Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Ayah dan Anak.


"Saya juga nggak bisa ngomong banyak. Saya kenal Arjun baru-baru ini. Itu pun dari teman. Tapi, teman saya bilang, Arjun itu orangnya sangat bisa dipercaya." Chandra memantapkan kata. Ya karna memang itulah yang selalu Irwan katakan. Arjun itu lelaki mulia. Namun, sebagai pengusaha ia masih membutuhkan bukti lebih banyak lagi sebelum mempercayai Arjun seutuhnya.


Frans manggut-manggut. "Ya, saya juga begitu. Sebenarnya sejak awal saya tahu kalau Kinar itu balik ke Indonesia. Saya juga tahu gadis itu mengejar-ngejar seorang pria. Saya menyewa seseorang membuntuti kalian selama ini."


Wajah Chandra sedikit berubah. Tampak jelas kalau tak senang hingga akhirnya Frans kembali mencairkan suasana dengan berdeham dan melanjutkan kata, "Tapi saya hanya butuh informasi soal Kinar dan Arjun saja. Hanya itu. Soal kamu dan Litania sama sekali gak saya ambil tau."


Wajah Chandra kembali santai. Ia seruput lagi kopinya dengan mata tetap memandang Frans. Masih menunggu ucapan lanjutan dari pria tua itu.


"Saya sebenarnya gak mau begini dengan anak sendiri. Tapi, setelah mengenal Kinar lebih dekat, kamu pasti paham kenapa saya berperilaku over seperti itu." Desahan napas Frans terdengar panjang. Matanya menatap taman yang ada di luar kafe. "Kinar itu anaknya keras kepala, semenjak di Inggris saya sudah merasa ada yang aneh dengan anak itu. Dia tiba-tiba ingin berhenti kuliah dan menikah. Ya jelaslah saya keberatan, umurnya masih muda begitu. Awalnya saya pikir karena Litania. Mereka berteman sudah lama. Saya pikir dia cuma ingin ikut-ikutan saja. Ingin mencoba hal-hal baru. Makanya saya gak setuju. Di umur mereka itu, mereka masih belum siap berumah tangga."


Frans menjeda ucapan lagi, pria tua itu melihat Chandra yang menurutnya memberikan reaksi yang tidak nyaman sama sekali untuk yang kedua kalinya. Ya, bagaimana bisa senang? Di sana Chandra juga ikut andil kenapa Litania menikah muda. Meskipun ini bermula dari paksaan sang mama.


Frans tersenyum kecil lantas menyesap lagi minumannya. "Maaf saya enggak maksud menyinggung, hanya saja pernikahan dini ini rentan. Ya kamu tahu 'kan, bagaimana susahnya mengatur wanita yang umurnya masih seperti Litania."


Menganggukan kepala, meski tersindir, Chandra juga membenarkan ucapan pria yang ada di depannya itu. Ya karena memang ucapan Frans tidak salah seutuhnya. Menikah muda bukanlah kehidupan yang selalu indah. Rumah tangga yang bertabur bunga. Sebenarnya malah begitu banyak duri yang bersembunyi. Siap menusuk bila tak teliti. Lagipula menikah perlu pertimbangan matang dan kesiapan mental yang kokoh.


Perhatian Frans kembali ke pemandangan di luar kaca jendela. Rintik hujan mulai turun, disusul helaan napas putus asa Frans yang terdengar panjang. "Kinar itu anak saya satu-satunya, anak semata wayang. Kami mendapatkannya tidak mudah, Chandra. Perlu usaha belasan tahun agar Kinar itu ada di muka bumi ini.


"Orang yang tidak mengenal keluarga kami pasti mengira Kinar itu cucu saya. Ya karena memang saya mendapatkannya gak mudah. Karena alasan itulah saya memanjakannya. Apa pun yang Kinar mau, apa pun yang anak itu inginkan, pasti saya turuti. Bahkan saat memutuskan untuk kuliah saja, saya dan mamanya rela ikutan pindah juga. Perusahaan di sini bahkan saya alihkan sementara sama saudara. Biar dia terlindungi. Biar dia gak kesepian dan sendirian di sana. Kami gak mau terjadi apa pun sama dia. Ya walaupun di sana ada sepupu dan saudara dari istri saya, tetap saja kami waswas.


"Kamu tau, saat dia meminta ingin menikah pertama kalinya. Saat itu juga pikiran saya langsung kosong. Di satu sisi saya menghawatirkan dia, di satu sisi lagi saya belum siap berjauhan dengannya. Jadi saya menentang habis-habisan. Dan ternyata dia nekat balik ke sini tanpa uang yang cukup. Dari situ saya paham, kalau anak saya itu gak main-main. Dia nekat." Frans tampak kecewa, walaupun senyuman terukir, sorot matanya menunjukkan arti lain.


"Dan kamu tahu, setelah saya tiba lagi ke Indonesia, anak nakal itu merengek lagi. Ia keukeuh ingin menikahi Arjun. Gak seperti waktu di Inggris dulu, dia ingin menikah tanpa tahu siapa calonnya.


"Saya sempet curiga sama Arjun. Tapi wajar dong, seorang ayah mencurigai siapa pun laki-laki yang mendekati anaknya, apalagi anak semata wayang seperti Kinar. Gadis konyol yang belum tahu kejamnya dunia ini. Dia ngebet banget ingin menikah dan Berhenti kuliah." Frans terkekeh sejenak. Perhatiannya fokus ke wajah bingung Chandra. "Kamu tahu apa jawaban saya atas permintaan Kinar?"


Frans menggeleng. "Enggak. Malah sebaliknya. Saya setuju. Saya gak mau melihat Kinar makin nekat. Saya pertaruhkan masa depan Kinar dengan 1 kalimat, 'Kalau dia mau menikahimu maka menikahlah'. Padahal waktu itu saya belum terlalu kenal dengan yang namanya Arjun. Saya hanya beradu nasib. Jika pria itu menerima Kinar, itu artinya saya harus sekuat tenaga memisahkan mereka. Itu yang ada di pikiran saya waktu itu.


"Saat Kinar pulang ke hotel dengan membawa wajah ceria, perasaan saya menjadi gak enak. Selain belum siap, saya juga berfirasat buruk kalau Arjun hanya memanfaatkannya. Tapi ajaibnya Kinar tersenyum saat pria itu menolaknya. Menyuruhnya balik lagi dan kuliah. Padahal saya sebagai orang tua sudah mengingatkan dan menyuruhnya berulang kali. Tapi tetap saja anak itu gak mau nurut. Aneh kan? Dengan laki-laki cepet. Giliran orang tua yang nyuruh malah membangkang. Dasar gadis nakal."


Frans tersenyum. Ia seperti lega menceritakan keresahannya. Pria itu jelas tampak kecewa dan bahagia secara bersamaan. Sebuah pemandangan yang menyadarkan Chandra bahwa menjadi orang tua itu lebih berat. Begitu banyak pengorbanan yang kadang kala tak dianggap.


"Bapak sepertinya sangat menyayangi Kinar," ucap Chandra setelah hening beberapa saat. Mata mereka sama-sama tertuju ke luar jendela.


"Tentu saja. Kinar itu bidadari kami. Ujian dan hadiah dari Tuhan. Dan saya senang memilikinya. Walaupun anak itu bandel dan keras kepala, tapi tetap saja kalau gak ada dia ya rasanya dunia saya hampa. Kamu akan tau kalau Litania sudah melahirkan kelak." Frans menggerakkan jari tangannya ke belakang dan dengan cepat sang asisten yang berdiri tegap di belakangnya menyerahkan sebuah map cokelat.


"Chandra, saya gak tau harus bagaimana berterima kasih sama kalian. Saya harap hadiah ini bisa menyenangkan kalian." Frans mendorong map itu ke arah Chandra.


"Hadiah?" Kening Chandra mengkerut. Ia perhatikan wajah Frans dengan serius.


"Tolong terimalah. Saya gak niat buat meremehkan kamu. Saya yakin kamu juga pasti punya cukup uang buat membahagiakan Litania." Frans makin mendorong map itu. "Bukalah. Dulu saya sekeluarga pernah membawa Litania liburan ke NTT. Di sana ada sebuah pantai yang berwarna Pink, indah. Anak-anak bahagia saat ke sana. Saya bahkan pernah mendengar kalau Litania dan Kinar mau ke sana lagi saat mereka bulan madu."


"Bulan madu?" Ginjal Chandra serasa dicubit. Sakit. Dirinya mengakui mencintai tapi tak peka akan keinginan Litania. Ia bahkan membawanya ke Bali tanpa bertanya terlebih dulu. Mengingat itu, setika wajah Chandra murung. Sedih dan kesal dengan diri sendiri.


"Kalau gak bisa honeymoon paling tidak bawalah dia babymoon ke sana. Saya yakin dia pasti makin sayang sama kamu. Selama di sana kalian bisa menginap di vila saya. Kalian juga bisa pake kapal milik saya untuk ke pulau itu. Pakailah sesuka hati kalian."


"Tapi Pak Frans," sela Chandra saat melihat Frans sudah berdiri dari kursi.


Frans tersenyum lalu menepuk pundak Chandra. "Saya mohon jangan menolak. Terimalah biar ayah tak becus ini tidak terlalu merasa bersalah."