
Awan malam kian menjelaga meninggalkan peraduan bersambut sinar mentari dengan kehangatan yang menyapa dunia. Sayup-sayup terdengar suara adzan yang begitu merdu menghantarkan doa di setiap tangkuban tangan kepada Sang Pencipta.
Satu jam kemudian seluruh anggota keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan bersama tetapi ada yang kurang. Setelah mengamati satu per satu wajah, barulah sadar akan ketidakhadiran sang kepala keluarga. Kemana perginya Azzam sepagi ini?
"Ka Bella, dimanakah Ka Azzam?" tanya Abil menatap kakaknya yang baru saja duduk setelah menyelesaikan tugas dapur.
Bella menuang nasi goreng ke piring, lalu mengambil sendok. "Pasti sebentar lagi datang. Ayo, makan dulu karena ini perintah dan bukan permintaan."
Jawaban cukup ambigu. Meski ingin mengeluh tapi sepertinya percuma karena disini Bella hanya menyampaikan pesan dari Azzam. Apa yang terjadi, kenapa dan bagaimana? Hanya bisa menunggu sang kepala keluarga. Yah sembari menanti maka lebih baik sarapan.
Suara denting sendok menjadi teman selama beberapa puluh menit hingga sesi sarapan berakhir. Barulah Bella meminta semua orang untuk langsung ke ruang keluarga. Tatapan mata wanita itu terlihat sendu, wajah pucat dan terasa tengah tertekan akan sesuatu. Melihat itu Abil semakin curiga.
Tak ingin berlama-lama, ia beranjak dari tempat duduknya. Langkah kaki berjalan cepat menghampiri ruang keluarga yang ternyata setengah terbuka, "Assalamualaikum, Ka. Boleh aku masuk?"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Masuklah, kalian semua dan tutup pintunya!" jawab Azzam dari dalam. Dimana ia duduk di kursi yang biasa digunakan untuk membaca buku amalan.
Satu per satu kumpul. Mereka duduk di karpet bawah agar bisa menyesuaikan diri di tempat yang minim kursi. Begitu pintu ditutup Najwa, barulah Azzam meletakkan buku diary milik almarhum Abi. Setelah memeriksa ulang semua buku peninggalan sang ayah dan juga membahas hal penting bersama Bella semalam.
Pria itu bahkan terjaga hanya untuk memastikan dugaannya tidak salah tempat. Pencarian kebenaran berakhir perenungan sepanjang malam. Sekali lagi takdir ingin mengguncang kehidupan keluarga dengan alasan ikatan hubungan hati.
Andai saja semua berjalan normal, maka tidak sekalipun ia ingin mengungkapkan kebenaran yang seharusnya tetap disembunyikan. Entah apa yang akan terjadi setelah ini karena ia pun hanya manusia biasa dan berusaha memenuhi setiap tanggung jawab tanpa mengedepankan ego sendiri.
"Wawa, bisa tolong bantu Abi untuk genggam tangan kanan Emir dan Abil genggam tangan kiri Emir." ucap Azzam memulai perbincangan yang pasti serius membuat semua hati merasa was-was.
Emir yang bingung pasrah ketika kedua tangan tidak bisa bebas bersedekap, sedangkan Abil dan Wawa saling pandang. Kedua insan itu merasakan sesuatu yang tidak bisa dijabarkan. Hawa dingin tak berwujud menelusup menjalar seakan ada hewan tak kasat mata yang bergerak liar.
"Gala, keluarkan keris milikmu. Tuangkan tiga tetes darah ke dalam tempayan yang ada di sisi kanan tempat dudukmu." lanjut Azzam sengaja hanya duduk memberikan instruksi.
Awalnya bingung dengan permintaan Azzam hingga uluran tangan Abil menjadi jawaban. Ternyata yang dimaksud tiga tetes darah berasal dari keluarga Azzam sendiri tapi kenapa menggunakan kerisnya? Bukankah itu berbahaya? Keris itu memiliki energi yang bisa saja mempengaruhi kesehatan dan mental seseorang.
Azzam paham akan keraguan Gala. Sayangnya pria muda itu masih tidak menyadari perbedaan antara manusia dan makhluk tak kasat mata. Keris yang memiliki energi mematikan hanya bisa menghancurkan jiwa para makhluk yang sudah tiada dan bukan manusia seutuhnya.
"Abil, Wawa dan Emir manusia asli. Mereka akan baik-baik saja dan satu goresan akan memperjelas pertanyaan tanpa harus menunggu jawaban alam. Lakukanlah!" jelas Azzam meyakinkan Gala.
Tak ingin menyia-nyiakan sebuah harapan nyata. Gala melakukan perintah Azzam. Dimana ia menyayat ujung jari Abil, lalu membiarkan beberapa tetes jatuh ke tempayan. Begitu juga dengan Najwa serta Emir. Tiga darah bercampur menjadi satu tetapi tidak terjadi apapun.
Azzam beranjak dari tempat duduknya sehingga bergeser dari posisi yang ternyata hanya untuk menutupi sesuatu. Abil terbelalak melihat kain hitam yang bersandar di atas meja. Bagaimana kakak iparnya menemukan lukisan keramat?
"Ka, jangan buka lukisan itu!" Seru Abil mengingatkan dan mengejutkan semua orang yang langsung menatap ke arahnya. "Lukisan itu sangat berbahaya."
Satu instruksi kembali dilakukan. Rasa penasaran jelas semakin besar meski tidak tau apa maksud dari Azzam. Semua dilakukan tanpa ragu. Setelah meletakkan tempayan ke tempat yang diminta. Gala kembali duduk seraya melihat apa yang akan terjadi.
Lantunan doa mulai terdengar mengisi kekosongan ruangan. Suara nan merdu bergema semakin jelas bahkan Najwa ikut membantu karena ia mendapatkan bisikan untuk mempermudah pekerjaan sang Abi. Tatapan mata semua orang terpatri pada meja terdapat lukisan dan tempayan darah.
Sayup-sayup terdengar suara erangan bercampur rintihan pilu. Isak tangis yang diyakini berasal dari dalam lukisan. Suara semakin jelas membuat bulu kuduk meremang. Tak memungkiri energi besar menekan atmosfer disekitar mereka, tapi tiba-tiba kain hitam bergejolak.
Kain itu terus menerus bergerak seakan ada tangan yang memainkannya. Semburat warna merah menguar ke udara beraksi mengejutkan semua orang. Darah dari tempayan benar-benar bergerak meliuk terserap lukisan menembus penutup kain hitam.
"Nak, bertahanlah." Disentuhnya kepala Emir dengan sepenuh hati dengan lantunan doa keselamatan.
Ibu mana yang tega melihat penderitaan anaknya? Emir terlihat baik-baik saja tetapi jika diperhatikan tidak seperti yang tampak. Remaja itu menyadari perubahan suhu tubuh yang turun drastis seakan berada di ruangan ber es. Anehnya tidak merasakan hipotermia.
Tanpa Emir sadari. Najwa dan Abil tengah berjuang keras menstabilkan udara di ruangan keluarga agar yang lain tidak terkena dampaknya dengan menyalurkan energi positif. Diam melakukan tanggung jawab yang membuat Azzam tersenyum tipis karena putri dan adiknya mengerti harapannya tanpa harus menjelaskan.
Sementara itu Gala masih mengamati bagaimana darah mengurai terserap masuk ke dalam lukisan tapi tiba-tiba ... "Darahnya dimuntahkan keluar. Apa artinya?" Kepulan asap merah menyelimuti lukisan diiringi suara lengkingan tajam menyeramkan.
"Darah persembahan tidak murni. Dia menolak untuk keluar." jawab Azzam tanpa rasa takut atau ragu. Lalu diambilnya tempayan yang kini hanya tinggal setengah sisa tetesan darah. Kemudian ia menaburkan bubuk suci yang sudah disiapkan. "Bella, sekarang tugasmu."
"Mas, aku ...," lirih Bella ingin menolak. Hati tak sanggup melakukan apa yang seharusnya tetapi hari ini satu kebenaran harus terungkap. Kenapa Allah memberi ujian pada seorang ibu melalui anak mereka? Bukan tidak bersyukur hanya saja tidak tega untuk melukai hati sang anak.
Azzam tahu betapa sulitnya untuk berkata terus terang. Namun kehidupan akan lebih dimudahkan ketika masalah menemukan solusi yang sebenarnya tanpa mengambil resiko lebih besar. Dia sendiri tidak ingin ada hati yang patah tetapi takdir meminta kejujuran demi kebaikan bersama.
"Bunda, katakanlah apa yang diminta Abi. Emir siap mendengarkan." ucap Emir menahan rasa takut dihatinya. Ia sadar akan satu tindakan sang Abi hanya tertuju padanya seorang. Firasat itu sudah membuatnya bersiap untuk menghadapi kenyataan.
Entah takdir macam apa yang akan ditemuinya. Ia hanya percaya bahwa Allah memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya. Tidak kurang dan tidak lebih. InsyaAllah dia kuat melewati setiap cobaan yang harus dijalani dalam fase kehidupan dunia fana.
Direngkuhnya tubuh sang putra. Bibir terasa kelu tetapi air mata tak mampu tertahan lagi. Jangankan satu kata, kini hanya ada derai air mata membasahi kedua pipinya. Ia sangat mencintai Emir sama seperti cintanya untuk Najwa tetapi keberuntungan tidak berpihak pada seorang ibu.
"Aryan Daza Emir sang putra tunggal Abraham Lincoln." bisikan pelan tak bertenaga yang menyentak kesadaran semua orang. Terutama Emir, anak itu terdiam tak ingin memahami pengakuan sang bunda.
.
.
.
😭 Othoor bingung nulis horor apa jual bawang sendiri. Nulis sambi nangis gak enak,, 🤧 Berharap bisa ketemu makhluk malah berubah menjadi kepentok perasaan. 😌 Part 2 mau hari ini apa besok? THR dua bab? Boleh sih, apa yang enggak buat reader.😇