Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 11: Danyang? Makhluk Neraka


Pertanyaan sang kakak tak langsung dijawab Abil, ia meminta semua orang menunggu di ruang tamu. Lalu pria itu hanya kembali ke kamar untuk mengambil salah satu buku catatan pribadi yang berisi para makhluk gaib beserta silsilah. Bukan sebagai alat untuk menakuti, tetapi untuk mencari tahu apa yang terjadi di dalam keluarga saat ini.


Semua orang masih berkumpul hanya saja tidak ada cemilan ataupun minuman. Abil meletakkan buku catatan di tengah meja, "Wawa, coba beritahu aku. Seperti apa saja wujud mereka? Pasti salah satu di antara mereka ada yang kamu kenal."


"Paman, serius?" Najwa menatap Abil sedikit ragu, bukan karena tidak percaya, tetapi ia merasa tidak seharusnya kedua orang tua menjadi khawatir seperti malam ini.


Kesempatan untuk membawa sang kakak meninggalkan sekolah di manfaatkan Emir. Remaja satu itu mengambil buku catatan yang ada di atas meja, kemudian membuka halaman pertama. Tatapan mata mengerjap tak mampu berkata-kata karena foto HD di pojok kanan halaman.


Rupanya tidak harus membaca deskripsi karena foto sudah bisa mewakili. Hal itu mempermudahnya untuk menunjukkan siapa saja para makhluk yang ada di sekolah mereka. Satu persatu menjadi hasil dari ingatan, membuat Najwa pasrah tanpa bisa membuat alibi lagi.


Sekitar lima makhluk yang ditunjuk Emir dan sedikit mengejutkan karena satu makhluk penjaga juga ikut mengusik ketenangan manusia. Makhluk itu adalah jenis demit yang terkenal biasa di panggil danyang. Sosok ini justru banyak dipercaya sebagai mahluk halus pelindung desa.


Danyang tinggal menetap di suatu tempat yang disebut punden (tempat keramat). Sungguh mengherankan, jika perkataan Emir benar adanya. Apalagi di antara Danyang masih ada banaspati, genderuwo, kunti merah dan juga bayangan hitam samar tanpa nama. Para makhluk yang biasanya memiliki kekuasaan wilayah masing-masing.


"Mereka berempat bisa dianggap sebagai marabahaya, tapi makhluk satu ini ... Apa kamu yakin? Dia bukan pengusik kecuali tempatnya diusik bahkan dia menjadi pelindung setiap wilayah yang menjadi kekuasaannya. Hidup berdampingan dengan manusia tanpa berniat buruk."


Abil kembali membaca deskripsi yang sudah lama sekali ia tulis, "Danyang bisa diibaratkan seperti penjaga pagar utama. Ka Azzam pasti tahu tentang hal ini, iya 'kan?"


Pembicaraan semakin serius, bahkan Bella merasa bayang-bayang masa lalu mulai mengintai keluarganya. Jujur saja ia gelisah dengan harapan semua baik seperti keinginan hati. Meski tidak memungkiri kemungkinan terburuk sekalipun sebagai manusia biasa.


"Paman, dia tidak melakukan hal buruk." Wawa angkat bicara sebelum semua orang salah paham dengan makhluk satu itu, ''Nyi Amber penjaga tanah keramat yang sekarang di bangun sekolah hanya saja dia harus berpura-pura mendukung bangsanya dihadapan ku."


"Nak, apa maksudmu?" tanya Bella tidak bisa mencerna penjelasan sang putri yang tampak sederhana.


Melihat kebingungan semua orang, Najwa mencoba untuk menjelaskan satu persatu permasalahannya. Dari titik awal semua itu bermula. Malam yang semakin larut, tetapi keluarga Azzam masih sibuk bercengkrama mendengarkan cerita. Sementara di tempat lain hanya ada cahaya lilin yang menyala membentuk pola bintang.


Mantra telah berakhir, namun berganti suara erangan yang mengerikan. Sayup-sayup derap langkah kaki seperti tapak kuda berjalan mendekati rasi bintang pemanggil setan. Aroma pengap bercampur busuk menguar menyebar ke seluruh ruangan. Ia tak peduli apapun itu karena yang terpenting bisa mendapatkan keinginan terakhirnya.


"Ggrrr ...,"


"Ggrrr ...,"


Tatapan mata tajam nyalang dengan lingkaran merah di area mata, tanduk ditengah kepala, kuping besar kaku, separuh tubuh manusia dengan kaki kuda. Makhluk neraka itu datang karena ritual darah yang dilakukan si sosok berjubah hitam di balik temaramnya sorot lampu ruangan. Sebagai makhluk penghisap energi,ia bisa merasakan kekuatan besar dari sang pemanggil.


"...,"


"Jangan berpikir untuk merebut kalung milikku." ancam sosok itu menyadari pemikiran kotor si makhluk panggilannya, "Aku memanggilmu untuk menemukan sasaran utama yaitu manusia pemilik darah suci. Sebagai imbalannya akan kusiapkan sesaji sepuluh mangkuk darah ayam cemani setiap malammu.''


"Ggrrr ...,"


Erangan tak bertenaga si makhluk panggilan berarti penolakan, membuat sosok itu kembali menggoreskan pisau ke telapak tangan kiri hingga darah jatuh bercampur ke dalam mangkuk kayu. Seketika kabut asap putih berubah menjadi merah pekat. Mantra pelebur jiwa mulai dilafalkannya, membuat makhluk neraka menjerit kesakitan.


Suaranya seperti ujung besi yang ditarik hingga menimbulkan deritan ngilu, terdengar menyakitkan seakan tengah berjuang untuk tetap bertahan. Erangan yang semakin melemah, membuat makhluk itu tunduk bersimpuh di hadapan sang pemanggil. Kekuasaan ataupun kekuatan hanya bisa digunakan ketika jiwa memiliki kebebasan.


"Dia lahir di bulan purnama dengan tanda lahir bulan di punggung kanan. Tatapan mata seterang bintang, ucapannya setenang lautan. Semilir angin berayun menghapus jejak langkah kakinya. Dialah si pemilik darah suci yang beraroma cendana dan melati. Temukan dia untukku, pergilah!"


Makhluk itu menghilang bersama kabut merah yang memabukkan, membuat sosok berjubah hitam melepaskan penutupnya. Sorot lampu menyoroti wajah ayu nan pucat, "Jika kamu tidak datang menemuiku, maka bersiaplah seluruh alam terguncang karena keras kepalamu, Sayang."