Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 24: Gagal Marah


Suara deru mesin kendaraan yang menjauh diiringi senyuman puas dari sesosok makhluk tak kasat mata. Keberhasilan atas hukuman menjadi kebanggaan tersendiri. Lagian siapa suruh berniat jahat pada tuannya. Yah itulah akibat yang harus ditanggung si manusia.


Rasa tak terima berubah menjadi petaka. Makhluk itu merasa telah melakukan hal benar dengan memberi hukuman pada si manusia. Akan tetapi hal tersebut juga berpengaruh untuk Abil. Dimana pria muda itu merasakan apa yang terjadi di luar sana sehingga tanpa alasan yang jelas, ia terbatuk mengeluarkan darah kental.


Beruntung dirinya ada di kamar dan hanya seorang diri. "Bawa dia pulang, sekarang!" Tatapan mata tajam menembus liontin yang menggantung sebagai bandul gelang.


Pendar cahaya menyala terang, lalu redup bersama datangnya sosok tak kasat mata yang keluar dari dalam liontin. Satu persatu melayang melesat pergi meninggalkan sang tuan, sedangkan hati tak lagi bisa tenang karena satu tindakan gegabah dari salah satu makhluk. Maka bisa berakhir fatal.


Dia memang bukan seorang cenayang atau paranormal kekinian hanya saja menjadi bagian dari dua alam adalah pilihan hidupnya yang sudah dijalani sejak kecil. Hal mistis sudah menjadi bagian dari separuh hidup yang tidak bisa dipisahkan. Makhluk dimensi lain tetaplah sama seperti manusia pada umumnya.


Terkadang kita lupa bahwa sejahat-jahatnya mereka. Justru pikiran dan niat hati manusialah yang lebih kejam karena tertutup ambisi, ego dan keserakahan. Apalagi ketika menyangkut dendam. Siapa sih yang masih logis untuk bertindak sebagai manusia? Meski era zaman telah berubah, nyatanya masih banyak permainan black magic.


Tahayul? Pasti sebagian manusia berpikir demikian, tetapi kenyataan tidak akan berubah. Manusia modern selalu berpegang teguh pada fakta yang memang bisa dijabarkan. Akan tetapi dunia tak luput dari kesinambungan alam lain yang saling bersinggungan. Iya 'kan?


Para makhluk kembali pada sang tuan dengan membawa sang pelaku yang mengakibatkan seorang manusia mengalami kecelakaan. Kali ini bukan tentang siapa yang bersalah, tapi peraturan sudah ditetapkan sejak awal. Mereka yang memilih untuk menjadi teman, maka harus mengikuti aturannya.


"Tuan ... " cicit Makhluk yang kini menundukkan wajahnya karena tidak berani melawan amarah sang tuan, sedangkan Abil masih berusaha untuk menahan diri.


Ketegangan itu seketika buyar, tiba-tiba pintu kamar terbuka tanpa terdengar suara si pembuat onar. Emir datang mengadukan masalahnya yang ternyata kesulitan untuk membantu pekerjaan sang bunda di dapur. Sontak saja, Abil melenggangkaki pergi meninggalkan kamar dan tidak lupa menarik tangan keponakannya untuk ikut kembali ke dapur.


Suasana rumah tampak lebih ramai karena dirumah ada tiga wanita beda usia yang ternyata tengah sibuk membuat sesuatu. Emir berlari mendekati Bella setelah melepaskan diri dari genggaman tangan sang paman. Akan tetapi, kenapa tatapan mata semua orang terlihat begitu aneh?


Mata setiap anggota keluarga kosong, wajah pucat dengan senyum hambar. Apa sesuatu telah terjadi? Ia tak ingin panik, perlahan melantunkan doa keselamatan. Kemudian melanjutkan doa ayat kursi bersama dzikir di dalam hati. Mata batinnya sudah terbuka, tapi tidak ada perubahan apapun karena wujud di depannya tetap sama. Itu berarti makhluk lain telah merasuki tubuh mereka.


"Siapa kalian? Apa maksud dari ...,"


Bella menyambar pisau yang ada di hadapannya, tanpa permisi melemparkan benda berkilau tajam ke arah Abil yang langsung menghindar. "Jangan ikut campur urusanku. Enyah kau dari sini! Manusia lucknat!"