Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 29: Kosong?


Kitab tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Dimana selama penulisannya, Azzam melakukan semedi. Tidak seorangpun tahu bagaimana perjuangan sang kakak ipar, tetapi melihat hasil dari usaha yang begitu keras. Ia sadar kitab tidak bisa dibuka oleh sembarangan orang. Lalu, kenapa sang kakak mengatakan tentang kitab itu padanya?


Sebenarnya terdengar ada yang aneh atau kakak iparnya hanya ingin antisipasi saja? Bisa jadi seperti itu karena ternyata sekarang memang bermanfaat untuk pencarian informasi. Selama satu jam lebih akhirnya kitab selesai di baca, tapi tersisa halaman terakhir.


"Kosong?" Abil membolak-balikan kertas halaman terakhir. Tidak ada titik tinta, apalagi coretan garis pena. "Apa mungkin memang dibiarkan begitu saja?"


Sangat tidak wajar karena seingatnya, sang kakak ipar selalu teliti dan tidak menyia-nyiakan ruang kertas saat menuliskan sejarah sebuah peristiwa. Yah, kisah keluarganya saja dituliskan dengan detail sebagai sumber untuk menyelidiki akar masalah yang menjadi awal tragedi.


"De, sampai kapan kita duduk seperti ini? Diana sedang hamil, tidak baik untuknya terlalu lama duduk." tegur Bella mengingatkan sontak membuyarkan lamunan sepintas adiknya.


Abil masih membiarkan kitab dipangkuan terbuka, "Aku sudah selesai membaca kitab ini, tapi halaman terakhir kosong, Ka. Jujur saja ini bukan kebiasaan Ka Azzam. Apa harus melakukan sesuatu?"


Jawaban monolog yang terdengar mempertanyakan pada dirinya sendiri. Jelas sekali pria muda itu kebingungan dengan hasil akhirnya, sedangkan yang lain saling pandang satu sama lain karena juga tidak paham apa yang harus dilakukan. Mereka saja selama beberapa waktu hanya duduk tanpa melakukan apapun.


Entah kenapa Abil mengumpulkan, kemudian meminta duduk melingkar seperti membuat perisai. Lalu pria muda itu sibuk membaca kitab tulisan tangan milik Azzam. Bella saja, selama ini tidak diizinkan suaminya untuk membaca semua kitab tulisan tangan yang ada di ruangan tersebut.


Najwa mengulurkan tangan, "Berikan padaku, Paman. Sepertinya aku tahu yang harus dilakukan."


Tanpa berpikir panjang, Abil menyerahkan kitab ke Najwa. Dimana gadis belia itu mengamati halaman terakhir yang memang kosong. Diletakkan tangan kanan ke atas kertas, lalu ia memejamkan mata dengan bibir mengucapkan doa yang diajarkan sang abi. Hawa panas bercampur dingin menyebar, menjalar dari ujung jemari


Wajahnya tiba-tiba memucat seperti tak memiliki darah yang mengalir, tapi masih bertahan untuk tetap membuka kunci doa agar halaman terakhir bisa untuk dibaca. Lantunan dzikir nan merdu mengiringi Najwa, sayup-sayup suara yang terdengar begitu jauh bergema di seluruh ruangan.


Bella merasa dejavu dengan suara itu karena ia tahu suaminya tengah membantu mereka dari kejauhan. Trenyuh dengan dedikasi sang suami yang selalu sigap walau jarak memisahkan. Semilir angin menyebarkan kesejukan embun pagi. Aroma bunga semerbak menghantarkan kedamaian hati.


"Paman, ambillah! Aku tidak bisa membaca kitab yang bukan untukku." Najwa masih memejamkan matanya dengan tangan mengulurkan kitab untuk diserahkan ke Abil. Pria muda yang langsung menerima dan bergegas melihat isi halaman terakhir.


Tatapan matanya fokus mengikuti coretan tinta yang perlahan membentuk gurat wajah seseorang. Dimulai dari mata indah berbulu lentik, hidung mancung, bibir kelopak bunga, dagu mungil, rambut panjang. Di belakangnya ada wajah lain yang terlihat samar, tapi jelas seorang pria dengan tangan memegang sebuah belati runcing berlumuran darah.


Apa maksud dari gambaran itu? Sekian detik berubah menjadi gambar utuh, lalu sekejap mata lenyap tanpa jejak. Tiba-tiba muncul sebuah tulisan yang membelalakkan mata. Halaman terakhir dengan penuh misteri yang kini kembali kosong. Tubuh Abil sedikit bergetar menahan penolakan dari para makhluk yang mendiami liontin di gelangnya.


Walaupun sejujurnya ia sendiri tidak paham harus melakukan apa untuk ke depan. Tetap saja akan berusaha yang terbaik demi semua orang. Alih-alih membuat keluarga khawatir, seulas senyum tersungging di bibirnya. Ia berharap semua orang bisa menjaga ketenangan yang masih tersisa.


Sayangnya tanpa Abil sadari, Najwa juga melihat gambar dan juga membaca pesan terselubung yang ada di halaman terakhir kitab milik ayahnya. Gadis itu diam tanpa ingin mengatakan apa yang dia tahu karena pamannya saja memilih menyembunyikan sebuah kebenaran dari semua orang.


Kitab dikembalikan ke tempat semula, tapi kali ini tugas Emir. Tidak ada lagi gangguan makhluk astral begitu kitab sudah ditutup sehingga secara otomatis daya penarik gaib tersegel kembali. Satu pertanyaan yang mengusik pikiran. Bagaimana Azzam menulis kitab dengan menuangkan energi lain yang bisa dikatakan ilmu sihir.


"Maaf karena membuat kalian harus menahan rasa lapar. Jadi sebagai gantinya, pagi ini aku yang masak." Abil beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri pintu keluar.


Sementara Bella berusaha untuk menghubungi Azzam karena wanita itu baru ingat jarak yang memisahkan keduanya saat ini, tapi nomor yang dituju sedang tidak aktif. Padahal pangggilan dicoba melalui WA, kemudian no biasa. Tetap saja hasilnya nihil, hatinya merasa gelisah.


"Bel, stay positive! Azzam pasti lagi sibuk mengurus hal penting. Sabar ya, sayangku." Tangannya mengusap bahu Bella berharap sang sahabat mau lebih berlapang dada. Ia tahu kegelisahan yang terpancar dari sorot mata menjelaskan suasana hati yang tidak baik-baik saja.


Emir berniat pergi dari tempat itu, tapi lirikan mata Najwa menahan kepergiannya. Sejak kedatangan sang paman. Entah kenapa rumah semakin mistis. Apa pamannya memiliki ilmu yang digunakan untuk memanggil para makhluk? Tidak. Pikiran macam apa itu?


Remaja satu itu mulai su'udzon karena ia tidak tahu bahwa saat ini Abil kembali masuk ke dua dunia agar bisa memenuhi tanggung jawab seorang paman. Apa, kenapa, bagaimana dan kapan. Pertanyaan yang berawal dari semua kata itu hanya memiliki satu jawaban yaitu biarlah waktu menjadi saksi atas tujuan hatinya.


Wajar saja, jika keraguan perlahan datang menelusup masuk menggerogoti hati agar menghapus jejak keyakinan. Semua emosi yang kian menggebu-gebu tak ubahnya pasang surut air laut. Kadang naik, kadang turun menjauh. Permainan takdir yang selalu tarik ulur kebenaran, kepastian dan hasil akhir.


Tiga puluh menit kemudian. Aroma lezat makanan bersambut panggilan untuk semua orang yang bergegas menghampiri ruang makan. Entah apa yang dimasak Abil, tapi perut yang awalnya lupa rasa lapar. Tiba-tiba keroncongan minta asupan. Bella, Diana, Najwa, dan Emir duduk di kursi masing-masing.


Sementara Abil dengan sigap melayani satu persatu anggota keluarganya tanpa memudarkan seulas senyum menawan yang menghiasi wajah tampannya. Begitu semua mendapatkan porsi nasi goreng sesuai takaran, ia ikut duduk mengambil bagiannya.


"Selamat makan, semoga sesuai dengan selera kalian." Abil mempersilahkan, tapi yang menyuap makanan pertama kali dirinya sendiri sontak saja membuat keluarga tertawa pelan.


Rasa lapar terkadang diabaikan. Apa arti dari lapar? Ketika pikiran dan hati tidak pada tempatnya. Maka jangan heran, disaat masalah kehidupan datang. Delapan puluh persen manusia seringkali mengabaikan kebutuhan pokok agar tetap bertahan hidup.