Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Keahlian Si Badak Bercula Satu.


Seharian ini Fia menikmati dan mengetahui apa itu artinya kencan. Untuk pertama kalinya ia bahagia, tertawa lepas dan tidak mengkhawatirkan apa pun. Untuk pertama kalinya juga ia bisa menjadi diri sendiri. Dafin benar-benar bisa membuatnya percaya bahwa cinta mendatangkan bahagia. Rasa kesal yang menumpuk selama berbulan-bulan sirna begitu saja. Rasa lelah karena seharian bersama pun seperti tak pernah ada, yang terasa hanyalah bahagia.


Kenapa saat seperti itu waktu begitu cepat berputar? Kalau bisa Fia ingin mengulang lagi, menonton film di bioskop, bersenang-senang di taman bermain dan makan malam romantis. Ia ingin mengulang bagaimana Dafin bersikap baik dan pengertian padanya. Seharian ini Dafin benar-benar mematahkan pendapatnya—Dafin arogan, kejam, kaku dan semena-mena. Hari ini ia melihat sisi lain dari Dafin—murah senyum, sering tertawa, perhatian tapi juga mesum.


"Kita ngapain ke sini?" tanya Fia keheranan. Bukannya diantar pulang Dafin justru mengajaknya ke gedung Big Group Company, menuntunnya menuju lift, lalu menekan angka untuk menuju lantai atas gedung.


Fia percaya Dafin, tapi tetap saja rasa waswas selalu ada mengingat waktu tidak lagi siang. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Suasana perusahaan yang sepi dan sedikit pencahayaan membuat pikiran negatif membeludak dalam kepala. Ia lirik Dafin yang berdiri tegap di sebelahnya. Bagaimanapun Dafin tetaplah laki-laki dan ia yang mulai terpesona pada Dafin takut akan kehilangan kewarasan dan melakukan hal yang salah.


"Dafin sebenarnya kita mau ngapain ke sini?" ulang Fia lagi. Ada kekhawatiran dalam nada bicaranya.


Akan tetapi balasan Dafin hanya sebuah ulasan bibir. Ia tuntun Fia keluar dari lift dan menapaki satu persatu anak tangga hingga tibalah mereka di atap gedung. Lampu mengerlip menyambut. Fia bahkan menghentikan langkah saking terpesona. Ia terbeku dengan mulut sedikit terbuka.


"I-ini kamu yang bikin?" tanya Fia seraya berjalan perlahan dengan mata yang tak henti mengerjap takjub. Ia berputar-putar melihat taman atap yang tak seperti biasanya—hanya diterangi lampu taman. Kini begitu banyak lampu berwarna warni melilit dari satu sudut ke sudut yang lain. Belum lagi sebuah tenda besar berdiri kokoh di tengah-tengah sana. Fia melongo sesaat sebelum akhirnya kembali mendekati Dafin.


"I-ini tenda kemah? Kamu nyiapin ini buat aku?" Fia mencecar pertanyaan dengan suara hampir berteriak. Ia akan histeris kalau saja tak cepat-cepat menutup mulut. Benar-benar tak habis pikir Dafin bisa menyiapkan itu semua padahal baru tadi pagi mengetahui keinginannya itu.


Oh sungguh, Fia mendadak merasakan hatinya ditumbuhi aneka macam bunga. Ia begitu terharu dan tanpa sadar memeluk Dafin dengan sangat erat. Setetes demi setetes air matanya meluruh dan tanpa bisa dicegah air itu meluber dan membasahi hampir seluruh pundak kiri Dafin.


"Terima kasih, terima kasih banyak. Aku gak nyangka kamu beneran ngabulin keinginan ini," ucap Fia di sela isak tangisnya.


Dafin membalas pelukan itu, menepuk pundak Fia lalu berkata, "Aku senang mengabulkan permintaan kamu. Apa pun pasti akan aku kabulin. Tadi aku minta bantuan Om Rio, jadi gak semuanya aku yang siapin. Aku cuma mengintruksikan. Selebihnya Om Rio." Dafin melepaskan pelukan, matanya melihat lekat wajah Fia yang sudah sembab. Dihapusnya dengan pelan air mata itu dengan ibu jari. "Jadi jangan nangis. Ayo kita nikmati kejutan dari tuan kaya raya dan rupawan ini dengan bahagia. Gimana?"


Alih-alih terharu, Fia justru kesal, ia melepaskan pelukan. Senyum jemawa Dafin membuatnya jengkel dan berakhir memukul pundak pria itu lantas terkekeh.


Mengelap sisa air matanya tadi, Fia yang tersipu dan terharu di saat bersamaan itu pun berucap, "Bagaimanapun terima kasih banyak. Aku gak nyangka kamu bakalan lakuin semua ini."


"Gak masalah. Aku memang ingin mengabulkan permintaan kamu. Aku tau betul bagaimana sedihnya saat sesuatu yang kita inginkan tidak tercapai. Rasanya bikin kesal. Daripada jadi penyesalan ada baiknya kamu lakukan apa pun yang kamu mau. Aku udah siapin semuanya. Bersikaplah kekanakan jika kamu memang mau. Jadilah diri sendiri," papar Dafin lalu menuntun Fia, mereka pun duduk di tenda besar itu.


Lima menit berlalu begitu saja. Tak ada yang berbicara. Dafin hanya menikmati wajah ceria Fia tanpa berkomentar apa pun. Ia tak menyangka kejutan kecil dan remeh seperti itu bisa membuat Fia tak henti tersenyum. Tampak konyol, tapi entah kenapa rasa damai menerpa dada. Senyum Fia mengubah dunianya menjadi semakin berwarna. Untuk pertama kalinya ia bahagia dan mensyukuri takdirnya menjadi pengusaha. Jika bukan seorang pemimpin, ia mungkin tidak akan dipertemukan dengan Fia.


"Kamu seneng?" tanya Dafin. Tangan kirinya menopang kepala dengan siku di paha. Sementara bibir terus tersenyum melihat Fia memainkan kembang api. Kembang api tangan yang sering di mainkan anak kecil. Fia tampak merangkai huruf. Entah apa yang ditulisnya sampai-sampai tak bisa menjawab pertanyaan Dafin. Ia hanya mengangguk saking bersemangat dan bahagia. Sekarang benar-benar mendapatkan dan memperbaiki masa kecilnya yang kurang bahagia.


Melepaskan apa yang ada di tangan, Fia pun melihat sekitar. Ternyata tak hanya kembang api, Dafin juga menyiapkan mainan masak-masakan, Barbie serta alat lukis ala-ala anak TK. Semuanya sudah tersusun rapi di sana.


Demi apa pun yang ada di muka bumi, Fia terharu meski tak bisa lagi memainkannya. Bibirnya bergetar, mata mulai berkaca-kaca lagi saat melihat wajah Dafin.


"Maaf, api unggunnya gak bisa aku siapin. Entar bikin heboh," ujar Dafin dengan senyuman yang khas. "Tapi udah aku ganti dengan lentera. Dengan lentera ini kita bisa liat bintang di langit. Kamu pasti terharu, 'kan?"


Fia mengangguk. Air mata yang susah payah ditahan tercurah kembali. "Gak masalah. Ini aja aku udah seneng, kok."


Dafin mengedipkan mata. "Jadi bagaimana? Apa aku diterima jadi pacar?" tanyanya.


Seketika kegugupan menyerang Fia tiba-tiba. Ia sadar wajahnya pasti sudah berubah warna. Fia berdiri dan menjauh. Sangat berharap Dafin tak menyadari.


Namun percuma, Dafin sudah mengetahui itu dan mengikuti langkahnya. Fia yang berdiri di pembatas aman taman tercekat saat pergelangan tangan dicekal oleh Dafin. Ia yang grogi secara refleks menghindar dan bisa memutar balik keadaan. Dalam sekejap saja ia sudah bisa mengunci pergerakan Dafin. Pria itu memunggunginya dengan tangan kanan terputar ke belakang.


"Hey Fia! kamu ngapain?" tanya Dafin seraya menahan sakit. Kuncian tangan Fia lumayan membuat lengan ngilu.


Fia tersenyum penuh kemenangan. Ia mendekatkan wajah ke telinga Dafin. "Makanya jadi laki-laki jangan modusan. Aku bukan type perempuan yang gampang baperran," bisiknya ke telinga.


"Oh ya?" jawab Dafin. Ia yang posisinya membelakangi Fia dengan cepat memundurkan kepala. Jika saja Fia tak mengelak, ciuman antar bibir bisa saja terjadi. Dan sialnya Fia yang memundurkan langkah begitu mendadak tak bisa mengimbangi diri. Heels yang ada di kaki mempersulit gerak. Fia oleng. Ia hampir terjatuh kalau saja Dafin tak sigap menahan pinggangnya.


Kini mereka sangat dekat. Mata keduanya tak mengerjap. Dafin memindai wajah Fia secara keseluruhan begitu juga Fia yang terlena akan paras tampan Dafin.


"Bisa lepasin, gak?" pinta Fia saat kesadaran sudah bisa ia raih sepenuhnya. Namun, Dafin yang masih terpesona tak menghiraukan. Pria itu bahkan merapikan anak rambut Fia yang sedikit menutupi wajah.


"Kamu cantik," gumam Dafin. Matanya masih saja sama—mesum mode on.


"Jangan lebhai. Lepasin gak? Atau ...."


"Atau apa?" sela Dafin. Bibir ranum berwarna merah muda Fia menjadi titik fokus.


Fia memelototi. "Atau aku hajar?"


"Hajar saja. Aku gak bakalan lepasin kamu. Kalau aku lepasin kamu bakalan jatuh. Jadi aku akan pertahankan kamu sampai kapan pun. Terimalah cintaku. Ya?"


Fia yang geram karena gombalan itu mencoba melawan. Ia berdiri tegak setelah mencengkeram baju Dafin dan tanpa aba-aba menyerang kaki. Dafin berakhir meringis dengan posisi bahu membentur lantai.


Fia panik saat melihat Dafin kesakitan. "Kamu gak apa-apa?" tanyanya dengan mimik wajah gelisah. Ia kira Dafin akan bertahan tapi nyatanya pria itu jatuh. Ia bantu Dafin untuk duduk.


"Kita ke rumah sakit ya?" ucap Fia lagi.


Dafin yang sejatinya tak sakit-sakit amat hanya mengulum senyum. Tiba-tiba pikiran picik menguasai benak. Ia mengaduh hebat dengan tangan memegang pundak yang terbentur tadi.


"Sakit, Fia. Sakit banget ini."


Fia makin panik. Ia bantu Dafin berdiri tapi Dafin yang gemas tak bisa berpura-pura lebih lama. Ia balik keadaan hingga kini Fia terlentang dan ia ada di atas.


"Kamu pura-pura?" Mata Fia melotot.


Dafin hanya tersenyum kecil. Ia rapikan lagi rambut Fia yang berantakan. "Aku gak pernah pura-pura soal perasaan. Tapi kenapa kamu masih saja gak percaya?"


Fia mendadak gugup. Ia dorong dada Dafin tapi pria itu tak bergerak sama sekali. Ia masih setia memindai wajah Fia yang memerah.


"Aku sudah jujur dengan perasaan sendiri. Kenapa kamu masih gak mau jujur dengan perasaan kamu sendiri?" lanjut Dafin.


"Aku masih ragu."


Alis Dafin naik sebelah. "Ragu kenapa?"


"Ya ragu aja. Sisi ... aku gak bisa bahagia di atas penderitaan orang lain," jawab Fia akhirnya.


Dafin mendesah. "Sudah aku katakan, Sisi itu kuat."


"Bagaimana kalau dia nyoba bunuh diri lagi?"


"Gak akan. Aku yakin itu. Lagipula aku juga sudah mengantisipasi itu. Aku udah nyuruh Om Rio buat nyuruh orang ngawasin dia. Jadi kamu jangan khawatir. Aku yakin semuanya akan baik-baik aja.''


"Tapi ...."


Fia bungkam. Hanya matanya yang beroperasi normal kali ini. Ia hanya mampu seperti itu. Bersitatap dengan Dafan dengan jarak yang begitu dekat seperti itu membuat semua inderanya lumpuh. Ia tak bisa lagi mendengar apapun. Yang terasa nyata hanyalah detak jantungnya yang menggila luar biasa. Ia meronta, tapi lagi-lagi kalah tenaga.


"Jawab dulu. Sebenernya bagaimana perasaan kamu?" cecar Dafin. Napasnya memburu. Makin di tatap makin Dafin merasa tak kuat. Gejolak dalam dada makin dahsyat saja. Fia meruntuhkan pertahanan yang selama ini ia jaga saat bersama perempuan.


"Tolong, kasih aku jawaban kamu, Fia."


Fia lagi-lagi tak menjawab. Lidahnya kelu luar biasa dengan telapak tangan yang begitu dingin.


Dafin kembali mendesah panjang setelah itu berkata, "Oke. Kamu gak perlu menjawab. Cukup mengangguk kalau setuju."


Meskipun tak yakin Fia akhirnya menggerakkan sedikit kepala. Dafin tersenyum.


"Apa aku tampan?" tanya Dafin.


Fia berpikir sejenak lalu mengangguk.


"Apa aku bisa dipercaya?''


Fia lagi-lagi mengangguk.


Senyum Dafin sedikit terbit. "Apa aku membuat jantung kamu berdebar-debar?"


Fia mengangguk lagi.


"Apa kamu mau jadi pacarku?"


Fia mengerjap. Ia berpikir sejenak lalu ragu-ragu mengangguk satu kali. Sebuah gerak tubuh singkat itu tentu saja membuat Dafin bahagia. Pria itu tersenyum, ingin sekali berteriak lantang. Namun urung melakukan karena bibir ranum Fia menjadi titik fokusnya. Sekarang ia tak bisa menahan lagi dan dengan segera mengecup bibir Fia tanpa aba-aba.


Mengerjap. Fia hanya bisa melakukan itu tanpa tahu apa yang harus di lakukan. Otaknya yang cerdas tak pernah sekalipun berpikir bagaimana cara menghindari ciuman Dafin. Ia benar-benar tak tahu dan entah kenapa suatu dorongan dalam dada menyuruhnya untuk mengikuti pergerakan Dafin. Perlahan ia buka mulutnya. Membiarkan Dafin menyesap bibirnya untuk sekali lagi. Fia benar-benar terhipnotis. Ia tak bisa menahan rasa itu dan bersikap munafik lebih lama. Ia menyukai Dafin. Sangat menyukainya.


Pagutan lembut tapi lumayan membuat bibir cenat-cenut itu pun berhenti. Dafin tersenyum begitu pula Fia. Keduanya berdiri dan membenarkan posisi. Davin peluk Fia seraya mengembuskan napas lega. Kedua belah ujung bibir tertarik. "Terima kasih banyak. Aku akan berusaha untuk bahagiain kamu," ujarnya tulus.


Fia melepaskan pelukan lalu memukul pundak Dafin. Matanya menyipit lalu tersenyum juga. "Jangan kebanyakan gombal.''


"Aku gak gombal.''


Fia mendesis. Matanya melirik sinis. "Lagian aku memang suka sama kamu tapi bukan berarti kita kita pacaran."


"Lah?"


Senyum Dafin seketika sirna dan berganti dengan kebingungan yang hakiki. Dahinya mengernyit dan terbentuklah beberapa lipatan panjang di sana.


Bagaimana ceritanya suka tapi tidak mau pacaran? Terlebih lagi Fia telah membalas ciumannya. Tak lagi ciuman sepihak seperti terakhir kali. Jika saja tak memikirkan masa depan, ia akan melahap gadis itu sampai habis.


"Bukannya kamu sendiri yang buat peraturan kalau gak boleh ada yang berkencan dalam satu perusahaan?"


Mata Fia menyalang. Dafin sampai menelan ludah karena tak menyangka peraturan itu akan menjadi boomerang untuknya sendiri.


"Aku tegesin sekali lagi. Aku mau tetep kerja. Aku gak mau berhenti," ucap Fia mantap. Ia bahkan bersedekap dengan mata tetap menatap tajam.


Dafin menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Baiklah. Jangan pikirin itu. Aku akan cari solusinya."


***


Tibalah di kontrakan. Fia dan Dafin melihat seorang wanita paruh baya tengah duduk sendirian di teras. Wanita yang mereka kenal bernama Marni—salah satu ART Litania. Keduanya menghampiri dengan wajah keheranan.


"Lah Mbak Marni ngapain duduk di sini sendirian?" tanya Dafin.


Si Marni langsung berdiri. Ia tersenyum dan menunduk patuh. "Saya di suruh nyonya jagain rumah ini, Den. Nyonya gak tau di mana letak kuncinya. Jadi daripada rumah ini nanti kemalingan jadi saya di suruh nungguin."


Dafin dan Fia tersenyum canggung. Ternyata saat mereka merasakan bahagia ada Marni yang menderita menunggu mereka tiba.


"Kalau begitu saya permisi ya, Den. Saya pulang dulu."


Fia dan Dafin mengiyakan. Kini hanya tinggal mereka berdua di teras itu. Keduanya sama-sama diam dengan bibir tersenyum malu.


Dafin mendekat. Ia pegang kedua belah tangan Fia. "Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih karena sudah jujur dengan perasaan sendiri. Aku janji ...."


Tangan yang dipegang Dafin ia tarik paksa. "Jangan ngucapin janji. Entar kebiasaan. Janji manis kalau gak ditepati ya percuma, cuma bikin gerah hati. Lagian aku gak mau kamu berjanji apa pun. lewati aja kedepannya dengan baik. Jika jodoh kita akan sama-sama. Kalau enggak ...."


"Pasti jodoh," sela Dafin dengan keyakinan penuh.


"Idih maksa," balas Fia lalu terkekeh.


"Iya, kalau gak jodoh aku bakalan jadiin kita tetep jodoh."


Fia tergelak makin nyaring. Mendengar perkataan Dafin barusan ia jadi teringat perkataan Litania tadi pagi. Ternyata Dafin benar-benar keras kepala. Ia pun mengiyakan dan mengaminkan.


"Ya sudah pulang sana. Sekarang sudah malam."


"Sebentar.'' Dafin menuju mobil dan kembali menghadap Fia lagi. "Ini, terimalah," lanjutnya seraya meletakkan kotak perhiasan kecil persegi empat di tangan Fia. "Aku beliin kamu hadiah. Semoga kamu suka."


Fia bergeming. Tak bisa berkata-kata. Untuk pertama kalinya ia bahagia dan yang membuatnya seperti itu adakah Dafin. Bos arogan yang hanya mementingkan diri sendiri.


"Selamat ulang tahun," lanjut Dafin lagi lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat di kening. "Istirahatlah. Besok jangan telat. Ada yang mau aku kasih liat ke kamu."


Mengangguk, Fia lepas kepergian Dafin dengan lambaian tangan, sedangkan senyuman makin tercetak nyata di bibirnya yang ranum. Ia sungguh bahagia hari ini. Jatuh cinta untuk kedua kalinya tak mengurangi kadar deg-degan yang ada. Bahkan rasanya lebih dahsyat saat jatuh cinta pada Kevin.


Fia memutar tumit, ia tutup pintu dan melihat lekat-lekat barang yang ada di tangan. Ia makin deg-degan dan dengan perlahan membuka kotak itu. Sepasang anting indah membuatnya enggan menutup mata.


"Dasar Playboy cap badak bercula satu," gumam Fia lantas tersenyum gemas. Namun, bunyian pintu di belakang mengagetkan dan tentu saja senyum bahagia itu sirna. Ia mendadak gelisah, siapa gerangan yang mengetuk pintu rumahnya malam-malam begini?


Memberanikan diri, Fia pun berteriak, "Siapa?" Tanpa mau membuka pintu.


"Buka pintunya Fia. Aku Dafan."


Tetep stay together with me. Hehehe kalo gak ada halangan, akhir bulan tamat.