
Xingjiang terdiam kaku, dia tidak bisa mempercayai apa yang terjadi di hadapannya,
-Ayah sudah membawa Racun Bom Asap yang diberikan Gumong, tapi kenapa tetap kalah juga, apa ayah tidak menggunakannya ?-
Lenhao yang masih berdiri di dalam arena, melihat ke arah Xingjiang yang terpaku melihat kondisi Xinglau,
"Xingjiang, ambil ayahmu dan pergi dari sini, aku sudah selesai berurusan dengan orang licik sepertinya, dia bahkan menggunakan racun untuk mencoba mengalahkanku"
Mendengar perkataan Lenhao, Xingjiang sedikit terkejut, ternyata ayahnya sudah menyerang Lenhao dengan Racun Bom Asap tersebut, tetapi Lenhao ternyata bisa selamat dari racun buatan Gumong itu,
-aku kira ayah belum menggunakan racun itu padanya, orang ini memang sudah jauh lebih kuat-
Xingjiang tidak memberikan tanggapan apa-apa atas perkataan Lenhao, dia hanya melangkah maju ke arena pertarungan dan mengangkat tubuh ayahnya yang pingsan, lalu kembali ke kediaman mereka.
Begitulah akhirnya, Lenhao diangkat sebagai Mahaguru angkatan ke-13 dari Perguruan Tanah Terlarang dan atas saran Lenchan, Xingmou menjadi Guru besar menggantikan Xinglau yang kini telah menjadi cacat. Kecacatan Xinglau tidak ada hubungannya dengan Lenhao, Xinglau cacat sebagai akibat dari senjata makan tuan.
Saat di tengah kubah, Xinglau menjadi seperti orang buta, dia tidak dapat melihat sama sekali. Jadi, Xinglau menyerang secara acak ke segala arah. Setelah ratusan serangan pedang yang dilakukan secara acak itu, Xinglau kehabisan tenaga dalam dan tidak sanggup lagi memberikan perlawanan. Xinglau memutuskan untuk menggunakan racun yang diberikan oleh Gumong.
Berbeda dengan Xinglau, Lenhao dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di dalam dan di luar kubah, karena kubah itu adalah energi mentalnya sendiri. Saat Xinglau mengeluarkan sebuah botol dan hendak melemparkan botol itu, Lenhao tahu bahwa botol itu pastilah racun.
Lenhao membentuk segel tangan dan asap hitam dari energi mentalnya keluar sekali lagi dan membungkus seluruh tubuh Lenhao. Sehingga saat Xinglau melemparkan botol itu, dan racun di dalamnya meledak, itu justru hanya melukai Xinglau seorang.
Xinglau yang sudah kehabisan tenaga dalam tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari serangan asap beracun itu. Untung Xinglau telah meminum penawar racun sehingga nyawanya bisa terselamatkan, tetapi walau nyawanya selamat, Xinglau menjadi cacat akibat dari kuatnya racun tersebut.
Jika saja Xinglau menelan pil kuning keemasan yang diberikan Lenchan pada Lenhao, mungkin dia akan selamat tanpa cacat. Pil kuning keemasan milik Lenchan disebut sebagai Pil Penyambung Nyawa. Pil yang mampu menawarkan beberapa jenis racun.
Setelah 49 hari upacara duka mendiang Mahaguru angkatan sebelumnya. Upacara dan pesta perayaan pengangkatan Lenhao sebagai Mahaguru baru pun diadakan. Namun di dalam pesta itu tidak terlihat kehadiran anggota keluarga Xinglau.
Selama 49 hari ini, mereka sibuk berusaha menyembuhkan Xinglau, dan memang kondisi Xinglau sudah sedikit lebih membaik. Xingniu sempat menemui Lenchan dan meminta bantuan, karena mengetahui Lenchan mempelajari ilmu pengobatan, namun Lenchan menghindar dan menolak untuk membantu kesembuhan Xinglau.
[Di Kediaman Xingjiang]
"Xingniu, Bagaimana keadaan kakekmu? Apa Gumong bisa melakukan sesuatu ?"
Xingjiang bertanya dari luar kamar tempat Gumong sedang mengobati Xinglau.
"Keadaan kakek sudah lebih membaik, tapi mungkin kakek akan menjadi orang biasa, budidayanya akan musnah, hanya itu cara untuk menyelamatkannya"
Xingniu baru saja keluar dari kamar itu, dia menutup pintu dan menjawab pertanyaan Xingjiang yang terlihat cemas.
"Ayah masuk saja, asap beracunnya sudah dikeluarkan semua oleh Gumong, tidak ada yang perlu ditakuti"
Imbuh Xingniu.
Sebelum melakukan pengobatan, Gumong menyarankan kepada Xingjiang dan Xingniu untuk menjaga jarak, menunggu di luar kamar, agar Gumong dapat dengan leluasa menarik sisa asap beracun keluar dari tubuh Xinglau.
Xingjiang mengangguk dan masuk ke dalam, dia melihat Gumong sedang mengambil sebuah kuas dan sepucuk kertas,
"Gumong, apa yang terjadi? Untuk apa kuas dan kertas itu ?"
"Sepertinya kakek mertua ingin menuliskan sesuatu, dari tadi dia berbisik meminta sepucuk kertas dan kuas untuk menulis"
Jawab Gumong saat dia mengoleskan tinta ke kuas yang dibawanya, kemudian berjalan ke ranjang tempat Xinglau sedang berbaring.
"Biar aku saja, Kemarikan!"
Xingjiang mengambil kuas dan kertas itu dari tangan Gumong, kemudian duduk di samping Xinglau yang masih berbaring lemah.
Tangan kanan Xinglau gemetaran, saat dia menggerakkan kuas, perlahan-lahan dia menuliskan kata 'Kitab Surga Sembilan Langit' dan 'Batu Reinkarnasi' di kertas tersebut dengan tulisan yang agak kacau, tetapi masih bisa terbaca.
Sudah lama Xinglau menyimpan informasi mengenai Batu Reinkarnasi yang dimiliki istri Lenhao, Qimoruong. Xinglau mengetahui keberadaan batu itu setelah secara tidak sengaja melihat Lenfan memainkan batu reinkarnasi itu seperti layaknya sebuah mainan.
Oleh karena itu, Xinglau menyuruh Gumong untuk meracuni Lenfan. Xinglau berencana untuk menukarkan Batu Reinkarnasi dengan obat penawar racun yang dapat digunakan untuk menyelamatkan nyawa Lenfan, tetapi racun itu justru diminum Qimoruong.
Ditambah lagi dengan kembalinya Lenchan ke dalam perguruan untuk menyembuhkan Qimoruong, yang pada akhirnya menghancurkan total rencana jahat Xinglau untuk mendapatkan salah satu batu bertuah tersebut.
Seusai menulis Xinglau menatap Xingjiang dan menggerakkan mulutnya tetapi suaranya terlalu kecil dan tidak terdengar, bahkan dia terlihat seperti berbicara tanpa bersuara.
Xingjiang mendekatkan telinganya ke arah Xinglau, agar dapat mendengar apa yang hendak dikatakan ayahnya itu.
"Be-ri-kan i-ni pa-da Ti-an-fu-zi"
Kata-kata yang diucapkan Xinglau terbata-bata, namun Xingjiang mampu mengerti apa yang dikatakan ayahnya itu.
-Berikan ini pada Tianfuzi -
Xingjiang sudah mengerti apa maksud ayahnya dengan memberikan kertas itu kepada Tianfuzi, ayahnya berencana untuk melakukan kerjasama dengan Tianfuzi.
Xingjiang mengambil stempel diri milik Xinglau dan memberikan tanda dari stempel itu di kertas tersebut, yang menyatakan bahwa pesan di dalam kertas itu adalah pesan asli yang di tulis sendiri oleh Xinglau.
"Ayah tenang saja, aku akan memberikan ini kepada Tianfuzi. Aku yakin dia dan pasukannya pasti akan menyetujui rencana kita"
Xingjiang yakin Kitab Surga Sembilan Langit dan Batu Reinkarnasi pasti akan menarik minat Tianfuzi untuk membantu trah Xing menguasai perguruan.
Xingjiang sebenarnya agak menyayangkan untuk memberitakan keberadaan dua benda itu kepada Tianfuzi, namun karena ini perintah ayahnya, Xingjiang tidak lagi berargumen. Hal yang sama sebenarnya juga dipikirkan oleh Xinglau, dia juga menyayangkan untuk memberitakan hal itu kepada Tianfuzi.
Jika bukan karena terdesak oleh kekalahan, Xinglau yang kini cacat tidak akan menyuruh Xingjiang untuk menyampaikan informasi berharga itu kepada Tianfuzi. Xinglau lebih suka jika dia bisa memiliki semuanya sendiri, baik itu Kitab Surga, Batu Reinkarnasi, dan juga kekuasaan atas Perguruan Tanah Terlarang.
"Aku akan ke pusat kota, kamu tetap rawat ayahku dengan baik!"
Xingjiang bangkit dan beranjak pergi ke pusat kota dari Kota Larangan. Pusat kota itu disebut sebagai Distrik Tanah Terlarang. Kediaman Tianfuzi berada di distrik tersebut.
Jarak tempat kediaman Tianfuzi tidak terlalu jauh dari Perguruan Tanah Terlarang, sebab perguruan itu masih berada di dalam wilayah Distrik Tanah Terlarang. Hanya saja perguruan itu berada di daerah pinggiran kota, tepatnya berada di kaki sebuah gunung. Nama perguruan diambil dari nama distrik tersebut, yaitu Tanah Terlarang.
"Tentu ayah mertua, aku akan berusaha sebaik mungkin"
Gumong kembali merapikan kuas dan tinta, kemudian meracik obat setelah mengantar Xingjiang pergi keluar dari kamar tersebut.
Beberapa waktu berlalu, akhirnya Xingjian tiba di Distrik Tanah Terlarang. Setibanya di pusat kota, Distrik Tanah Terlarang. Xingjiang segera menemui Tianfuzi di sebuah Wisma yang berdiri tepat di sebelah kiri gerbang masuk distrik.
Orang yang bernama Tianfuzi ini adalah seorang petinggi di Kultus Abu-Abu, dia juga salah satu keturunan trah darah murni, suku langit gelap.Tianfuzi merupakan murid inti dari perguruan tingkat darah murni.
Tianfuzi memiliki kekuasaan yang cukup besar di dalam Kultus Abu-Abu, kendalinya dalam mengerahkan Pasukan Bayangan milik Kultus Abu-Abu sering membuat banyak pendekar yang memiliki rencana jahat melakukan kerjasama dengan dirinya.
Pasukan Bayangan milik Kultus Abu-Abu sudah terkenal semenjak ratusan tahun lalu sejak awal Kultus tersebut berdiri. Pasukan ini terdiri dari para pendekar yang sedari dini sudah menjalani pelatihan khusus.
Tentu saja, Xinglau adalah salah satu pendekar yang memiliki rencana jahat untuk menggunakan tangan Tianfuzi beserta pasukannya, merebut tampuk kekuasaan di Perguruan Tanah Terlarang.
Tianfuzi menyambut kedatangan Xingjiang dengan sumringah, seakan-akan dia sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Xingjiang. Tianfuzi mempersilahkan Xingjiang untuk duduk di dalam ruang tamu Wisma.
Mereka berbicara tanpa basa-basi, Xingjiang langsung menceritakan niatannya datang mengunjungi Tianfuzi. Xingjiang secara gamblang menceritakan segala sesuatu yang baru saja terjadi di dalam Perguruan Tanah Terlarang.
"Kami akan menyiapkan jalan rahasia, sehingga kalian bisa dengan aman melewati formasi pelindung. Kami hanya meminta kalian menyerahkan tampuk kekuasaan perguruan kepada keluarga kami"
Xingjiang kini duduk di sebuah kursi di dalam ruang tamu Wisma tersebut. Dia sudah memberikan kertas yang ditulis tangan oleh ayahnya kepada Tianfuzi.
"Hahaha... Aku percaya, jika Senior Xingjiang yang datang sendiri menyampaikan informasi ini, ini pasti benar. Tunggu saja kabar dari kami, kita akan segera bertindak..Hahaha"
Tianfuzi tertawa lepas, dia sangat senang dengan informasi yang disampaikan Xingjiang. Tianfuzi tidak pernah menyangka, sebuah Kitab Surga dan sebuah batu bertuah ternyata datang sendiri menghampirinya.
Informasi tentang kedua benda langka itu adalah kabar yang sangat menggiurkan bagi siapa pun yang mengetahuinya, tentu saja Tianfuzi tidak akan melepaskan kesempatan tersebut.
Xingjiang tidak ingin berlama-lama di kediaman Tianfuzi, setelah meneguk secangkir teh dan berterima kasih, Xingjiang berpamitan untuk kembali ke kediamannya.
"Senior Xingjiang tenang saja, sampaikan salam saya kepada Senior Xinglau. Paling lambat tiga hari lagi, kami akan mengabarkan hasilnya"
Imbuh Tianfuzi, sebelum melipat kertas pemberian Xingjiang dan menyimpannya ke dalam saku pakaiannya. Tianfuzi mengantar Xingjiang pergi keluar dari Wisma miliknya.
*Zyuut*
Sesosok bayangan putih muncul di belakang Tianfuzi, setelah Xingjiang benar-benar menghilang jauh dari pandangan Tianfuzi.
"Hehehe... Ini dia yang kita tunggu-tunggu! Sampaikan informasi ini kepada kedua perguruan, kita harus sesegera mungkin menyerang Perguruan Tanah Terlarang, Hehehe"
Sosok berpakaian serba putih itu tertawa lantang di belakang Tianfuzi. Setelah sosok itu memberikan perintah kepada Tianfuzi, dalam sekejap sosok itu menghilang.
"Baik ketua, sekarang juga saya akan menyampaikannya"
Tianfuzi berbalik dan mengangguk hormat kepada sosok yang baru saja menghilang tersebut.
Tianfuzi segera mengeluarkan dua buah boneka burung yang terbuat dari kayu dari dalam kantong ruang dan mengalirkan tenaga dalam kepada kedua boneka burung tersebut sebelum melepaskan mereka pergi, terbang menuju dua perguruan tingkat darah murni.
Setelah tiga hari persiapan, Tianfuzi mengabari kepada Xingjiang bahwa dia dan pasukannya akan menyerang pada saat malam tiba. Xingjiang membalas kabar dari Tianfuzi dengan memberikan sebuah denah jalan rahasia untuk melewati formasi pelindung Perguruan Tanah Terlarang.
Di malam hari, tiga hari kemudian, Tianfuzi tiba di kediaman Xingjiang bersama dengan 40 orang Pasukan Bayangan. Mereka berhasil masuk dengan aman tanpa terkendala formasi pelindung setelah mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Xingjiang.
Tetapi semua berbeda dengan apa yang dipikirkan Xingjiang. Setelah Tianfuzi berhasil masuk ke Perguruan Tanah Terlarang dan menyusup ke kediamannya, Tianfuzi justru membunuh Xingjiang dan seluruh keluarganya.
Xingjiang tewas setelah diserang dari belakang oleh salah seorang Pasukan Bayangan yang juga berada di ranah Human God. Sementara Xinglau meninggal di atas tempat tidurnya dalam keadaan kepala terpenggal, Xinglau meninggal tanpa tahu apa yang sebenarnya direncanakan oleh Tianfuzi.
Gumong melakukan perlawanan untuk memberi waktu kepada Xingniu dan anaknya agar mereka dapat pergi melarikan diri. Tentu saja perlawanan Gumong tidak akan terlalu berarti, Gumong tewas setelah memberikan puluhan serangan balasan kepada dua orang Pasukan Bayangan yang menyerangnya.
"Guxiong, selamatkan dirimu, pergilah ke lorong rahasia, beritakan kejadian ini kepada keturunan trah Len yang berhasil kamu temui..ukh..."
Xingniu yang dalam keadaan kritis berhasil menyelamatkan putranya, berlari beberapa ratus langkah sebelum akhirnya meninggal.
"Ibu... Huhuhu, Maafkan aku...bu...."
Guxiong adalah putra Gumong dan Xingniu. Guxiong menangis di hadapan mayat Xingniu, yang berhasil menyelamatkan dirinya dari tebasan pedang seorang Pasukan Bayangan. Namun tebasan pedang itu justru mengenai tubuh Xingniu dan membuatnya tewas. Guxiong merasa menyesal tidak dapat melakukan apa-apa untuk menyelamatkan kedua orang tuanya.
Beberapa hela napas kemudian, ketika mendengar beberapa langkah kaki mendekat ke arahnya, Guxiong berhenti menangis dan menghapus air matanya, lalu bergegas masuk ke dalam lorong rahasia mengikuti arahan Xingniu.
Bersambung...