Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 34: Gala adalah?


Pintu rumah lama hanya dikunci ala kadarnya. Hal itu dilakukan agar sang penjaga tidak kerepotan bolak-balik meminta kunci utama dari keluarga Azzam. Terlebih lagi setiap kali santri pilihan mendapatkan tugas yang terakhir akan memiliki masa karantina untuk menguji ketahanan iman dan mental.


Abil membuka pintu dengan bibir bergumam basmalah. Lalu mendorongnya ke depan, "Ayo, kita masuk!" Selangkah maju melewati batas palang pintu, begitu juga dengan Gala sang sahabat.


Kedua pria muda itu masih diam dengan tatapan mata menelusuri setiap sudut ruangan yang ternyata tak begitu luas atau dipenuhi perabotan rumah tangga. Di sisi kanan hanya ada dipan beralaskan tikar dengan satu bantal berselimut putih. Selimut loreng khas rumah sakit. Kemudian di sisi kiri ada sepasang meja dan kursi kayu.


Jika ditilik lebih seksama, tempat itu tak ubahnya pondok pada zaman dahulu. Sederhana karena yang membedakan hanyalah dinding dan lantai saja yang bisa dianggap sebagai perubahan era zaman sekarang. Pantas jika dinamakan rumah lama milik para leluhur. Meski di tiang atas tertulis setiap tahun renovasi yang dilakukan.


"Kamu mau, kita duduk dimana?" tanya Gala memulai perbincangan agar suasana berubah lebih baik, membuat Abil memindai isi ruangan sekali lagi.


Sebuah gulungan tikar juga teronggok di sudut ruangan dekat pintu masuk. Tanpa menjawab, pria muda itu mengambilnya. Lalu menggelar di samping sisi ranjang agar tidak duduk di depan pintu. Kemudian melambaikan tangan pada Gala agar mendekat. Pilihan yang cukup bijak mengingat ruangan itu memang sangat sederhana.


Gala ikut melepaskan alas kakinya sebelum naik ke atas tikar. Ia bahkan tak sungkan mengambil keris miliknya, kemudian diletakkan di tengah tempat mereka duduk karena saling berhadapan. Abil yang masih tenang berusaha menjaga hati dan pikiran agar tetap kondusif. Pasalnya ia juga mengalami banyak hal aneh belakangan ini.


"Apa kamu punya pertanyaan untukku? Jika ya, tanyakan saja! Aku akan menjawab tanpa menutupi kebenarannya." ucap Gala menatap Abil tanpa ragu karena ia paham situasi tidak memintanya untuk diam. Apalagi selama ini, Abil yang masih stay menjadi orang terdekatnya.


Helaan napas pelan berusaha menjadi awal kebaikan. Beban hati yang terasa sesak tak mampu ia kesampingkan. Kali ini, apapun yang sudah terjadi dan akan terjadi, biarlah. Pemikiran seperti itu benar-benar menguasai kepalanya. Siapa dia, dan apa alasan ia kembali ke Indonesia selama setahun terakhir mungkin sudah waktunya terungkap.


"Tidak ada pertanyaan," Abil menyandarkan tubuhnya ke belakang, lalu menyedekapkan kedua tangan di depan dada. Tatapan matanya tenang menatap Gala yang pasrah akan keadaan. "Apa kamu ingin mengatakan sesuatu? Misal hubungan antara kamu, lukisan dan keris di depanku."


"Kamu masih saja sama, Bro. Tidak memaksa, tapi menegaskan kejujuran dimulai dari diri sendiri. Apa kejujuran bisa menjadi kebaikan? Jika ya, aku akan ceritakan semuanya hanya saja ...,"


Gala menahan napasnya seraya menautkan kedua tangan tampak mencoba mengurangi kegelisahan di hati. Tatapan mata yang menunduk, gurat ketakutan tampak begitu jelas. Sesuatu yang besar tersimpan dan enggan untuk diungkapkan. Sebenarnya apa yang disembunyikan?


Semilir angin nan dingin menelusup masuk menghampiri menyapa kulit hingga meremang. Perubahan hawa di sekitar keduanya terasa begitu nyata. Dingin kian melanda tetapi masih tersisa energi hangat yang berusaha mempertahankan kekuasaan. Apa yang tengah terjadi, membuat Abil kembali melantunkan dzikir di dalam hati, sedangkan Gala memejamkan mata dengan bibir bergumam.


Beberapa saat kedua pria muda itu bekerjasama mengusir gangguan yang ingin mengacaukan pertemuan mereka hingga suara benda jatuh di luar sana mengakhiri segalanya. Gala kembali membuka mata, tetapi Abil masih diam menunggu jawaban. Suka, tidak suka hanya berakhir menjadi sesi kejujuran.


Gala membenarkan posisi duduk, lalu menarik keris keluar dari sarungnya. Kilatan tajam memantulkan sinar mentari yang menyorot dari genteng kaca di atas sana. Kemudian, pria itu melakukan sesuatu pada kerisnya hingga berubah bentuk. Dimana di ujung senjata tak berbentuk sempurna.


"Keris Pati. Keris ini salah satu dari senjata leluhur yang digunakan untuk menumpas bangsa lelembut. Dimana nama diambil dari istilah kematian alias pati. Apa kamu ingat dengan penelitian klan pemburu setan yang bernama Mangku Jiwa? Aku adalah salah satu dari klan itu.


"Sebagai seorang indigo, peneliti, dan juga ahli agama serta bisa menangani hal mistis. Kamu memang memiliki banyak kelebihan, tapi tidak dengan senjata. Disini, aku tidak bermaksud menipu, apalagi berusaha mengkhianati hanya saja peraturan klan terlalu rumit untuk disederhanakan.


"Klan Mangku Jiwa merupakan perkumpulan orang-orang yang masih campuran. Tidak semua murni berasal dari keturunan klan sebelumnya karena beberapa memang hasil dari pengikut, tapi aku salah satu keturunan yang asli. Jadi misi yang diemban tak bisa dianggap sebelah mata."


Keris kembali dimasukkan ke dalam sarungnya. Lalu di balikkan ke posisi menghadap arah berlawanan, "Lukisan penginapan tepi danau yang ada bersamamu itu, bukanlah sebuah lukisan sembarangan. Jika jatuh ke tangan yang tidak paham hal gaib, maka berakhir menjadi korban. Seharusnya dimusnahkan hanya saja tidak bisa dihancurkan tanpa datang ke tempatnya langsung."


Penjelasan yang cukup to the point karena kini ia tahu kebenaran klan Mangku Jiwa ternyata masih ada. Meski begitu, ia masih tidak paham dengan maksud Gala yang mengatasnamakan lukisan sebagai pusat sebuah objek misi. Apa lukisan itu begitu berbahaya? Jika iya, kenapa justru disimpan tanpa ada yang menjaga?


Benda pipih yang diterima Abil, membuat pria satu itu menunggu. Ia membiarkan sang sahabat memeriksa hasil kerja kerasnya selama ini. Hal itu hanya agar menyudahi pemikiran yang pasti bercampur aduk. Bagaimana tidak? Ketika selama di Kairo sikapnya tak sedewasa ini, bahkan terkesan tak begitu paham tentang dunia gaib.


Tiga puluh menit telah berlalu, tetapi Abil masih menatap layar ponsel milik Gala. Fokusnya masih terpusat pada apa yang menjadi kebenaran hingga terdengar suara gaduh dari luar. Sontak mengalihkan perhatiannya. Apa yang terjadi?


"Jangan keluar! Teruskan saja karena mereka tidak ingin kamu tahu ... Uhuk ... Uhuk ...," Aliran warna merah keluar dari sudut bibirnya, terasa getir. "Aku baik-baik saja. Waktumu hanya sepuluh menit, semakin cepat, semakin lebih baik."


Keadaan Gala yang menahan rasa sakit hingga tanpa sebab batuk sampai muntah darah, membuat Abil tak tega. Akan tetapi, ia tahu ada hal penting yang harus diketahui. Tak ingin menyia-nyiakan pengorbanan sang sahabat. Informasi kembali ditelaah dengan lebih teliti dan cepat.


Apa yang ia baca tak begitu mudah untuk dilanjutkan tetapi semua tetap dilanjutkan hingga file terakhir hanya berisi sketsa para wajah buram. Di setiap wujud memiliki tanda yang kini tersimpan di dalam otaknya. Sketsa berjumlah lima makhluk yang menjadi misi seorang keturunan klan Mangku Jiwa.


"Abil!"


.


.


.


Assalamu'alaikum, Happy Ramzan Readers.


Othoor comeback šŸ˜­šŸ¤•ā˜”


Semoga kalian sehat slalu. 🤲


Mohon maaf lahir batin, yak. 🄰


Othoor cuma mau bilang, kepoin karya lain yg baru, Yuk🤭


...šŸƒArea Horor Karya KetigašŸƒ...



...ā˜”Area Romanceā˜”...



Noted: update 1 bab perhari for Jerat Karma 2 with Istri Rasa Depkolektor.