
Seorang anak memiliki hak untuk merawat orang tuanya ketika sakit. Termasuk Azzam, dimana pria itu langsung membuat keputusan agar ia bisa memenuhi semua tanggung jawab setiap hubungan. Bagaimanapun ia memiliki istri dan anak serta menjadi seorang pemimpin di pondok pesantren.
Apa harus melalaikan salah satu tanggung jawab? Tidak bisa dibenarkan dan jika Abinya tahu, maka ceramah dan kekecewaan hati orang tua yang diterimanya. Satu keputusan bisa menjadi solusi untuk semua keadaan yang tengah dihadapinya.
Namun Dr. Omar menolak permintaan Azzam. Pria berdarah Arab yang menjadi dokter pribadi sang abi selama lima tahun terakhir, pria itu mengatakan dengan pasti bahwa kondisi pasien saat ini tidak bisa melakukan perjalanan apapun. Meski memiliki kemungkinan dua persen, ia tidak ingin mengambil resiko sebesar itu.
Bukan karena tidak memahami permasalahan putra dari pasiennya. Hanya saja, tugas sebagai dokter lebih utama. Dibalik keras kepalanya tetap berprinsip pada kesembuhan pasien, bukan tentang biaya yang harus dikeluarkan anggota keluarga pasien.
Apalagi selama lima tahun menjadi faktor kebersamaan antara ia dan pasien. Keduanya memiliki hubungan yang bisa dikatakan dekat. Disinilah yang membuat hati seorang Omar tak bisa menyerah untuk berjuang sampai titik darah penghabisan. Semua akan dilakukannya demi kesembuhan seorang ayah.
"Maaf, karena saya lancang telah menolak keputusan Anda sebagai putra beliau. Sebenarnya saya menghubungi Anda karena sesuatu yang harus didiskusikan secara pribadi. Ini masih menyangkut beliau hanya saja kita tidak bisa membicarakannya di rumah sakit.
"Jika Anda tidak keberatan. Bisakah tunggu satu jam lagi? Jam kerja saya akan segera berakhir." Dr. Omar menatap Azzam penuh harapan, hati yang tak sabar, tetapi waktu tak mengizinkan. Serba salah ketika keadaan menjadi semakin rumit.
Namun bagi Azzam, tatapan mata si dokter menyiratkan sesuatu. Entah kenapa firasatnya ke arah hal yang tidak bisa dijelaskan. Apalagi tiba-tiba dadanya sesak mengingat keluarga kecil yang ia tinggalkan tanpa penjelasan sebenarnya. Ada penyesalan yang tersimpan rapi memenuhi lubuk hati.
"Saya akan tunggu hingga jam kerja Anda selesai. Permisi, saya ingin menemani Abi." Azzam beranjak dari tempat duduknya, sebelum berbalik. Sekali lagi ditatapnya si dokter, "Semoga Allah menyertai kita semua, Assalamu'alaikum."
Seperti yang terjadi pada Azzam. Pria itu hanya melakukan sesuai dengan kata hatinya. Padahal pikiran terus memberontak dan hanya ingin memindahkan sang ayah ke rumah sakit lain. Setidaknya bisa kembali ke Indonesia agar ia mampu merawat dengan pembagian tanggung jawab untuk semua hubungan.
Meninggalkan dilema hati dan pikiran Azzam. Keluarganya sendiri tengah berjuang untuk mencari akar dari permasalahan. Teror memang sudah berhenti, tapi mereka ingat setelah terang matahari menyinari dunia. Maka ada malam yang diselimuti kegelapan.
Ibarat kata, mereka bersiap sebelum sesuatu datang mencoba menggoyahkan hati dan keimanan. Abil yang baru menyelesaikan separuh halaman isi kitab, tiba-tiba melihat goresan pena yang menggambarkan sebuah rumah penginapan. Bentuk bangunan itu tidak asing, seperti gambar lukisan yang ada di kamarnya.
"Rumah Nyai Wulandari." gumamnya membaca judul pada subtema halaman dua ratus satu. Lalu paragraph pertama di baca dengan teliti, fokusnya tak terbagi walau menjadi pusat perhatian semua anggota keluarga.
Tidak habis pikir bagaimana kakak iparnya bisa mendapatkan semua informasi yang cukup detail. Dimulai dari awal mula sejarah hingga tragedi yang menjadikan tempat tersebut menyeramkan dan tanpa penghuni. Termasuk beberapa sosok yang mendiami penginapan.
Menurut catatan, penginapan itu selalu memiliki kehidupan ketika malam hari. Banyak manusia tergoda dengan keramaian dan juga aroma makanan lezat yang sanggup membelokkan tujuan. Selain itu, siapapun yang masuk ke penginapan maka tidak akan keluar lagi. Apa yang terjadi pada semua pengunjung?
Abil menutup kitab seraya merenung apa yang baru saja dia baca. Apa yang bisa dilakukan agar mengungkap kebenaran sejati. Jika menurut kisah, maka Gala tidak memiliki sangkut paut. Apakah benar seperti itu? Bingung sendiri akhirnya.
"Paman, mereka semakin mendekat." Najwa mengingatkan Abil, membuat pria muda itu kembali membuka kitab milik kakak iparnya.