
Seorang gadis dengan hijab biru laut yang semakin mengeluarkan aura kharisma membuat Abil tersenyum tipis. Lalu memilih undur diri tanpa ingin mengatakan apapun selain ucapan salam yang menjadi rasa penasaran. Ia tahu, tatapan gadis itu masih melekat ke arahnya.
"Selamat pagi, Bu Kepala Sekolah." Pak Mahmud menyambut gadis yang sibuk menatap kepergian sang tukang kebun. Agak aneh karena selama ini putri dari pemilik sekolah selalu bersikap menjaga diri dengan sangat baik.
Bu Cinta Arunika. Nama yang indah dengan paras seorang gadis dewasa tetapi memiliki garis keturunan awet muda. Usianya memang baru dua puluh tiga tahun dan beberapa bulan lalu mulai bergabung dengan menjadi kepala sekolah menggantikan ibunya yang kini terbaring di rumah sakit.
Sekolah dimana ia memimpin merupakan sekolah warisan mendiang ayahnya yang bergelar seorang kyai. Akan tetapi karena berbagai alasan kepemimpinan diambil alih oleh sang ibu. Dimana saat itu, ia masih harus menempuh pendidikan di Kairo. Maka tak heran ketika familiar melihat Abil.
Sesi pelajaran dimulai. Para siswa sibuk dengan menimba ilmu, sedangkan Abil tengah menyapu halaman depan sekolah. Pria muda itu tak lupa berdzikir dari dalam hati karena sekelilingnya dipenuhi makhluk tak kasat mata. Bukan masalah berapa banyak tetapi para makhluk seakan tengah bertanya-tanya.
Apa yang membuatnya menetap di tempat yang tidak seharusnya? Tentu saja sebagai indigo bisa memahami bagaimana pola tindakan para makhluk. Meski begitu bukan berarti akan melawan semua makhluk sekali waktu. Ia pun juga manusia biasa.
Waktu berlalu begitu cepat hingga tiba jam istirahat. Anak-anak mulai keluar meninggalkan ruang kelas masing-masing. Begitu juga dengan Najwa serta Emir. Kedua bersaudara itu akan selalu makan siang bersama karena membawa bekal dari rumah. Tentu tujuan hanyalah taman belakang sekolah.
Kebiasaan itu juga diketahui Abil. Sang paman yang memilih menunggu kedua keponakan di bawah salah satu pohon rindang. Ia tak peduli dengan para penghuni pohon yang sibuk menatap ke arahnya. Selama tidak mengganggu, maka akan dibiarkan seperti angin lalu.
Bagaimana akan takut? Ketika melihat iblis saja ia anggap sebagai layangan. Aneh sih tapi hati sekalipun tidak gentar ketika melihat makhluk tak kasat mata. Baik dulu atau kini. Yah seperti menikmati film live streaming saja. Kurang lebih seperti itu.
"Assalamu'alaikum, boleh duduk disebelahmu?" Suara sapaan lembut mengalihkan perhatian Abil yang langsung menoleh ke arahnya. Seulas senyum menjadi sambutan hangat, "Jika kamu tidak keberatan, Mas."
Gadis itu duduk di sebelah Abil tetapi meletakkan bekal makanannya di tengah sebagai pembatas. Ada rasa senang di hati yang tidak terjabarkan. Sungguh perasaannya meradang ingin menemukan pelepas dahaga kerinduan. Takdir mempertemukan mereka lagi. Entah semalam mimpi apa tetapi yang jelas bersyukur.
"Mas kapan kembali ke Indonesia?" Kedua tangan saling bertautan dengan perasaan tak karuan.
Abil terdiam sesaat agar memberikan kesempatan pada Cinta untuk mengutarakan apa yang mengganggu pikiran gadis itu. Bagaimanapun mereka berdua bukan muhrim yang harus menjaga diri dari godaan syetan. Apalagi dikelilingi para makhluk yang jelas suka sekali menggoda iman manusia.
"Belum lama, bagaimana denganmu? Kuharap Ibu sudah lebih baik." balas Abil sopan tanpa menoleh ke sampingnya, membuat Cinta yang sesekali mencuri pandang tersipu malu.
"Alhamdulillah ibu sudah lebih baik, Mas." jawab Cinta dengan separuh kebenaran karena kondisi ibunya semakin memburuk.
Obrolan keduanya terhenti karena kedatangan Emir dan Najwa. Dimana kakak beradik itu menatap pamannya serius. Pertanyaan yang tidak harus ditanyakan tetapi bisa langsung mendapatkan jawaban. Yah karena rasa penasaran sudah jelas ada di depan mata.
"Dia, teman kuliah dan penghuni kamar kost sebelah kamarku semasa melakukan magang masal." jelas Abil tanpa basa basi.
.
.
.
Untuk hari ini sedikit dulu, ya. Beneran disambi real life. 🙏