Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 14: PENYAMBUTAN UNTUK ABIL


Abil melirik remaja yang duduk di sebelahnya, "Apa keponakanku satu ini juga mau ke Kairo? Disana cukup baik dengan kehidupan yang Ka Azzam arahkan. Emir mau coba belajar disana?"


Emir kebingungan mau menjawab apa karena sebenarnya ia hanya penasaran saja. Jika memikirkan meninggalkan keluarga, hal tersebut masih sangat jauh dari jangkauannya. Apalagi melihat sang kakak yang bisa dikatakan hanya memiliki teman dia seorang. Hubungan mereka tak ubahnya segitiga.


"Jangan dipikirkan, Aku tahu bahwa kehidupan tidak bisa diubah. Kita berjuang untuk tetap bersama-sama dan itu yang harus kita lakukan saat ini." sambung Abil menyudahi pertanyaan yang diabaikan oleh Emir.


Sayangnya ilmu tetap harus dibagi dan bukan disimpan untuk dirinya sendiri. Pria muda itu mencoba untuk menjelaskan secara singkat. Dimana Al-Azhar adalah universitas yang dikenal luas di kalangan pelajar Muslim seluruh dunia. Bahkan pelajar non-Muslim pun banyak yang mengenal al-Azhar. Al-Azhar adalah universitas Islam tertua yang berada di Kairo, Mesir.


Berbeda dengan kebanyakan universitas lain yang sudah menerapkan sistem modern dan canggih, al-Azhar al-Syarif hingga kini masih eksis dengan sistem klasiknya. Al-Azhar menerapkan sistem pendidikan dengan tahapan empat tahun. Tidak adanya absensi di semua tingkat kuliah layaknya universitas-universitas lain, kecuali beberapa tingkat saja. Mahasiswa disini begitu bebas dalam perkuliahan, hal ini memang terlihat rancu dan kurang kondusifnya sistem pembelajaran di al-Azhar.


Meski begitu, ada filosofi yang harus kita tahu di balik sistem klasik al-Azhar. Al-Azhar al-Syarif benar-benar mendidik seorang pencari ilmu untuk mencari bukan dicari, untuk menunggu bukan ditunggu dan untuk mengambil bukan diambil, hal ini sesuai arti mahasiswa dalam bahasa Arab“thalib” yang diambil dari kata “thalaba-yathlubu” yaitu mencari .


Al-Azhar mendidik para mahasiswanya untuk mencari ilmu di setiap sudut negeri ini. Karena al-Azhar sesungguhnya adalah sebuah masjid dimana terdapat halaqah-halaqah ilmu. Di sana diajarkan berbagai macam bidang ilmu yang tidak didapatkan di bangku kuliah, apalagi ilmu-ilmu turats (klasik).


Informasi yang diberikan Abil membuat Emir terdiam mencernanya, sedangkan Najwa memberitahu bahwa mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Sontak saja pria muda itu mengurangi kecepatan laju kendaraannya, lalu mencari tempat parkir yang bisa dijadikan lokasi strategis. Beruntung ada kedai teh yang berkenan menjadi tempat singgah.


"Kalian masuk dulu, ya." Abil merapikan penampilannya agar terlihat seperti keinginan yang bisa membuat orang-orang tidak menatap dirinya dari rupa saja. Akan tetapi Najwa mencoba ikut membantu karena kaos sang adik ibunya mirip preman jalanan.


"Sudah, sekarang mirip Pak Rudy penjual sate keliling. Yuk, masuk, De!" Ditariknya tangan Emir yang tersentak kaget karena ulahnya, tetapi melihat jam semakin mepet ia tak peduli dengan racauan sang adik.


Kepergian Emir dan Najwa mengalihkan perhatian Abil. Semilir angin yang datang dari arah depan menyambut keberadaannya, tanpa basa-basi dibiarkannya para teman gaib keluar untuk mencari pengalaman dan teman baru di wilayah tersebut. Sementara ia berjalan menapaki tanah yang katanya masih bersambung dengan tanah keramat.


Aura positif di luar gerbang masih sangat kental, tetapi begitu langkah kakinya menyebrang melewati gerbang sekolah. Mendadak hening mencekam, udara di sekitar pengab bahkan tercium aroma tak sedap. Padahal lingkungan sekolah bersih dan juga rapi sebagaimana sekolah umum lain.


Di saat sibuk mengamati menggunakan mata manusianya, tiba-tiba datang seorang guru yang kebetulan baru datang. Wanita muda berpenampilan anggun menyapanya dengan ramah, lalu menanyakan kepentingannya tanpa jijik menatap rupa yang sudah berubah dari wajah asli.


Bagaimanapun situasainya yang jelas ia terbiasa bersikap formal dan mengatur setiap perkataan yang keluar dari bibirnya agar tidak menyakiti orang lain serta mudah dipahami. Akan tetapi situasi saat ini dia tengah menyamar menjadi pria biasa yang seharusnya tidak menonjolkan tingkat kefasihan dalam melakukan komunikasi.


Bu Anggun tersenyum simpul, "Masnya bisa ke bagian TU disebelah sana," Ia mengulurkan tangan ke arah sisi utara gedung sekolah, "Semoga bisa diterima, saya permisi."


Langkah kaki menjauh meninggalkan Abil. Pria muda itu berniat ingin menyusul menuju ke ruang TU, tapi tiba-tiba kakinya sulit digerakkan. Sontak saja ia menundukkan kepala, pemandangan pertama yang cukup menyentak. Dimana kubangan cairan hitam terasa seperti lem yang sangat kuat. Tidak ada aroma selain warna yang tampak mendidih.


Danyang! Apakah ini penyambutan pertama yang disebut kesopanan? Niat kedatanganku baik, tapi jika makhluk sepertimu menganggap niat hatiku jahat. Jangan salahkan aku membawa Najwa keluar dari perjanjian kalian. Aku tidak mengancam, ini sekedar peringatan pertama dan terakhir.~batin pria muda itu hanya sekedar pengingat agar para makhluk tidak macam-macam.


Sambutan Danyang membuat Abil tidak tinggal diam sehingga dalam sekejap mata kubangan cairan hitam menghilang, lalu membebaskan kedua kali pria muda itu. Mungkin bagi manusia awam terlihat tidak ada yang aneh, tetapi melalui mata batin bisa melihat gangguan yang di dapatkan sebagai awal perjuangan.


Abil bergegas menuju ke ruang TU menemui salah satu guru yang bertugas. Pria muda itu menyampaikan niat dan tujuannya yang mengharapkan mendapatkan sebuah pekerjaan. Entah takdir atau bagaimana karena ternyata salah satu tukang kebun mengundurkan beberapa hari yang lalu sehingga ia langsung diterima tanpa harus menunjukkan ijazah pendidikannya.


Seperti biasa sebagai orang baru, maka guru TU mengajak Abil melakukan tour dadakan agar mengenali setiap sudut ruangan dan tempat-tempat yang akan menjadi tanggung jawab pekerjaan barunya. Dimulai dari ujung utara, lalu ke arah barat, kemudian ke selatan, barulah ke timur. Satu persatu ruangan ditunjukkan tanpa terkecuali, membuat pria muda itu merekam semua penjelasan ke dalam memori otaknya.


"Pak Nur, apakah area taman harus dibersihkan dua kali sehari?" tanya Abil begitu sampai halaman belakang sekolah yang merupakan taman dengan beberapa pepohonan meneduhkan.


Guru TU yang bernama Pak Nur menggangguk, lalu menunjukkan ke arah pintu lain yang tembus area sekolah bagian selatan. "Pastikan pintu itu selalu terkunci. Anak-anak sekarang suka sekali kabur di jam pelajaran. Mas Abil bisa mulai menyapu dan seperti yang sudah disepakati gaji akan diberikan perminggu. Apa masih ada pertanyaan?"


"Tidak, Pak. Semua sudah jelas, tapi jika sewaktu-waktu saya bingung, bagaimana?" sahut Abil berubah menjadi begitu polos dengan drama yang kini menjadi identitas keduanya.


"...,"


Pak Nur yang baru ingin menjawab pertanyaan Abil terhenti karena suara dering ponsel meraung mencuri perhatiannya. Benda pipih yang bersemayam di saku kemeja diambilnya, lalu diperiksa. Tatapan mata melotot dengan mulut melongo, "Saya pamit dulu, ada siswa kesurupan di kelas 11B."