
Usai sedikit kesal karena merasa dikerjai, Ziyishi kembali duduk di hadapan Zhao Feng. Selama beberapa puluh hela napas kemudian mereka terlihat asyik membicarakan sesuatu.
“Nyonya, terima kasih untuk bantuannya. Aku permisi.” Ucap Zhao Feng sembari berpamitan kepada Ziyishi.
Ziyishi mengangguk dan mengantar Zhao Feng pergi. Zhao Feng melanjutkan perjalanannya menuju ke Pulau Api.
***
[Markas Bawah Tanah Divisi II Bandit Serigala Biru]
“Ada apa Xiaobai? Kenapa kamu ketakutan?” Tanya Gofan saat dia mengusap pelan rambut Xiaobai yang gemetar ketakutan.
Xiaobai hanya menggigil ketakutan, matanya terus memandang ke arah dalam ruang bawah tanah tersebut. Pandangannya tepat mengarah pada sebuah pintu batu yang tertutup di ruangan itu.
“Guru. Sepertinya ada sesuatu yang berbahaya di balik pintu batu itu.”
“Sana... Periksalah!” Seru Vasudev memerintahkan Gofan untuk memeriksa apa yang ada di balik pintu yang membuat Xiaobai ketakutan.
Gofan mengangguk dan berjalan melangkah menuju ke arah pintu batu.
*Grooog* Gofan maju dan mendorong pintu batu itu. Pintu batu itu terbuka.
“Ini!?” Gofan yang terkejut, diam mematung tepat di depan pintu batu yang terbuka.
“Ada apa di sana?” Tanya Vasudev.
Gofan tidak menjawab, tangannya melambai memanggil Vasudev untuk mengikutinya, dia melangkah masuk ke ruangan di balik pintu batu itu.
“Aiya... Kenapa dia masuk begitu saja.” Gumam Vasudev saat dia menggendong Xiaobai yang ketakutan, “Tenanglah, aku akan melindungimu.” Ucap Vasudev menenangkan Xiaobai yang berada di dalam pelukannya, saat dia pergi menyusul Gofan.
**
“Guru. Untuk apa kira-kira mereka mempersiapkan pasukan Mayat hidup sebanyak ini?” Ucap Gofan saat Vasudev tiba di sebelahnya.
Vasudev terdiam sambil menggendong Xiaobai yang semakin menggigil ketakutan.
Di hadapan mereka, ada lebih dari ratusan Mayat Hidup yang mengenakan pakaian tempur mirip pasukan kerajaan. Pasukan Mayat Hidup itu terlihat masih tertidur. Mereka semua berdiri dengan mata tertutup. Sesekali akan tercium aroma busuk dari tubuh mereka.
“Entahlah. Aku tidak pernah melihat pasukan Mayat Hidup sebanyak ini... Apa sekarang para Bandit itu sudah beralih profesi menjadi pengendali mayat?” Sahut Vasudev.
“Apa pun tujuan mereka, pastinya itu adalah hal yang tidak baik... Hei, Xiaobai! Cepat bantu tuanmu menemukan kunci itu, kita akan urus mayat-mayat ini setelah itu.” Imbuh Vasudev saat dia menurunkan Xiaobai ke tanah.
*Kaingkaing* Xiaobai yang ketakutan berusaha berdiri menguatkan kaki-kakinya yang gemetaran. Aroma busuk dari mayat-mayat itu membuatnya ketakutan.
“Tenanglah Xiaobai... Setelah ini, aku akan langsung mengamankanmu di dalam Sangkar Gaib.” Ucap Gofan berusaha menenangkan Xiaobai.
Setelah beberapa hela napas, Xiaobai kembali berjalan. Gofan dan Vasudev kembali mengikutinya. Mereka dengan hati-hati berjalan melewati para Mayat Hidup yang berdiri tertidur.
Sepengetahuan Gofan dan Vasudev, jika para Mayat Hidup itu tidak diperintahkan dengan segel jurus tertentu, maka para Mayat Hidup itu tidak akan bisa bergerak dengan sendirinya. Jadi, untuk saat ini mereka masih baik-baik saja. Walau demikian, Gofan dan Vasudev masih berhati-hati ketika berjalan melewati para Mayat Hidup itu.
Seandainya mereka menyerang, Gofan dan Vasudev bisa saja mengatasi mereka. Tapi dengan jumlah mereka yang banyak dan mereka yang bisa bangkit kembali setelah ditumbangkan, tentu saja akan merepotkan jika harus dihadapi berdua saja.
“Terima kasih Xiaobai. Sekarang kembalilah ke dalam Sangkar Gaib.” Gofan melakukan segel tangan dan menarik Xiaobai, masuk ke dalam Sangkar Gaib.
“Guru. Aku akan menghancurkan patung batu ini... Kata Xiaobai kunci itu ada di dalamnya.” Ucap Gofan saat tangan kanannya mengepal, bersiap menghantam patung batu serigala itu.
“Tunggu.. Sepertinya ada yang salah.” Cegah Vasudev.
“Kenapa kunci seberharga itu, hanya dijaga oleh sekumpulan mayat yang bahkan tidak bisa bergerak tanpa diperintah? Coba pikirkan...”
“Selain itu, dari tadi, tidak ada satu pun Formasi pelindung yang menjaga tempat ini. Bukankah itu aneh?” Imbuh Vasudev sembari menatap aneh pada patung batu serigala di hadapan Gofan.
Gofan mengangkat bahu dan kedua tangannya, “Mungkin mereka tidak pernah mengira, akan ada yang mengetahui tempat ini.” Gofan mengepalkan tangannya lagi dan bersiap untuk menghancurkan patung batu serigala itu
“Tunggu.. Coba pikirkan dulu.” Cegah Vasudev lagi.
“Guru.. Bukankah Guru seorang Human God? Siapa yang bisa mengalahkan Guru di benua ini? Kenapa Guru berpikir serumit ini?.” Gofan menyeringai kecil saat dia memuji ranah budidaya Gurunya tersebut.
Vasudev masih diam. Dia memperhatikan mayat-mayat yang berdiri di ruangan tersebut. Ada sesuatu yang salah, itu yang terus dia pikirkan ketika matanya menelusuri satu demi satu tubuh Mayat Hidup itu.
*Deg*
Saat Vasudev memperhatikan lebih teliti, ternyata hampir semua mayat yang ada di dalam ruangan itu adalah Mayat Merah. Selain itu, ada beberapa pola gambar aneh yang terlihat terukir di sepanjang dinding ruangan itu, mirip seperti ukiran sebuah Formasi tertentu.
***
[Benua Penda-Di Atas Laut Utara]
Saat Vasudev ragu untuk menghancurkan patung batu serigala di dalam Markas Divisi II Bandit Serigala Biru. Rombongan Perguruan Lembah Bunga Kamboja tengah terbang mengendarai beberapa ekor burung elang raksasa bertanduk, mereka terbang melewati Laut Utara menuju ke Pulau Api.
“Adik. Kamu tidak perlu memikirkan masa lalu. Penatua sudah berjanji, akan merawatmu sebagai murid Lembah Bunga Kamboja, kamu tidak perlu khawatir lagi.” Ucap Yubing kepada Meiling di atas punggung elang raksasa bertanduk.
Elang raksasa bertanduk itu adalah Makhluk buas kontrak milik Penatua Lembah Bunga Kamboja. Disebut sebagai Elang Tanduk Bengkok, besarnya tiga kali ukuran manusia dewasa. Elang Tanduk Bengkok mampu terbang cepat saat di siang hari. Saat Malam tiba, kecepatannya akan menurun karena matanya yang rabun.
Meiling tidak menjawab ucapan Yubing. Meski luka di tubuhnya sudah sembuh, namun rasa sakit yang diterimanya dari perlakuan Gofan palsu dan Ayah angkatnya masih menyisakan trauma di dalam kepalanya.
Saat mendengar ucapan Yubing yang terus berusaha menyemangatinya, pandangan mata Meiling menerawang jauh, mengingat kembali kejadian ketika Xunialiang memanggil roh nenek kandungnya untuk datang dan memberikan penjelasan.
Beberapa hari sebelumnya. Saat Xunialiang melakukan ritual pemanggilan roh nenek Yubing. Meiling yang baru saja tersadar, samar-samar terkejut melihat wajahnya yang sangat mirip dengan wajah Yubing. Sembari masih terbaring lemas di atas tempat tidur dia memperhatikan ritual yang hendak dilakukan Xunialiang.
Meski bingung, Meiling hanya bisa diam dan mencuri dengar sembari melihat samar apa yang tengah dilakukan gadis yang mirip dengannya dan seorang perempuan yang memegang sebuah bola kristal.
“Cepat berikan sehelai rambutmu!.” Pinta Xunialiang lagi, beberapa saat setelah Gofan dan Vasudev meninggalkan ruangan Meiling.
“Senior. Berikan saja, bukankah kamu ingin mengetahui kebenaran ini.” Ucap Nian yang berdiri tak jauh dari tempat tidur Meiling.
Yubing mengangguk pelan dan memberi Xunialiang sehelai rambutnya.
Saat mereka sedang sibuk dengan semua ritual pemanggilan roh tersebut, mereka tidak menyadari bahwa Meiling sudah tersadar dan ikut menyimak kejadian tersebut.
Bersambung...