Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Penguntit


Menyelusuri lorong bersisi bambu, mata Chandra tak henti meyapu sekeliling—mencari sosok Litania. Namun sayang, berkali-kali melewati jalanan itu, ia tatap tak menjumpai wanitanya.


Chandra berdengkus, terlanjur kesal. Padahal niat hati ingin memberikan kejutan bahwa dirinya juga punya mobil mewah—Aston Martin DB11—yang kini ia kendarai. Mobil yang sengaja dititip pada manager perusahaan—anak cabang—yang ada di Bali. Berharap kesan tua dan pelit yang selalu Litania lontarkan akan hilang. Namun sayang, keinginan mendapat pujian malah harus menelan pil kekesalan terlebih dulu.


"Ck! Ke mana sih dia?" Chandra gusar, ia pukul berkali-kali setir mobilnya. Frustrasi karena tak juga bertemu sosok wanita barbarnya itu. Ia jadi resah, sudah lama berkeliling sekitaran hotel tapi tak juga bertemu Litania.


Mendadak pikiran buruk menghampiri. "Apa jangan-jangan ...."


Ingatan Chandra langsung tertuju pada penguntit Litania. Orang yang selalu mengirim paket yang berisi stiker, VCD, bahkan pernak-pernik yang berbau Super Junior—boyband kesukaan Litania. Sosok yang selalu membuatnya khawatir kala meninggalkan Litania sendirian di dalam apartemen. Manusia yang meneror, berkedok anggota ELF—fans club Super Junior—boyband ternama asal Korea Selatan. Dan sialnya orang itu bisa mengelabui Litania hingga percaya. "Dasar gadis bodoh!"


Merogoh saku celana, Chandra keluarkan gawainya. Menghubungi nomor ponsel istrinya itu. Panggilan terhubung, tapi tetap tak ada jawaban, menyisakan kepanikan yang lumayan menguras pikiran Chandra. "Litan, kamu ke mana?"


Mengepalkan tangan dan memukul setir, Chandra keluarkan amarahnya yang sudah lumayan tinggi. "Sialan, kenapa aku gak kepikiran ke situ. Tu penguntit pasti tau kalau Litania ke sini. Ah, banggsat!" Chandra menggeram, dilemparnya ponsel ke arah kursi penumpang. Mencoba berpikir sejenak apa yang harus dilakukan.


****


Suara ombak yang menghantam bibir pantai begitu lancar masuk ke indra pendengaran. Rasanya begitu tenang ... tapi keadaan itu membangunkan Litania yang sempat nyaman dengan mata terpejam.


Menggeliat dengan perlahan, akal sehat gadis itu mulai datang. Ia ingat jelas bagaimana situasinya sebelum pingsan. Astaga. Litania membatin seraya membuka paksa matanya. Membeliak dan memindai sekeliling. "Di mana aku?" Litania bingung. Dirinya tengah terbaring dengan tangan terikat di atas kepala.


Litania panik, semua anggota badan tak bisa bergerak bebas. "Ya Alloh, di mana ini?"


Litania mulai gemetar. Ia meronta, menarik-narik pergelangan tangan yang terikat dengan tali rafia. Sakit, pedas dan nyeri. Ketakutan mendominasi pikiran. Membuatnya terus saja melakukan hal yang sia-sia—menarik tangan yang terikat. Bang, tolong aku.


Tak sampai di situ. Kengerian Litania makin menjadi tatkala melihat ruang tempat dia disekap—mirip gudang terbengkalai. Tampak begitu banyak potretnya ketika masih mengenakan seragam SMA. Dari berangkat sekolah, pulang bersama Kinar, tertawa, membolos ke mall, hingga dihukum berdiri di depan tiang bendera. Semuanya begitu tersusun rapi di dinding yang diselimuti sarang laba-laba. "Gila, siapa psikopat ini?"


Belum lagi foto-fotonya ketika menerima semua paket yang setaunan ini selalu membuatnya bahagia. Kiriman paket yang dikira Litania dari anggota sesama pecinta Super Junior. Dan lagi, jantung Litania serasa terhenti memompa darah. Tampak sebuah bingkai foto di atas meja kayu di dekatnya terbaring. Fotonya yang tengah bergaun pengantin. Namun aneh, pria yang di sebelahnya jelas bukan Chandra. Ia sipitkan matanya. Melihat dengan pasti gambar pria yang sedang berdiri itu. "Siapa dia?" gumam Litania. Ia tak ingat pernah berhubungan dengan orang itu.


Litania gemetar, mendadak peringatan Chandra mengudara. Mengatakan bahwa orang yang selalu mengirim paket adalah orang jahat. Dan sekarang ia yakin, yang dikatakan suaminya itu benar adanya.


"Bang, tolongin Litan." Air mata Litania mulai berguguran, takut, cemas. Tak bisa apa-apa karena tangan dan kaki terikat.


"Nenek ... Bang Chandra ... tolongin ...." Tangis Litania mulai pecah. Ia terus saja meronta, berharap tali itu putus.


Beberapa detik kemudian. Teriakan Litania berhenti. Berganti menjadi kegugupan yang hakiki. Tabuhan di dadanya mulai menggila. Terdengar jelas suara derap kaki mengentak kuat lantai papan, menuju ke arahnya.


Dup-dup-dup-dup. Litania bisa dengan jelas mendengar genderang perang dari dalam dadanya.


"S-siapa di sana?" Wajah Litania mulai tak berwarna. Ia perhatikan dengan tatapan horor pintu kamar yang tak jauh darinya terbaring.


Kreaat!


Bahkan suara deritan pintu tua itu membuat Litania menahan napas. Serasa diintai malaikat maut. Gadis dengan rambut yang telah acak-acakan itu terus merapalkan doa. Ia takut apa yang akan terjadi setelah pintu terbuka. Bagaimana tidak? Karena orang waras tidak akan berani melakukan hal gila seperti itu.


"S-siapa kamu?" Litania berujar sok tegar. Padahal jelas suaranya telah bergetar dengan bibir yang juga gemetar.


Namun tak ada sahutan, hingga sosok itu benar-benar dekat dengan dipan kecil tempat Litania terikat. "Ini aku, Sayang ...." Sosok itu tersenyum. Ia berjongkok dan membelai pipi Litania yang tertutup rambut. "Apa kamu gak inget aku lagi?"


Degh!


Litania bergeming. Hanya mata sembabnya yang mengerjap berkali-kali. Mencoba memutar memori, mengingat siapa sebenarnya sosok pria muda yang nekat menculiknya. Remaja yang berusia kurang lebih dengannya.


Satu detik.


Dua detik.


Tiga detik.


Mata Litania membulat. "Kau ...."