Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 131. Gofan Menerima Tantangan


Gofan benar-benar tidak menyangka bahwa Shiyuxin akan bertindak sejauh itu demi untuk membuat dirinya mengaku. Gofan diam mematung, pikirannya tengah berpacu untuk memikirkan tindakan apa yang harus dia lakukan.


Sementara itu, tindakan Shiyuxin membuat bingung seluruh orang yang hadir di Upacara tersebut. Mereka bingung dengan apa yang sedang dilakukan Shiyuxin. Sebab selain Gofan, Shijie, dan Shiyuxin, tidak ada yang bisa melihat roh Yanse.


"Senior. Apa yang sedang dilakukan Shiyuxin? Kenapa dia terlihat seperti mencengkram sesuatu?" Tanya Lujiang kepada Vasudev yang duduk di sebelahnya.


"Tidak tahu. Tapi itu mungkin saja roh seseorang. Bukankah tadi dia jelas mengatakan bahwa jika dia mencekik roh itu hingga hancur maka orang yang memiliki roh itu akan benar-benar mati..."


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Vasudev kepada Xunialiang usai menjawab pertanyaan Lujiang.


"Itu pasti roh seseorang. Tapi karena aku juga tidak bisa melihat, aku tidak bisa memberitahumu roh siapa yang sedang digunakan Gadis hantu itu untuk mengancam Fanfan." Sahut Xunialiang yang duduk di kanan Vasudev.


"Fanfan?! Maksudmu Gofan?"


"Iya... Aku memanggil muridmu seperti itu. Bukankah itu lebih enak di dengar?" Xunialiang tersenyum ke arah Vasudev saat Mouhuli memperhatikan dengan serius kejadian di atas Podium.


"Bianselong. Kamu masih punya air kencing perjaka?" Tanya Mouhuli tiba-tiba.


"Benar. Benar.. Dengan air kencing itu, kita bisa melihatnya." Celetuk Vasudev saat mendengar ucapan Mouhuli.


"Maaf Ratu. Maaf... Aku sudah membuangnya. Aku tidak tahan menyimpan hal-hal kotor dan bau semacam itu." Sahut Bianselong yang ditanggapi dengan wajah kecewa oleh Mouhuli dan Vasudev.


Sementara Xunialiang dan Lujiang mengerutkan dahi mereka. Mereka merasa jijik ketika membayangkan dua orang pendekar sekelas Mouhuli dan Vasudev meneteskan air kencing ke mata mereka.


"Putri. Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa tanganmu seperti itu?" Ucap Gofan pura-pura tidak melihat.


"Heh.. Aku sudah menduga kamu akan berpura-pura tidak bisa melihat..."


"Linglang keluar!" Teriak Shiyuxin.


*Zyuut* Seorang roh berpakaian merah muncul tiba-tiba dan langsung menyerang dengan cakarnya ke arah Gofan.


Gofan secara tidak sadar menghindar karena merasa terancam.


'Sial. Aku masuk perangkapnya!' Batin Gofan saat dia melihat senyuman di wajah Shiyuxin dan Shijie.


"Haha... Bagaimana? Masih belum mau mengaku?" Tawa Shiyuxin.


"Baik. Lepaskan dulu dia!..."


"Aku akan mengaku, tapi jika kamu memang punya kemampuan untuk memgalahkanku... Aku Gofan, Pewaris ke-6 Tongkat Emas Naga Kembar menerima tantanganmu!" Sahut Gofan tegas, dia siap bertarung melawan Shiyuxin.


Shiyuxin tersenyum meremehkan sembari mengibaskan lengan kanannya dan membuat roh Yanse dan Linglang menghilang dari atas Podium.


"Ayo!" Seru Shiyuxin saat Shijie, Kangkai, dan Duan Tianlang turun dari atas Podium.


***


[Istana Penda-Kerajaan Penda]


Siang hari itu, di saat yang sama dengan saat Gofan bertarung melawan Shiyuxin. Kerajaan Penda tengah disibukkan oleh persiapan untuk mengantar Raja dan Keluarga Raja serta para Bangsawan Penda bersiap untuk pergi ke Pulau Api.


Ratusan ribu Pasukan Taizongbudui yang telah dipersenjatai, terlihat berbaris rapi dalam beberapa kelompok. Ada kelompok yang bersenjatakan pedang, ada yang bersenjatakan panah, ada yang membawa tombak, dan ada pula kelompok pasukan berkuda.


Tandu-tandu dan kereta kerajaan juga sudah berjejer rapi di luar gerbang istana, menunggu untuk berangkat ke Pulau Api.


Turnamen Pulau di Pulau Api tinggal beberapa minggu lagi. Karena itu, Raja dan pasukannya akan berangkat menuju tempat turnamen itu dimulai. Dengan menggunakan Gerbang Dimensi, Raja dan seluruh pasukannya akan tiba dalam waktu dua minggu atau tiga hari sebelum Turnamen Pulau dimulai.


Litaihwang yang duduk disinggasananya mengangguk pelan. Dia bangkit dan menoleh ke arah Ximenbao, Panglima Tertinggi pasukan Taizongbudui yang berdiri tidak jauh dari dirinya.


Ximenbao ini adalah seorang pria yang hampir berusia lima dekade. Meski demikian dia tidak terlihat tua. Dia memiliki perawakan tinggi besar dengan kumis dan jenggot yang tercukur rapi menghiasi wajahnya yang selalu terlihat serius. Ximenbao adalah orang paling serius di antara semua bawahan Litaihwang.


Litaihwang sendiri adalah seorang Raja Penda yang sudah menduduki tahta hampir selama sebelas tahun. Usianya tidak terpaut jauh dengan Ximenbao namun dia terlihat jauh lebih tua. Rambutnya bahkan sudah memutih sebagian.


Dulunya Litaihwang adalah putra seorang selir yang diusir keluar dari Kerajaan Penda. Dia diasingkan dari kerajaan untuk menjaga perbatasan.


Namun kematian misterius Raja dan Putra Mahkota menempatkannya sebagai satu-satunya pewaris tahta. Litaihwang kembali ke Kerajaan Penda dan menjadi Raja.


Ximenbao adalah teman seperjuangan Litaihwang saat menjaga perbatasan. Litaihwang dan Ximenbao ini sudah ibarat saudara. Ximenbao sangat menghormati Litaihwang.


Ketika Litaihwang mendapat penolakan dari beberapa Bangsawan Penda saat akan menjadi raja, Ximenbao menjadi pedang baginya. Ximenbao mengeksekui para bangsawan itu beserta seluruh keturunan mereka.


Ximenbao mengangguk kepada Litaihwang, "Silahkan Baginda." Ucapnya ketika dia memimpin jalan menuju ke sebuah tandu bersama Litaihwang.


Litaihwang, Ximenbao, dan Lixiayo berjalan diiringi dengan para ajudan dan juga para dayang menuju ke arah tandu.


"Bagaimana dengan gadis itu? Apa kamu berhasil mendapatkannya?" Bisik Litaihwang sebelum dia memasuki tandu.


Ximenbao menggeleng pelan, "Maaf Baginda. Gadis itu dilindungi oleh beberapa pendekar senior yang tangguh." Sahutnya dengan berbisik.


Wajah Litaihwang sedikit kecewa saat dia masuk ke dalam tandu. Kemudian Ximenbao memerintahkan seluruh rombongan untuk segera berangkat menuju ke Gerbang Dimensi yang akan mengantarkan mereka ke Pulau Api.


Sementara itu, rombongan Goyige dan Pendekar Muda Meghalaya serta para pangeran Kerajaan Penda mengikuti dari belakang. Mereka semua telah siap untuk berangkat menuju ke Pulau Api.


***


[Benua Penda-Pulau Api]


Siang itu, ketika Litaihwang baru akan berangkat menuju ke Pulau Api, Tianfuzi dan rombongannya tiba di Pulau tersebut.


Pulau yang terletak di Laut Utara itu merupakan sebuah pulau yang terbentuk dari dua buah gunung berapi yang sedang tidak aktif. Pulau dimana kedua gunung itu dapat saja aktif sewaktu-waktu. Karena hal itulah, pulau itu dinamai Pulau Api. Pulau dengan api tersembunyi dibawah lapisan tanahnya.


"Jadi itu kamu! Surat ini dari kalian?" Tanya Tianfuzi kepada Zawugi dan Mukene.


Tianfuzi, Zawugi, dan Mukene sedang berada di dalam sebuah tenda yang didirikan di Pulau tersebut. Pulau Api adalah Pulau tidak berpenghuni, tidak ada manusia yang mendiami pulau itu. Hanya beberapa binatang, makhluk buas dan siluman yang mendiaminnya. Sehingga tidak ada bangunan khusus untuk tempat tinggal.


"Benar Tuan. Itu dari kami..." Sahut Mukene.


"Salam Tuan. Selamat datang di Pulau Api. Kami sudah cukup lama menantikan kedatanganmu..."


"Sebelumnya, kami kira bisa menemukanmu di Pulau Api, tapi, siapa sangka kamu berhenti di Kota Langit Cahaya." Sahut Zawugi.


Rombongan Zawugi dan Mukene tiba di Pulau Api hampir sebulan yang lalu. Karena tidak mendapati Tianfuzi di Pulau itu, mereka memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Tianfuzi yang saat itu diketahhi berada di Kota Langit Cahaya.


Tianfuzi acuh dan segera mengeluarkan surat yang sebelumnya dikirim Zawugi dan Mukene untuknya, "Sudah... Cepat katakan, apa semua yang kalian tulis di surat ini benar adanya?"


"Benar. Mana mungkin kami berani berbohong. Beberapa anggota kami tewas ditangan makhluk itu. Kami sangat ingin membunuh siluman itu." Sahut Zawugi.


'Siluman Harimau Putih! Jika aku menangkapnya, aku bisa menanyainya tentang lokasi Kerajaan Siluman..' Batin Tianfuzi usai melihat tatapan marah Zawugi.


Bersambung...