Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 9: OBROLAN


Pertanyaan beruntun sang putri, tidak sekalipun mengejutkan dirinya. Gadis itu terlalu peka pada hal sensitif. Jujur saja ia agak menyesal karena menceritakan kisah masa lalu keluarga agar kedua anaknya memahami bagaimana silsilah ikatan darah para leluhur.


Meskipun Azzam meyakinkan bahwa itu demi kebaikan bersama. Entah kenapa ia sendiri ingin melupakan masa lalu tanpa harus mengungkit, apalagi kembali bersinggungan dengan urusan gaib yang bisa menghancurkan keluarga mana pun. Sayangnya takdir selalu memiliki rencana lain dan manusia berharap berbeda.


"Nak, setiap manusia yang masih bernapas diwajibkan untuk berjuang agar bisa bertahan hidup. Perbedaannya terletak pada ujian masing-masing. Kita yakin bahwa makhluk gaib itu ada dan hidup berdampingan hanya saja ...,"


Suara benda jatuh dari ruang tamu menghentikan ucapan Bella. Wanita itu menoleh ke arah pintu menunggu siapa yang menguping pembicaraan antara ibu dan anak, sedangkan Najwa langsung berlari memeriksa. Hanya beberapa langkah sudah bisa melihat keadaan di luar dapur.


Gadis itu mengedarkan pandangan matanya dari satu sudut ke sudut lain. Namun tidak menemukan siapapun kecuali tiga gulungan koran yang teronggok di lantai depan bufet. Agak aneh sih, tetapi masih berpikir positif mungkin saja angin. Kemudian ia kembali masuk ke dapur mendekati Bella yang menyambutnya dengan senyuman tipis.


"Bunda, tidak ada siapapun." lapor Najwa tanpa rasa takut, "Jadi tadi bunda mau bilang apa?"


"Lupakan itu, Nak. Bunda ingin kamu ingat satu hal ini, waktu antara alam kita dan alam mereka bertolak belakang. Jangan berpikir tentang kemenangan, tetapi berpikirlah untuk tidak kalah." ucap Bella menasehati Najwa, sebagai seorang ibu bisa memberikan nyawa tanpa ada kata nanti. Akan tetapi ketika bersinggungan dengan hal gaib, ia harus berpikir lima kali demi kebaikan semua orang.


Dulu ada masanya pemikiran sempit dan hanya bermodalkan nekat. Setelah menikah, lalu secara bertahap memperbaiki dirinya sendiri melalui ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum. Jujur saja untuk bersinggungan dengan para makhluk tak kasat mata harus bisa mengendalikan emosinya agar tetap memiliki ketenangan. Sama seperti yang dilakukan Azzam selama ini.


"Bunda, apa maksud dari waktu berbeda?" tanya Najwa mencoba mencerna nasehat bunda nya karena ia benar-benar tidak paham.


Selama ini, gadis itu hanya hidup dengan berusaha menjadi gadis yang normal. Meski ia sadar bahwa takdirnya memang sudah digariskan penuh cobaan, sedangkan Bella sendiri tengah berusaha menjauhkan kedua anaknya dari marabahaya. Bukan tidak mungkin, jika sesuatu yang ditakutkan olehnya bisa berubah menjadi kenyataan.


"Maksud dari Ka Bella adalah malam di bumi berarti siang di alam gaib. Seperti keinginan dan kenyataan, keduanya tidak bisa disatukan. Bukan begitu Ka?" sahut Abil yang nimbrung obrolan wanita rumah tanpa permisi.


Bella menganggukkan kepala, membuat Najwa ber- oh ria. "Ka, apa besok kita bisa pergi ke makam ibu?"


"Bisa saja, De. Cuma biar Kakak izin Mas Azzam dulu, ya." balas Bella tak ingin membuat adiknya sedih, padahal beberapa hari yang lalu sang suami jelas mengatakan agar dirinya tetap dirumah karena situasi memang kurang baik.


Kegelisahan di mata Bella tertangkap basah olehnya. Abil mengerti ada beban hati yang tidak bisa diucapkan ketika di antara mereka masih ada Najwa. Jika keadaan saja sedemikian rupa, pasti sesuatu yang penting telah terjadi. Pertanyaannya adalah ujian seperti apa yang datang menghampiri hingga merenggut senyuman sang kakak.


"Ya Allah, Bunda ama Paman malah sibuk main mata. Jangan abaikan gadis secantik aku gitu," celetuk Najwa seketika melumerkan suasana.


Perubahan ekspresi wajah sang kakak dari tenang menjadi tegang masih jatuh dalam pengawasannya. Tak ingin membuat curiga, ia beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan menghampiri Bella, kemudian memeluk wanita itu seraya menghentakkan kaki pelan tanpa ada tekanan. Bayangan hitam berbentuk tangan yang mengusik mencengkram kaki kakaknya kembali masuk ke dalam tanah.


"Aku lapar, Ka. Kayaknya enak makan mie kuah pedas dengan topping sosis, sayur, daging dan pangsit. Kira-kira ada bahannya gak ya?" ucap Abil menutupi tindakannya dengan bersikap manja, membuat Najwa mengerjapkan mata keheranan.


Tingkah laku adik ibunya sangat mirip Emir. Kedua pria itu benar-benar manja dan tidak bisa diganggu gugat. Apakah ikatan darah selalu membentuk karakter yang sama? Atau semua itu hanya kebetulan? Apapun itu, sekarang Emir memiliki saingan. Kemungkinan harus ekstra untuk mendapatkan perhatian ratu rumah keluarga Abi Azzam.


Bagaimanapun usaha yang jadi pemenangnya hanya Abi seorang. Iya 'kan? Pemikiran Najwa hanya seputar apa yang terlihat di depan mata, sedangkan Bella melirik sang adik. Dimana Abil mengedipkan mata, seakan berkata semua aman terkendali. Setelah lama tidak bertemu ternyata kesayangannya masih sama.


Abil tetap mempertahankan indra keenamnya tanpa rasa takut, bahkan sikap tenang sang adik menjelaskan bahwa kini siap memberantas rasa takut yang menyergap keyakinan. Apakah itu baik untuk keluarga mereka? Dulu keberanian menjadi awal perjuangan, tetapi sekarang?


"Bunda, Abi nungguin di ruang tengah. Wuih, cemilannya banyak banget ...," Emir menatap toples berisi kripik, kentang goreng, pastel dan lain-lain dengan mata berbinar, membuat Najwa hanya bisa menggelengkan kepala.


"Kalian bawa keluar semua cemilannya! Bunda mau buatin mie dulu untuk Abil," Bella beranjak dari tempat duduknya, tetapi rasa nyeri di kaki kanannya akibat sentuhan makhluk gaib hampir menghilangkan keseimbangan tubuh.


Abil yang masih berdiri dibelakang Bella menahan tubuh kakaknya dengan sigap, "Aku bantuin deh, biar cepet. Emir, bantu kakakmu bawa cemilan!"


"Siap, Ka." jawab Emir seraya memberikan hormat seakan tengah melaksanakan upacara bendera.


Dibiarkannya kedua anak muda itu meninggalkan dapur dengan membawa nampan berisi toples cemilan, sedangkan Abil masih bersabar untuk menunggu situasi membaik. Akan tetapi ia sadar tatapan sang kakak terpatri padanya tak berkedip. Pasti wanita itu memiliki pertanyaan yang membutuhkan jawaban.


Lima menit kemudian hanya tinggal ia dan Bella yang tertinggal di dapur, "Ka Bella tidak mau tanya, kenapa aku kembali ke Jakarta?"


"Apa adikku yang manis masih enggan untuk, menutup mata batinnya?" tanya Bella to the point karena seingatnya Azzam mengatakan akan membujuk Abil agar tidak berhubungan lagi dengan para makhluk gaib.


Pertanyaan yang cukup berat, tetapi ia paham akan kecemasan seorang kakak. Apalagi selama ini jauh dari keluarga dan tentu perjuangan hidupnya hanya ia sendiri yang tahu. Baginya memiliki mata batin terbuka di anggap sebuah anugrah. Yah dalam artian ia bisa mencoba memahami dua dunia yang saling bersinggungan. Meski sadar berisiko tinggi dan mengancam nyawa.


"Ka, tenanglah. Abil janji kelebihan ini digunakan untuk membantu orang." jawab Abil lalu memeluk Bella agar bisa melepaskan rasa cemas akan keselamatannya.