
Kinar yang tengah menggesekkan kaki ke rumput melirik sekilas ke arah Arjun dan mendapati wajah sedih lelaki itu. Hanya saja perasaannya sekarang juga tak kalah kacau hingga untuk menjawab dan berceloteh lagi rasanya begitu berat. Kinar kembali tertunduk dengan helaan napas yang terdengar panjang.
"Kalau bukan karena kamu, aku pasti diteror mulu sama dia. Meli cinta pertamaku. Kami pacaran lima tahun. Tapi setahun yang lalu kami putus. Alasannya cukup klasik, dia ketauan jalan sama temenku dan aku melihat mereka berciuman."
Sumpah, mengingat masa lalu membuat Arjun menghela napas frustrasi. Mengenang sang pacar berciuman dengan laki-laki lain membuatnya ingin menelan orang hidup-hidup. Kala itu ia berusaha begitu kuat menahan diri agar tak menyentuh Meli. Akan tetapi, pengkhianatan yang didapat.
"Aku selalu menjaga amanah orang tua Meli. Kalau mereka gak ingin Meli aku sentuh sebelum halal."
Kinar masih terdiam. Rasa kepo mendadak memenuhi otak. Begitu penasaran dengan kehidupan cinta Arjun hingga rasanya ingin bertanya, 'Apa kamu sakit hati?' Tapi niat itu ia urungkan karena jika bersuara sekarang, Arjun akan tau kalau dirinya tengah menangis.
"Aku sakit hati. Tapi gimana lagi. Itu pilihannya. Dia yang berani main api jadi dia juga yang harus menyiramnya. Dan aku gak mau menerima barang hangus. Kayak gak ada perempuan lain aja.
"Dan satu lagi. Kita manusia hanya bisa berencana dan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Aku sempet down waktu itu. Rasanya sia-sia menjalin hubungan dengan orang lain. Yang ada hanya sakit hati. Maka dari itu aku cenderung minim ekspresi. Ya, se-enggaknya itulah yang Vika bilang. Katanya aku kayak mayat idup.
"Tapi mau bagaimana lagi, aku malas berkenalan dengan orang baru. Makanya memilih diam dari pada banyak omong. Toh, gak guna juga, 'kan?"
Kinar hapus air matanya. Lalu memberanikan diri melihat Arjun yang memasang wajah datar. Namun, semburat kesedihan tetap terlihat. Laki-laki itu berusaha keras untuk terlihat tegar. "Apa kamu ada niatan balik lagi? Dia sepertinya menyesal."
Arjun menggeleng. Ia minum kopi yang ada di tangan. "Kan sudah aku bilang. Aku gak nerima barang hangus. Kalau berniat pergi kenapa mau balik lagi. Harusnya dia tau itu karena hubungan kami bukanlah sebentar."
"Terus kenapa kalau sama aku kamu banyak omong?"
Arjun terdiam. Bola matanya tampak bergerak liar. Seperti berpikir mencari alasan. "Sudahlah, jangan bahas aku lagi. Aku malas."
Lagi, Arjun seruput kopinya. Suasana kembali hening hingga Kinar berdeham sekali lantas kembali mengambil minuman asam yang ada di tangan Arjun, meminumnya beberapa kali tegukan dengan mata yang terpejam.
Asam? Jangan ditanya lagi. Kerutan di sekitaran mata sudah memberi bukti betapa tidak enaknya minuman itu.
Mengembuskan napas panjang, Kinar arahkan matanya ke arah langit. "Arjun, mau dengar cerita lucu, gak."
Arjun terdiam tapi dalam hati mengiyakan.
"Dulu ada anak perempuan berusia sekitar tiga belas tahun. Sebut aja namanya Mawar. Anak tunggal seorang pengusaha. Dia cantik, badannya bagus, tinggi, kulit bersih, hidungnya mancung. Blasteran. Mama orang Inggris dan ayahnya orang Indonesia. Asli Betawi. Kebayang dong gimana cantiknya dia. Tubuhnya tinggi kayak anak SMA padahal baru aja kelas satu SMP. Singkat cerita, saking bagusnya wajah sama embel-embel di belakangnya banyak yang manfaatin dia. Pura-pura baik tapi cuma minta dijajanin.
"Terus pernah satu waktu dia dipanggil sama salah satu guru BK. Alasannya waktu itu untuk pengarahan karena si Mawar ini lemah dalam pelajaran. Tapi entah kenapa bukannya dinasehatin atau dikasih solusi, tu BK merhatiin gadis itu dengan tatapan yang ... gak banget, deh."
Kinar tampak menarik napas. Air matanya meluruh lagi. Namun, ia usap dengan cepat dan berusaha menata hati.
"Dia bilang gini, 'Tubuh kamu bagus banget, loh. Tuh kaki kamu aja jenjang banget. Kulit kamu bersih. Mata kamu cantik. Kalau kamu udah cukup umur, mau jadi pacar saya?'
"Kebayang 'kan gimana takutnya si Mawar. Umurnya masih muda tapi diperlakukan seperti itu. Umur segitu dia baru pertama kali menstruasi tapi sudah mendapat pelecehan verbal. Dia bahkan gak mau sekolah. Terus dia nyoba ngaca. Dia memang cantik dan kecantikan gak bisa disembunyikan. Dia nyoba introspeksi diri, tapi bukannya terbantu dia malah makin takut. Dia merasa tatapan orang semuanya sama kayak guru BK itu.
"Dia pernah nyoba berganti gaya, pakai baju sesopan mungkin. Tapi tatapan orang rasanya sama saja. Hingga dia nyoba berpenampilan senorak mungkin. Tapi anehnya, mendapat tatapan menghina bahkan ejekan malah buat dia nyaman. Setiap ada orang mencemoohnya, dia merasa terlindungi. Sejak itu dia bergaya seperti gadis gila. Dan soal tu BK, dia gak mau ambil peduli. Lebih tepatnya takut kalau bertemu lagi. Dia memilih pergi dan pindah sekolah. Tapi masalahnya gak sampe situ. Di sekolah baru dia malah di buli. Habis-habisan di buli karena otaknya yang gak seberapa ditambah penampilannya yang kayak orang gila. Tapi Tuhan gak tidur. Dia ngasih Mawar malaikat berbentuk teman yang kurang ajar. Saking kurang ajarnya, dialah yang menghajar semua murid yang membuli.
"Mawar ... Mawar ...."
Kinar terisak, tak sanggup lagi menyelesaikan cerita. Punggung dan bahunya bergetar sedangkan kedua belah telapak tangan sudah menutup wajah.
Kinar, gadis itu menunjukkan sisi lemahnya sekarang. Kesan gila dan aneh mendadak sirna dari pikiran Arjun untuk gadis itu. Ia dekap tubuh Kinar dengan erat seraya menepuk-nepuk pundaknya. "Menangislah. Menangis saja dan jangan ditahan. Semuanya akan baik-baik saja.
Cukup lama mereka di taman hingga dering telepon mengagetkan Arjun. "Mereka sudah di dekat mobil. Ayo kita pulang sekarang," ucap Arjun seraya angkat dari kursi. Ia ulurkan tangan pada Kinar. "Ayo, mereka sudah menunggu."
***
Untung saja tak ada maslalah sama rahimnya. Flek darah yang Chandra khawatirkan ternyata tak terlalu berbahaya dan itulah yang menjadi acuan untuk bersyukur hari ini.
Namun, wajah songong si Bianca kembali terbayang. Bagaimana wanita itu mengejeknya dengan sebutan bocah, lalu tertawa terbahak menang saat dirinyalah yang masuk terlebih dahulu.
Shit! Mengingat itu darahnya berdesir lagi. Awas aja kalau ketemu lagi.
Melirik tajam pada Chandra, Litania berdengkus seraya bersedekap dada. Sementara pandangan ia alihkan ke arah luar jendela dengan berkali-kali memejamkan mata, mencoba meredam emosi yang takutnya meledak tiba-tiba.
Akan tetapi, belum sukses meredam emosi, terdengar suara deheman dari samping. Suara yang jelas membuat emosi Litania kembali meninggi. Tak ada jalan lain selain terpejam dan bersungguh-sungguh merapalkan harapan. Jangan ngomong, jangan bersuara. Please ... kalo kamu ngomong sekarang, aku takut bakalan ngegas.
Lagi, suara deheman kembali terdengar dan kini terasa ada yang menepuk pundaknya, Litania yakin bahwa tersangkanya adalah Chandra. Ia tepis kasar tangan si tersangka itu.
"Arjun!" panggilnya lantang.
Yang dipanggil tampak kaget dan melihat kaca tengah mobil. "Iya, Nona."
"Kamu punya surah Yasin gak di hape kamu."
Arjun tampak bingung begitu pula Chandra, alis kedua lelaki itu tampak tertaut secara bersamaan. Namun tidak untuk Kinar. Sifat usilnya sudah kembali dan tak bisa jika hanya menjadi penonton saja. Ia rekam obrolan mereka menggunakan ponselnya.
"S-saya gak punya," jawab Arjun yang tampak gugup. Ia lihat lagi dari kaca tengah mobil dan sudah bisa menebak ada yang tak beres dengan dua orang yang ada di belakangnya itu. Chandra tampak gugup dan Litania tampak berang.
Masih dengan menatap luar jendela, Litania tampak memejamkan mata. "Kalau kuota ada, 'kan?"
"Kalau kuota, saya ada."
Perasaan Arjun makin tak enak. Ada apa ini? Kenapa nanyain Yasin sama kuota? Masa iya dia gak punya duit buat beli kuota.
"Kalau gitu, setelkan saya surat Yasin. Cari di YouTube."
"Sayang kamu kena—"
Belum sempat menyebutkan huruf 'pa' dalam lisannya Chandra dan yang lain dibuat terkejut dengan Litania yang berteriak, "Cepetan Arjun!"
Tibalah di rumah. Litania masih saja terlihat marah. Emosinya masih meletup-letup. Ia tak bisa menenangkan diri. Mendengar suara Chandra saja sudah membuatnya murka.
"Mbak Sri!" teriak Litania.
Seorang wanita paruh baya mendekat. Wanita yang memakai celemek di pinggang tampak ngos-ngosan karena berlari dari dapur ke ruang tamu. Ia berdiri menunduk di depan Litania.
"Mbak Sri, tolong kumpulin semua gunting dan buang semuanya."
Seketika Sri menautkan alis. Begitu pula Chandra dan Arjun yang ada di belakang. Sementara Kinar, hanya tersenyum menyimak perintah absurd temannya itu.
Memutar tumit, Litania menyipitkan mata kala memandang Chandra.
"Mbak Sri. Tolong buang semua gunting yang ada di rumah ini." Mata Litania tertuju pada area tengah paha Chandra. Chandra yang masih setengah mengerti langsung merapatkan kaki dan menutupnya dengan tangan. Wajah bahkan sudah sedikit memucat. Baru kali ini merasa terintimidasi oleh tatapan Litania. Apalagi yang ditatap adalah daerah 'itunya.'
"Aku takut khilaf, Mbak. Aku takut nanti menggunting sesuatu yang seharusnya tidak digunting."