
"Loh, kenapa? Anak-anak temen Bunda 'kan cantik-cantik," kenang Litania. Karena memang orang yang dimaksud teman-teman oleh sang buah hati adalah anggota grup yoga dulu. Kebetulan para istri abdi negara itu melahirkan anak perempuan. Hanya dirinya sendiri yang mendapat anak laki-laki.
"Pokoknya gak suka!" Lagi-lagi suara protes itu keluar secara serentak hingga tanpa sadar Litania mengukir senyum gemas. Ternyata kalau kembar tak hanya identik pada wajah, fisik juga suara. Melainkan sifat mereka juga sedikit mirip. Wanita berusia 24 tahun itu penasaran, apakah anak-anaknya kelak akan menyukai wanita yang sama?
"Loh, memangnya kenapa? Mereka anak-anak polisi, loh. Keren itu."
Tak ada yang menyahut. Kedua anaknya menolehkan wajah ke arah luar jendela.
"Kalian gak mau jadi polisi?"
"Enggak," jawab D twins serentak, lagi.
"Kenapa? Keren loh kalo jadi polisi. Punya seragam terus di segani sama orang-orang. Kalian tetep gak mau?"
Gelengan kepala bocah kembar itu kembali tertangkap netra, Litania makin gemas ingin menggoda. Matanya tertuju ke Dafan. "Kalau gitu Dafan mau jadi apa kalau udah gede nanti?"
"Dokter," jawab anak kecil itu polos.
Litania tersenyum, jadi dokter lumayan berguna dan mebanggakan, apalagi sang anak sulung memang tampak pintar dan dewasa meski masih bocah.
Kini mata Litania beralih ke Dafin. "Kalau Dafin sendiri?"
"Dafin mau jadi komikus."
Astaga, mendengar jawaban jujur Dafin membuat darah Litania seakan beku di tengkuk. Leher terasa kaku. Diperhatikannya dengan intens sang anak. "Kenapa jadi komikus. Kamu gak mau jadi pengusaha? Bantuin ayah."
"Enggak, Dafin gak mau jadi pengusaha. Dafin gak mau jadi kayak ayah. Ayah sibuk terus. Gak ada waktu buat Bunda. Trus juga gak ada waktu main sama Dafin."
Dafan pun tampak mengangguk hingga Litania hanya bisa menelan ludah. Merasa sedih plus bahagia secara bersamaan. Sang anak yang tampak cuek dengan penampilan ternyata mempunyai sisi yang lain. Bocah urakan itu ternyata peduli padanya. Mempunyai pemikiran yang tak seperti bocah kebanyakan.
Si kembar menggeleng secara bersamaan.
"Perusahaan bakalan bangkrut. Trus kalian tau apa yang akan terjadi?"
Lagi, gelengan kepala sang anak membuat Litania tersenyum. "Kalau bangkrut, para pegawai bakalan menganggur. Terus mereka gak akan bisa ngasih uang ke keluarganya. Gak bakalan bisa ngasih mainan ke anak-anaknya."
Si kembar menunduk hingga Litania menarik tubuh mereka agar merapat padanya. "Kalian itu harus ngertiin ayah. Ayah kerja keras buat bahagiain kita. Buat orang lain juga. Jadi jangan protes, gak boleh ngeluh juga. Banyak orang yang gak seberuntung kita."
Kedua bocah itu membisu, seperti mencerna ucapan sang bunda.
"Kalian paham 'kan apa kata Bunda?"
Hening, tak ada jawaban, hanya anggukan kepala yang menjadi akhirnya.
"Nah, gitu, dong. Ini baru jagoan Bunda." Litania tersenyum hingga suara notifikasi pesan mengagetkan.
[Jangan jemput aku. Aku udah keluar dari bandara]
Pesan singkat itu sontak membuat mata Litania membulat sempurna. Ia tepuk kursi sang sopir seraya berucap, "Pak, putar arah. Kita ke kantor, sekarang!"
cast Dafan
cast Dafin