Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Balas membalas.


Gila, beraninya dia nyuekin aku.


Litania membatin jengkel, diperhatikannya punggung Chandra dan Ara dari belakang. Rasa kesal mendadak memeluk erat.


Bukannya diajak masuk, dirinya malah diabaikan. Ini sebenernya yang punya rumah siapa sih. Sialan.


Litania mengentak kaki, tangan bahkan mengepal kuat dan siap melayang kapan saja. Belum lagi mata yang melotot serta mulut komat-kamit menggerutu—merutuki kedua orang itu.


Awas. Aku pasti bales kamu.


Melangkah menuju kamar, Litania makin mengentak kuat kakinya ketika melewati Chandra dan Ara yang sedang duduk di ruang tamu. Sialnya, kedekatan kedua orang itu begitu jelas. Meningkatkan level kejengkelan di diri Litania.


Ara, wanita cantik nan semok itu bahkan tampak nyaman duduk berdekatan dengan Chandra. Ia bahkan tampak tersenyum seraya menjelaskan.


Apa-apaan itu? Ketawa ketiwi gak jelas. Itu bahas pekerjaan apa lagi nonton Sule. Dasar ganjen.


Mata Litania mengarah ke Chandra. Itu juga si bangkotan tua. Bukannya jaga jarak ada bini di sini, ini malah biasa aja. Mau nunjukin kalau situ ganteng gitu. Mau nunjukin kalau bisa dapetin perempuan mana aja. Cih! Dasar, tua-tua keladi. Makin tua makin gatel.


Berdengkus, Litania sengaja menunjukkan ketidaksukaan pada dua makhluk tak tau diri itu. Namun parahnya, kedua orang yang tengah duduk berdempetan menatap layar laptop itu cuek saja. Pemandangan yang membuat Litania makin meradang.


Aku Tuan rumahnya, woi! Aku! Beraninya k**alian nyuekin aku! Ingin sekali ia berteriak begitu.


Sungguh. Litania merasa gusar. Melihat keakraban Chandra dan Ara seakan-akan ada balsem dalam dada. Panas, panas dan panas. Tenang Litan. Jangan cemburu. Nanti dia gede kepala. Inget. Dia masih dalam hukumanmu.


Sementara itu, Chandra diam-diam mendelik, seringaian pun terukir kala melihat wajah masam Litania.


"Litan, tolong bikinin minum buat Ara." Memasang wajah datar, mata sengaja Chandra tujukan ke layar laptop. Membuat Litania yang hendak membuka pintu kamar menjadi kesal. Ia diperintah bak pembantu. Padahal dialah pemilik rumah itu.


Oke, Litan. Sabar. Stay cool. Oke. Cayyo. Kamu bisa.


"Mau minum apa, Mbak?" tanyanya dengan senyum dibuat-buat.


Ara tersenyum kikuk, tapi sebuah senggolan di kaki membuatnya paham kalau sang bos mempunyai niat terselubung. "A-apa aja. Air putih juga gak apa-apa."


Berdengkus samar, Litania kembali mengentakkan kaki menjauhi mereka. Akan tetapi, Chandra seakan-akan sengaja menguji kesabaran Litania. Ia panggil kembali Litania yang jelas sudah ada di dapur.


"Kenapa lagi?"


"Ini." Mengangkat gelas kopinya yang kosong, Chandra pun berucap, "Bikinin lagi."


Sial. Darah Litania makin berdesir. Ia sambar gelas kaca di tangan Chandra dengan cepat. Ni orang bener-bener ngajak gelut kayaknya.


Lagi-lagi Litania membatin. Kesal dengan sikap Chandra yang menjengkelkan. Begitu berbeda dengan sikapnya selama ini—bucin akut tingkat Dewa.


"Gimana, Pak? Sukses?" Ara berbisik ketika Litania sudah tak ada lagi di sana.


Chandra tersenyum tipis. Jempolnya bahkan sudah ia tujukan pada Ara. "Banget, saran kamu memang oke. Gak apa-apa deh muka bonyok. Daripada dia nuntut cere."


Manggut-manggut, Ara mengukir senyuman. "Syukurlah. Perempuan mah gitu, Pak. Kalo dibujuk gak mempan itu artinya cara selanjutnya. Pasang badan terus terima nasib jadi pelampiasan." Ara terkekeh pelan. "Kalo gitu hadiahnya jangan lupa, ya. Gaji saya di naikin."


Chandra berdengkus kesal, tapi tak lama senyuman terukir di wajahnya yang lebam. "Eh, saya boleh minta tolong lagi gak?"


"Iya, sukses. Tapi dia masih jual mahal. Bantuin lagi dong. Tapi kamu harus tahan hati ya. Soalnya bacotan Litania itu pedes banget."


Ara tampak berpikir, tapi kemudian mengangguk setuju. "Tapi bayarannya double, ya?" Nyengir kuda. Ara menampakkan gigi putihnya yang tersusun rapi.


Chandra mengibas-ngibaskan tangan. "Gampang itu. Kalo dia mau balik ke apartemen. Gaji kamu aku double-in sama aku kasih kamu tambahan cuti satu minggu, gimana?"


"Kok cuma seminggu. Dua minggu, deh." Ara kembali nyengir kuda.


"Ck! Kamu mau saya pecat."


Sementara itu. Di dapur Litania sedang bersungut hebat. Wajahnya bahkan telah ditekuk membentuk beberapa lipatan. Ia sungguh kesal. Dan sialnya kekesalannya tak bisa terlampiaskan. Harus aku apain mereka itu, ya? Hm ....


Lagi-lagi ide gila terlintas. Ia ambil garam yang ada di samping gula. "Nah, ini ni." Sambil tersenyum miring, Litania tuang beberapa sendok garam seraya membayangkan ekspresi Chandra dan Ara ketika meminum kopi buatannya. "Biar tau rasa."


Namun, belum sempat menuai hasil kelicikannya. Sebuah pemandangan membuat dada Litania kembali terasa terbakar. Ara, wanita itu tengah menyentuh wajah suaminya. Ya Tuhan. Perempuan Sundel itu gak tau tempat kali ya. Si Bangkotan itu pun sama. Emang bener-bener mereka.


Litania letak nampan di atas meja. Wajahnya merah padam memperhatikan dua orang itu.


Sementara Chandra, mengabaikan tatapan Litania. "Minum, Ra."


"Iya, Pak. Bapak juga."


Serentak mereka minum kopi itu dan serempak pula menyemburkannya. Air itu bahkan mengenai laptop serta berkas-berkas yang ada di atas meja. Sebuah keadaan yang membuat Chandra berang.


"Litania!" Chandra berteriak lantang. Ia bahkan telah berdiri. Membersihkan surat-surat penting yang terkena muncratan kopi asin itu. "Kamu mau bikin kami darah tinggi!" lanjutnya.


"Iya. Aku mau bikin kalian darah tinggi. Terutama perempuan ganjen ini. Gak sadar diri maen sentuh-sentuh laki orang. Gak liat, ada bininya di sini." Litania menepuk dadanya kuat. Menatap nyalang pada Ara yang masih tertunduk dalam.


"Apa perlu aku kasih pengumuman lagi. Aku istrinya. Aku istri sahnya. Berani-beraninya mesra-mesraan dengan laki orang depan istrinya. Gak punya etika? Apa kek gitu kamu diajarin di sekolah? Terang-terangan ngegoda laki orang. Perempuan gak punya malu."


"Litan!" Lagi, Chandra membentak. Diperhatikannyan Ara yang tengah bermuka masam. "Ara, kamu pulang dulu ya. Nanti kita bahas ini di kantor."


Ara pun pergi. Sementara Chandra kembali memandang istrinya yang juga masih bermuka merah padam. "Kamu ini! Kalo ngomong bisa gak di pikirin dulu. Kamu itu udah nyakitin perasaan dia tau gak!"


Berdesir, darah Litania naik ke ubun-ubun. Ia balas tatapan menghunjam Chandra. "O ... jadi kamu lebih mentingin perasaan perempuan lain daripada perasaan istri sendiri, gitu! Kamu jahat!"


"Bukan kek gitu Litan. Harusnya kamu bertanya dulu. Dia itu sekertaris terbaik yang aku punya. Lagian kami gak ada hubungan apa-apa. Asal kamu tau, dia udah nikah dan punya anak. Dan soal perasaan. Kenapa aku harus terus jaga perasaan kamu. Aku udah usaha, Litan. Aku udah usaha buat ngimbangin kamu. Aku udah usaha semaksimal mungkin buat kita balik kek dulu lagi. Tapi apa?! Kamu makin seenaknya sendiri. Iya, aku tau kamu sakit hati. Tapi apa gak bisa maafin aku. Ngerti aku. Gak bisa ya bersikap lebih dewasa sedikit demi kita. Inget Litan. Kita udah nikah. Harusnya kamu bisa lebih dewasa dalam bertindak dan berucap."


"Oo jadi sekarang kamu nyalahin aku, gitu. Iya. Di sini akulah yang salah. Akulah yang egois. Aku itu masih marah soal Rania, dan sekarang kamu tambahin lagi. Aku sakit hati tau gak!"


"Rania ... Rania ... Rania .... Apa gak bisa jangan bawa-bawa Rania. Masalah Rania udah selesai Litan! Tapi kenapa selalu di ungkit-ungkit." Chandra kembali menjambak rambutnya sendiri. "Sebenarnya apa mau kamu? Apa kamu mau aku balik dengan Rania? Apa kamu gak ada niat buat kita balik lagi kayak dulu?"


Litania bungkam. Ia bahkan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Baik kalau begitu. Aku lakukan apa yang kamu mau. Biar kamu puas!"


***