
"Apa kamu beneran cinta dia?" tanya Dafan penuh nada kesal. Napasnya memburu.
Nara memalingkan wajah. "Tentu saja. Dia selalu ada buat aku. Nemenin aku saat aku sakit maupun senang. Dia perlakuin aku dengan baik. Dia tulus dan aku nyaman dekat dia."
Dafan menyeringai. "Apa kamu yakin itu cinta? Apa kamu bisa memastikan rasa yang ada di antara kalian itu beneran cinta? Apa kamu bener-bener yakin kalau perasaanmu sekarang itu tulus dan bukannya hanya jadiin dia pelampiasan doang?"
Dup-dup-dup-dup.
Nara diam dan mulai meragu, apakah benar yang di katakan Dafan? Kalau ia hanya menjadikan Ferry pelampiasan. Jujur, ia sempat merasakan sesuatu saat bersama Ferry. Namun perasaan takut menyimpulkan, menghantui pikirannya. Ferry adalah teman, dan teman itu sejam yang lalu telah mengungkapkan perasaan.
Nara bergeming, dalam diam ia juga berpikir keras, apa perasaannya pada Dafan benar-benar sudah hilang?
Jika memang sudah tidak ada rasa, kenapa tetep terasa sesak?
Nara lantas menggigit bibir bawah agar tak kalah dengan perasaan sendiri. Ia takut salah mengartikan situasi dan berakhir mempermalukan diri.
"Jawab Nara! Lihat mataku!" Dafan menghardik.
Nara tersentak. Dibentak seperti itu membangkitkan kemarahan dalam diri. Ia tatap Dafan yang berang dengan sorot mata yang tak kalah garang.
"Apa kamu beneran udah lupain aku? Apa kamu beneran suka sama si pembohong itu?" cecar Dafan tak sabar.
"Iya. Kenapa? Suka atau tidak itu bukan urusanmu. Aku akan menyukai dan mencintai laki-laki yang tulus sama aku, laki-laki yang mengejar aku tanpa lelah. Aku nggak mau jadi perempuan begoo untuk yang kedua kali. Aku lelah mengejar cinta laki-laki. Aku benci masa lalu karena menyukai kamu. Mencintai kamu dan berharap kamu membalasnya ternyata menjatuhkan harga diriku.
"Dan sekarang, aku mau berubah. Aku akan pasrah menerima cinta siapa pun. Aku berjanji akan belajar buat menghargai diri sendiri dan menerima cinta tanpa memaksakan kehendak."
Mata Nara berkaca-kaca, tapi sekuat tenaga ia tahan agar air itu tak menetes. Ia ingin tegar, tak ingin Dafan meremehkan dan menghinanya lagi.
Menarik napas panjang, Nara kembali mengeluarkan unek-unek yang terpendam begitu lama. "Terima kasih, Dafan. Karena kamu udah buka mataku, karena kamu udah ngasih tahu aku kalau mempertahankan cinta sepihak adalah perbuatan sia-sia. Terima kasih, terima kasih karena rasa sakit yang udah kamu kasih buat aku dulu udah berhasil membuat aku jadi kuat. Karena penolakan kamu waktu itu aku tahu pentingnya sebuah harga diri.
"Dan Ferry, Ferry ngasih itu semua, perasaan nyaman dan menghargai yang dulu begitu aku inginkan dari kamu. Tapi sayangnya gak pernah aku dapat. Ferry, dia hanya orang asing yang segenap hati ngasih itu semua buat aku. Jadi, apa menurutmu aku harus buang kebahagiaan demi masa lalu yang memalukan?" tutur Nara panjang lebar.
Dafan yang mendengar itu makin kesal, sangat tidak terima dengan penolakan Nara. Belum lagi sorot mata Nara yang seolah menganggapnya sampah.
Dafan berdengkus. Emosinya makin tinggi dan tak terkendali. Ia pun melepas tangan Nara lalu meraih tengkuknya. Meraup kasar bibir perempuan yang baru saja mencampakkan dan melukai harga dirinya.
Marah. Perasaan itu mendominasi Dafan dengan jelas. Nara telah bersikap abai padahal dulu gadis itu begitu gigih mengejar dan begitu bergantung padanya. Kini ia merasa terlupakan.
Sebenarnya dalam hati kecil Dafan, ia ingin Nara melakukan hal itu lagi. Ingin Nara mengganggunya lagi. Dafan makin meraup rakus bibir Nara seakan bisa menelan semuanya. Ia salurkan rasa rindu dan kekesalan dalam sebuah ciuman.
Sementara Nara, gadis itu meronta dengan kuat, tapi tenaga yang tak seberapa begitu mudah Dafan taklukkan.
Akhirnya, air mata Nara menetes juga. Ciuman yang begitu ia dambakan selama ini telah terjadi, mimpinya menjadi nyata, hanya saja tak pernah menyangka harga dirinya terluka saat momen romantis itu dilakukan Dafan.
Dafan yang melihat ada air membasahi pipi langsung tersentak, ia tersadar dan melepaskan raupan kasar itu lalu mundur dua langkah. Hatinya mencelos melihat air itu turun dari kelopak mata Nara.
Mendekati Nara, Dafan ingin menghapusnya, tapi Nara yang sudah kecewa menepis tangan Dafan dan membuang muka kearah lain.
"Ra, Maafin aku. Aku salah, aku khilaf. Aku kehilangan akal."
Begitu lirihnya perkataan Dafan. Namun, Nara sudah kecewa. Ia hapus jejak air matanya lalu kembali menatap nyalang Dafan.
"Ya, gak masalah. Sejak dulu aku hanyalah kesalahan dalam hidup kamu. Selama ini aku hanya jadi benalu, iya, 'kan?" ucap Nara. Ia menarik napas. Mengucapkan itu sama saja menyiram luka sendiri dengan cuka. Ia embuskan napas panjang lalu kembali berucap, "Sekarang kamu udah menegaskan segalanya, kalau aku nggak berarti dan aku nggak pernah ada dalam hati kamu."
"Ra ...." Dafan mencoba mendekat, tapi Nara menghindar dengan berjalan menyamping selangkah. Ia mengangkat kedua tangan. Air matanya meluruh semakin banyak.
Namun Dafan yang ada di belakang langsung meraih tubuhnya. Mendekap erat. Ia cium pucuk kepala Nara. "Tolong jangan begini, Ra. Tolong jangan nyerah. Permintaan maaf mungkin kata yang nggak pantas untuk aku katakan. Aku udah terlalu sering nyakitin kamu. Tapi, Ra, aku nggak ikhlas, aku nggak bisa biarin kamu sama Ferry. Hatiku sakit setiap kali bayangin kamu deketan sama dia. Pikiranku semrawut, aku nggak bisa berpikir jernih, Ra. Aku kehilangan akal."
Air mata Nara makin menetes. Ia tak bisa berkata-kata. Emosinya campur aduk karena Dafan.
Sementara Dafan yang takut kehilangan makin mengeratkan pelukan dari belakang. Akhirnya ia menyadari sesuatu. Ternyata perasaan yang sudah ada dalam diri sejak lama untuk Nara bukanlah kasih antar saudara, melainkan antar individu, perasaan romantis antar lawan jenis. Ia baru menyadari kalau tengah dilanda cemburu.
"Tolong kasih aku kesempatan. Aku nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan yang kamu kasih. Tapi tolong berbaik hatilah. Maafkan aku. Maafkan kebodohanku. Dulu aku terlalu sombong, terlalu bodoh sampai-sampai menolak perasaan yang benar-benar tulus kamu."
Jeda sejenak, Dafan menarik napas sangat panjang. Ingin sekali mengeluarkan sesuatu yang membuat dada sesak. Pengakuan, ya ... ia ingin mengaku.
"Sekarang aku gak mau kalah. Aku gak mau munafik. Kasih aku kesempatan, Ra."
Mendengar penjelasan Dafan dengan posisi seperti itu membuat hati Nara makin tambah sakit. Ia hapus jejak air matanya. "Terlambat, Fan. Perasaanku udah nggak ada untuk kamu."
Dafan menggeleng, tidak terima dan tak percaya. Ia membalik badan Nara, mata mereka beradu dalam sendu.
"Apa kamu yakin? Apa kamu yakin perasaan kamu untuk Fery itu benar-benar nyata dan bukan pelampiasan? Kalau iya, aku akan nyerah. Tapi kalau enggak, aku akan tetap berusaha. Aku nggak mau kamu nyakitin orang lain karena dendam. lagi pula hubungan seperti itu nggak bakalan lama Nara. Kamu hanya akan nyakitin diri kamu dan orang lain."
Nara terdiam membisu, ia lantas menggigit bibir bawah. Hati kecil membenarkan perkataan itu.
"Ayo jawab aku, apa perasaan kamu untuk Ferry itu tulus? Apa kamu yakin itu benar-benar cinta?"
Lagi, Nara tak bisa berkata, bagaimana bisa menjawab jikalau saja tidak yakin dengan perasaannya sendiri? Ia nyaman dekat Ferry. Ferry melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi tetap saja Dafan masih mampu membuat hatinya bergetar. Nama Dafan masih belum bisa tersingkirkan oleh Ferry maupun laki-laki yang lain.
"Tolong jawab aku, Ra." Dafan mulai mendesak.
Melihat keraguan di bola mata Nara, Dafan pun tak bisa untuk diam saja. Ia ingin mendapat jawaban dari pertanyaan. Namun bukan dengan dengan lisan.
Dafan mencium lagi, tapi dengan raupan yang lembut. Penuh cinta dan sayang. Rasa takut kehilangan, ya ... ia melakukannya dengan segenap hati.
Sementara Nara, tanpa sadar membalas. Ia terhanyut dalam buaian dan gejolak perasaannya sendiri. Ternyata cintanya untuk Dafan semakin besar tanpa bisa ia tampik.
Hingga akhirnya pergulatan antar bibir itu terhenti saat sebuah tangan menarik telinga mereka secara bersamaan. Tentu saja suara cecapan nikmat berubah menjadi erangan. Pelepasan rindu dan hasrat antara Dafan dan Nara pun berhenti seketika. Alangkah terkejutnya mereka saat mendapati tangan siapa yang berani mengacaukan momentum yang langka itu.
"M-mama." Nara tergagap-gagap, matanya membulat. Ia lihat Dafan yang juga meringis kesakitan. "Mama ngapain ke sini?" lanjutnya.
Sontak saja jeweran makin kencang. Dafan dan Nara pun makin menjerit kesakitan.
"Kalian! Apa yang udah kalian buat? Ha!" hardik Kinar. Matanya nyalang menatap kedua pemuda pemudi itu.
"Ma, tolong lepasin dulu." Nara merengek. Antara malu, takut dan kesal. Ia tepuk terus punggung tangan Kinar.
Tanpa mau memedulikan, Kinar yang sudah terlanjur kesal dengan tontonan tak senonoh yang anaknya lakoni itu pun melepaskan jeweran. Ia berdiri di dekat sofa, meraih ponsel dan membelakangi keduanya.
"Litan, kita harus rapat. Sekarang!" teriaknya kencang.
***
Hahah malu ituh. Pak dokter dijewer karena kegep.
jgn lupa like komen dan vote. ocre.