Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 07. Lihat Sendiri, Siapa Kamu Sekarang


Yubing tidak langsung mencari lokasi pertemuan beruntung, tapi dia berusaha mencari jejak manusia di dalam gambar itu.


" Pendekar Hanbo, bisakah kamu perbesar di bagian ini? " Tanya Yubing.


Yubing menunjuk sebuah lokasi yang mirip dengan sebuah tempat bekas ledakan.


" Baik, ini?..." Hanbo membentuk segel tangan dan memperbesar gambar.


" Iya.. tunggu sebentar... ! " Yubing mengamati lebih detail di sekitar tempat yang tampak seperti bekas terjadinya beberapa ledakan.


" Coba ke kanan ini, di sini... ! " Yubing menunjuk lagi, dan seketika semua orang terkejut dengan apa yang ditunjukkan cermin Hanbo.


" Itu sarang Beruang Bambu! Sarang yang besar... Satu, Dua, Tiga,... 15 ekor?! " Salah seorang junior Moyo, menghitung banyaknya Beruang Bambu yang ada di sarang itu.


" Untung pendekar Yubing teliti, jika kita langsung ke gua dan melewati tempat ini, kita bisa mati konyol " Kata junior Moyo yang lain.


" Pendekar Hanbo, coba perbesar bagian ini... ! " Kata Yubing lagi.


Setelah diperbesar, di gambar tampak dua tulang belulang terhampar di tanah, masih ada sisa-sisa daging dan pakaian yang melekat di tulang belulang itu.


Jangbi sedikit berkedip ketika melihat sesuatu di gambar itu, dia melihat peta Pulau Api ada di salah satu tulang belulang.


' Sial, peta itu terlalu dekat dengan sarang monster itu...bagaimana ini? ' Batin Jangbi.


" Saudara Jangbi. Aku rasa para penjahat itu sudah menjadi makanan para beruang, kamu bisa tenang sekarang " Kata Moyo sambil menepuk pundak Jangbi dan membuyarkan lamunannya.


" Benar pendekar, untung saja mereka sudah mati " Sahut Jangbi pada Moyo, ketika lamunannya buyar.


" Pendekar Yubing, aku rasa masih ada orang lain lagi... Coba kau lihat ini? Ini sepertinya mayat Beruang Bambu dan seseorang ! " Kata Yanse, memperhatikan di bagian lain agak ke kiri dari bagian yang ditunjuk Yubing.


" Akan aku perbesar... " Hanbo membentuk segel jurus dan memperbesar gambar yang ditunjuk Yanse.


" Eh... Itu... Itu... Lenfan!?, nona Bing, itu mayat Lenfan... !! " Teriak Jangbi, ketika dia melihat mayat yang berada di sebelah mayat Beruang Bambu itu.


Air mata menetes dari kedua mata Yubing, tetapi tidak satu pun yang bisa melihatnya, karena tertutup topeng. Yubing sudah lebih dahulu menyadari, bahwa mayat itu adalah mayat Lenfan, bahkan sebelum Jangbi berteriak kaget.


" Pendekar Yanse, kurasa aku sudah menemukan yang aku cari, aku permisi lebih dulu " Setelah diam sesaat, Yubing memutuskan untuk pergi menghampiri mayat Lenfan.


*Zyuut*


" Senior tunggu aku... ! Kamu, ayo ikut... !! " Ucap Nian.


*Zyuut*


Nian ikut menyusul Yubing, sambil membawa Jangbi. Jangbi terkejut dan tidak sempat berkata-kata, tapi ini juga sedikit sesuai dengan rencananya, untuk mendapatkan petanya kembali.


' Pendekar Yanse, aku akan menyusul, setelah mengubur mayat temanku, aku akan menyusul kalian ke gua ' Saat bergerak menjauh, masuk ke dalam hutan, Yubing mengirim pesan melalui suara pikiran kepada Yanse.


Yanse cukup terkejut ketika dia menerima pesan itu, bahkan dia tidak bisa melakukan yang Yubing bisa.


' Hanya mereka yang sudah mencapai ranah Saint Master yang bisa melakukan ini, mengolah kekuatan mental. Ini menunjukkan, kemampuan pendekar Yubing ada di atas ranah Great Master tahap akhir? apa sebenarnya tingkatan budidayanya? ' Pikir Yanse.


Yanse salah mengira, Yubing bukanlah seorang pendekar yang mengolah energi mental. Yubing hanya menggunakan sebuah Gelang Ajaib yang mampu mengirimkan pesan suara melalui pikiran.


Beberapa hela napas kemudian, Yanse tersadar dari pikirannya tentang kemampuan Yubing, dia memberhentikan Hanbo dari mengamati hutan,


" Pendekar Hanbo, aku rasa sudah cukup, aku sudah mengingat titik-titik bahaya... "


" Aku harap kalian semua juga waspada terhadap titik-titik bahaya itu, aku yakin pendekar Yubing akan menyusul nanti, kita hanya perlu menghindari titik bahaya dan tidak membuat keributan " Ucap Yanse.


Selepas itu, Yanse dan tujuh orang lainnya memasuki hutan, langsung mengarah ke arah barat menuju gua di bagian barat hutan.


***


Setelah berlari ratusan langkah, Yubing dan Nian yang membawa Jangbi sampai di depan mayat Lenfan. Sampai di pinggiran sungai yang mengering, di dekat sebuah lubang yang ada di dasar sungai itu.


Yubing langsung belutut, jatuh, kaki-kakinya lemas, dia menangis di depan mayat Lenfan, 'Meskipun pertemuan kita singkat, aku tahu kamu orang yang sangat baik, andai aku tidak terlambat... '


" Senior, pemuda ini sepertinya menghalangi Beruang Bambu ke arah itu " Ucap Nian.


Saat sampai Nian memperhatikan tempat tersebut dan menarik kesimpulan, bahwa ada sesuatu yang dilindungi Lenfan di lubang di dasar sungai yang mengering tersebut.


Mendengar ini, Yubing terpikir sesuatu, 'Mungkinkah itu Goli? Lenfan pasti melindungi Goli '


" Nian, kamu ekstrak mayat beruang ini, dan siapkan kuburan untuk Lenfan, suruh dia membantumu ! " Seru Yubing.


Yubing menunjuk ke arah Jangbi yang pingsan karena kecepatan lari mereka. Kemudian Yubing, melompat turun ke dalam lubang di dasar sungai yang mengering.


Di dalam lubang, Yubing mendapati Goli yang tidak sadarkan diri, dia memeriksa denyut nadi Goli, dan merasa roh Goli sedang kacau, tidak pada tempatnya.


'Gawat !!, Aku perlu pil pengembali roh ' Batin Yubing cemas.


Yubing kembali ke permukaan, berusaha menemukan pil yang bisa menyelamatkan nyawa Goli.


Beberapa saat setelah ditinggal Yubing pergi ke permukaan, Lenfan yang sebelumnya berubah menjadi cahaya merah keemasan, kini merasa seolah-olah dirinya sedang tertidur.


Di saat Lenfan merasa seperti sedang tertidur, Lenfan mendengar suara yang berusaha membangunkannya, " Hei... Bangun...! Bangun, kamu belum mati ! "


'Mmm... Kenapa ini?, Kenapa aku merasa, aku bernapas?, Aku masih hidup? Benarkah aku belum mati? ' Pikir Lenfan yang merasakan dirinya seperti sedang tertidur.


Lagi-lagi suara itu terdengar memanggil, membangunkan Lenfan, " Hei... Hei... Bangun, kamu belum mati, kamu masih hidup ! "


'Ini... Aku bisa merasakan tangan, aku bisa merasakan kaki.... Ini... Ini detak jantung...' Lenfan merasakan seluruh anggota tubuhnya masih utuh.


Tiba-tiba cahaya merah keemasan yang menyelimutinya menyala dengan terang, saking terangnya dia terhentak dan terbangun.


" Arrgghh.... " Teriak Lenfan saat tersadar.


Napas Lenfan nampak memburu ketika dia tersadar, " Hesh... Hesh...Hesh... "


'Ini...Dimana ini? Siapa gadis ini? Peri surga? Aku di surga? ' Ketika Lenfan melihat sekelilingnya, dia mendapati seorang gadis berdiri memunggungi dirinya.


' Berarti aku sudah mati? ' Pikir Lenfan.


" Nona peri.... "


Lenfan mengira dia sudah bertemu dengan seorang peri surga, saking bahagianya bertemu dengan seorang peri surga, dia kemudian berusaha memeluk gadis itu dari belakang.


Namun, Lenfan tidak bisa memeluk gadis itu, tubuh Lenfan menembus tubuh si gadis, seperti Lenfan baru saja memeluk angin.


*Gedebug*


Lenfan terjatuh, tubuhnya menembus tubuh peri surga yang ingin dipeluknya.


" Aduh... Sakit.. Sial, Kenapa ini?, bukannya seharusnya aku tidak merasakan sakit... Aduh... " Keluh Lenfan.


Kemudian karena penasaran, Lenfan menoleh kebelakang. Lenfan melihat tubuh peri yang baru saja berusaha dipeluknya ternyata transparan dan melayang-layang.


" Hantu... Hantu... Kamu bukan peri... Hantu...! " Kata Lenfan dengan ketakutan.


Kaki peri surga itu melayang dan tubuhnya transparan, menembus badan Lenfan. Karena kaget, Lenfan segera melompat menjauh dari hantu yang dikiranya peri surga.


" Hihihi... Kamu hihihi... Tadi ingin memelukku, tapi sekarang kamu ketakutan hihihi... " Gadis hantu itu tertawa melihat tingkah Lenfan yang aneh.


" Tidak... Tidak... Aku tidak melihatmu, aku tidak mendengarmu... Pergi... Pergi..!! " Teriak Lenfan berusaha berbohong.


Lenfan menutup kedua matanya dengan tangan.


'Tunggu sebentar, kenapa aku takut hantu? Aku kan juga sudah mati, oh... mungkin karena ini pertama kalinya aku bertemu hantu lain, ya kan? ' Lenfan mulai bertanya pada dirinya sendiri.


Lenfan belum menyadari bahwa dia masih hidup meskipun sebelumnya di alam bawah sadarnya, dia sempat merasakan tubuh dan detak jantung.


' Aku harus berani!, Aku juga hantu ' Batin Lenfan.


Lenfan kemudian membuka matanya, berdiri dan berusaha mendekati gadis hantu itu meski kakinya gemetaran.


" Hihihi... Kamu masih hidup, coba rasakan napas di lubang hidungmu, hihihi " Hantu itu mengetahui apa yang dipikirkan Lenfan.


Lenfan mengikuti kata-kata gadis hantu itu, dia memeriksa dirinya dan tiba-tiba jantungnya berdetak kencang lalu jatuh dan tidak sadarkan diri.


***


Di sisi lain, Yubing yang sebelumnya naik ke permukaan, kini sudah berada di hadapan Nian dan Jangbi.


" Senior? Kenapa cepat sekali? Tidak ada apa-apa di dalam sana? " Tanya Nian.


Belum lama Yubing turun lalu tiba-tiba naik, membuat Nian berpikir tidak ada apa-apa di dalam lubang itu.


" Kamu benar, di dalam sana ada kenalanku yang lain, tetapi kondisinya darurat, aku memerlukan pil pengembali roh, apa kamu punya? " Sahut Yubing.


Tentu saja Yubing tahu, pil pengembali roh adalah jenis pil yang langka, mana mungkin Nian memilikinya. Dia hanya berusaha bertanya, kalaupun Nian punya itu akan sangat baik.


Nian menatap Yubing, dan menggelengkan kepalanya. " Senior, aku hanya punya ini, ini pil hitam, berfungsi untuk memperkuat bathin dan mental, efeknya cukup mirip untuk memperkuat roh "


Nian mengeluarkan sebutir pil berwarna hitam dari kantong bajunya, awalnya dia akan menggunakan pil ini untuk memperkuat jiwanya seandainya bertemu Beruang Bambu.


Kemudian Nian menoleh ke arah Jangbi dan memanggil Jangbi yang terlihat sedang sibuk melakukan sesuatu.


" Kamu... Bawa kemari pil putih, bukankah pendekar Yanse, memberikanmu sebotol " Kata Nian kepada Jangbi.


Sebelumnya di luar hutan, Nian melihat Yanse memberikan sebotol pil putih pada Jangbi,


Saat mendengar ini, Jangbi yang sedang membuat lubang kuburan untuk makam Lenfan, menghentikan kegiatannya.


'Gadis ini, sungguh mengerikan, dia bahkan lebih galak daripada istriku ' Pikir Jangbi.


" Ini Nona Nian... " Jangbi memberikan sebuah botol obat pada Nian.


Setelah dibawa pergi Nian, Jangbi pingsan, sejak itu dia ketakutan dengan kekuatan Nian. Ketika dia dibangunkan untuk disuruh membuat lubang kuburan, dia langsung bergegas melakukannya. Tanpa sadar dia menjadi penurut pada Nian.


" Senior, menurutku menggabungkan pil hitam dan pil putih, akan memperkuat bathin dan fisik temanmu, itu akan mempercepat kesembuhannya "


Itu masih hanya asumsi Nian, belum pernah ada orang yang meminum dua pil itu secara bersamaan. Saat Lenfan meminum kedua pil itu nanti, justru hal lain yang tidak diharapkan yang terjadi.


" Bagus, terima kasih Nian... Oh..ya Jangbi, setelah selesai, tolong bawa turun kantong bekal dan harta benda saudara Len, kita akan memberikannya pada Goli " Lalu Yubing turun kembali ke dalam lubang di dasar sungai yang mengering.


" Baik Nona Yubing " Jangbi melanjutkan kembali membuat lubang kuburan dan Nian sibuk mengekstrak mayat Beruang Bambu.


Setelah tiba di dalam lubang, Yubing menghampiri Lenfan, dia mendapati Lenfan telah berubah posisi.


'Apa tadi, dia sempat siuman? ' Pikir Yubing sembari berusaha membangunkan Lenfan,


" Goli, Bangun...! Bangun...!! Goli... Kamu sudah siuman? "


Lenfan yang sudah tersadar karena suara yang berusaha membangunkan dirinya, tetap memejamkan mata. Lenfan takut melihat hantu itu lagi.


'Siapa ini?... Kenapa dia memanggilku Goli?... Sepertinya ini suara nona Bing... Tapi kenapa dia memanggilku Goli?... Jangan-jangan hantu itu mempermainkanku?'


Lenfan mengintip, sedikit membuka kelopak matanya dan berusaha memastikan bahwa suara yang memanggil dirinya itu bukanlah suara si gadis hantu.


" Nona Yubing? Apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu yang sudah menyelamatkanku? " Merasa yakin itu Yubing. Lenfan membuka mata dan langsung bertanya.


" Hihihi... Bukan dia yang menyelamatkanmu, tapi aku, hihihi " Gadis hantu itu tiba-tiba muncul dari belakang Yubing.


" Hantu... Hantu... Nona Bing, ada hantu... !! "


Lenfan menarik jubah Yubing, menariknya menjauh mundur dari si Gadis hantu.


" Hantu? hantu apa? tenang Goli ... semua sudah baik-baik saja, kamu aman sekarang "


Yubing memeluk Lenfan yang ketakutan, dia berpikir Lenfan masih trauma dengan kejadian yang menimpa dirinya.


Lenfan mendadak kaku, dalam pelukan Yubing, pikirannya sedikit lebih jernih, kemudian dia menatap gadis hantu itu.


' Nona hantu. Kamu bisa mendengarku, bukan? ' Tanya Lenfan melalui pikirannya kepada si Gadis hantu.


Gadis hantu itu mengangguk, menyatakan bahwa dirinya bisa mendengar suara pikiran Lenfan.


'Beritahukan apa yang sedang terjadi, kenapa dia terus memanggilku Goli? ' Pinta Lenfan.


Gadis hantu itu melambaikan tangan dan udara di sekitarnya berubah menjadi sebuah cermin, ' Lihat sendiri, siapa kamu sekarang ! '


Lenfan terkejut dan terdiam, setelah lepas dari pelukan Yubing, Lenfan memeriksan wajah, tangan, pakaian, kaki, dan semua yang ada di tubuhnya.


'Ii-ni, Goli...!? Kenapa aku menjadi Goli?, tubuhku... Kemana tubuhku? ' Lenfan terkejut mendapati dirinya kini bertubuh Goli.


Beberapa puluh napas kemudian, setelah Lenfan menyadari keadaan dirinya.


Jangbi tiba-tiba muncul dan memberikan sebuah kantong kepada Lenfan, " Goli, kamu sudah siuman? Ini milik saudara Lenfan, ambillah...!! "


Jangbi sempat mendengar Lenfan berteriak hantu, ketika turun ke dasar lubang, " Goli... Goli... Untung kamu berteriak di dalam lubang ini, jika tidak, monster di luar pasti akan kemari... "


Lenfan masih diam, memeriksa dirinya terus menerus, dia agak terkejut menemukan Jangbi tiba-tiba muncul, tetapi dia mengabaikannya dan terus memikirkan hal yang terjadi pada dirinya, memikirkan kenapa dia menjadi Goli.


" Senior, kuburannya sudah selesai dan mayat Beruang Bambu juga sudah di ekstrak, hanya saja... Mmm... " Nian ikut turun dan memberikan laporan pada Yubing.


" Katakan saja...." Ucap Yubing sambil meraih sesuatu di kantong ruang miliknya.


".Kedua bola mata mayat Beruang Bambu semuanya hancur " Sahut Nian, dengan nada kecewa.


" Bukan masalah, jangan terlalu disesalkan " Yubing tidak terlalu memikirkan hal itu.


" Baik, senior... "


" Senior, diakah kenalanmu itu? Bocah ini? Apa dia sudah meminum pil-pil itu? " Tanya Nian, ketika melihat Lenfan yang masih saja memeriksa dirinya.


Yubing menggangguk, memang Goli adalah kenalan yang dimaksudnya, " Ketika aku turun lagi, dia sepertinya sudah sempat siuman namun pingsan lagi, dan terus menyebut masalah hantu, jadi belum sempat kuberi pil-pil ini "


Dari kantong ruangnya Yubing mengeluarkan, dua butir pil, satu hitam dan satu putih.


" Goli, kami bertiga baru saja sampai dan menemukanmu ada di sini, kami tidak tahu siapa yang menolongmu tapi mungkin saja itu Lenfan, tidak ada hantu... Tenanglah, itu hanya halusinasimu saja, jadi tenanglah " Ucap Yubing.


" Sekarang minum dulu pil-pil ini, pil ini akan memperkuat jiwa dan fisikmu, sepertinya kamu sudah pingsan berhari-hari " Yubing menyerahkan pil-pil itu kepada Lenfan yang sekarang bertubuh Goli.


Bersambung...