
Suara yang menggelegar menembus ruang kehampaan. Roh Suci yang membantu Najwa hancur lebur berubah menjadi kepulan asap tak lagi bermakna, tetapi kilatan amarah enggan menampakkan diri dan bersembunyi di balik gema nada tak berujung. Sementara itu, jiwa sang gadis kembali memasuki raganya.
Azzam langsung merengkuh tubuh putrinya dengan tak henti bibir mengucapkan syukur atas kesempatan yang Allah berikan. Rasa takut yang selama ini hanya ia pendam mendadak terungkap membasahi kedua pipi. Untuk pertama kalinya, air mata jatuh mengasihi sang buah hati yang kini mengawali hidup tanpa sandaran.
"Abi, Wawa kenapa?" tanya gadis remaja itu kebingungan seraya melepaskan diri dari pelukan sang ayah yang terlalu erat, "Eh, Abi nangis? Apa ada yang jahatin Abi?"
Pertanyaan yang menyergap kesadaran di atas kenyataan. Apakah Najwa tidak bisa mengingat apa yang baru saja terjadi? Ilusi macam apa yang kini harus ia hadapi? Ditengah rasa penasaran, lirikan matanya tak sengaja melihat sinar merah yang terpancar dari dalam tubuh gadis itu. Batu permata merah bersinar sangat terang walau hanya sesaat.
Diusapnya kepala Najwa yang hanya mengenakan hijab polos sembari memandang sang putri dengan tatapan mata menelisik. Ia ingin memastikan semua sudah aman terkendali. "Tidak ada yang jahat, Nak. Wawa nanti malem tidur bareng bunda aja ya!"
"Wawa nurut aja ama Abi, tapi jadi ketemu ustadzah gak ini? Kalau jadi, biar Wawa siap-siap dulu." sahut Wawa mengingat janjinya untuk sang ayah.
Melihat situasi yang ada, terlalu rentan jika membiarkan putrinya keluar rumah seorang diri. Kemungkinan sekecil apapun bisa menjadi masalah baru. Apalagi kekuatan yang tersimpan menyatu bersama detak jantung Najwa seperti aroma kopi yang menarik banyak perhatian orang. Bedanya aroma itu membuat gila para makhluk tak kasat mata.
"Nanti Abi yang bilang ke ustadzah buat nemuin kamu dan bunda di rumah, sekarang bersiaplah untuk melanjutkan hapalan. Abi pamit ke pondok dulu, tapi kalau Wawa merasa tidak nyaman sendiri di kamar. Pindah aja ke kamar bunda." Azzam membuat keputusan yang harus dilakukan tanpa menghadirkan resiko lebih banyak.
Setelah memastikan putrinya akan tetap berada di rumah. Barulah langkah kakinya berjalan meninggalkan rumah, tetapi satu langkah menapaki teras depan rumah menyambut semilir angin dingin menusuk hingga ke tulang. Aroma anyir bercampur asap kemenyan seakan memenuhi rongga dada.
"Astaghfirullah, rupanya kalian tidak mau mengalah pada anak muda. Jika begini caranya, Najwa harus tetap di rumah tapi sampai kapan? Gadis itu selalu memiliki alasan untuk melakukan keinginannya tanpa bisa dicegah."
Pasrah akan setiap cobaan bukan berarti diam tanpa melakukan apapun, bahkan keyakinan hati bisa goyah hanya dalam sekali godaan. Azzam tengah mencari akar dari permasalahan yang melibatkan Najwa karena ia sendiri masih bingung dengan keadaan saat ini. Apakah semua itu berkaitan dengan masa lalu atau murni pengaruh masa kini.
Tidak ada tempat untuk menemukan jawaban. Ia hanya bisa mengurut setiap kejadian selama masa pernikahannya bersama Bella. Jika kehidupan Emir lebih normal, kenapa tidak dengan Najwa? Apa perbedaan dari kedua anaknya itu? Jika memungkinkan pasti ingin bergegas menyelesaikan masalah yang menimpa keluarga.
Setiap langkahnya diiringi lantunan dzikir yang memasrahkan diri memohon perlindungan pada Allah SWT sebagai tempat bernaung dari segala marabahaya. Rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh berharap mampu menahan kekuatan gaib yang kian mendekat mencoba menyusup tanpa permisi.
Sayup-sayup terdengar suara yang familiar dari arah lapangan pondok pesantren. Langkahnya terus mengikuti suara yang tengah mengatur seraya memberikan contoh dalam melakukan penyerangan seraya mempertimbangkan keseimbangan tubuh. Siapa lagi jika bukan putranya Emir. Remaja itu menjadi pelatih bela diri termuda bahkan lebih muda darinya saat memiliki gelar pelatih.
Emir berjalan menghampiri anak usia delapan tahun yang bernama Yusuf. Ditepuknya pundak kanan sang anak seraya tersenyum manis yang selalu menghangatkan hati siapapun yang melihat, "Ilmu bela diri akan mengalir di dalam tubuh seperti aliran darah kita. Fokus pada tujuan agar keberhasilan bisa kita genggam."
"Apa Ka Emir juga fokus? Mau coba duel bareng Yusuf? Gelod yok!" seru Yusuf begitu semangat seraya mengangkat tangan kanan ke atas, tetapi yang didapatkan cubitan gemas dari pelatihnya.
Emir ingin membuat para santri bisa melindungi diri sendiri dengan bela diri. Meski untuk itu ia sendiri harus mendapatkan pelatihan yang lebih ketat dari para guru di pondok pesantren. Sejak pertama mengenal dunia bela diri bahkan Abinya secara khusus selalu meluangkan waktu untuk mengajarkan teknik rahasia.
"Assalamu'alaikum, Anak-anak. Bagaimana latihannya?" Azzam sengaja menyambangi sesi latihan kali ini, ia ingin tahu apakah hasil dari pelatihan sudah semakin maju dari yang terakhir kalinya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Anak-anak serempak lalu menyalami tangan Abi Azzam yang memang sudah dianggap sebagai ayah mereka.
Emir pun tak luput mengecup tangan yang mengajarkan banyak hal padanya. Kemudian meminta semua berkumpul membentuk lingkaran, lalu seperti biasa setiap anak menunjukkan kebolehan masing-masing. Kebersamaan yang sering dilakukan setiap memiliki kesempatan.
Sementara di tempat lain, seulas senyum dengan tangan terlentang menyambut udara yang telah lama ia rindukan. Setelah jauh dari seluruh keluarga dan hari ini berhasil pulang dengan kebanggaan yang patut diapresiasi sebagai kesuksesannya. Jika punya sayap, pastilah sudah terbang mencapai tempat tujuan.
"Mas, mau naik taksi?" tanya seorang supir menawarkan diri memberikan tumpangan pada calon pelanggan, tetapi pria muda yang berdiri di depan bandara internasional masih sibuk menikmati kebebasan dunia.
Lima menit telah berlalu, posisi keduanya masih sama hingga pria muda itu menenteng tas hitamnya dengan langkah kaki mendekati sang sopir taksi. "Antar saja ke jalan xxx dan sebelum sampai ke tempat tujuan, tolong jangan ganggu istirahatku."
Pak supir mengiyakan tanpa ini dan itu, baginya yang terpenting mendapatkan penumpang setelah menunggu sejak pagi. Perjalanan dimulai meninggalkan bandara, laju mobil yang kencang tidak mengusik pria muda yang sibuk membaca buku tebal tentang sejarah para makhluk gaib dari beberapa negara.
Terlihat aneh karena penampilan kekinian, tetapi yang dibaca justru buku kuno dengan tebal yang pasti membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan bacaan. Tak ingin mengusik kehidupan sang pelanggan, pria paruh baya yang berprofesi sebagai supir hanya fokus ke jalanan. Akan tetapi entah kenapa ia merasa sejak keluar dari bandara seperti ada yang mengawasinya.
"Mas, apa njenengan bawa temen lain?" tanya Pak supir memberanikan diri setelah berdiam diri selama setengah jam, perasaannya semakin tidak karuan dengan hawa dingin yang mengitarinya.