
Tentu saja Abil bingung akan situasi yang semakin tak karuan. Apalagi tiba-tiba Bella berlari menghampirinya. Tubuh gemetar sang kakak mendekapnya dengan derai air mata yang terus membasahi kaosnya. "Ka Bella, katakan padaku apa yang terjadi."
Suara isak tangis terdengar lebih kencang membuatnya mengernyit. Beruntung masih ada Diana yang mau menjelaskan situasi menegangkan saat ini. Dimana Azzam terkurung di dalam kamar begitu saja setelah berhasil mendobrak pintu.
Mereka yang di luar menikmati rasa khawatir tetapi di dalam sana Azzam tengah berusaha menyadarkan Najwa. Sang putri yang jatuh tak sadarkan diri terbaring lemah di bawah sebalah kanan ranjang. Gadis tanpa hijab berwajah pucat dengan tangan yang menggenggam sebuah benda asing berkilauan.
Warna biru zamrud dengan binar cahaya menyilaukan itu. Apakah cahaya terang yang dilihatnya tadi, berasal dari benda tersebut? Ia pun tidak tahu karena kini hanya fokus pada sang putri agar kembali sadar. Kenapa setelah kepergian Abi, justru rumah seperti sarang lelembut?
Terror demi terror mulai berdatangan tanpa permisi. Belum juga satu selesai tapi sudah datang masalah lain. Kehidupan memang seperti itu hanya saja keluarga Azzam diuji dari dua dunia alam berbeda. Seluruh anggota berusaha untuk tetap waras dengan berpegang teguh pada keyakinan.
"Jangan sentuh batu itu!" Seru suara yang mengagetkan dari arah belakang, membuat Azzam spontan menoleh ke arah sumber suara. "Apa kamu bisa melihatku?"
Azzam menganggukkan kepala pasti. Di hadapannya berdiri seorang anak dengan wajah sendu nan tampan berambut putih. Anak yang diyakini sebagai makhluk tak kasat mata tetapi aura yang tersebar positif bahkan memiliki energi kuat. Siapa anak itu? Kenapa ada bersama Najwa.
"Dia, apakah anakmu?" tanyanya yang lagi-lagi hanya dibalas anggukan kepala oleh Azzam. "Perkenalkan namaku Lucifer. Kedatanganku ke dunia manusia untuk membantu keluarga yang telah melakukan perjanjian terhadap bangsa kami yaitu iblis."
Pengakuan Lucifer terdengar begitu meyakinkan bahkan untuk pertama kalinya sebagai manusia bisa merasakan niat baik si makhluk gaib. Ada yang berbeda dari makhluk satu itu. Apalagi di dalam kamar terasa begitu netral tanpa ada pengaruh buruk sedikitpun. Yah, dia yakin akan satu hal itu.
"Siapa yang mengirimmu dan keluarga mana yang kamu maksud?" Rasa penasaran memang diperlukan meski pertanyaan yang dilontarkan sekedar untuk mengetahui situasi saat ini. Terlebih lagi bersinggungan dengan dunia lain yang notabene memiliki resiko besar.
Lucifer tersenyum tipis dengan tatapan mata terarah pada Najwa yang masih memejamkan mata karena proses pengikatan pertemanan di antara mereka. Gadis itu terpaksa menerima kehadirannya demi melindungi keluarga tetapi karena satu keputusan besar. Akhirnya para makhluk berdatangan setelah mencium aroma batu permata.
"Raja mengirimku sebagai salah satu utusan penolong manusia tapi ...," Lucifer berpikir sejenak mengingat kedatangannya ke alam manusia yang tiba-tiba saja muncul di belakang seorang gadis remaja dengan penampilan serba tertutup.
Yah, di saat Najwa mengalami kesulitan karena kabut ilusi yang diciptakan seseorang. Dialah yang meminta gadis remaja itu agar memejamkan mata dan lebih mengandalkan mata batin yang memang sudah terbuka. Kenapa ada ditempat dan saat yang tepat? Ia sendiri tidak memiliki jawaban.
"Aku muncul di wilayah pesantren. Siapa yang harus kubantu? Entahlah masih ku coba cari tahu." sambung Lucifer tanpa menutupi apapun dari Azzam.
Instingnya mengatakan pria dewasa yang memiliki postur tubuh seperti ayahnya itu bisa dipercaya. Padahal selama ini, ia tahu bagaimana manusia seringkali memanfaatkan bangsanya untuk kepentingan egois yang bisa merenggut banyak nyawa. Kesadaran diri tak memungkiri rasa dekat yang dia rasakan untuk Azzam dan Najwa.
Anak itu menunjuk ke arah meja belajar Najwa. Dimana di atas meja tergeletak sebuah mangkuk kaca berdiameter lima belas sentimeter. Tatapan mata mengikuti isyarat tangan sang makhluk. Diambilnya mangkuk yang ternyata berisi air kembang bercampur wewangian khusus. Aroma yang disukai para makhluk tak kasat mata.
Apa yang Najwa lakukan? Benarkah gadis itu memanggil para makhluk hanya untuk menemui satu makhluk? Jika iya, maka putrinya sudah kelewat batas dan tidak bisa dibiarkan. Apapun alasannya tetap tidak sebanding jika berakibat fatal.
Disaat bersamaan terdengar suara lenguhan pelan. Mata mengerjap pelan mencoba menelusuri cahaya yang temaram. "Eeuuggh, aku dimana?"
"Nak, kamu gak papa?" Azzam meletakkan mangkuk kembali ke atas meja. Lalu dengan sigap membantu Najwa untuk bangun agar tidak jatuh.
Suhu tubuh yang normal dengan kilau batu yang mulai memudar membuat Lucifer tersenyum samar. Pangeran iblis bisa merasakan apa yang terjadi pada Najwa karena kini separuh dari emosi mereka terikat. Dikemudian hari ia bisa datang tanpa harus membahayakan nyawa gadis itu. Meski awal perjanjian membuat orang lain kelabakan.
Apakah dia harus mengatakan pada Azzam yang sebenarnya? Dimana makhluk cakil yang menggangu hanyalah tamu tak diundang. Bahkan beberapa makhluk lain ikut bermunculan di sekitar rumah mereka. Aura negatif menyebar bagaikan embusan angin tak bertuan.
"Abi, dia ...," Tangan lemah berusaha menunjuk kearah Lucifer tetapi masih tak sanggup untuk diangkat tinggi-tinggi bahkan kepalanya berputar seperti gasing. Sakit di dalam tubuhnya kian terasa tapi kenapa?
Lucifer berjalan menghampiri Najwa. Langkah yang dengan mudahnya melewati batasan air suci dengan wujud serbuk merah. Tatapan matanya tertuju pada batu biru zamrud yang menjadi identitas kerajaannya saat ini. Yah, Gael mengubah banyak hal selama masa kepemimpinan termasuk simbol kerajaan iblis sendiri.
"Dia akan baik setelah beberapa saat," Diambilnya batu biru zamrud dari genggaman tangan Najwa. Lalu tiba-tiba menghilang dari pandangan dalam sekejap mata. "Rumah ini dihuni banyak makhluk termasuk lukisan keramat. Jauhkan dari wanita yang hamil di luar sana."
Penjelasan singkat, jelas dan padat yang membuat Azzam berpikir sejenak. Apa maksud dari pernyataan Lucifer? Rumahnya bahkan terlindungi perisai yang setiap waktu selalu diperbaiki. Apalagi maksud dari lukisan keramat? Terlalu banyak pertanyaan yang membutuhkan jawaban tetapi apa harus menanyakan pada makhluk di depannya?
"Adik iparmu memiliki teman dari bangsaku. Mereka memang menurut bahkan mengakui Abil sebagai sang tuan. Tenang saja karena Abil pemuda yang bijaksana bahkan melarang para makhluk melakukan kejahatan. Hanya saja kesalahannya membawa masuk lukisan keramat ke dalam rumah.
"Dia tidak sadar lukisan itu merupakan satu dari tiga lukisan terkutuk yang membutuhkan tumbal nyawa. Siapapun yang berani mengusik ketenangan sang penunggu lukisan, maka ...," sambung Lucifer tertahan karena suara jeritan dari luar kamar mengalihkan perhatiannya.
Najwa dan Azzam saling pandang. Keduanya menyadari siapa pemilik suara itu, "Emir!" Satu nama yang langsung mengubah kesadaran. Ayah dan anak langsung beranjak dari tempat tersebut, lalu berlari membuka pintu kamar meninggalkan Lucifer sendirian.
"Aroma ini bukankah aroma darah suci? Apa mungkin sang penerus sekte telah dilahirkan?" gumam Lucifer tanpa ingin berpindah dari posisinya.