
Obrolan tentang jodoh justru dialihkan ke wangsit. Dikira lagi cari jalan rezeki saja. Abil tak ingin ambil pusing atas pertanyaan sang kakak. Ia sadar bahwa saat ini prioritas utama adalah keluarga. Jika ada wanita yang masuk ke dalam hidupnya. Apakah sanggup menerima ia dan keluarga apa adanya?
Bagaimanapun situasi bisa memburuk tanpa aba-aba. Apalagi ia masih memiliki tanggung jawab melindungi keluarga terutama Najwa sang keponakan. Satu janji telah keluar dari bibir, maka kewajiban harus diutamakan. Bukankah itu salah satu ciri orang beriman?
Mobil yang melaju dengan kecepatan sedang mulai memasuki pedesaan. Dari gapura desa hanya memerlukan waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke pondok pesantren. Wilayah desa dengan persawahan nan luas ditumbuhi padi yang mulai menguning. Begitu besar nikmat atas rezeki yang selalu mengalir setiap musim.
"Abil, hentikan mobilnya di depan sana!" pinta Diana menunjuk sebuah pohon entah apa namanya, tapi batang meliuk menjorok ke area sawah terlihat sangat nyaman jika digunakan untuk tempat beristirahat sejenak.
Baginya, Diana adalah kakak perempuan hebat yang mengulurkan tangan tanpa diminta. Sebagai balasan atas kasih sayang yang selama ini dia dapatkan, maka menghormati wanita itu menjadi kebahagiaan hati tanpa syarat. Tanpa mengeluh, mobil menepi di area sempit pinggir jalan. Yah setidaknya kendaraan lain bisa lewat.
Diana turun ditemani Bella. Emir memilih tetap di mobil, sedangkan Abil dan Najwa ikut turun. Akan tetapi kedua insan itu berdiri terpisah dari kedua ibu yang ada di dekat pohon meliuk. Tatapan mata menerawang ke angkasa. Seakan paham apa yang menjadi kegundahan hati, Najwa mengubah posisi hingga menghadap Abil, sang paman.
"Apakah paman memikirkan keanehan yang terjadi di kantor Ka Gala? Jujur saja, aku iya." ucap Najwa tanpa sungkan mengutarakan isi pikiran yang memang persis dengan keraguan hati pria muda itu.
Diamnya sang paman, membuat gadis itu menggoyangkan lengan Abil. "Paman! Jangan begini, apa masih marah soal di sekolah? Aku kan sudah minta maaf dan menerima keputusan ...,"
"Bukan soal itu, Najwa. Aku sedang berpikir tentang masa lalu. Siapa tahu menemukan sebuah petunjuk dari apa yang saat ini terjadi. Jangan su'udzon." sela Abil menghentikan keraguan gadis belia itu agar tidak salah paham akan dirinya.
Kenangan semasa kuliah bersama sang teman. Gala merupakan kakak kelas alias seniornya, tapi jiwa muda dan humble membuat pria satu itu dikenal banyak orang. Termasuk menganggap ia sebagai salah satu orang yang dihitung masuk ke dalam dunia hingar bingar sang casanova. Si tampan pemikat hati kaum hawa.
Tidak ada kenangan yang memiliki kesan janggal. Apakah benar demikian? Ia pun tidak bisa menemukan satu celah yang bisa menjadi titik terang. "Sepertinya, kita harus bersabar. Ajak kembali Bunda Bella dan Diana masuk ke dalam mobil. Di luar tidak aman."
Dari kejauhan sepasang mata menatap tajam mengawasi kedekatan Abil dan Najwa. Kedua manusia itu terlihat semakin akrab satu sama lain, tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatian. Sebuah gelang di tangan si pria muda berpendar cahaya putih, ungu, merah bahkan juga jingga.
"Akhirnya ku temukan jimat pengikat sukma itu, tapi siapa pemuda asing itu? Apa jodoh dari anak pemimpin pondok pesantren?" tanyanya pada diri sendiri hingga semua orang kembali masuk ke mobil.