
Alex buka masker dan mengukir senyuman yang tentu saja mengerikan. Wajah membiru Alex di sambut Ariska dengan pelototan. Bukan perasaan iba saat melihat itu. Malahan sebaliknya, ia hanya takut kalau yang di katakan gadis berpenampilan eksentrik semalam adalah benar—kalau Alex adalah pedofil.
"Bapak jangan deket-deket." Ariska tarik tangannya dari genggaman Alex. Namun Alex tentu saja tak melepaskan. Tangan kanannya makin erat menggenggam sedangkan tangan kiri merangkul pundak Ariska seraya sedikit mengusapnya. Ariska merinding. Ia berusaha menepis tapi kedua belah tangannya digenggam kuat oleh Alex.
Alex masih tersenyum. "Kamu jangan takut, saya cuma mau menguatkan kamu. Saya cuma mau menghibur kamu. Parcayalah, perceraian bukan akhir, bukan kiamat. Ingat, sebelum menjadi ayah atau ibu, kedua orang tuamu itu adalah makhluk individu. Kalau mereka memutuskan untuk berpisah, kamu harusnya mendukung. Itu demi kebahagiaan mereka. Nanti setelah dewasa kamu akan mengerti apa itu cinta dan kenyamanan."
Sumpah, Ariska makin takut, ingin rasanya teriak. Alih-alih tenang akan nasihat Alex, gadis dengan rambut terkucir itu makin ketakutan. Keringat dingin bahkan sudah keluar dari pori-pori.
Menarik tangannya dengan paksa, Ariska gemetar luar biasa. Bibirnya kelu dengan tubuh yang juga sudah terasa beku.
"Saya itu sayang sama kamu. Kamu masih muda, masa depan masih panjang. Jadi saya harap kamu gak ngelakuin hal yang akan kamu sesali, nanti." Alex menjeda kata sejenak. Tatapan matanya beradu dengan Ariska. "Anak gadis itu harusnya berperilaku baik, manis, penurut. Gak boleh nakal."
Ariska makin risih. Ia tarik paksa tangannya lagi hingga terlepas. Namun tangan Alex malah menangkap lututnya lalu meremas dengan kuat. Seringaian pun terukir jelas di bibirnya yang membiru. "Kamu paham maksud saya, 'kan?"
Ariska masih terdiam hingga tangan Alex dengan perlahan naik dan meraba pahanya yang tertutup rok.
Apa-apaan ini? Menepiskan tanga Alex, Ariska mulai berdiri lantas meraih tasnya kemudian menjauh.
Sementara Alex tergelak, ia biarkan Ariska pergi dari ruangannya dengan langkah seribu. "Pergilah, gak akan ada yang percaya sama ucapan kamu."
Senyum mengerikan Alex kembali terbit, ia cium kedua belah telapak tangan yang barusan menyentuh tubuh Ariska. "Harum ... tubuhmu harum, Ariska."
Ariska terus saja berlari. Air mata menetes tanpa kendali. Ketakutan menguasai diri. Ia bahkan menoleh ke belakang beberapa kali—takut Alex mengikuti hingga tanpa sadar kepala membentur sesuatu. Ariska tersungkur dengan posisi terduduk memeluk ransel.
"Kamu kenapa?" tanya seorang pria bertubuh tambun berkepala botak. Pria paruh baya yang Ariska kenal bernama Handoko—kepala sekolah.
Menghapus air matanya dengan tangan, Ariska landas berdiri dengan tangan yang masih kuat mencengkeram ransel. "Pak, tolong saya. Pak Alex ... Pak Alex sudah—"
Belum sempat menyelesaikan aduan, Ariska ditarik paksa Handoko hingga masuk ke dalam sebuah ruangan. "P-pak Handoko ...."
Bibir Ariska bergetar. Wajah Handoko sama menakutkannya dengan wajah Alex. Pria botak itu bahkan mencengkam kuat bahunya. "Jangan pernah kamu ceritakan hal ini."
Mata Ariska membesar. Apa ini, Pak Handoko tau soal ini.
"T-tapi, Pak. Pak Alex udah—"
Ariska makin gemetar. Ia langsung berlari saat Handoko melepaskan cengkaman. Sumpah. Ia ketakutan. Di sekolah tak ada siapa pun lagi untuk ia mintai pertolongan.
"Nenek, aku takut ..." lirihnya seraya memeluk erat tas-nya. Gadis malang itu bahkan sudah hampir setengah jam bersembunyi dalam toilet. Takut akan bertemu Alex maupun Handoko.
Gemetar-gemetar takut, Ariska beranikan diri keluar toilet hendak pulang. Dengan perlahan dan mengendap dirinya melewati ruang Alex hendak menuju parkiran. Akan tetapi sebuah gelak tawa dari manusia laknat itu membuat langkah Ariska terhenti. Ia dekatkan kupingnya di daun pintu ruang BK yang tak tertutup rapat.
"Ayolah, Om. Gak bakalan ada yang percaya. Jadi jangan khawatir."
"Jangan anggap remeh ini Alex. Kamu tau perbuatan kamu ini dilarang," gertak Handoko dengan tangan mengepal kuat.
Ariska menyaksikan dengan seksama. Om dan ponakan itu tampak bersitegang. Memberanikan diri, Ariska mengintip dengan mengeluarkan ponsel dan kembali merekam perbincangan itu.
"Tapi aku menyukainya," seringaian Alex tampak menyeramkan.
"Kau gila. Kalau kamu memang ingin sekss, harusnya kamu menikah. Bukannya meraba-raba tubuh anak kecil."
"Aku gak mau menikah. Aku menyukai mereka, Om. Mereka harum. Mereka murni. Mereka polos. Mereka bidadari yang lebih cantik dari pada perempuan dewasa."
Handoko menggeprak meja. Ariska bahkan menutup mata karena kaget. Pria botak itu menatap nyalang sang ponakan. "Pokoknya Om mau ini terakhir kalinya kamu berulah, Alex. Sekali lagi kamu berulah, akan Om kirim kamu keluar negri."
Namun bukannya takut, Alex malah tertawa. "Ayolah Om. Jangan begitu. Jangan kolot. Aku senang bermain di sini. Aku menyukai ini. Lagian dia gak bakalan berani mengadu. Orang tuanya bercerai. Neneknya miskin. Kasih duit dikit pasti mereka diam."
Bagai mendengar petir tak kasatmata, air mata Ariska kembali meluruh. Ia tutup mulutnya agar tak bersuara lantas perlahan menjauhi ruangan itu.
Ternyata yang aku lihat semelam memang benar. Pak Alex ternyata monster. Aku harus hentikan kegilaannya agar gak ada lagi korban selanjutnya.
Pikiran Ariska mendadak mengingat sosok Kinar. Ia hapus lagi air matanya lantas merogoh tas dan melihat Vidio yang tadi terekam. "Aku harus mengungkap ini."
Ariska kayuh sepedanya dengan laju. Melewati jalanan yang padat dengan perasaan yang berkecamuk. Ia takut, sungguh takut pada Alex. Namun tak dipungkiri ia juga takut akan masa depan. Pasti namanya akan tercemar, tapi ....
"Gak apa-apa Riska. Kamu kuat. Kamu perempuan tangguh. Dengan kamu diam kamu bakalan buat dia merajalela." Menghela napas panjang. Ariska Mengenggam kuat stang sepeda lantas mengayuhnya kuat. "Aku harus ke kantor polisi. Ya, harus."