Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Simalakama


Di rumah sakit.


Fia berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit. Pikirannya kacau saat membayangkan harus berhenti bekerja padahal belum sejam diterima. Bagaimanapun ia bertekat harus tetap bertahan di perusahaan itu.


"Mana sih ruangannya?" gumam Fia.


Gelisah, ia lihat kanan-kiri. Begitu banyak ruangan yang jujur membuatnya pusing. Hingga sosok wanita yang dikenal tertangkap mata. Cepat-cepat ia hampiri orang itu.


"Mbak Nasya, gimna keadaan Pak Dafin?" tanyanya dengan napas tersengal.


Wajah Nasya tertekuk. Helaan napas mengikuti ekspresinya. Sebuah pemandangan yang membuat Fia berpikir ke hal negatif secara berulang-ulang.


Apa orang itu mengalami patah tulang?


Apa dia bakalan minta pertanggung jawaban?


Apa dia beneran mecat aku?


Ya Tuhan. Gimana ini?


Fia basahi bibirnya dengan saliva. Kegugupannya begitu kentara.


"Mbak, gimana keadaan Pak Dafin?" tanya Fia lagi, "tangannya ... tangannya gak apa-apa, 'kan?"


"Kondisinya gak terlalu parah, Fia. Gak ada patah tulang. Cuma karna ada yang bengkak dia harus pake penyangga lengan." Ucapan Nasya terhenti. Ia tatap lekat wajah Fia yang masih terlihat panik. "Keknya kamu gak bisa kerja, deh. Pak Dafin udah pecat kamu."


Bak orang kehilangan akal, Fia menggeleng berkali-kali. Ia raih tangan Nasya dan menggenggamnya erat. "Tolong jangan, Mbak. Saya sudah jauh-jauh datang dari Bali ke sini. Saya gak bisa nyerah sekarang."


Bola mata Fia mulai berkaca-kaca. Nasya jadi tak tega melihatnya. Ia balas genggaman Fia.


"Saya ngerti, Fia. Tapi saya nggak bisa merubah keputusan Pak Dafin. Saya juga pengennya kamu yang gantiin saya. Saya udah nggak kuat kalau harus interview beberapa karyawan lagi. Saya ini tinggal menunggu hari lagi Fia. Gak lama lagi saya lahiran," jelas Nasya. Wanita itu juga tampak frustrasi.


"Lebih baik kamu sendiri yang yakinin Pak Dafin. Yakinkan dia kalau kamu benar-benar enggak sengaja. Jelasin kalau kamu benar-benar butuh pekerjaan ini. Saya yakin, beliau mengerti. Beliau itu memang kelihatan galak, tapi selama dua tahun saya menjadi sekretaris-nya, dia nggak pernah mendendam begitu lama. Jadi coba kamu ngomong lagi sama dia, semoga dia berubah pikiran."


Fia mengangguk seraya menyeka air mata. "Terima kasih, Mbak. Terima kasih banyak, saya akan coba yakinin dia."


Ada secercah harapan dari bola mata gadis kurus berambut panjang itu.


"Ya, memang sebaiknya begitu. Kamu langsung saja ke ruangannya. Kamarnya ada di sana, kelas VVIP. Kamu jalan saja terus dari sini. Nanti pas sudut sana kamu pilih sebelah kiri," jelas Nasya seraya menunjuk sebuah lorong.


"Baik, Mbak, terima kasih."


Sementara itu, di sudut rumah sakit yang sama, tampak Nara dan Dafan duduk bersebelahan. Di tengah mereka ada berapa kotak bekal. Nara terlihat sibuk membukanya satu persatu.


"Lebih baik kamu sarapan dulu. Aku tau kamu sibuk. Tapi sarapan itu penting bagi dokter," celoteh Nara.


Dafan diam, pria itu bersedekap dada. Dari gerak dan gerik Nara sudah mengerti kalau pria itu tak mengharapkan kehadirannya.


Namun, ia sengaja mengabaikan. Demi cinta ia rela melakukan itu semua.


Menjepit Gimbab gulung seraya menyodorkan ke mulut Dafan, Nara pun berucap, "A dulu, dong. Buka mulutnya."


Akan tetapi, Dafan tak menanggapi. Pria itu berdengkus, tangan tetap bersedekap. Wajah pun sudah mengarah ke arah lain. Ia bisa melihat beberapa teman satu profesi memandang dengan tatapan heran. Ada juga yang tampak tersenyum. Entah senyum apa itu, mungkin saja tulus tapi bisa juga senyum menghina. Entahlah, yang jelas Dafan merasa risih karena keberadaan Nara. Sungguh situasi yang tak nyaman menurutnya.


"Fan, A dong," ucap Nara lagi, "cepat buka mulutnya, tangan aku pegel, nih."


Bukannya membuka mulut, Dafan malah menurunkan tangan Nara. Matanya menatap tajam ke arah gadis yang bisa dibilang cukup cantik dan bersahaja. Akan tetapi, segumpal kejengkelan dalam dada Dafan membuat kelebihan Nara tertutup, lenyap dimakan kelakuan minus gadis itu sendiri.


Namun, bukan Nara namanya kalau tak keras kepala. Ia menggeleng lantas kembali mengapit Gimbab dan menyodorkan ke mulut Dafan. Dafan yang kesal langsung menepisnya. Makanan itu tergeletak ke bawah bersamaan dengan harga diri Nara yang juga rasanya telah terinjak.


Dafan berdiri, matanya menatap serius wajah Nara. "Nara, tolong dengerin aku. Berhenti kayak gini. Berhenti bertingkah bebal. Aku tau kamu paham kalau perasaan kamu itu bertepuk sebelah tangan. Jadi jangan pura-pura bodoh dengan ngelakuin hal sia-sia kek gini. Aku muak, Nara. Muak!" teriak Dafan, nada suara naik satu oktaf.


"T-tapi kenapa?" tanya Nara. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Karena aku nggak suka kamu." Dafan menyugar rambut ke belakang. Frustrasi lantas meninju angin. Geram. Ia tatap nyalang Nara. "Sekali lagi aku tekankan. Aku nggak suka kamu. Tolong pahami."


Bak mendapat tusukan belati, hati Nara langsung nyeri sampai ke ulu. Air yang tadi tergenang di pelupuk kini sudah meluruh membasahi pipi.


"T-tapi kenapa?"


Kalimat itu kembali terlontar dari bibir Nara. Ia shock luar biasa. Dafan yang biasa tenang meski ia kejar jungkir balik tetap bisa menjaga lisan. Namun, kali ini lisan pria itu benar-benar membuatnya ingin segera mati. Sebegitu bencinyakah Dafan padanya?


"T-tapi Fan. Apa yang kamu nggak suka dari aku?" lanjut Nara dengan bibir yang bergetar.


Berdiri, ia sejajarkan diri dan menatap mata Dafan. Tak ada kebohongan di sana. Malah terlihat begitu banyak kebencian. Tak adakah kesempatan lagi untuknya agar bisa meluluhkan hati Dafan?


"Karena kamu buka type-ku!" ujar Dafan, sekali kejam harus tetap kejam. Ia telah bertekat untuk menyadarkan Nara. Peduli amat jika anak itu nangis kejer karenanya. Intinya ia ingin segera lepas dari belenggu cinta Nara yang gila. Ia muak dengan gadis itu. Lagipula ia ingin Nara serius ke sekolah dan bukannya mengejar cinta yang gak penting di usia belia seperti ini.


"Lalu wanita seperti apa yang kamu suka?" tanya Nara lagi.


Sungguh, andai punya kantong ajaib milik Doraemon. Nara pasti akan membuka pintu ke mana saja. Ia ingin menghindari Dafan. Dan datang lagi saat Dafan lupa akan perkataannya barusan. Namun, semua sudah berjalan. Dan mustahil juga Dafan lupa akan ultimatumnya barusan. Jalan satu-satunya adalah menyelam. Entah selamat atau tenggelam. Ia akan terima resikonya.


"Wanita kek gimana yang kamu suka?" ulangnya lagi.


Mata Dafan melihat sekeliling dan tatapannya terhenti pada seorang gadis yang tengah berjalan.


Sekarang gak ada jalan buat balik. Jalan satu-satunya biar Nara nyerah ya aku harus jadi laki-laki brengsek. Ya, itu satu-satunya. Dafin membatin. Ia melangkah mantap mendekati target. Namun, matanya membulat saat mengetahui siapa wanita itu.


Dia ini kan wanita yang kemarin di bandara. Dafin menolah ke belakang. Mata Nara makin banyak mengeluarkan air. Simalakama. Kalau lanjut pasti mendapat bogem mentah, tapi kalau mundur, Nara pasti akan makin gencar.


Menarik napas panjang, Dafan memantapkan hati. Ia cegat wanita yang juga menatapnya dengan tatapan heran.


"Kamu ... kamu saudaranya Pak Dafin, 'kan?" tanya Fia. Keterkejutan begitu kentara di wajahnya yang cantik.


Dahi Dafan mengernyit. "Bagaimana bisa kamu ...?"


Ah, lupakan. Masalah dia kenal Dafin dari mana aku gak peduli. Situasiku sekarang lagi genting. Batin Dafan.


Memindai wajah gusar Fia, Dafan pegang pinggang wanita itu hingga tubuh mereka mepet secara keseluruhan.


"Heh! Kamu mau ngapain?" ujar Fia cemas. Ia meronta tapi tak terlepas. Ingin berteriak tapi tak ada seorang pun yang ada di sekitar sana. Hanya ada seorang gadis muda yang berdiri di belakang pria itu. Ia pukul dada Dafan.


''Kamu jangan kurang ajar, ya. Kamu mau mati? Masalah kemarin belum kelar, tau gak."


"Aku tau. Izinkan aku nambah 1 masalah lagi. Setelah ini aku siap menerima hukumannya."


****


like like like


vote vote vote. Remember it. heheh