Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 48: Abraham Lincoln? Nasehat Ayah


Pertanyaan sang ayah, membuat Lucifer mengernyit. Pasalnya ia tahu bagaimana disiplin dan tegas seorang raja dalam menjalankan peraturan kerajaan. Lalu tiba-tiba bertanya hal yang tidak seharusnya. Apakah mungkin ada yang tidak diketahuinya?


"Nak, Ayah ingin memastikan semua ini tidak berhubungan dengan perjanjian masa lalu. Tempatmu berada saat ini adalah orang-orang yang hadir dan memiliki hubungan kekerabatan dengan ibumu. Bisa katakan padaku, siapa nama di kain pita perjanjian?" jelas Gael yang memang tak suka menyembunyikan masa lalu.


"Oh, begitu, Yah." Lucifer hanya mendengarkan tanpa ingin memikirkan terlebih dahulu, "Keluarga Abraham Lincoln."


"Abraham Lincoln?" ulang Gael mencoba mengingat deretan nama masa lalu tetapi tidak satupun dari manusia yang dikenalnya bernama sama.


Selain Delisa, keluarga Ibu Sulastri, keluarga Azzam dan juga keluarga sang istri. Maka tidak ada yang lain. Jika demikian, lalu siapa si pelaku perjanjian tersebut? Kenapa Lucifer justru datang ke tempat dimana keluarga Azzam dan Bella bersama. Apalagi kini sudah beberapa tahun berlalu.


Apa semua itu kebetulan atau memang saling berkaitan? Sungguh membingungkan hanya saja ia harus mencari tau karena sepertinya situasi bisa memburuk kapanpun. Lihat saja arak awan hitam di atas sana. Cuaca bahkan tidak murni karena alam.


Energi dari penginapan keramat masih bisa dia rasakan. Itu berarti Delisa ikut andil dalam masalah yang tengah dihadapi keluarga Azzam tapi kenapa sampai seperti itu? Apa sang mantan kekasih tidak tahu atau memang menginginkan sesuatu?


Apalagi aura permata merah begitu kuat meski diyakini hanya serpihan kecil yang menjadi tanda tanyanya selama ini. Yah, batu permata yang tersimpan di dalam raganya memang tidak utuh karena memiliki lubang. Sejak awal tidak ingin mencari tahu, tapi kini harus menemukan titik terang.


Tak ingin menjadi pusat perhatian karena energinya yang sangat kuat. Gael mengibaskan tangan membuat perisai penetralisir kekuatan. Diajaknya Lucifer duduk di bawah pohon depan rumah Azzam yang berjarak sepuluh meter. Ayah dan anak itu duduk bersebelahan.


"Ayah tidak kembali ke istana?" tanya Lucifer tanpa sungkan terus menggenggam tangan ayahnya sekedar untuk meluapkan rasa rindu di hati.


Tatapan mata ke depan menyusuri seluruh area pondok pesantren. Bagi seorang raja tidak harus bersusah payah hanya untuk melihat keadaan di alam manusia. Akan tetapi ia tetap berusaha bijaksana ketika menggunakan kekuatan yang kini menjadi tanggung jawab utamanya.


"Ayah tidak tahu harus memulai dari mana, Nak." Gael merasa Lucifer harus tau akan kisah keluarga mereka yang memang saling bersinggungan. "Dengarkan ayah baik-baik. Antara keluarga yang kamu tempati saat ini dimana orang-orang memiliki ilmu tinggi untuk menumpas bangsa kita. Mereka juga menjadi masa lalu kerajaan iblis."


"Pamanmu dulu menikah dengan Bella karena perjanjian leluhur. Sehingga orang-orang dekat ikut terlibat. Diantaranya Azzam yang berhasil menjadi penyelamat, Abil adik dari Bella, serta Diana dan Simbah yang merupakan keluarga manusia dari ibumu.


"Semua orang yang sudah ayah sebutkan merupakan orang-orang yang harus kamu jaga karena mereka keluarga kita." Gael menjeda ucapannya sejenak, setidaknya Lucifer harus mencerna satu per satu agar bisa memahami kisah masa lalu. "Satu nama terakhir akan menjadi masalah yaitu Delisa Anastasya. Mantan kekasihku yang saat ini menempuh jalan sesat."


"Ayah tidak apa-apa?" tanya Lucifer seraya mengusap lengan Gael yang sedikit terguncang. Sebagai seorang anak, ia tahu ayahnya tengah merasa sedih.


Selama ini tidak sekalipun melihat tatapan sendu dari sorot mata seorang ayah. Apalagi ketika duduk di singgasana, Gael selalu melakukan kewajiban tanpa mencampur emosi dan pikiran menjadi satu. Sehingga semua keputusan adil karena benar-benar dipertimbangkan tanpa unsur keras kepala dan ego.


"Ayah baik, Nak. Waspada dan buatlah perisai perlindungan di area pondok pesantren karena lawan kali ini bisa dengan mudah menembus perisai yang sangat tipis dari Azzam. Katakan padaku, siapa yang memiliki batu permata merah di dalam rumah itu?" tanya Gael sekali lagi, hanya untuk memastikan.


Lucifer melepaskan tangan Gael. Lalu menunjukkan telapak tangannya, tiba-tiba sebuah batu biru zamrud keluar menampakkan diri. Batu yang berkilau dengan aura kuat. "Tunjukkan wajah sahabatku!" Kilauan itu berubah menjadi cermin memperlihatkan seorang gadis remaja yang bercadar. "Najwa Humaira."


Penglihatan dari batu itu, sangatlah jelas. Dimana Najwa tengah berkumpul bersama keluarga menikmati cemilan seraya ngobrol. Satu per satu wajah orang rumah muncul membuat Gael menyebut setiap nama perorang tetapi tidak dengan tiga orang yang memang asing baginya.


"Pria muda itu bernama Gala yang menjadi keturunan Klan Mangku Jiwa terakhir. Lalu di sebelah Abil ada dokter yang baru datang kemarin, namanya Omar. Kemudian disisi Tuan Azzam adalah putranya Aryan Daza Emir." sebut Lucifer tanpa spasi membuat Gael mengamati wajah sang remaja yang mungkin seumuran dengan anaknya.


Dari jarak sedekat kedua alis tercium aroma darah segar dengan harum bunga kamboja. Aroma yang langka itu membuat Gael semakin memperkuat pandangannya hingga bisa mendengar suara detak jantung milik Emir. Remaja satu itu berbeda dari manusia biasa.


Mata batin yang masih setengah terbuka dibentengi keimanan tetapi gejolak di dalam raga masih begitu tenang. Ketenangan sebelum badai menerjang. Tiba-tiba ia tersentak begitu batu biru zamrud milik putranya kembali normal karena kehilangan kontak ketika tangan Emir menyentuh pundak Najwa.


Namun pangeran tidak tahu. Gael bukan mencemaskan tentang dirinya melainkan orang-orang yang masih menjadi bagian hidupnya. Apalagi kini sang putra ikut terlibat dalam misi pertolongan atas nama pita perjanjian. Dimana itu berarti akan menemui banyak rintangan.


"Nak, awasi Emir lebih dari siapapun. Apalagi disaat malam bulan purnama. Usahakan agar anak itu tidak meninggalkan rumah apapun alasannya. Bukankah Najwa sudah menjadi sahabat kontrak? Peringatkan dia untuk menjaga Emir." pesan Gael sebelum pergi meninggalkan pondok pesantren.


Lucifer menyanggupi tanpa memberikan keluhan karena ia tahu bagaimana sang ayah mencoba menjaga kedua alam. Meski tidak tahu apa alasan pasti dari seorang Raja Iblis. Tetap saja perintah itu hukumnya mutlak. Sebagai seorang putra harus patuhi nasehat orang tua.


Kepergian Gael, membuat Lucifer melakukan permintaan sang ayah yaitu memberikan perisai tambahan agar seluruh area pondok pesantren lebih aman. Sementara di dalam rumah, Azzam bisa merasakan perubahan atmosfer disekitarnya. Apalagi aroma yang sudah lama tidak ia hirup kembali hadir.


"Sebaiknya kalian istirahat, aku akan berkeliling sebentar untuk memastikan semua aman. Gala, bisa temani aku?" tanya Azzam dengan niat lain karena obrolannya bersama teman sang adik ipar belum mencapai tahap apapun.


Gala mengangguk menyanggupi sehingga kedua pria itu beranjak dari tempat mereka secara bersama, sedangkan yang lain pergi kembali ke kamar masing-masing. Hanya saja demi keamanan maka anak-anak tidak tidur sendirian. Sehingga Emir menginap bersama Abil, Najwa bersama Diana.


Pintu ditutup rapat, lalu keduanya menuruni anak tangga. Kali ini Azzam melangkahkan kaki memulai perjalanan dari halaman sisi kiri depan rumah. Pria itu masih diam seraya mengedarkan pandangan. Deru napas mencoba mengurai esensi aura yang tercium mengikuti perubahan cuaca di atas langit sana.


"Maaf, Ka. Kira-kira apa yang ingin ditanyakan? Jujur saja kalau diam trus, aku jadi bingung sendiri." celetuk Gala memulai obrolan agar tidak canggung, membuat Azzam menghentikan langkah kakinya.


Di sudut rumah sebelum melewati tikungan samping rumah yang terdapat bangku kayu yang begitu alami menyatu dengan alam. Azzam mengulurkan tangannya, "Ayo, kita duduk disana. Berbincang dengan tengah tentang beberapa hal." Langkah kaki kembali berjalan beriringan hingga sampai tempat tujuan.


Malam kian larut bahkan hampir menuju pergantian waktu. Akan tetapi kedua pria itu melupakan hawa dingin yang menusuk tulang dan memilih duduk tanpa alas yang bisa menghangatkan badan. Benar-benar suka cari angin. Padahal angin saja malas diam di tempat, iya 'kan?


"Apa misimu berkaitan dengan Abil atau ada alasan lain yang membuatmu terlalu masuk ke dunia modernisasi? Setahuku, klanmu mengedepankan identitas tersembunyi tetapi melihat keberadaanmu di antara kami. Bukankah satu kemajuan yang bisa menjadi perubahan zaman?" tutur Azzam tanpa ingin bertele-tele karena ia paham bagaimana peraturan di dalam klan mangku jiwa.


Gala terkekeh pelan. Ia merasa lucu, lebih tepatnya menertawakan kehidupannya sendiri. Semua itu karena takdir dan bukan hukum karma. Pertanyaan yang merupakan pernyataan dari Azzam memanglah sangat benar. Akan tetapi, kakak ipar sahabatnya masih tidak tahu siapa dia sebenarnya.


Di dunia yang fana ini, tidak seorangpun bisa memilih akan lahir dari rahim siapa dan menjalani kehidupan seperti apa. Seperti dia sendiri. Terlahir dari rahim seorang wanita tak bersuami dan dibesarkan di panti asuhan, tetapi ketika menginjak usia lima belas tahun terjadi perubahan signifikan.


Tiba-tiba saja seorang pria asing datang menjemputnya dari panti asuhan dengan hak seorang ayah. Sejak saat itu, kehidupan membuatnya harus belajar menjadi keturunan klan mangku jiwa. Akan tetapi karena perjanjian yang sudah disepakati, maka ia mendapatkan kesempatan hidup sebagai manusia normal.


"Maaf, bukan maksudku menertawakan kamu, Ka." Gala menghela napas panjang agar kembali tenang, "Aku putra buangan dari tetua yang kini dianggap ada. Kurang lebih seperti itu karena saudaraku sudah meninggal dalam misi pertamanya di usia sepuluh tahun. Jadi aku berkewajiban menggantikan posisinya."


"Bersabarlah dan ikhlaskan semua yang sudah terjadi." Ditepuknya pundak Gala sekedar memberi dukungan sesama pria. "Apa misimu berkaitan dengan lukisan keramat?"


...ೋ❀❀ೋ═══ ❀ ═══ೋ❀❀ೋ...


Karma adalah keyakinan spiritual yang berhubungan dengan sebab dan akibat. Gagasan karma berusia ribuan tahun, dan sederhananya adalah bahwa apa yang kita lakukan dan keluarkan ke dunia akan kembali kepada kita.


Segala sesuatu yang Anda lakukan akan kembali kepada Anda, apakah itu baik atau buruk. Kita adalah cerminan dari apa yang kita keluarkan ke dunia. Jika Anda terus-menerus menggunakan dan menyalahgunakan orang, hidup akan menggunakan dan menyalahgunakan Anda.


Jika Anda mendedikasikan hidup Anda untuk berbuat baik, Anda akan dihargai. Karma adalah konsep yang kuat dan penting untuk dijalani, karena membuat sebagian dari kita berada di jalan yang benar.


"Bagaimana orang memperlakukan Anda adalah karma mereka, bagaimana Anda bereaksi adalah milik Anda." - Wayne Dyer