
Di saat Kinar dan Arjun tengah mendramatisir malam pertama, ada sosok wanita cantik mondar-mandir di depan mobil yang berhenti di tepi jalan. Pikirannya kacau, malam makin larut tapi tak ada satu pun ojek maupun taksi yang lewat.
"Non, ini keknya bakalan lama. Non Litan masuk ke dalam aja," pinta si pria sopan yang tak lain tak bukan adalah Bambang.
Kinar mengulas bibir seraya menggeleng. Rasanya tak pantas hangat sendirian sedangkan Bambang berkutat dengan mesin mobil di tengah dinginnya malam.
"Bapak sudah nelfon orang bengkel?"
"Sudah, Non. Katanya dia ada urusan ke tempat lain. Setelah dari sana baru dia ke sini."
Kinar mendesah panjang. Namun, apalagi yang bisa dilakukan selain menunggu.
"Kalau gitu kita masuk ke dalam mobil aja, Pak. Bareng. Di luar dingin."
"Gak perlu, Non. Saya di luar saja," tolak Bambang.
"Tapi, sekarang udah larut. Nanti, Bapak sa—"
Lisan Litania terjeda saat melihat sebuah mobil mewah menepi tak jauh darinya berdiri. Matanya membulat lebar saat melihat orang yang keluar dari kendaraan itu. Penampakan yang membuat Litania senam jantung dadakan.
"Mas Fabian!" pekiknya seraya mendekat, "Mas Fabian ngapain ke sini? Mas Fabian ke mana aja? Kok gak pernah nongol?" cecarnya.
"Saya gak ke mana-mana, kok. Cuma agak sibuk sekarang." Fabian lihat wajah Litania lalu Bambang. Tanpa bertanya pun ia sudah tau alasan kenapa Litania berdiri di sana. "Sudah panggil montir?" lanjutnya.
"Sudah, Mas. Tapi kata Pak Bambang orangnya lagi ada urusan ke tempat lain. Setelah itu baru ke sini," jawab Litania seraya menggosok pelan lengannya sendiri. Dinginnya cuaca sampai menembus dada.
Sementara itu, Fabian yang memang peka tanpa aba-aba melepas jas dan menyelimutkannya ke tubuh Litania yang sudah dingin. "Pakai ini."
"T-tapi—"
"Jangan nolak. Ini sudah jam sebelas malam. Perempuan gak boleh kena angin malam."
"Udah jangan tapi-tapian, sekarang saya antar kamu pulang."
Litania gelagapan. Meski sang suami tak ada di rumah. Rasanya tak pantas menerima tawaran pria lain. "E-enggak perlu, Mas. Sebentar lagi juga montirnya datang."
"Udah, jangan nolak. Ini udah malam, Litan." Fabian mengajak dengan nada sedikit maksa karena khawatir. Bagaimana bisa tak khawatir saat wanita yang di sayang tengah terlunta di tepi jalan. Terlebih lagi di waktu yang hampir tengah malam. "Apa perlu aku izin sama suami kamu?" lanjut Fabian seraya merogoh saku.
Litania kembali menggeleng, ia cegah tangan Fabian. "Gak perlu, Mas." Ucapan Litania terjeda. Matanya memandang Bambang. "Tapi Pak Bambang, gimana? Kalau aku pulang, nanti dia sendirian."
"Saya gak apa-apa, kok, Non. Non Litan baiknya pulang dulu. Biar saya yang nunggu montirnya."
Diam sejenak. Litania perhatikan wajah Bambang. Seolah-olah meminta persetujuan. Pria paruh baya itu pun mengangguk diikuti ulasan bibir Litanu yang ranum.
"Ya sudah, saya tinggal, ya, Pak."
Di mobil.
Litania beberapa kali mencuri pandang ke arah Fabian. Pria dari masa lalunya itu terlalu fokus menyetir, padahal ada begitu banyak pertanyaan dalam benak. Kenapa Fabian tak pernah lagi menemuinya setelah pengakuan cinta beberapa tahun yang lalu?
"Kalau mau nanya, nanya aja. Jangan melirik-lirik gitu. Entar matanya gak balik lagi, lho. Kan bahaya," kelakar Fabian. Ia terkekeh pelan.
Litania tersenyum. Ia eratkan jas agar memberikan kehangatan ke tubuh.
"Aku cuma penasaran, Mas Fabian, kok gak pernah ada kabar. Aku Kira Mas Fabian marah sama aku soal yang tempo hari."
"Gak, itu gak bener. Aku beneran sibuk. Bukan ngindarin kamu."
"Tapi masa iya sibuknya sampe full lima tahun?"
***