Istri Barbar Kesayangan CEO

Istri Barbar Kesayangan CEO
Transfer ilmu.


"Coba ke saya, coba kamu rayu saya," ujar Dafin. Ia terlihat serius.


"Maksudnya?" Fia menatap Dafin tak kalah serius.


"Lah iya, coba rayu saya. Saya laki-laki dan Kevin juga laki-laki. Kalau sukses di saya, saya yakin sukses juga di dia. Coba, coba ungkapin perasaan kamu. Apa saya akan tersentuh atau malah sebaliknya," papar Dafin yang masih penuh keseriusan. Kini matanya mengunci pandangan Fia. Tampak bola mata gadis yang tengah duduk di depannya bergerak liar. "Ayo, lakukan. Kita praktek lapangan."


"T-tapi, Pak ...."


"Coba dulu, Fia ...." Dafin berucap menahan geram. Kebodohan Fia benar-benar tak bisa ditolerir olehnya baik sebagai atasan maupun sebagai seorang pria.


"Baiklah, saya coba."


Menarik napas panjang, Fia lalu tertunduk, tangannya saling tertaut. "Kevin, sebenarnya aku sudah lama suka kamu, kamu mau—"


Mendadak gelak tawa Dafin pecah. Fia yang sudah serius kembali mengangkat kepala dan menatap tajam Dafin.


"Kenapa saya diketawain, sih, Pak Dafin? Apa perasaan saya ini lelucon?" tanyanya kesal.


"Maaf maaf maaf," balas Dafin seraya mencoba menahan tawa, "bisa tidak caranya jangan datar begitu. Kamu keliatan kayak anak ABG yang lagi ngungkapin cinta. Ayo dong, keluarin jurusmu."


"Jurus? Apa maksud Bapak?" Fia makin kesal.


"Gombalan kek apa kek, berikan sesuatu yang nggak pernah Kevin lihat di diri kamu. Jangan seperti biasa. Kalau kamu nembak Kevin dengan kata-kata seperti tadi, saya yakin yang Kevin lihat itu seorang Fia, teman kecilnya dan bukannya seorang wanita dewasa," papar Dafin. Ia terlihat makin serius. Sementara Fia, makin terlihat gugup.


"Ayo coba. Saya nunggu, loh. Jarang-jarang ada sukarelawan kece seperti saya. Ini termasuk kesempatan langka plus kehormatan buat kamu karena bisa jadiin saya sebagai objek uji coba." Dafin kini tersenyum jemawa.


Ini orang gak jelas banget sih, untung kaya, kalo enggak. Beuh ... aku tendang kecebur ke empang dia. Dasar. Fia bermonolog. Ia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan.


Kini mata Fia dan Dafin beradu. Tanpa berkata Fia tarik tangan kanan Dafin lalu mendaratkannya ke dada atas sebelah kiri. Sementara tangan yang satu lagi Fia letakkan di dada pria itu sendiri. Dafin yang kaget hanya mengerjap. Tak pernah terpikir tangannya akan mendarat di tempat yang agak lembut dan kenyal. Bahkan dipersilakan tanpa diminta. Mendadak ia gugup.


Dup-dup-dup-dup.


Tabuhan di dada Dafin menggila. Beruntung hanya ia sendiri yang bisa merasakan itu. Bisa bahaya jika saja Fia juga meletakkan tangan ke dadanya. Bisa-bisa ketahuan kalau ia tengah salah tingkah. Akan tetapi ternyata tak hanya dirinya yang merasakan efek samping dari sebuah sentuhan, Fia pun juga merasakan hal yang sama. Tangan Dafin yang mendarat di dada wanita itu dapat mendeteksi ada yang tak biasa. Bak genderang perang, malah lebih tak beraturan darinya. Dafin telan saliva. Mata hanya terfokus pada Fia yang duduk di sebelahnya.


"Vin, kamu dengar gak? Detak jantung kita seirama, loh. Kata orang kalau detak jantung laki-laki dan perempuan seirama itu menandakan jodoh," ujar Fia. Ia menatap sungguh dalam.


Dafin berdeham. Tangan sudah ia tarik kembali. "Tapi darimana kamu tau kalau detak jantung kalian akan sama? Itu namanya ceroboh. Kamu akan malu kalau mengatakan hal itu pada Kevin. Setiap orang memiliki durasi detak jantung yang berbeda-beda tergantung usia, aktivitas dan masih banyak lagi. Apa kamu gak tahu itu?"


Wajah Fia tentu saja berubah drastis. Ia merungut, manyun, lalu tertunduk. "Sepertinya saya nggak ada bakat. Saya gak paham yang beginian."


"Coba lagi, saya yakin kamu bisa bikin dadanya berdebar. Ingat, percaya diri itu kunci. Kalau kamu percaya diri masalah apa pun pasti teratasi. Kalau pun ditolak saya yakin efeknya nggak bakal berasa karena kamu percaya diri, karena kamu tangguh. Segala hal di dunia ini adalah pertaruhan, Fia. Kalau kamu gak berani bertaruh, kamu gak bakalan maju. Tapi ingat, sebelum lakuin ini tanamkan dalam otak kamu kalau ini ibarat judi, kalau keterima, sukur. Kalo nggak, jangan menyalahkan orang lain, apalagi coba lagi. Langsung move on," papar Dafin.


"Tapi, Pak ...."


"Cepetan. Jangan insecure dulu bisa gak?" ujar Dafin penuh penekanan. "ayo kita coba lagi."


Fia mendesah lalu celingukan melihat sekitaran tempat mereka duduk. Sementara Dafin yang memperhatikan gerak-gerik gadis itu tersenyum dalam diam.


"Pak, ini ada pantik," kata Fia, matanya berbinar, senyumnya terukir, "ada tisu juga."


Dafin menatap sinis. "Memangnya mau kamu apain pantik itu? Kamu itu saya suruh bikin hati saya berdebar-debar, bukannya membakar."


"Ish Bapak ini," decak Fia lantas beranjak. Gadis itu mengelilingi bangku taman tempat Dafin duduk.


Dafin yang tak paham hanya memperhatikan tanpa mau mencegah. Beberapa saat kemudian Fia duduk kembali dengan bibir tersungging senyuman. "Bapak siap?" tanyanya tiba-tiba.


Dafin berdeham lalu mengangguk. Tangannya bahkan bersedekap dengan posisi duduk tegak.


"Ini trik terakhir saya. Saya mempelajarinya seminggu yang lalu dari YouTube," ucap Fia lagi. Senyumnya masih melekat.


Dafin lagi-lagi tak berkata. Ia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Fia agar bisa membuat jantungnya berdebar.


Mendekati Dafin, Fia pun mendaratkan telapak tangannya yang sudah terbuka lebar. Perlahan tapi pasti tangannya naik dari dada ke pundak lalu ....


"Wah, kamu bisa sulap?" Dafin manggut-manggut, bibirnya tertarik.


Fia kembali melancarkan aksi sama seperti tadi. Ia pegang dada sebelah kanan Dafin. Tangannya yang terbuka perlahan naik, naik, naik terus dan naik hingga di belakang kepala. Entah dari mana datangnya yang jelas setangkai bunga asoka sudah ada di depan mata. Dafin kembali berdecak kagum.


Tak mau besar kepala, Fia kembali melanjutkan aksi. Kini ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dafin, meniupnya pelan dan keluarlah cincin yang terbuat dari ilalang.


"Wau." Hanyalah kata itu yang keluar dari mulut Dafin saat melihat cincin abal-abal sudah Fia sematkan di jarinya.


Tak sampai disitu, kertas tisu yang tadi Fia bakar dan dalam satu kedipan mata sudah berganti bentuk menjadi setangkai mawar merah.


Dafin sontak bertepuk tangan. Matanya membola lalu menyentuh bunga yang ada di tangan Fia. "Ini mawar asli?"


Fia mengangguk antusias. "Gimana, jantung Bapak berdebar-debar gak?" tanya Fia dengan mata yang berbinar. Sangat yakin usahanya kali berefek pada Dafin.


Namun, sebuah gelengan kepala dari pria membuat Fia mendesah dan berakhir tertunduk. "Ternyata susah bikin hati laki-laki berdebar."


"Itu karena cara kamu kurang tepat. Yang barusan tadi lumayan menghibur tapi gak sampe bikin saya merasakan sesuatu," jelas Dafin datar.


"Jadi saya harus gimana?" tanya Fia yang masih setia menundukkan kepala.


"Pake cara ekstrim. Bikin Kevin senam jantung tanpa harus berlari. Bikin dia kelojotan deket kamu tapi gak bisa nolak," jawab Dafin, senyum ambigu tercetak nyata di bibir. Fia yang tadinya tertunduk bahkan mengangkat kepala. Ia merinding melihat senyum miring Dafin.


"Maksudnya ekstrim kek gimana, Pak? Terus caranya?"


"Jadilah wanita liar, berilah sensasi lain. Biar Kevin itu sadar kalau kamu bukan teman masa kecilnya lagi melainkan perempuan dewasa yang sudah siap jadi gebetan bahkan siap ke pelaminan," papar Dafin dengan perasaan menggebu-gebu. Jujur saja ia gemas dengan pemikiran Fia. Hanya saja tak bisa berbuat lebih selain menyemangati saja.


"Liar?" Wajah Fia murung seketika, sedetik kemudian gelengan kepala menjadi akhirnya, "saya gak bisa kalau begitu. Kami besar bersama. Dia tau seluk beluk saya dan sebaliknya."


"Tapi kamu belum mencobanya," ujar Dafin yang sudah mulai kesal.


Fia arahkan matanya ke arah lain. "Sudahlah, Pak. Biar perasaan suka ini saya pendem sendiri. Saya gak bisa jadi orang lain. Lagian saya juga gak berharap banget kalau Kevin suka saya."


Dafin tergelak miris. "Kamu yakin? Kamu gak penasaran sama akhir kisah kalian? Kamu yakin dia gak suka kamu? Siapa tau dia juga ada rasa sama kamu. Lagian diam itu tindakan pengecut, Fia. Hadapilah, mau hitam atau putih, terima segala konsekwensinya. Tapi usaha dulu, biar gak jadi penyesalan nantknya. Biar kamu bisa move on kalau-kalau dia gak ada rasa."


Fia mendesah. Ada benarnya perkataan Dafin. Kadang ia juga heran akan sikap Kevin. Kadang perhatian, kadang juga cuek bebek. Sementara dirinya yang memang sudah menyukai sejak lama menjadi tersiksa karena tertimpa perasaan sendiri.


"Kamu yakin bisa menanggung rasa penasaran seumur hidup? Kamu yakin dengan diam hidup kamu akan nyaman? Terus apa kamu yakin dia gak ada rasa sama kamu?" lanjut Dafin.


Hening, Fia tak tau harus menjawab apa. Ucapan terakhir Dafin membuatnya berpikir keras mengenai perasaan Kevin padanya.


"Bisa?" cecar Dafin lagi.


Fia menggeleng lesu. "Jadi saya harus gimana?"


"Caranya cukup simple. Kamu cukup ...." Dafin tarik dagu Fia. Mata mereka otomatis beradu pandang. Fia mengerjap tapi Dafin tetap memindai tanpa berkedip.


"B-bapak mau ngapain?" tanya Fia tergagap.


"Pandang dia dengan intens. Bikin dia gugup seperti apa yang sekarang kamu rasakan. Bikin dia gak nyaman tapi gak bisa menolak. Bikin dia menginginkan sesuatu yang lebih dari sebuah pandangan. Biarkan otaknya traveling ke arah dewasa," jelas Dafin dengan suara lirih. Wajah mereka sangat dekat. Bahkan embusan napas Dafin yang beraroma mint masuk ke dalam hidung. Fia gugup tapi tak bisa menolak. Dafin begitu intens memandangi wajahnya hingga ia tak tau harus apa dan melakukan apa.


Keduanya saling bertatapan hingga suara klakson mobil menghentak kesadaran. Fia yang kaget sontak dorong dada Dafin lantas berdiri. Ia melihat mobil Ferrari milik Kevin berhenti di dekat mereka duduk. Dari mobil itu turunlah Kevin dan perempuan cantik.


"Dia Kevin?" tanya Dafin yang masih di posisi duduk.


Fia mengangguk.


"Dan wanita itu?" tanya Dafin lagi.


"Dia Della, mantan Kevin."


Dafin terkekeh. Ia berdiri lalu mensejajari Fia. Mata mereka melihat Kevin dan Della yang berjalan mendekat. "Saingan kamu berat, Fia. Berat banget."