Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 41: Si Bapak


Sesi pencarian berlangsung selama beberapa waktu, sayangnya tidak membuahkan hasil. Padahal sudah menggeledah beberapa kali dan tetap saja tidak bisa menemukan yang dia cari. Ingin sekali berteriak tapi tidak mungkin karena suasana pondok masih saja ramai dan bisa jadi justru tertangkap.


Sembari membenarkan barang-barang yang berserakan, pria itu terus ngedumel tak karuan. Tanpa sadar beberapa buku diletakkan ditempat yang salah. Saking kesalnya bahkan tak sengaja menyenggol gelas air yang ada di atas meja. Kekacauan semakin terlihat jelas, membuat si penyusup kebingungan harus bagaimana.


Ditengah rasa panik tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Sontak ia bergegas mencari jalan keluar yang berakhir pada jendela di sudut ruangan dekat meja kerja. Seribu langkah jurus andalan menjadi pilihan terbaik yaitu melarikan diri tetapi langkah kaki yang terburu-buru membuat pria itu tak sadar menjatuhkan ponsel di detik terakhir.


Si benda pipih tergeletak di bawah jendela diam tanpa suara. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu yang terbuka, lalu beberapa langkah kaki memasuki ruangan sembari melanjutkan obrolan hingga mereka dikejutkan kondisi sekelilingnya yang berantakan. Sesaat mengedarkan pandangan ke segala penjuru dan benar seperti ada yang masuk untuk mencari sesuatu.


"Ka, bukankah tadi saat ditinggal rapi? Lalu semua ini ...," Abil memijat pelipisnya yang mendadak merasa pusing, sedangkan Azzam melangkahkan kaki seraya mengambil beberapa buku yang masih tersebar di lantai.


Kedua pria itu bekerja sama membereskan ruangan tanpa melakukan perdebatan sedikitpun hingga Abil tak sengaja menemukan ponsel asing yang jelas bukan milik mereka berdua. Selama sepuluh menit akhirnya ruangan kembali rapi, kemudian kakak beradik itu duduk di sofa tapi saling berhadapan dengan tatapan mata memandang benda pipi di atas meja.


"Kakak atau aku yang memeriksa ponsel ini?" tanya Abil memastikan sebelum bertindak.


Satu hal yang bisa dipahami secara langsung yaitu siapapun yang datang menggeledah ruangan Abi. Maka orang itu memiliki urusan penting dan untuk mengetahui motif di balik si pelaku. Tentu harus segera ditemukan meski dengan cara apapun juga. Termasuk mencari informasi melalui si benda pipih yang diyakini milik sosok misterius.


Tubuh terasa begitu lelah bukan berarti ia telah menyerah di awal pertempuran. Apa yang akan terjadi di hari esok, baru dimulai hari ini. "Lakukanlah, De. Kakak hanya ingin mendengar informasi apa yang bisa kita dapat dari benda mati yang tertinggal."


Di ruangan itu Abil ditemani Azzam mencari celah keberuntungan dari hasil pemeriksaan. Sementara di luar pagar pondok pesantren si bapak yang terus berlari akhirnya bisa bernapas lega begitu melewati batas aman. Deru napas yang memburu bersambut irama detak jantung marathon. Rasa haus ditahan agar bisa segera meninggalkan desa tersebut.


Namun jarak dari pesantren hingga ke gapura desa terlalu jauh bahkan bisa memakan waktu tiga puluh menit perjalanan, sedangkan situasi yang ada tidak memungkinkan untuknya berjalan sejauh itu. Bagaimana jika ketahuan? Bisa-bisa diinterogasi tanpa henti dan tujuannya terbongkar begitu saja.


Dari arah kejauhan tampak sebuah mobil pickup keluar dari pondok pesantren. Sepertinya mobil itu baru saja mengantarkan bahan-bahan masakan untuk acara selama beberapa hari. Sepertinya dewi keberuntungan berpihak padanya sehingga mengirimkan bantuan tanpa diminta.


Kebiasaan orang desa adalah memiliki prinsip saling tolong menolong. Jadi tidak heran mobil berhenti begitu melihat seorang bapak di tapi jalan melambaikan tangan meminta bantuan. Sebagai sesama manusia dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Pak sopir membiarkan si bapak menumpang mobilnya tanpa berpikir negatif. Apalagi melihat penampilan rapi dengan baju koko yang diyakini baru saja takziah ke rumah sang ulama.


"Nama bapak, siapa?" tanya Pak sopir tanpa mengalihkan perhatiannya dari arah depan. Kedua tangan yang sibuk mengendalikan stir tak membuatnya melupakan ada orang yang duduk di sebelah.


Sementara yang ditanya mencoba mencari benda yang seharusnya tersimpan aman di saku celana. Dari satu saku ke saku lainnya tetapi tidak menemukan ponsel yang ingin digunakannya untuk menghubungi seseorang. Sekarang bagaimana memberikan informasi? Ponsel saja hilang entah kemana. Ia pun tidak berpikir, jika si benda pipih tertinggal di ruang sang ulama.


Diamnya Si Bapak, membuat Pak Sopir menoleh ke arah pria yang terlihat bingung. "Bapak kenapa?"