Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)

Jerat Karma 2 (Najwa Humaira)
Bab 21: Keraguan?


Ruangan penyimpanan barang. Di ruang tersebut Gala menyerahkan sebuah paket milik Abil yang masih terbungkus dengan rapi. Kain merah gelap menjadi penutup sesuatu yang berukuran tiga puluh sentimeter kali empat puluh lima sentimeter. Apa itu? Hanya sang pemilik yang tahu.


Pada akhirnya, pria muda itu mendapatkan barangnya kembali, hanya saja ia tidak mungkin menunjukkan pada yang lain. Tak ingin menimbulkan kecurigaan. Barang itu diletakkan ke bagasi mobil, barulah ia kembali menemui keluarganya diruang Gala.


Ternyata sang teman sudah duduk ngobrol bersama Emir. Terlihat akrab dan juga nyambung, sepertinya? "Ka, mau pulang kapan? Ka Azzam barusan telfon dan bilang harus menjemput Abi."


"Apa?" tanya Bella tak paham, tetapi wanita itu buru-buru mengambil ponsel yang bersembunyi di balik saku gamisnya.


Sang suami mengirimkan pesan dan juga ada notifikasi panggilan tak terjawab. Kebiasaannya membiarkan ponsel dalam mode hening seketika ia menyayangkan hal itu, "Astafirullah, Mas Azzam juga menghubungiku, tapi HP silent."


"Bunda, emang Abi gak bilang apa-apa semalam?" tanya Najwa merasa sedikit heran, karena selama ini Abi selalu berbicara segala sesuatunya pada sang ibu kecuali kenyataan yang dihadapinya.


Sepertinya kepergian Azzam sangat mendadak dan tidak bisa ditunda walau hanya sekejap. Apa yang terjadi? Ia pun tidak tahu, tapi bisa paham akan situasi emergency. Selama ini tidak ada alasan untuk meninggalkan keluarga tanpa penjelasan yang pasti.


"Sudah tidak apa. Kakek kalian lebih membutuhkan Abi, jadi kita pulang saja. Diana juga harus istirahat." putus Bella menyudahi rasa penasarannya, lalu beranjak dari tempat duduk, kemudian membantu Diana yang terlihat kelelahan.


Abil tak ingin mengulur waktu lebih lama lagi, sontak saja ia berpamitan pada Gala. Kedua teman lama itu telah membuat janji temu agar bisa menghabiskan waktu bersama lagi. Lambaian tangan mengiringi mobil yang keluar dari parkiran depan cafe. Begitu tak lagi tampak, owner bergegas masuk ke dalam menuju ruang kerjanya.


Langkah kaki terhenti di depan meja kerja dengan tatapan tertuju ke dinding kosong. Seingatnya di bagian dinding itu ada pajangan sebuah lukisan, tapi sekarang kemana? Ia bingung memikirkan perginya si lukisan. Padahal tidak ada kaki, lalu bagaimana bisa menghilang?



Rasa ragu akan keluarga Abil juga tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi melihat situasi yang ada, Gala segera membuka laptop di atas meja. Kemudian memeriksa rekaman CCTV. Fokus yang tertuju pada layar hingga melupakan sekitarnya. Pria satu itu larut mengamati segala sesuatunya.



Sementara yang dicurigai tengah menikmati perjalanan dengan jendela sedikit terbuka. Semilir angin menjelang sore berembus menyapa wajahnya, "Ka Bella! Jangan ngalamun, tidak baik loh. Ka Azzam pasti balik cepet kok."




"Bel, harus secepat itu, ya? Abil masih muda, loh. Kasianlah kalau nikah muda kaya kita." sahut Diana mencairkan suasana.



Padahal yang nikah muda hanya Bella, sedangkan ia menikah setelah selesai kuliah bahkan sudah menikmati dunia pekerja selama dua tahun. Barulah menemukan jodoh sesuai harapan. Meski begitu ia dan Bella hanya ada kebersamaan sebagai keluarga.



Abil terkekeh karena pertanyaan kakaknya terlalu ambisius. Jika diingat lagi, dia tidak memiliki waktu untuk mengenal gadis manapun. Seluruh waktu sudah digunakan sebaik mungkin dengan penelitian dan kegiatan yang lebih berfaedah.



Pria muda itu menggelengkan kepala pelan, "Ka, please ya. Jodoh akan datang tanpa harus diuber seperti cari wangsit."


.


.


Hari ini update 1 dulu, ya.


Rl lagi tidak memungkinkan. 😐