Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 51: Kebenaran untuk Emir


Satu panggilan nama lengkap membuat Lucifer yang terus mendampingi Najwa tertegun sesaat. Kini ia menemukan siapa pemilik pita perjanjian dan alasan kenapa berada di rumah ahli agama. Tidak menyangka bahwa keturunan sah Abraham Lincoln tinggal bahkan dibesarkan menjadi remaja sholehah.


Takdir memanglah unik karena kenyataan selalu mengalir seirama nada garis kehidupan. Tak seorangpun mampu melawan maupun berbelok hanya karena sebuah doa yang dipanjatkan. Kebenaran yang menjadi kejujuran sejati tetapi mematahkan hati seorang anak.


"Bunda, apakah aku ini bukan putramu?" Tatapan mata nanar berusaha mencari sandaran hati. Ia tak mengira dibesarkan oleh keluarga asing yang terasa begitu dekat di hati.


Dipeluknya sang adik tanpa ingin memikirkan status ikatan darah yang berbeda karena baginya. Emir tetaplah adik terbaik untuknya, "Kamu itu anak kuat yang menjadi pelita rumah. Aryan Daza Emir tetaplah adik Najwa Humaira. Putra bungsu keluarga Abi Azzam, kesayangan Bunda Bella."


"Benar kata kakakmu, Nak." Azzam berjalan mendekati kerumunan, membuat Omar, Gala dan Diana memberikan jalan. "Keluarga ini lengkap karena kehadiranmu dalam hidup kami. Bundamu mendapatkan seorang putra, Abi menemukan semangat dan Wawa memiliki adik terbaik."


Ingin sekali menerima semua perkataan manis yang diucapkan Abi. Akan tetapi hati merasakan ketidaknyamanan. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa menjadi asing. Padahal tidak merasa ada yang perlu diragukan. Lalu apa masalahnya? Ia pun bingung sendiri.


"Emir! Katakan sesuatu pada Bunda, Nak. Jangan diam begini." bisik Bella mencoba menguasai tubuhnya sendiri agar tidak terlihat semakin rapuh.


Sejenak memejamkan mata seraya menghirup udara yang terasa menyesakkan dada. Tak ingin larut dalam pemikiran aneh tetapi tak sanggup menahan luka di hati. Meskipun menyadari, selama ini tak sekalipun ada kekurangan dalam pengasuhan keluarga itu untuk membesarkannya.


"Siapa aku dan kenapa menjadi bagian keluarga, Bunda? Katakan karena aku ingin tahu siapa pemilik darah yang ada di tubuh ku." kata Emir setelah memikirkan apa yang diharapkan hatinya.


Azzam mengulurkan tangan kanannya yang disambut Emir dengan tangan gemetaran. Sebelum memulai sebuah kisah. Azzam meminta semua orang keluar dari ruang keluarga kecuali Najwa, Abil, dan Bella. Semua itu karena hanya ingin menjaga privasi kehidupan keluarga Emir terdahulu.


Kini keluarga inti duduk saling berhadapan. Dimana Azzam duduk di antara Bella dan Najwa, sedangkan Abil dan Emir di hadapan agar bisa saling menatap tanpa mengurangi rasa sayang di hati mereka. Sebuah buku di keluarkan dari salah satu laci yang sudah lama tidak tersentuh.


Buku biasa tetapi di dalamnya terdapat sebuah barang yang dianggap sebagai bukti terakhir. Sebuah amplop coklat dikeluarkan. Dimana di dalamnya terdapat beberapa lembar foto. Azzam menyerahkan amplop itu pada Emir mempersilahkan sang putra untuk melihat terlebih dulu.


Foto pertama sebuah bangunan penginapan yang ada di tepi danau dan tatapan Emir jelas terkejut karena merasa tak asing dengan tempat itu. Ingatannya jelas tertuju pada lukisan dikantor Gala. Sama persis meski terlihat baik di foto, sedangkan lukisan menakutkan.


Foto kedua terlihat sepasang suami istri tengah menggendong bayi dan duduk di kereta. Jika diamati fotonya lebih seksama. Dibelakang pria itu ada penampakan makhluk hitam berkuku panjang yang seperti berdiri menjadi penjaga. Kenapa seperti itu?


Foto ketiga hanya sebuah ruangan dengan yang di dalamnya berisi box bayi dengan mainan gantung yang cukup terkenal pada masa itu. Lalu beralih ke foto terakhir yaitu seorang balita berusia satu tahun kurang terlantar di puing-puing reruntuhan bangunan yang terbakar. Ia kenal wajah balita itu.


"Abi menemukanmu di saat melakukan kunjungan dakwah di sebuah desa terpencil. Orang-orang desa melarangmu keluar dari bangunan itu karena dianggap sebagai pembawa petaka. Sebagai seorang manusia dan memiliki akal. Abi meminta hak kepada pemerintah setempat untuk mengadopsimu sebagai putra.


"Nak, kehadiranmu semakin menyatukan keluarga kami. Jujur saja, Allah mengirimkan malaikat kecil agar bisa mengingatkan kami akan kebesaran Yang Maha Esa. Abi harap, Emir mau berlapang dada akan takdir yang sudah digariskan Allah SWT." tutur Azzam mengakhiri penjelasannya tanpa menutupi apapun pada putranya.


Setiap kata terdengar begitu jelas tetapi kenapa hati enggan menerima. Apakah perasaannya benar? Apakah isi kepala aman? Jangankan bisa mencerna. Ingin sekali berteriak melepaskan rasa yang tertahan. Sesak tak bisa berkutik.


Usapan lembut di kepala, membuatnya menoleh menatap mata yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah. Seorang ibu yang dianggap seperti sahabat sekaligus tempat berlindung dikala merasa takut akan kegelapan dunia yang melanda. Senyuman yang selalu dirindukan.


"Maafkan aku, tapi kebenaran ini terlalu cepat datang. Rasanya seperti tidak mungkin. Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana memanggil orang-orang terkasihku tanpa rasa canggung?" ujar Emir mengeluarkan semua uneg-uneg seperti biasanya membuat Bella menghela napas lega.


Diraihnya tangan sang putra, lalu mengecup telapak tangan putih yang selalu menjadi teman selama ini. "Emir dengarkan Bunda. Ikatan hati itu terbentuk tanpa diminta. Apa kamu tahu, ketika pertama kali melihat wajah tampan seorang balita yang Mas Azzam bawa pulang. Hampir saja Bunda mengira kamu putra dari wanita lain."


"Bunda bersyukur karena Mas Azzam membawamu sebagai anak laki-laki kami. Bunda juga ingat Ka Wawa seringkali mencuri kue hanya untuk diberikan pada adiknya yang menggemaskan. Kasih sayang kami bukan untuk dipertanyakan tapi Emir bisa memikirkan ulang. Apakah ingin tetap menjadi bagian keluarga ini atau ...,"


"Emir sayang kalian." sela remaja itu dengan air mata yang jatuh membasahi kedua pipi.


Seluruh anggota berpelukan menghantarkan kehangatan penuh kasih sayang. Rasa takut kehilangan terganti kebersamaan. Ketika cinta itu tulus, maka Allah memberikan kemudahan untuk hamba Nya. Percayalah setiap ujian tak melebihi batas kemampuan umatNya.


Kebenaran itu seperti cermin. Tidak peduli seberapa lama disembunyikan. Suatu saat nanti akan terungkap. Baik dengan cara baik atau dengan cara unik. Kenyataan yang setipis lembaran tisu mampu mengoyak ketenangan hati dan jiwa insan yang terikat. Bagaikan badai tak bertuan yang menghempaskan rasa.


.


.


.


🍂Sesuai dengan keinginan Reader 🍂


Thr dari othoor dengan part family.


Minal Aidzin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin. 🙏