
Baru saja ingin mengatakan apa yang menjadi pantangan penghancur ikatan batin dari cincin leluhur. Tiba-tiba para dayang datang mengatakan bahwa makanan sudah disiapkan. Sontak saja Ela meminta agar suaminya melanjutkan nanti dan mereka bisa menjamu para perwakilan rakyat yang datang ke sidang hari ini.
Rakyat alam gaib menerima keramahtamahan sang penguasa, sedangkan di dunia manusia obrolan serius sepasang pria yang duduk di ruang tamu apartemen baru dimulai. Dimana sang tuan rumah memberikan tiga buku diary yang ditulis oleh pasiennya selama masa perawatan.
"Catatan beliau setiap kali selesai melakukan perawatan dan saya tidak berhak untuk membukanya. Apalagi membaca, tapi saudara Azzam adalah putra beliau. Sehingga saya serahkan semua ini pada Anda." tutur Dr. Omar. Pria itu tampak begitu tenang dan sangatlah sabar.
Diambilnya salah satu buku diary berwarna putih semburat jingga yang ada di tumpukan paling atas. Ia ingat kapan membeli setiap buku yang memang diminta abi pada waktu itu. Lalu dibukanya dengan mengucapkan basmalah, kemudian tanpa permisi fokus memulai bacaan setiap kata yang tertulis menjadi bait curahan hati.
Halaman demi halaman beralih tanpa memperdulikan waktu. Kesibukan Azzam membaca diary sang ayah, membuat Dr. Omar meninggalkan tamu nya sendirian di ruang tamu. Sementara ia pergi ke dapur menyiapkan makanan dan minuman yang bisa dihidangkan.
Seperti saling berjanji untuk tidak mengganggu satu sama lain. Kedua pria itu melakukan tugas masing-masing. Sementara di Indonesia tepatnya di pondok pesantren tiba-tiba anak-anak pondok datang berkunjung ke rumah utama. Mereka rindu mendengar cerita dari Najwa.
Sontak saja, Bella membiarkan putrinya untuk ikut duduk bergabung bersama anak-anak di ruang tamu. Kali ini, Najwa membawa sebuah buku novel yang baru saja dibuka segelnya. Novel dengan judul seratus satu kisah perjalanan sang pengembara. Kisah yang bisa dijadikan suri tauladan bagi seluruh umat manusia.
Suara lembut terdengar memenuhi ruang tamu, membuat anak-anak antusias menyimak dongeng kali ini. Emir yang membiarkan pintu kamarnya terbuka setengah juga ikut mendengarkan meski terkadang terdengar samar. Berbeda lagi dengan Abil. Dimana pria muda satu itu masih menenangkan pikiran dengan melakukan yoga di atas ranjang.
Mata yang terpejam dengan pendengaran yang lebih tajam. Ia sengaja menutup mata batinnya selama proses yoga berlangsung, tapi hatinya masih berdzikir tanpa henti. Ketenangan yang mulai mencapai titik pencerahan. Perlahan tapi pasti ia merasakan aura sekitar tempatnya duduk bersila.
Jangkauan semakin menjauh hingga merasakan energi yang bentrok di sekitar rumahnya. Ia tahu bahwa kakak iparnya kembali memberikan benteng perisai karena semalam sempat hancur akibat teror yang keluarga alami. Jadi apapun yang terjadi, sang kakak tahu hanya saja tidak bisa datang secara fisik.
Sayup-sayup terdengar suara rintihan tangis kesedihan yang mengusik konsentrasinya. Suara itu benar-benar datang di saat yang tidak tepat. Sehingga meditasi kali ini tidak bisa lebih jauh lagi, "Ku pikir rumah ini lebih aman dari rumah ku yang dulu. Ternyata para makhluk bukan mendiami rumah, melainkan mengikuti para pemilik perjanjian yang masih bernapas."
"Apa itu berarti incaran kali ini masih Ka Bella? Jika benar, bukankah ada kejanggalan yang terjadi selama beberapa kejadian. Sepertinya aku harus bertanya pada kakak. Apa selama aku di Kairo terjadi hal diluar nalar atau semua baru saja kembali." gumam Abil bermonolog pada dirinya sendiri.
Niat hati ingin beranjak dari tempatnya, tapi suara sering ponsel mengalihkan perhatiannya. Benda pipih yang tergeletak di sisi kiri jelas menunjukkan sebuah nama yang tidak asing. Digesernya icon hijau untuk menerima panggilan, ia sengaja menyalakan speaker agar tidak perlu memegang si ponsel.
"Assalamu'alaikum, ada yang bisa kubantu?" sambut Abil tanpa basa-basi karena hati masih meragukan Si penelpon.
Sebuah bungkusan kain hitam tergeletak di atas meja dan tidak ada yang mendekati. Apalagi mencoba untuk memeriksa isi dari kain tersebut. "Jika maksudmu lukisan penginapan di tepi danau. Bener ada di aku. Kenapa? Lukisan itu mengancam nyawa keluargaku."
\[*Aku bakal cerita semuanya, tapi pastikan lukisan itu gak lari lagi. Taruh di tengah tiga lilin yang membentuk segitiga. Lalu tutup dengan kain hitam yang sudah terkena percikan air suci. Aku langsung on the way ke pesantren.\] ~balas Gala langsung mematikan panggilannya*.
Pria itu buru-buru mengambil kunci mobilnya. Langkah kaki yang berjalan tanpa peduli dengan panggilan para karyawan. Semua mata yang memandang heran dengan tingkah sang bos yang seperti orang kesurupan. Padahal masih sadar tanpa ada gangguan.
Mobil melaju di jalanan dengan kecepatan maksimum. Fokusnya tidak bisa diusik dengan suara bisikan-bisikan yang terus mencoba untuk mempengaruhinya agar tidak meneruskan niat hati. Kilatan cahaya yang terpantul di balik punggung seketika memudarkan semua suara yang langsung senyap.
Empat puluh menit perjalanan terasa begitu singkat hingga mobil memasuki gapura pondok pesantren. Area parkir yang luas, membuat Gala bebas meletakkan mobilnya dimanapun selama tuh lahan kosong. Kemudian ia berlari menuju kediaman rumah keluarga Azzam. Satu langkah kaki terangkat berniat menaiki tangga depan rumah. Tiba-tiba ...
Tubuhnya terhempas ke belakang membentur batang pohon mangga ukuran sedang tanpa sandaran, Gala terbatuk membuat anak-anak yang baru keluar dari rumah kediaman Azzam berteriak histeris. Pasalnya mereka melihat seorang pria dengan wajah tampan tetapi mulut mengalirkan warna merah segar.
Bella yang berniat keluar, justru dicegah Abil. Sejak kapan adiknya berdiri di sebelahnya? Ternyata bukan hanya ia karena tangan Najwa juga dicekal. "Tetap di dalam rumah! Berkumpulah di kamar Emir dan ajak Ka Diana."
"Paman!" Gadis belia itu berniat protes, sayangnya sang bunda langsung menarik tangan agar menurut saja.
Hatinya berkata apapun yang akan terjadi. Abil tahu harus bertindak seperti apa. Selain itu, di antara mereka semua. Hanya adiknya yang bisa bertanggung jawab dan membuat keputusan yang tepat. Tentu setelah Mas Azzam, maka dari itu sang suami tidak begitu khawatir karena ada pria dewasa yang bisa mengayomi.
Setelah memastikan semua anggota keluarga masuk ke dalam kamar. Abil berjalan meninggalkan ruang tamu. Pria itu ingin melihat apa yang menghalangi Gala masuk kedalam rumah keluarganya. Jelas perisai digunakan untuk menangkal para makhluk yang memiliki esensial berbeda jiwa.
"Anak-anak, kembalilah ke pondok! Jangan takut, Kakak akan melihat dari sini memastikan kalian aman." ucap Abil memberikan semangat pada para santri yang mengangguk, lalu saling bergandengan tangan.
Langkah kaki menuruni anak tangga, "Assalamualaikum, Ka."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Hati-hati, Nak!" jawab Abil melambaikan tangannya, tetapi tatapan mata tertuju pada Gala yang masih memilih duduk menikmati rasa nyeri di ulu hati. "Apa kita harus bicara seperti ini?"