Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 52: Daun Bidara


Seminggu telah berlalu dari pengakuan Azzam dan Bella tentang jati diri Emir. Hari ini anak-anak kembali masuk ke sekolah. Begitu juga dengan Abil yang harus bersiap menjadi tukang kebun. Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil yang kini sudah dijadikan kendaraan utama untuk bepergian.


"Paman, serius masih mau jadi tukang kebun? Kan lulusan terbaik Kairo, pasti bisa jadi guru favorit loh." ujar Emir menggoda Abil yang sibuk menyetir.



Wawa tersenyum mendengar bagaimana cara Emir mencoba memanasi hati paman mereka. Setelah badai yang hampir meruntuhkan kekeluargaan mereka. Allah bermurah hati memberikan kesempatan untuk saling mengasihi sebagai keluarga utuh.



Namun ketika mengingat permintaan Emir. Entah kenapa hatinya semakin merasa gelisah. Janji yang terlanjur diberikannya seakan bisa menjadi perpisahan suatu hari nanti. Apakah keputusan yang diambil sudah tepat? Bingung tetapi sekarang hanya bisa berdoa semua baik-baik saja. Aamiin.



Disentuhnya pundak sang kakak yang terlihat begitu diam, "Ka Wawa ngelamun, ya?"



"Gak kok, De. Kakak cuma mempersiapkan diri sebelum turun ke medan perang. He-he-he." jawabnya tanpa membebani hati akan dilema yang menyatakan keraguan.



"Kalian hindari saja anak-anak yang suka buat masalah. Aku heran, kenapa anak zaman sekarang kalau ngomong suka gak dikontrol." sahut Abil yang ikut menyimak obrolan kakak beradik.


"Sabar, Paman. Namanya kan manusia, kita yang bisa bersabar. Maka InsyaAllah semakin kuat dari dalam jiwa. Memaafkan bukan berarti kalah, ikhlas untuk bersyukur." balas Wawa tak ingin berkomentar lebih tentang teman sekolahnya.


Mobil memasuki area sekolah tapi seperti biasa akan diparkir di seberang warung depan sekolah yang cukup luas untuk ditempati beneran kendaraan roda empat. Satu per satu turun, lalu berjalan menuju gerbang yang tampak tinggi dari tempat mereka berada.



Ditahannya tangan Emir, "Dimana gelangmu?" Tatapan mata memindai pergelangan tangan sang adik yang tidak memakai gelang pemberian Abi. "Jangan bilang tertinggal ya, De."



"Aku lupa tadi tak lepas pas kebelet, Ka." ucap Emir menyesal tapi tiba-tiba Abil melepaskan kalungnya yang tersembunyi di balik kaos lusuh. Dipakaikan pada leher sang keponakan. "Paman, apa ini?"



Sebuah kalung benang hitam yang memiliki bandul kain bulat dipipihkan kini melingkar menghiasi leher Emir. Tentu saja disembunyikan masuk ke dalam seragam agar tidak ada yang melihat. "Namanya kalung penangkal setan yang terbuat dari daun bidara Arab."




Pria itu bersyukur keponakannya memiliki ilmu pengetahuan yang luas. "Kami benar, Wawa. Bidara sendiri memiliki beberapa jenis diantaranya Bidara Laut (Ziziphus mauritiana), Bidara Cina (Ziziphus zizyphus) dan Bidara Arab (Ziziphus spina-christi). Bidara yang digunakan untuk menangkal gangguan sihir/jin dalam prosesi rukyah dan keperluan lain sebagaimana sunnah nabi adalah Bidara Arab (Ziziphus spina-christi, karena Beliau (Nabi Muhammad SAW) menggunakan bidara ini di daerah Mekah dan Madinah."



Emir dan Najwa mendengarkan penjelasan Abil dengan seksama karena itu penting bagi mereka yang seringkali bersinggungan dengan para makhluk gaib. Tentu sangat berguna untuk antisipasi. Mungkin seharusnya di dalam tas mereka isi daun bidara.



Abil juga menjelaskan beberapa contoh penggunaan daun bidara yang cukup menjadi ilmu tambahan bagi kedua remaja itu. Dimana pria itu menjelaskan satu persoalan yang umum teruntuk kaum hawa. Yaitu ketika akan melakukan mandi wajib setelah melewati masa periodik.



"Daun bidara ini juga disunnahkan untuk digunakan mandi junub bagi wanita haid yang hendak bersuci. Hadits ‘Aisyah bahwasanya Asma\` bintu Syakal bertanya kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam tentang mandi Haid, maka Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menjawab :



“Hendaklah salah seorang di antara kalian mengambil air dan daun bidara kemudian bersuci dengan sempurna kemudian menyiram kepalanya dan menyela-nyelanya dengan keras sampai ke dasar rambutnya kemudian menyiram kepalanya dengan air. Kemudian mengambil sepotong kain atau yang semisalnya-pent yang telah diberi wangi-wangian kemudian dia bersuci dengannya. Kemudian Asma\` bertanya lagi : “Bagaimana saya bersuci dengannya?”


"Nabi menjawab : “Subhanallah, bersuci dengannya”. Kata ‘Aisyah : “Seakan-akan Asma` tidak paham dengan yang demikian, maka ikutilah (cucilah) bekas-bekas darah (********)”. HSR. Muslim. Jadi, sekarang kalian paham bukan?" tanya Abil mengakhiri penjelasan tentang daun bidara.


Suara lonceng sekolah terdengar bergema hingga keluar pagar, membuat kedua anak itu menepuk kening serempak. Lalu pamit dengan salim kilat yang membuat Abil terkekeh pelan tetapi ia juga harus bergegas karena pasti akan mendapatkan teguran.



Langkah kaki berjalan cepat menyusuri halaman luas sekolah yang berhawa dingin mencekam. Ia tahu dan merasakan kehadiran para makhluk tak kasat mata yang menjaga jarak darinya. Pasti karena gelang yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Assalamu'alaikum, maaf saya terlambat, Pak." ucap Abil mengetuk pintu kantor para guru dengan sopan, membuat beberapa guru menoleh ke arahnya.


Seorang pria paruh baya datang menghampiri Abil dengan wajah masam seperti belum disetrika. "Tukang kebun baru, ya? Kok gak bisa tepat waktu? Harusnya itu, kamu sudah datang lebih awal dari para guru. Bersihin kelas, toilet, lorong dan lain-lain. Lah ini malah jam tujuh baru nongol. Mau makan gaji buta?"


"Maafkan atas kelalaian saya, Pak Mahmud. Saya tidak akan mengulangi lagi." jawab Abil tanpa menundukkan pandangannya karena ia mengakui kesalahan dan bukan tengah melakukan pembelaan diri.


Pak Mahmud mendorong bahu pria dengan pakaian lusuh di depannya. "Jadi orang itu harusnya sadar diri. Dateng langsung saja ngerjain pekerjaan ...,"


"Assalamu'alaikum, maaf kenapa sepagi ini ada keributan di depan kantor? Apa kalian tidak malu?" tegur seseorang dari belakang yang mengalihkan perhatian semua orang. Tatapan matanya terpana tak percaya ketika melihat wajah yang familiar. "Mas, kamu disini?"