Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 15: KESURUPAN


Satu kata *Kesurupan* dari Pak Nur, membuat Abil ikut berlari menyusul si guru TU. Pria muda itu tak ingin ketinggalan apapun yang terjadi di sekolah tersebut karena itu bisa dijadikan sumber informasi untuk langkah selanjutnya.


Kelas 11B, para siswa berkumpul di luar kelas, begitu juga dengan guru yang mengajar. Dari jendela bisa terlihat dimana di dalam kelas lima siswa mengalami kerasukan dan tidak seorang pun berani untuk masuk, maka jalan terakhir mengunci kelas dari luar. Langkah kaki Pak Nur yang mendekat mengalihkan perhatian semua orang sehingga memberikan jalan untuk guru tersebut mencapai depan pintu.


Namun Abil memilih untuk berdiri agak jauh dari kerumunan. Pria itu mengamati sekitarnya yang ternyata hanya memiliki energi negatif. Jika para siswa masih ditempat yang sama, bisa jadi akan ada kesurupan massal. Akan tetapi melihat situasi, ia hanya bisa membantu membentengi pagar ilusi yang memisahkan dua dunia.


Lantunan doa dia panjatkan dari dalam hati, perlahan mata batinnya terbuka sehingga melihat suasana ramai bak pasar malam di sekeliling tempatnya berdiri. "Astagfirullah,"


Betapa riskan tempat bangunan sekolah itu dibangunnya. Kini ia paham kenapa Najwa bersikeras untuk membantu Danyang. Semua itu karena tiga putaran angin yang menyatu menjadi tempat kesukaan para makhluk gaib. Secara tidak langsung, Danyang mendapatkan serangan dari berbagai pihak yang hanya ingin memanfaatkan wilayahnya.


Kelima siswa yang kesurupan mulai ditangani Pak Nur. Hanya saja guru itu berusaha untuk mengeluarkan makhluk tak kasat mata secara paksa sehingga mendapatkan perlawanan. Abil tak bisa membiarkan keadaan semakin larut, apalagi energi negatif semakin bertambah. Tiba-tiba ia melihat Emir diantara kerumunan.


Sang keponakan yang ternyata juga memilih berdiri agak jauh dari tempat kejadian. Tatapan mata saling bertemu, membuat Abil melambaikan tangan agar remaja itu menemuinya. Benar saja Emir mengangguk paham, lalu berjalan melipir agar bisa datang ke hadapannya.


"Ka Abil, kenapa disini?" tanya Emir, tapi Abil mengabaikan pertanyaan dan justru membisikkan sesuatu padanya. Tatapan mata mengerjap mencoba mencerna apa yang diinginkan sang paman. "Apa itu tidak berbahaya? Ka, bagaimana aku melakukan itu?"


"Lakukan saja! Kita harus cepat alihkan perhatian semua orang." Abil meyakinkan remaja itu untuk melakukan sarannya, meski ia paham bahwa keputusan itu terlalu sulit untuk dilakukan.


Manusia selalu memiliki akal sehat, tapi emosi seringkali mempengaruhi logika tanpa diminta. Emir mengangguk menyepakati permintaan sang paman, pemuda itu kembali ke kerumunan. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan menyerang, lalu bersarang mengendalikan tubuh si remaja. Kali ini, Abil harus menggunakan makhluk miliknya sendiri.


Emir yang kesurupan membuat para siswa lari kocar-kacir, bahkan guru yang ada di luar ikut panik. Sementara Pak Nur yang masih berusaha di dalam langsung ke luar melihat apa yang terjadi karena terdengar begitu bising. Pria itu terbelalak karena Emir juga ikut kesurupan, bagaimana bisa? Ternyata masalah kali ini lebih berat dari biasanya.


Tak seorangpun melihat esensi Abil yang berjalan melewati satu persatu manusia di sekitarnya. Pria muda itu berhasil masuk ke dalam kelas. Tatapan mata tenang tanpa keraguan mencuri perhatian para makhluk tak kasat mata yang menghuni raga kelima siswa. Apa kalian ingin tahu wujud asli dari setiap makhluk?


Seorang siswi yang berambut panjang dirasuki makhluk penunggu pohon asam. Makhluk dengan baju putih lusuh, mata satu berlubang mengeluarkan cairan hitam. Tubuh kering kerontang dengan jalan bengkok. Dialah simbak kun ngesot yang sangat suka mengerjai orang-orang ketika jalan lewat bawah rumahnya.


Siswa kedua seorang remaja laki-laki dengan wajah polos berkaca mata. Makhluk yang mendiami pemuda itu terlihat sangat kalem dengan pakaian seragam sekolah dipenuhi bercak darah, tetapi ketika murka bisa menerkam siapapun yang dijadikan persembahan. Sepertinya hantu yang tersesat atau sengaja disesatkan.


Siswa ketiga, apa yang bisa dikatakan? Makhluk itu sibuk menggaruk tembok menggunkan kedua tangan manusia yang dimasukinya. Sesekali berteriak melengking menunjukkan eksistensi keberadaannya memang nyata, membuat Abil semakin melantunkan doa keselamatan.


Satu langkah, demi langkah mendekat ke arah siswa ke empat yang sibuk termenung menundukkan kepala dengan rambut menutupi wajah. Abil berhenti dengan jarak menyisakan tiga langkah, "Assalamu'alaikum, apa mau kalian? Kenapa harus melakukan semua ini? Bukankah dunia kira berbeda?"


"Mati! Mati! Mati!" jawab siswa ke empat dengan wajah semakin disembunyikan.


Mati. Siapa yang dimaksud oleh makhluk itu? Di sekolah itu banyak orang yang pasti tengah melakukan kegiatan belajar mengajar, lalu petunjuk apa yang ingin disampaikan melalui satu kata yang sama itu? Abil berpikir keras untuk menemukan jawaban, tapi tiba-tiba teralihkan suara cekikikan menyeramkan dengan tangan terangkat siap menerjang.


Tanpa berpikir, ia menjatuhkan diri, kemudian berguling menyelamatkan diri sendiri karena makhluk itu melompat ke arahnya. "Alhamdulillah, kenapa kamu menyerangku? Apa salahku?" Pertanyaan demi pertanyaan yang semakin menyudutkan para makhluk gaib, membuat Abil semakin penasaran.


Namun suara yang bergema justru lagu kematian yang terus diucapkan tanpa henti oleh kelima siswa yang mengalami kesurupan. "Mati! Mati! Mati!"