putih.


Lixiayo berencana untuk hidup di atas tanah manusia, bukan di dalam Dimensi Kekaisaran Siluman. Setidaknya untuk saat ini.


“Jika saja, dulu aku menang melawannya, kita mungkin masih hidup di Tanah Halimun.” Ucap Tuogui mengenang kejadian dimana Trah Tengkorak Putih dikalahkan, hingga terpaksa melarikan diri dan bersembunyi di antara manusia.


Mendengar ucapan Tuogui, Gennai Dadoros menoleh ke arah Qingwahong dan berbisik, “Qingwahong. Siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Raja Tuogui?.” Tanyanya.


“Kaisar Siluman yang sekarang....” Sahut Qingwahong dengan berbisik.


“Apa yang sebenarnya terjadi antara Raja Tuogui dan Kaisar Siluman yang sekarang?.” Gennai Dadoros kembali berbisik, bertanya kepada Qingwahong.


“Nanti akan ku ceritakan.” Sahutnya pelan.


**


“Aku tidak mungkin menceritakan ini, saat tadi kita sedang bersama dengan Putri dan Raja... Ini menyangkut Perang Dunia Siluman yang dulu pernah terjadi.” Ucap Qingwahong setelah dia dan Gennai Dadoros pergi meninggalkan tenda tersebut.


“Lalu, kenapa Putri harus meminta bantuan si Iblis Putih?.” Tanya Gennai Dadoros.


“Sekarang, Raja, Putri dan sisa Trah Tengkorak Putih sedang bersembunyi dari Kekaisaran Siluman. Jika mereka bertarung sekuat tenaga hingga jati diri mereka diketahui, mereka takut... Kaisar Siluman akan datang dan membunuh mereka.” Imbuh Qingwahong.


“Jadi, karena itu, Putri meminta bantuan si Iblis Putih. Agar dia dan Trah Tengkorak Putih yang tersisa tidak perlu bertarung?.” Tanya Gennai Dadoros sembari memegang dagunya yang tidak berjanggut.


Qingwahong mengangguk.


Kemudian, Qingwahong menceritakan kisah dari Perang Dunia Siluman yang terjadi hampir 800 tahun yang lalu, yang membuat Tuogui dan sisa Trah Tengkorak Putih mengasingkan diri dari Tanah Halimun.


800 tahun yang lalu, Tanah Halimun hanya ada satu, belum ada Tanah Halimun di Dimensi Siluman. Saat itu, manusia dan Siluman, hidup saling berdampingan. Tanah Halimun adalah tempat tinggal para Siluman dan Makhluk buas. Tidak ada manusia yang berani hidup dan tinggal di sana.


Tuogui, saat itu adalah seorang Pangeran. Kakaknya adalah Kaisar Siluman. Trah Tengkorak Putih adalah penguasa Tanah Halimun saat itu.


Kisah awal pecahnya Perang Dunia Siluman, dimulai ketika, Tuogui bertemu dengan seorang gadis siluman bernama Moulan.


Bersambung...