Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ekstra part Kinar & Arjun (Aye-aye)


"Arjun."


"Iya, kenapa?"


"Jun ...."


Lisan Kinar tak selesai terus. Ia ingin mengatakan, "Makan aku sekarang, Jun. Ayo kita lakukan."


Namun, entah mengapa harga dirinya mendadak tinggi hingga yang lolos hanya kata Arjun, Arjun dan Arjun.


Aneh memang. Dulu ia yang seperti perempuan gila akan belaian kini mendadak anteng. Gengsi.


Arjun yang tak paham hanya menghela napas. "Sudahlah, jangan banyak pikiran. Lebih baik kita tidur, kamu pasti capek seharian berdiri."


"Tidur?" tanya Kinar. Kini pipi terasa nyata sudah menghangat. Kinar lepaskan dekapan. Ia tatap mata teduh Arjun. "Jangan tidur dulu."


"Lalu?" Alis Arjun terangkat. Akan tetapi setelah melihat senyum Kinar, ia baru sadar kalau ada sesuatu yang belum dilaksanakan. Ia dekatkan wajahnya. Namun, Kinar menahan.


"Kenapa?" tanya Arjun.


"Aku mau ke toilet dulu. Aku butuh persiapan."


"Hm, baiklah. Tapi jangan lama-lama."


Kinar angkat dari kasur lalu mengambil kantong belanjaan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Kado yang Litania kasih. Ia ingin segera memakainya dan mempraktikkan adegan aye-aye jos selayaknya pengantin baru.


Lima menit berselang, Kinar sudah seksi dengan langerie yang sama sekali tak melindunginya dari apa pun. Hanya ada penutup dada dan segitiga yang menutupi organ intinya. Yang tak masuk akal bahkan ada tali ketat yang tersambung antara bagian atas dan bawah. Entah apa fungsinya, tapi Kinar PD melenggak-lenggok dengan betis terbalut stoking jarang-jarang. Mirip jala ikan.


"Arjun," panggilnya sensual. Ia yang kikuk mencoba bergaya seksi dengan menyilangkan kaki, punggungnya tersender di dinding.


Namun Arjun tak merespon.


"Arjun," panggilnya lagi. Ia pun memberanikan diri duduk di sisi ranjang dan menyentuh pundak Arjun karena pria itu memunggunginya. "Jun, kamu apa gak mau—"


Kesal? Jelaslah. Kinar angkat dari sisi ranjang tempat Arjun terbaring lalu menuju sisi lain. Sumpah demi apa yang ada di dunia. Ia kesal. Bagaimana bisa sang calon pengemudi tertidur saat kendaraan sudah panas dan siap bertempur?


Menutup seluruh tubuh dengan selimut, Kinar menggerutu dalam hati.


***


Pagi harinya, Kinar membersihkan diri dan berhias secantik mungkin agar kantung matanya yang menghitam tak tampak jelas. Ia tak ingin Arjun mengetahui penderitaannya semalaman. Siapa pun pasti akan tertawa ketika mengetahui alasan kenapa ia tak bisa tertidur. Gagal aye-aye membuat rasa kantuknya hilang. Pikiran sehat pun ambyar. Ia terjaga hingga pagi menjelang.


"Arjun, bangun ...."


Sembari membangunkan, Kinar tatap lekat wajah Arjun. Bulu mata tebal, hidung mancung, bulu mata lentik membuatnya tak bisa memikirkan hal lain selain aye-aye. Apalagi bibir Arjun yang seolah memanggilnya. Sangat seksi, tebal, kenyal, sangat menggoda dengan belahan samar di dagu. Ah ... ia ingin segera mengulumnya.


Disentuhnya bibir Arjun yang berwarna merah kecoklatan. Libido meninggi tanpa pemberitahuan. Sumpah, ia ingin sekali mendesah di bawah kungkungan Arjun. Namun ia cepat-cepat menggeleng, mengusir bisikan birahi.


Ya ampun Kinar, sabar dikit ngapa. Ngebet banget. Ini masih pagi. Jaim dikit kek jadi perempuan. Bikin malu aja.


Kinar membatin. Ia gigit bibir bawah untuk meredam hasrat yang mencuat makin tinggi.


Tapi kenapa malu? Aku kan istrinya dia. Wajar dong kalau minta jatah. Yang gak wajar itu kalau mintanya sama suami tetangga. Gak lucu 'kan kalau ada artikel yang bilang, "Tak tahan kerena tak dibelai, seorang anak pengusaha mengajak tetangganya sendiri aye-aye."


Tapi gak gini juga. Ini kan yang pertama, jadi biarin dia dulu yang ambil langkah. Masa iya kamu. Harga diri tinggiin kek dikit. Murah amat.


Ah, kalau mikirin harga diri aku juga yang sakit. Arjun kan suamiku, ya wajar dong kalau ambil langkah duluan. Lagian kalau nunggu dia, aku bisa-bisa lumutan. Cium dikit gak apa-apa kali. Dia masih tidur ini. Aku pengen nyicip.


Kinar tersenyum licik. Ia dekatkan wajah sembari menahan debaran dada yang menggila. Ia bahkan telah menelan ludah berkali-kali. Bibir tebal Arjun menjadi titik fokus.


Tiga senti


Dua senti


Satu senti.