Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 49: Lukisan Keramat


Lukisan keramat. Yah, lukisan yang bisa berpindah tempat mengikuti energi si pengamat. Ingatkah kejadian di ruangan owner saat Emir mengatakan melihat lukisan? Saat itu, sang remaja tidak menyadari telah membuka segel mantra hanya dengan menatap dinding kosong selama satu menit.


Lukisan yang memang tidak nampak menjadi tampak tetapi hanya untuk si pengamat. Dimana saat itu Emir lah yang menjadi alasan lukisan keramat berpindah ke rumahnya. Akan tetapi keadaan mengubah arah haluan karena Abil yang menemukan lukisan. Energi kuat yang menyebarkan aura negatif sudah cukup menjadi firasat tak baik.


Teror di mulai dan beruntung bisa diatasi hanya saja semua itu baru permulaan sehingga kemungkinan besar akan datang teror lain yang lebih berbahaya. Jika ingin mencegah, maka harus segera menemukan tempat seperti yang ada di lukisan. Hal itu dilakukan agar bisa bertemu sang dalang.


Sebanyak apapun makhluk yang terbelenggu di dalam lukisan hanya menjadi boneka. Faktanya adalah hanya satu pelaku yang harus bertanggung jawab. Dia yang mempermainkan takdir dan waktu sesuka hati. Sebenarnya lukisan itu tidak untuk mendapatkan kekayaan atau kekuasaan, melainkan kepuasan pribadi.


Semakin gelap warna cat terlihat, maka bahaya semakin besar. Kekuatan bisa saja dilumpuhkan tetapi harus dihancurkan dengan cara menumpas akar dimana semua dimulai. Yaitu tempat yang ada di lukisan. Sementara makhluk yang terkurung akan mendapatkan kebebasan dari siksaan yang selama ini diterima.


"Kehidupan memang rangkaian misteri. Manusia mengharapkan apa dan takdir memberikan apa. Adil tetapi masih dianggap tidak adil. Bukan begitu, Ka?" Gala menundukkan kepala meresapi kata-katanya sendiri yang memang cukup menegaskan kenyataan tak seindah impian.


"Benar, kehidupan itu tidak mudah tetapi tidak juga sulit. Setiap pertemuan pasti berakhir perpisahan. Baik itu perpisahan karena tidak sejalan atau perpisahan karena maut. Pada intinya, kita harus tetap bersyukur meski berpikir dunia tidak adil. Percayalah Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita harapkan.


"Seperti matahari untuk siang, dan bulan untuk malam. Sekarang apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu sudah memikirkan langkah selanjutnya?" tanya Azzam tanpa keraguan, sedangkan yang ditanya mengubah posisi duduk.


Pria muda itu mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Sebuah keris yang pernah diperlihatkan pada Abil. Kali ini ditunjukkan ke Azzam. Dimana sang kakak sahabatnya tidak tampak terkejut. Tentu saja karena sudah lebih mengenal dunia para pemburu makhluk tak kasat mata.


Sejak awal saja sudah tahu, jika dirinya keturunan klan mangku jiwa. Lalu apa yang harus diragukan lagi? Keris hanya ditatap tanpa keinginan untuk menyentuh. Apa yang terjadi? Hanya Azzam yang tahu karena ia bisa merasakan energi penolakan dari tubuh pria yang duduk disebelahnya.


"Perisai pesantren ini dari doa anak-anak yang rutin mengaji serta beribadah. Disisi lain almarhum Abi mengajarkan doa khusus agar terlindungi dari mara bahaya. Akan tetapi perubahan atmosfer yang bisa kurasakan," Azzam menghirup udara malam yang terasa tidak dingin, panas maupun engap.


"Setiap makhluk hidup memiliki tujuan mereka masing-masing. Baik di dunia manusia maupun dunia gaib mempunyai dua sisi sifat. Baik atau buruk makhluk itu tergantung dari apa yang memicunya. Sebagai manusia, kita ditugaskan untuk saling mengingatkan.


"Meski misi mu tidak melibatkan Abil, aku akan tetap mengatakan ini. Jangan sungkan untuk bertanya dan meminta bantuan dariku. Kebenaran akan selalu mutlak meski banyak kebohongan berusaha untuk menyembunyikannya." tutur Azzam mengakhiri nasehatnya membuat Gala menoleh ke arahnya.


Hidup seorang diri selama ini membuatnya menjadi mandiri bahkan tidak begitu membutuhkan orang lain untuk mendukungnya. Sebagai manusia tidak memungkiri ingin memiliki teman dan saudara agar bisa berbagi keluh kesah. Sekedar untuk mengurangi beban hati dengan obrolan hangat.


Uluran tangan Azzam menghadirkan rasa haru yang tidak bisa dijelaskan. Selain merengkuh tubuh kakak ipar sahabatnya ke dalam dekapannya. Membiarkan waktu terlewat tanpa kata meninggalkan jejak rasa yang menyentuh jiwa. Nyaman seperti memiliki seorang kakak yang siap melindungi.


"Terima kasih, Ka. Jujur saja, aku masih berusaha menemukan jalan keluar dari misi ini. Apalagi lukisan keramat sepertinya tertarik dengan Emir dan juga Abil. Entah energi siapa yang lebih dibutuhkan oleh dia. Aku sendiri belum menemukan jawaban." jelas Gala mengungkapkan kegelisahan pikirannya.


Daya tarik menarik yang tercipta antara Emir, lukisan keramat, dan Abil memang terlihat cukup rumit. Dimana pemicu dan yang dituju masih tidak jelas. Hanya saja setelah melihat apa yang terjadi, ia meyakini si dalang menginginkan sesuatu yang besar tetapi apa? Jawaban itu yang harus segera dicari tahu.


"Aku tahu siapa yang dituju, tapi sebaiknya kita masuk dan bicarakan hal ini besok." Azzam beranjak dari tempatnya tanpa ingin menjelaskan lebih lanjut. Perasaan di hati mulai tak tenang karena satu rahasia sepertinya harus segera diungkapkan.


Langkah kaki yang menjauh meninggalkan Gala. Pria satu itu termenung memikirkan siapa yang dimaksud Azzam. Jika dia sebagai pemburu saja kesulitan melacak jejak. Kenapa Azzam bisa dengan mudah? Apa semua itu karena tingkat ilmu yang memang lebih mumpuni atau karena hal lain?


"Gala, cepatlah masuk!" panggil Azzam tak ingin Gala sibuk memikirkan hal di luar harapan.