Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 38: Kepergian Abi


Ditengah rasa terkejutnya, tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahu. Ketika ia menoleh, "Astagfirullahaladzim, kenapa ngagetin?"


Seorang pria dengan kepala tertutup kopiah putih tersenyum samar seraya mengerlingkan mata. Pria itu mengkode Gala untuk melihat ke arah sosok yang baru saja mengganggu. Begitu berbalik, tatapan mata tak menemukan jejak dari makhluk gaib tersebut. Lalu kemana perginya si makhluk?


Rasa penasaran kian meningkat tetapi ketika ingin bertanya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggilnya dari arah dalam sebuah kamar di depan sana. Anehnya ia merasa bebas seakan tidak ada yang memegangi pundaknya lagi. Sekali lagi menoleh ke arah belakang ...,


"Astagfirullah, kenapa jadi mistis begini? Tadi si makhluk, sekarang si bapak yang hilang. Meskipun sudah terbiasa bersinggungan dengan para makhluk. Tetap saja jantung tidak aman. Sudahlah, sebaiknya aku menghampiri keluarga Abil." gumam Gala seraya menormalkan detakan jantung yang lari marathon.


Ketegangan pria itu menjadi rasa miliknya seorang, sedangkan di belahan bumi lain. Tatapan mata ayah dan anak saling bertautan memancarkan kasih sayang. Setelah beberapa waktu hanya ada keheningan, tiba-tiba tangan Abi melambai pelan meminta Azzam agar mendekat.


Tidak ada kata selain tatapan mata sendu menahan rasa sakit di dalam tubuhnya. Selama ini, ia berpikir sanggup menyembunyikan tentang penyakitnya tetapi ternyata takdir berkata lain. Tubuh tak mampu menahan derita yang kian melemahkan raga.


"Assalamu'alaikum, Abi. Azzam datang untuk menjemput Abi pulang. Katakanlah, mana yang sakit?" Sentuhan lembut merengkuh tangan keriput yang selama ini mengayomi tanpa peduli terik matahari.


Jangan tanya bagaimana perasaannya ketika melihat kondisi sang ayah tercinta begitu lemah. Apalagi kehidupan yang ditopang alat-alat medis. Situasi semakin memburuk karena penyakit sudah tidak bisa diobati lagi. Sesak tak karuan akan kenyataan tersebut. Kenapa ia baru tahu sekarang?


Hatinya menyesal telah lalai memperhatikan kesehatan sang ayah. Meski ia sadar Abi menyembunyikan penyakitnya dengan rapat agar tidak mengganggu tanggung jawab sebagai penanggung jawab keluarga. Kini yang tersisa saling mendukung agar bisa melewati semua kesulitan bersama-sama.


"Nak, jangan melemah! Pundakmu menjadi sandaran semua orang, maka tetaplah tegak dengan keyakinan hatimu." Suara lirih yang menyayat hati masih berusaha menguatkan sang putra tunggal.


Lemas tak bertulang ketika suara lembut Abi menyapa gendang telinganya. Rasa takut yang kian menyerang mencoba melepaskannya. Hati berusaha ikhlas tuk menerima takdir Allah. Diusapnya ubun-ubun sang ayah seraya membisikkan do'a kesembuhan hingga tanpa sadar air mata jatuh membasahi kedua pipi.


Suara lembut lantunan ayat suci Al-Quran nan merdu mengantarkan ketenangan bersambut gumaman bibir nan pelan. "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah ...,"


Helaan napas terakhir mulai meninggalkan kerongkongan begitu pelan. Sang ayah telah berpulang membuat suara dari layar monitor berdetak tak karuan sontak menyentak kesadaran Azzam. Tubuhnya terhuyung ke belakang, "Innalillahi wainnailaihi rojiun. Azzam ikhlas melepaskan Abi sebagaimana takdir Illahi. Selamat jalan ayah ku sayang. Kamu lelaki terhebat sepanjang hidupku."


Allaahummaghfir lahu warham hu wa'aafi hii wa'fu anhu wa akrim nuzulahu wa wassi madkholahu wahgsil hu bilmaai wats-tsalji walbarodi wanaqqi hi minal khothooyaa kamaa yunaqqots tsaubul abyadhu minaddanasi wa abdil hu daaron khoiron min daarihi wa ahlan khoiron min ahli hi wazaujan khoiron min zaujihi wa adkhil hul jannata wa'aidz hu min adzaabil qobri wa fitnati hi wa min adzabin naar.


Artinya: "Ya Allah, ampunilah, rahmatilah, bebaskanlah dan lepaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah dia. Dan muliakanlah tempat tinggalnya, luaskanlah jalan masuknya, cucilah dia dengan air yang jernih lagi sejuk, dan bersihkanlah dia dari segala kesalahan bagaikan baju putih yang bersih dari kotoran.


Kepergian sang ayah, membuat Azzam tak menunda waktunya. Pria itu mengurus kepulangan mereka berdua tanpa menunggu konfirmasi para dokter karena semua sudah diatur oleh dokter utama. Penerbangan pertama di hari yang sama menjadi pilihan tetapi mengingat situasi yang ada. Ia sengaja tidak mengabari orang rumah terlebih dulu.


Delapan jam kemudian. Pesawat mendarat di bandara internasional. Dimana Azzam tak menyangka pihak rumah sakit telah menyiapkan segala sesuatunya begitu tiba di Jakarta. Iringan mobil ambulans terdengar membelah jalanan malam. Kerlap kerlip lampu tak mengurangi rasa sedih di hati seorang anak yang kehilangan sandaran.


"Minumlah! Seharian kamu tidak makan apalagi meneguk barang setetes air. Tubuhmu membutuhkan asupan meski hanya sekedar seteguk air hangat." Botol air minum berwarna hitam disodorkan dalam keadaan setengah terbuka, tapi Azzam enggan menerimanya.


"Aku masih baik-baik saja." jawab pria itu, lalu memilih memejamkan mata mengabaikan tangan yang berniat baik padanya.