Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 17: Antara Rindu, Cinta dan Kewajiban


Perdebatan kedua nya juga di dengar Emir tapi remaja satu itu masih berpura-pura tidak sadarkan diri. Rasanya seperti sengatan listrik yang menjalar menyadarkan akan kenyataan kehidupan sang kakak ternyata benar-benar rumit dan tidak terduga. Siapa sangka takdir menggariskan pola sama dengan rute berbeda seperti yang dialami bunda mereka.


Jika yang dikatakan sang paman benar, maka bahaya mengintai seluruh keluarga. Apa yang bisa dilakukannya? Satu fakta yang tidak bisa dipungkiri adalah feeling mata batinnya akan terbuka sesuka hati. Apakah itu akan membantu perjuangan sang kakak? Sungguh hati dan pikiran sibuk memperdebatkan hal yang tidak bisa dihentikan.


Sementara di tempat lain, seorang wanita murka karena makhluk yang baru saja dipanggil gagal mendekati sasarannya. Apalagi makhluk itu justru terluka lebih parah dari hukuman yang dia berikan. Siapa yang berani mengusik tujuannya? Apakah orang itu tidak tahu siapa dia?


Wanita itu mengibaskan tangan melepaskan aura kematian hingga membuat makhluk panggilannya terkapar tak berdaya menggelepar seperti ikan keluar dari dalam air. Lalu tangannya mengepal meremukkan energi makhluk itu tanpa ampun dengan seulas senyum kesal. Hatinya tak mampu lagi bertahan tapi dunia semakin mempermainkan.


Kesunyian yang menyapa bersambut suara kidung kesedihan hati. Kerinduan akan sang pujangga menenggelamkan sisa asa dalam kehidupannya. Wanita itu merebahkan tubuh dengan tangan gemulai meliuk menari menyebarkan energi yang ada di tubuhnya. Batu permata ungu berkilau menerangi kamar gelapnya.


"Pangeran Gael, cintaku padamu takkan bisa pudar. Apakah ini tidak cukup menjadi alasanmu kembali? Sampai kapan perpisahan kita berlangsung? Alam hanya menolak penyatuan dua dunia, tapi bukan cinta kita 'kan? Kumohon kembalilah!"


Delisa. Apakah kalian ingat dia? Wanita yang berprofesi sebagai cenayang rumah pintu merah dan menggantikan posisi sang nenek yang sudah berpulang. Cinta miliknya tidak lagi sekedar harapan, tetapi menjadi keinginan. Semua itu hanya karena akhir pertemuan tanpa perpisahan.


Setelah pertempuran dan Simbah membawanya kembali ke alam manusia. Sejak saat itu, ia tidak bisa berkomunikasi, apalagi bertemu dengan Gael. Sakit hati dengan kenyataan yang tiba-tiba mengubah dunianya hanya seorang diri. Meski beberapa kali Simbah datang menawarkan untuk tinggal bersama, tetap saja itu bukan yang dibutuhkan.


Kesendirian membawanya berpindah tempat hingga menemukan sebuah rumah singgah tepi danau yang terlihat begitu damai. Di rumah itulah, semua bermula. Harapan dan keinginan dipersatukan dengan penemuan sebuah kitab kuno. Kitab dengan jumlah halaman seribu tiga ratus tiga puluh tiga halaman yang diselingi setangkai bunga melati kering.


Kitab tersebut dipelajari selama tiga bulan, lalu satu persatu cara yang tertuang dengan tinta darah mengawali perjuangannya untuk kembali bertemu dengan sang pujaan hati. Waraskah? Secara logika, wanita itu kehilangan akal, tapi untuk dia sendiri? Sudah pasti waras maksimal.


Rintihan rindu kian membara. Tak peduli hujan atau panas, Delisa hanya ingin menemukan padang savana agar hatinya terobati tanpa ada sisa. Semua masih sama, cinta dan emosi hanya untuk sang pangeran pujaan hatinya. Yah, ia sangat mencintai pangeran iblis kedua yang kini pasti menjadi raja iblis.


Sejarah tidak bisa diulang, tapi masa depan? Ia bisa merajut untuk mewujudkannya. Benar 'kan? Makhluk tampan yang selalu menghiasi setiap malam dan siangnya akan datang. Jika bukan hari ini, maka esok pasti harus datang untuk bertemu dengannya. Hal itu adalah harapan terakhir dalam hidup seorang Delisa.


Wanita itu sibuk melakukan segala cara agar menemukan jalan pulang, sedangkan yang diharapkannya tak ingin menyentuh dunia manusia lagi. Pangeran Gael, sang raja iblis yang kini memerintah kerajaannya dengan sangat baik. Luka di hati, perpisahan akan cinta tak bisa mengubah pendiriannya.


Pangeran Gael masih menatap jauh ke depan. Dimana hanya ada rumah rakyat yang kini mulai mengalami perubahan bentuk. Waktu yang telah berlalu di dunianya, tetap saja semua kenangan masih sangat segar, bahkan tak ubahnya film yang baru diluncurkan. Sedihkah? Tentu, tapi dia memiliki tanggung jawab yang besar.


"Aku tidak papa, bagaimana dengan putra kita? Apakah kamu sudah membawanya untuk ritual pengangkatan sebagai putra mahkota?" tanya balik Pangeran Gael, kemudian melepaskan tangan yang melingkar di perutnya.


Dibimbingnya sang istri untuk menghadap menatapnya tanpa rasa takut. Ia sadar seorang manusia yang kehilangan jiwa aslinya dan berganti jiwa lain, maka disebut makhluk gaib juga. Wanita yang berdiri di depannya memiliki raga manusia. Dialah alasan kehidupannya tetap berlangsung hingga detik ini dan memimpin sebagai raja di Kerajaan iblis.


"Maaf, Rajaku. Pangeran Lucifer menghilang dari istana sejak semalam, anak itu sibuk mengejar energi yang jatuh dari pohon di atas bukit sana." tutur wanita itu dengan wajah menunduk merasa bersalah karena tidak bisa menjaga anaknya sendiri, tetapi sentuhan tangan yang mendarat di kepala mengalihkan perhatiannya. "Rajaku, apakah ...,"


Pangeran Gael menggelengkan kepala, "Aku akan menyusul Pangeran Lucifer. Pergilah! Persiapkan acara ritualnya, dan ya, jangan lupa untuk meletakkan bunga yang ku petik di air pemandian ritual putra kita."


Seorang kekasih bisa melupakan arti penyatuan demi cintanya, tetapi seorang raja? Ia berkewajiban memberikan penerus untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Walau begitu, tetap tidak mencari sembarangan jodoh. Apalagi setelah pertempuran yang menghancurkan banyak makhluk bahkan hingga detik ini masih berjuang untuk menyingkirkan wilayah para kunti merah.


Sisa dari pertempuran mengubah kerajaannya menjadi tiga bagian kubu yang tidak bisa diubah. Semua itu karena Arum sang makhluk yang menjabat sebagai ratu para kunti. Kekuatan yang dimiliki saat ini semakin meningkat, tapi bukan berarti lebih hebat dari seorang raja yang memiliki batu permata. Benar, pangeran Gael tidak lagi seperti dulu juga.


Namun dari semua itu, mereka para makhluk yang masih di alam gaib, tidak tahu bahwa ada sisa batu permata yang menyatu menjadi bagian dari raga Najwa. Andai kebenaran itu tersebar seperti kobaran api yang membara, maka para makhluk akan berburu untuk mendapatkan gadis bercadar itu.


Semilir angin yang berhembus dari atas ke bawah berulang-ulang menjatuhkan energi tak bertuan dari pohon keramat yang menjadi tempat pemujaan. Terlihat langkah kaki mungil berlari ke sana kemari menangkap bola-bola cahaya seukuran permen yang jatuh masuk ke dalam kain hitam. Dialah Pangeran Lucifer, putra dari Gael dengan istrinya.


"Pangeran Lucifer!" Gael melambaikan tangan, membuat fokus putranya terbagi hingga tidak menyadari batu yang ada di depannya. Melihat itu, ia mengibaskan tangan menghempaskan semilir angin mengangkat terbang tubuh putranya yang ringan.


Pertemuan antara ayah dan anak yang selalu dipenuhi kebahagiaan. Pangeran Lucifer memiliki sisi manusia yang sejak dini ditanamkan untuk bisa mengasihi sesama makhluk, bahkan istrinya tak sungkan memberikan ilmu dari dunia manusia untuk kebaikan masa depan kerajaan. Seperti makhluk gaib modern yang memiliki ilmu dari berbagai bidang.


"Ayah, lihatlah mereka." Pangeran Lucifer menunjukkan isi kantung hitam miliknya kepada Gael begitu saling berhadapan, "Apakah mereka bisa bebas dari alam kita? Bukankah kebebasan itu hak semua makhluk?"