
Abil. Ingatkah kalian pada adik dari Bella? Yah, dia si kecil yang melihat Pangeran Iblis Lucifer tanpa rasa takut. Anak itu telah tumbuh dewasa bahkan ketampanannya bisa membius kaum hawa tanpa harus merayu ala pria tukang cari perhatian. Sikap tenang, tatapan mata ceria dengan bibir menggoda bak kelopak mawar.
Sudah begitu lama, sejak kepergiannya karena dikirim ke Kairo tanpa bisa melakukan perlawanan. Kini hanya bisa bersyukur atas karunia yang ia rasakan. Bagaimanapun perjalanan hidup tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Langkah kaki mengikuti setiap jejak yang dulu ia tinggalkan.
"Ka, selama ini dan tidak ada yang berubah? Kecuali pepohonan yang semakin tinggi bahkan berbuah lebat. Wow banget," Abil kagum melihat semua yang ada di area pondok pesantren. Kerinduan selama bertahun-tahun akhirnya terobati, "Dimana Ka Bella? Aku tidak sabar memberi kejutan."
Antusiasme sang adik membuat Azzam ikut bahagia. Entah kenapa hatinya merasa ada perubahan arah angin yang menghantarkan kedamaian. Apakah itu karena kedatangan Abil? Ia pun tidak tahu, semua masih misteri tetapi tidak dengan kenyataan yang ada di depan mata.
Azzam mempersilahkan Abil memasuki rumah mereka, "Assalamu'alaikum, Bunda, Wawa, Emir. Kemarilah!"
Suara panggilan tegas, jelas tanpa ada paksaan yang bergema mengalihkan perhatian ketiga insan dari ruang keluarga. Mereka yang berkumpul menunggu Azzam bergegas keluar dari ruangan, lalu berjalan menghampiri ruang tamu. Dimana sang kepala keluarga duduk bersama seseorang.
Posisi duduk membelakangi, membuat ketiga insan itu masih belum menyadari keberadaan Abil yang sengaja ingin memberi kejutan pada kakaknya. Sehingga di saat langkah kaki terdengar semakin mendekat, barulah ia beranjak kemudian berbalik. Tatapan matanya penuh kerinduan menatap haus kasih sayang seorang kakak.
Najwa dan Emir saling pandang, sedangkan Bella tertegun mendapati Abil berdiri di hadapannya. Wajah mungkin berubah, tubuh bisa membesar, tetapi senyuman manis dengan tatapan penuh pengharapan itu? Hanya milik adiknya seorang. Abil separuh napas yang terpisah dari pelukan tanpa belas kasihan.
Wanita berhijab hitam pemilik senyum indah yang selalu ia kagumi menghamburkan diri memeluknya tanpa permisi, "Aku merindukanmu selalu. Andai ibu ada bersama kita ... Maaf, Ka. Katakan bagaimana kabarmu?"
Bagaimana ia bisa membuka luka lama? Ketika kehidupan saat ini lebih dari kata baik. Kenyataannya semua berjalan tanpa ada rintangan seperti kehidupan masa kecilnya. Pertemuan pertama setelah sekian tahun semakin terasa hangat karena setiap anggota keluarga memiliki kesempatan berkenalan satu sama lain.
Setelah beberapa waktu bercengkrama membicarakan hal sederhana. Azzam meminta Emir untuk mengantarkan Abil ke kamar lain yang memang menjadi hak pria muda itu, sedangkan Bella dibantu Najwa menyiapkan cemilan ringan di dapur. Keluarga kecil itu sibuk menghabiskan waktu, bahkan saking sibuknya tak menyadari kegelapan datang menyapa.
"Bunda, Wawa mau tanya sesuatu, apa boleh?" Najwa memasukkan kentang goreng ke dalam toples, lalu ia meracik bumbu bubuk yang bisa menambahkan cita rasa si kentang.
Rasa penasaran yang tinggi sang putri memang menurun darinya. Ia paham harus lebih berhati-hati dalam menyikapi sekecil apapun pertanyaan dari Najwa. Tanpa banyak kata, tangan terulur sudah cukup menjadi jawabannya. Gadis itu meletakkan toples setelah menutup dengan rapat.
Tatapan mata tenggelam menatap gelapnya malam menembus jendela kaca yang masih terbuka tanpa tirai penutup. "Bagaimana cara Bunda bertahan ketika berhadapan dengan dia? Apakah pengorbanan memang diharuskan? Wawa berpikir berulang-ulang, tetapi tidak ada jawaban. Masa lalu Bunda seakan diselimuti kabut bayangan. Samar tanpa kepastian."