Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Dendam terbalaskan.


"Batu kertas gunting!"


Plak!


Bianca menepuk jidatnya sendiri. Wajah sudah merah padam, rahang mengetat dengan tangan yang sudah mengepal erat. Istri dari Skala Prawira itu kalah akibat salah menduga. Ia memilih kertas sedangkan Litania memilih gunting.


Sementara wajah Litania, jangan ditanya lagi. Pipinya merekah, tawanya membahana seketika. Suara yang membakar emosi Bianca hingga menjadi abu. Tak terima ... percuma. Nasi sudah menjadi bubur.


Menggandeng lengan Skala, Bianca memasang wajah cemberut. "Ska ... aku kalah. Gimana ini ..." rengeknya.


Skala terdiam, tak tahu harus apa.


"Nah, sekarang terbukti 'kan siapa yang menang?" Litania berucap bangga, dadanya membusung dengan kedua ujung bibir tertarik. Bergaya songong dan menyebalkan, tapi ia menikmatinya. Wajah kesal Bianca menjadi hiburan yang tak mungkin terulang kembali.


Litania tarik kuat stroller dari genggaman Bianca. "Lepasin! Ini udah jadi milikku." Berucap penuh penekanan. "Dan satu lagi ...." Mata Litania tertuju pada Skala. Senyum ambigu terlihat nyata di bibirnya. Ulasan bibir yang membuat lelaki berpakaian rapi dan tampan itu mematung, matanya mengerjap dengan jakun yang naik turun. Pikirannya jelas sudah ke mana-mana.


Apa ini? Mau diapakan aku? Wanita ini sepertinya gila? Lebih gila dari geng Sultini blok Kamboja. Bisa-bisanya minta lelaki lain di depan suaminya. Astaga ....


Gleg! Skala telan ludahnya, kasar. Firasat buruk mendominasi pikiran.


"Tuan Skala. Tadi Anda dengar ucapan istri Anda, 'kan?" tanya Litania.


Skala mengangguk horor. Ia lihat sekilas wajah masam Bianca lalu wajah gusar Chandra secara bergantian.


"Sesuai kesepakatan antara saya dan istri Anda barusan, jadi anda harus ikut saya sebentar." Senyum ambigu Litania makin menakutkan.


"Tapi, saya mau diapain?"


"Iya, sebenarnya mau kamu apain dia?" tanya Chandra, menggeram. Mulai tak senang. Pertarungan istrinya itu tak ada manfaat dan faedahnya. Menang jadi arang, kalah jadi abu. Sama-sama bikin malu. Unfaedah sekali.


"Apaan sih, Bang. Aku gak bakalan ngapa-ngapain, kok. Aku cuma mau pegang jakun dia. Jakunnya keren. Aku suka dan pengen pegang sebentar," jelas Litania tanpa rasa bersalah.


"Apa-apaan ini?" Bianca tampak tak terima. "Kamu mau pegang suami orang?"


"Lah, kok apa-apaan. Kan sesuai perjanjian. Lagian suami kamu gak bakalan aku cincang, kok. Aku cuma mau usap jakun dia selama lima menit." Litania menjeda katanya sebentar. Matanya menyipit tajam. "Gak boleh? Tapi perjanjiannya tadi gimana? Semua orang di sini denger, loh. Kamu setuju buat minjemin suami kamu."


Skakmat.


Sebuah jawaban yang berefek pada wajah Bianca khususnya Skala. Pria itu berdengkus, tak terima jadi lelucun ibu hamil dan parahnya istrinya sendiri yang menumbalkan.


Skala menarik napas dalam lalu mengeluarkannya perlahan. Bagaimanapun perjanjian tetaplah perjanjian, apalagi ucapan istrinya itu telah didengar oleh banyak orang yang ada di sana. Mau tak mau ia harus menerima konsekuensi atas kesombongan istrinya itu.


"Gimana? Apa bisa ikut saya sebentar?" pinta Litania lagi, terdengar ramah. Tak sama saat berhadapan dengan Bianca.


Mendesah panjang pria berkemeja abu-abu itu mengikuti langkah Litania menuju sebuah bangku yang ada dalam babby shop. Pasrah saat Litania menyuruhnya mendongak dan membiarkan wanita musuh istrinya itu melihat dan sesekali membelai jakunnya.


Chandra dan Bianca hanya bisa berdiri mematung. Chandra merasa tak enak hati sedangkan Bianca kesal setengah mati.


"Maaf, Bianca. Aku harap kamu gak marah sama Litania. Dia memang kekanakan, ditambah selama hamil ini dia memang suka liatin jakun orang yang menurutnya tampan."


***


Di perjalanan pulang.


Wajah Litania tentu bisa kalian ditebak. Cerah secerah mentari pagi di serial film anak-anak, Teletubbies ... Teletubbies. Ucapkan ... hallo! A ow. Bacanya sambil nyanyi.


Ish, authornya gaje. Wkwkwk.


"Emang harus banget, ya, rebutan kayak tadi?" Berdengkus kesal, Chandra yang tengah menyetir masih tak habis pikir akan arah pikiran Litania. Bisa-bisanya bertingkah kekanakan di depan umum. Ia lepas kancing kemejanya yang paling atas. Gerah, menahan kesal atas tingkah absurd istrinya.


"Ya, gak harus banget, sih. Cuma kesel aja sama tu orang. Nyebelin. Untungnya aku menang, jadi dendamku terbalaskan." Litania tegelak puas. Bak setan yang sukses menggoda manusia.


"Emangnya kamu gak nyebelin? Ucapan kamu itu juga bikin orang sakit hati, loh. Baru semalam bilang mau berubah jadi wanita terkalem sedunia. Ee sekarang masih gitu lagi."


Litania diam, wajahnya cemberut. Mau melawan tapi sudah terlanjur ditembak. Dor!Dor! Dor! Skakmat.


Litania masih bungkam. Tangannya tertaut di atas perut. Merasa bersalah akan sikap kekanakan dan ke-barbarannya yang tak menghilang dari peredaran pembuluh darah. Ingin berubah, tapi rasanya susah.


"Litan."


Namun Litania tak menyahut. Matanya masih tertuju ke perut. Gadis itu dalam diam menangis. Diceramahi sedemikian rupa menyakiti hatinya. Ucapan Chandra benar, tapi rasanya sulit untuk diterima. Bagaimanapun Bianca pernah mengolok-oloknya. Ya wajarlah kalau membalas. Paling tidak hitungannya satu sama.


"Sayang."


Masih tak ada sahutan dari Litania hingga Chandra yang kadung penasaran menepikan mobil, lantas menangkap wajah yang tertunduk itu. Sudah berurai air mata dengan bibir bergetar. "Kamu kenapa nangis?" tanyanya.


Litania menggeleng. Ia tepis tangan Chandra lalu menyeka air mata dengan tisu. "Gak apa-apa. Aku cuma sedih aja. Bang Chandra gak ngerti aku. Aku istri kamu tapi kamu belain istri orang. Sekarang malah marah-marah."


Ya Tuhan ... drama apa lagi ini? Menyugar rambut ke belakang, Chandra berusaha bersikap tenang. Tak ingin memperkeruh keadaan dengan membalas ucapan Litania.


"Yaudah, maaf. Sekarang berenti nangis, ya. Kasian kembar. Nanti mereka juga ikutan sedih."


Litania mengangguk, senyumnya sudah terukir lagi. Ia usap perutnya searah jarum jam. "Entar kalo kalian udah gede, belain Bunda ya. Mau salah mau bener kalian harus tetep dukung Bunda. Oke."


Ajaran sesat. Keinginan macam apa itu. Ibu egois itu namanya. Batin Chandra bersungut. Namun bibirnya berkedut, menahan tawa. Tingkah absurd istrinya emang benar-benar di batas ambang kewajaran.


Tibalah mereka di halaman rumah. Dahi Chandra mengernyit. Mobil Ferrari miliknya yang tertinggal di Semarang sudah ada di halaman.


"Sayang, kayaknya mama sama papa udah dateng," terka Chandra.


"Beneran?" Litania berucap antusias, lantas membuka sabuk pengaman. Tak sabar ingin bertemu dengan mertuanya. Akan tetapi, sosok yang keluar dari rumah, melenyapkan senyumannya dalam sekejap.


"Loh, kok ada Caca," ucap Litania heran.


Sementara Chandra juga tak kalah bingung. Alisnya bahkan tertaut. Ia gendong Chandira lalu menciuminya. Senyumnya lebar mendapati sang buah hati tertawa dalam pelukan. "Kok sendirian? Mommy mana?"


"Mommy ... opa. Mommy ... oma." Chandira mengucapkan itu berulang-ulang seraya menatap Barbie yang tak berkepala di tangannya.


Litania dan Chandra saling pandang. Bingung dengan keadaan. Beruntung sang mama keluar dengan bibir tersenyum. "Kalian baru pulang?"


Litania mengangguk lantas meraih tangan mama mertuanya. "Iya, Ma. Kita baru pulang. Tadi habis belanja keperluan si kembar."


Mata Lita berbinar. Ia usap perut membuncit Litania. "Nenek gak sabar pengen liat kalian lahir. Sehat terus ya."


"Oiya, Ma. Kok tumben bawa Caca. Rania ikut juga?" tanya Chandra yang sudah terlanjur penasaran.


"Enggak, Rania gak ikut. Dia tadi pagi nitipin Caca sama Mama. Katanya dia ada perlu jadi harus ke Amerika."


"Loh, kok mendadak. Tumben gak bawa Caca?" Chandra masih menatap fokus sang mama.


"Entahlah. Katanya dia punya masalah dan harus diselesaikan. Katanya kasian Caca kalau harus dibawa. Jadi sementara ini Caca Mama yang jaga."


"Masalah? Masalah apa, Ma?" tanya Litania yang juga penasaran.


"Entah, dia gak bilang. Tapi Mama gak sengaja pernah liat dua laki-laki berantem depan toko rotinya dia. Dua-duanya kayaknya orang berada. Tapi yang satu kayak blasteran gitu. Ganteng, tapi kayak gak punya adat. Gak sopan. Yang mama inget betul, si blester itu ada nyebut-nyebut soal orang tua Rania sama bangkrut-bangkrut gitu."


"Kayaknya serius. Coba telepon dulu, Bang. Sapa tau masalahnya rumit," usul Litania.


"Gak usah. Tadi Mama juga udah nawarin bantuan. Tapi dia gak mau. Katanya ini urusan keluarganya."


"Tapi Ma."


"Sudah, kita tunggu aja. Moga masalahnya gak serius trus dia cepetan balik."


***


Rania insyaallh lonching ya. akhir bulan.


oiya. jangan lupa like ya Gaes.