
Suara pintu terbuka tak membuat orang-orang yang ada di luar kamar teralihkan. Mereka disibukkan membantu Abil menyelamatkan Emir. Dimana remaja itu menjadi sasaran amukan makhluk cakil. Sekelebat bayangan yang berlari sesuka hati menerjang tubuh si pemuda berulang kali.
Tubuh yang terhuyung kesana kemari seperti bola kasti bahkan beberapa kali membentur dinding hingga darah segar mengalir menyebarkan aroma anyir. Abil langsung membuka segel kunci gelangnya tetapi makhluk satu itu begitu sulit ditaklukkan.
Sementara Gala membantu dengan merapal mantra pengikat jiwa. Pria satu itu bekerjasama sama dengan Abil hingga kedatangan Azzam yang langsung melemparkan tasbih membelenggu si makhluk cakil. Suara erangan terdengar menggema memenuhi ruangan.
"Diana bawa Bella ke kamar! Najwa bawa adikmu pergi bersama Bunda." titah Azzam tak ingin dibantah.
Situasi begitu menegangkan dengan gema suara makhluk cakil. Langkah kaki yang terdengar semakin menjauh, membuat Azzam mengkode Abil untuk memulai pengusiran makhluk yang memang menyebarkan energi tidak baik. Dibantu Gala yang siap menampung sisa energi untuk dikurung sementara waktu.
Ketiga pria yang berusaha melumpuhkan makhluk cakil tak menyadari kedatangan Lucifer. Pangeran iblis yang tersenyum melihat perjuangan di depan mata. Sebenarnya bisa saja dia membantu tetapi itu menentang peraturan yang ada di kerajaan. Dimana sebagai sesama makhluk tak kasat mata, maka tidak boleh ikut campur.
Terkecuali memang berhubungan dengan makhluk perjanjian, sedangkan makhluk cakil yang meneror kali ini hanyalah makhluk tersesat akibat aura batu permata milik Najwa. Apalagi ia juga percaya ketiga pria di depannya sanggup mengatasi masalah kecil tersebut. Sementara itu, di rumah lain hanya ada kesunyian.
Tatapan mata lelah dengan wajah masam, bibir bungkam tanpa seulas senyuman. Sudah hampir seharian berusaha mencari cara agar bisa menemukan pemilik darah suci tetapi yang di dapat hanya kabar burung tanpa kepastian. Apa gunanya memiliki ilmu? Jika tidak bisa abadi.
Dipukulnya kepala berulang kali hingga terasa berdenyut. Ia berharap kembali sadar dari delusi. Sayangnya semua tetap sama bahkan aroma semakin mendekat seakan sosok yang ia nanti berada di dekatnya. Apakah mungkin waktu pertemuan sudah tiba? Jika iya, maka harus bersiap.
Alih-alih merasakan cemas. Wanita itu beranjak dari tempatnya, lalu berjalan cepat di kegelapan menuju kamar. Ruangan yang memiliki cahaya menampilkan dekorasi kuno ala kerajaan. Disambarnya handuk yang tersampir di atas kursi. Ia lupa sudah berapa lama tidak mandi karena selama ini hanya sibuk melakukan ritual.
Suara gemericik air terdengar begitu jelas dari arah kamar. Harum sabun menguar ke udara menyebarkan ketenangan jiwa. Senandung nada kerinduan menambah kebahagiaan hati yang sekian purnama terlupakan. Wanita itu bersiap untuk menyambut tamu yang selalu dinantinya.
Kembali ke ruang utama dimana menjadi ruangan pemujaan. Langkah kaki seseorang terhenti begitu melihat sepotong tulang tergeletak di lantai. Bau busuk tetapi tertutup aroma bunga tak membuatnya salah menilai. Kehidupan begitu singkat, lalu kenapa masih disia-siakan? Apa semua karena cinta?
"Kembaliku hanya membuatmu semakin hancur. Lupakanlah aku karena dunia kita berbeda, Delisa. Meskipun kamu berhasil menemukan pemilik darah suci, putraku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya." ucap Gael bermonolog pada dirinya sendiri.
Tatapan matanya nanar setelah melihat bagaimana kehidupan Delisa saat ini. Sesaat ingin kembali ke dunia gaib, begitu dia tahu tugas kerajaannya adalah menghentikan seorang wanita penghukum makhluk asral. Hukuman apa yang harus diberikan pada sang mantan kekasih? Jujur saja perasaannya bahkan masih menjadi impian terpendam.
"Sesambi napak tilas marang nyowo. Baliyo!" Jentikan jemari menghempaskan semua tulang belulang yang ada di ruangan itu, lalu tangannya mengepal. Sontak semua jejak dari proses ritual berubah menjadi hujan abu.