Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 47: Tak Bisa Kembali


Tidak ada kata yang mampu terucap selain rasa prihatin akan hancurnya kehidupan Delisa. Ia tak menyangka satu perpisahan berakhir menjadi neraka untuk sang mantan kekasih. Kemana hati baik wanita itu pergi? Sungguh sakit melihat perubahan yang tidak sesuai harapan.


Hanya hitungan tahun di dunia manusia yang Ia pikir akan menjadikan Delisa sebagai wanita seutuhnya. Seperti melupakannya, lalu menemukan seorang pria untuk menjadi pendamping hidup. Mungkin seharusnya memiliki satu atau dua anak yang menggemaskan.



Sekarang? Semua seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Hati tak mampu berbohong ia menjadi penyebab utama kehancuran Delisa. Hanya saja, bagaimana dengan hari ini? Ia tak mungkin melanggar aturan kerajaannya agar bisa mengubah kehidupan seseorang.



Jangan tanya tentang cinta karena sejak perpisahan. Hanya ada tanggung jawab seorang raja tanpa keegoisan. Apalagi kini ia memiliki istri dan juga putra. Bagaimana menjelaskan semua itu kepada Delisa? Hati bahkan tak sanggup bertemu sang mantan kekasih.



Tanpa sadar rasa yang terpendam kembali hadir menyergap hati nan terbengkalai. Semribit aroma wewangian yang familiar mengalihkan perhatiannya. Aroma candu dari sang mantan kekasih. Sejenak memejamkan mata menghirup perubahan suasana di dalam rumah keramat.



"Delisa Anastasya." panggilnya tanpa sadar.



Suara lirih mengalun indah bergema menyusup hingga menyentuh hati sang mantan kekasih. Seulas senyum kebahagiaan menghiasi wajah bersambut irama detak jantung tak beraturan. Ikatan hati tak mampu bersembunyi walau keras kepala mengharapkan perpisahan.



Diraihnya gaun putih dengan aksen mutiara kesukaan Gael. Tubuhnya berbalut pakaian normal setelah sekian tahun melupakan, "Kekasihku, datanglah dan temaniku dalam peraduan waktu. Aku menunggumu sebagaimana seharusnya. Pangeranku."



Ketika dua hati saling mencintai, lalu kenapa ada perpisahan? Tentu karena takdir. Apalagi kisah cinta dua alam yang memiliki kodratnya masing-masing bahkan kisah cinta beda agama saja harus dihentikan kecuali salah satu mengalah untuk ikut pindah keyakinan.



Namun dalam islam, tidak dianjurkan untuk berpindah agama. Meskipun saat ini banyak umat muslim yang hanya islam KTP. Bukan berarti bisa bertindak sesuka hati. Meskipun demikian, sebagai bentuk hak asasi manusia. Maka tidak seorangpun berhak menilai kehidupan seseorang.


…...وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ


…...Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka itulah amalannya yang sia-sia di dunia dan di akhirat, dan mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS Al Baqarah ayat 217).


Atas dasar apapun. Ingatlah bahwa apa yang orang lain alami tidak sama seperti kehidupan pribadi kita. Bisa saja ujian hidupnya lebih berat, atau lebih ringan. Namun ketetapan Allah SWT tak seorangpun mampu menggugat. Sebagai takdir yang telah digariskan.




Suara Delisa terdengar begitu jelas menyambut kedatangannya. Ia tahu, wanita itu masih mencintai bahkan merindukannya seperti dulu. Lalu apa yang akan terjadi? Jika mereka bertemu kembali. Harapan yang selama ini terpendam bisa saja tumbuh kembali. Kemudian bagaimana akhirnya?



*Delisa, maafkan aku. Kehadiranku hanya akan lebih menyakitimu, maka lebih baik kita tetap berpisah. Berbahagialah, kuharap seseorang datang menyelamatkan kehidupanmu.~kata hati Gael seraya mengedipkan mata, membuat wujudnya secara perlahan memudar melebur menjadi serpihan cahaya*.



Tak peduli seberapa besar cinta di dalam hati. Kesadaran dan tanggung jawab menjadi tujuan kehidupannya saat ini. Walaupun begitu, ia tidak mungkin tinggal diam. Esensi yang berpindah tempat mengubah arah tujuan Gael. Sang raja iblis menjelajahi alam manusia hingga merasakan energi putranya.



Bangunan yang ia kenal meski hanya sekali pandang. Tatapan mata menelusuri seluruh penjuru tanpa ada penghalang. Akan tetapi kenapa ia merasakan ada energi lain uang begitu familiar? Aura kekuatan batu permata milik kerajaan iblis. Apakah itu mungkin?



"Salam, Baginda Raja." sapa Lucifer yang muncul di depan Gael begitu saja seakan terpanggil tanpa panggilan.



Gael merentangkan kedua tangannya, "Kemarilah, Nak. Ayah merindukanmu."



Dekapan hangat sesaat melepaskan rindu antara ayah dan anak. Kedua pria yang memiliki wajah hampir mirip tetapi rambut berbeda. Meski begitu, tak satupun makhluk berani menilai karena mereka keluarga kerajaan. Apalagi keadaan alam gaib semakin lebih baik tanpa ada pertempuran.



"Ayah datang ke dunia manusia. Apa karena merindukanku?" tanya Lucifer begitu melepaskan pelukan.


Pertanyaan Lucifer terabaikan ketika tatapan matanya tak sengaja melihat siluet wajah yang tak asing. Wajah manis dengan penampilan yang lebih anggun. Senyumnya masih sama tetapi kenapa orang-orang masa lalu bermunculan secara keseluruhan? Sungguh ia sendiri tidak tahu.


"Nak, katakan pada Ayah. Nama siapa yang tertera di dalam pita perjanjian?" tanya Gael karena dia sendiri menyegel semua pita demi kepentingan bersama sehingga tidak akan mencapuri urusan para penolong.